<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ironi Dunia Kerja RI, Banyak Pelamar tapi Tidak Sesuai Kebutuhan Industri</title><description>Yassierli menyoroti tingkat pengangguran terbuka Indonesia yang mencapai 4,76%, dengan 85% tenaga kerja merupakan lulusan SMA dan SMK&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2025/07/02/622/3152069/ironi-dunia-kerja-ri-banyak-pelamar-tapi-tidak-sesuai-kebutuhan-industri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2025/07/02/622/3152069/ironi-dunia-kerja-ri-banyak-pelamar-tapi-tidak-sesuai-kebutuhan-industri"/><item><title>Ironi Dunia Kerja RI, Banyak Pelamar tapi Tidak Sesuai Kebutuhan Industri</title><link>https://economy.okezone.com/read/2025/07/02/622/3152069/ironi-dunia-kerja-ri-banyak-pelamar-tapi-tidak-sesuai-kebutuhan-industri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2025/07/02/622/3152069/ironi-dunia-kerja-ri-banyak-pelamar-tapi-tidak-sesuai-kebutuhan-industri</guid><pubDate>Rabu 02 Juli 2025 16:21 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/07/02/622/3152069/loker-0KS4_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Tingkat pengangguran terbuka Indonesia yang mencapai 4,76%. (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/07/02/622/3152069/loker-0KS4_large.jpg</image><title>Tingkat pengangguran terbuka Indonesia yang mencapai 4,76%. (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyoroti tingkat pengangguran terbuka Indonesia yang mencapai 4,76%, dengan 85% tenaga kerja merupakan lulusan SMA dan SMK. Hal ini pun menjadi ironi karena ternyata banyak perusahaan justru kesulitan menemukan pekerja yang sesuai dengan kebutuhan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Masalah utama bukan ketersediaan lapangan kerja, tapi mismatch antara keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan industri. Kita butuh ekosistem kerja, bukan sekadar transaksi kerja,&amp;rdquo; ujar Yassierli, dalam forum nasional bertajuk Career Connect 2025: Seminar, Motivasi, &amp;amp; Networking, Rabu (1/7/2025).&#13;
&#13;
Ketimpangan antara kebutuhan industri dengan output sistem pendidikan menjadi persoalan mendasar adanya pengangguran di Indonesia.&#13;
&#13;
Terlihat saat Job Fair yang digelar di Bekasi beberapa waktu lalu, tercatat 25.000 pelamar hadir, namun banyak perusahaan kesulitan menemukan kandidat yang sesuai.&#13;
&#13;
Meski demikian, Menaker menilai ada tiga pola pikir yang harus dimiliki tenaga kerja di masa depan agar tetap relevan dan kompetitif.&#13;
&#13;
Pertama, Growth Mindset &amp;ndash; mentalitas terbuka untuk terus belajar, tidak terpaku pada latar belakang pendidikan formal.&#13;
&#13;
Kedua, Future Mindset &amp;ndash; kemampuan memahami arah perubahan industri dan menyesuaikan diri.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Ketiga, Innovation Mindset &amp;ndash; daya cipta untuk membangun solusi baru, termasuk semangat berwirausaha.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Di masa depan, ijazah tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah sertifikat kompetensi dan kesiapan karakter, termasuk etos kerja, tanggung jawab, dan mentalitas adaptif,&amp;rdquo; ujar Menaker.&#13;
&#13;
Dia menambahkan, 50% dari skill yang relevan saat ini bisa jadi tidak relevan dalam 10 tahun ke depan. Oleh karena itu, pelatihan berbasis keterampilan dan pembentukan karakter menjadi agenda prioritas pemerintah.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyoroti tingkat pengangguran terbuka Indonesia yang mencapai 4,76%, dengan 85% tenaga kerja merupakan lulusan SMA dan SMK. Hal ini pun menjadi ironi karena ternyata banyak perusahaan justru kesulitan menemukan pekerja yang sesuai dengan kebutuhan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Masalah utama bukan ketersediaan lapangan kerja, tapi mismatch antara keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan industri. Kita butuh ekosistem kerja, bukan sekadar transaksi kerja,&amp;rdquo; ujar Yassierli, dalam forum nasional bertajuk Career Connect 2025: Seminar, Motivasi, &amp;amp; Networking, Rabu (1/7/2025).&#13;
&#13;
Ketimpangan antara kebutuhan industri dengan output sistem pendidikan menjadi persoalan mendasar adanya pengangguran di Indonesia.&#13;
&#13;
Terlihat saat Job Fair yang digelar di Bekasi beberapa waktu lalu, tercatat 25.000 pelamar hadir, namun banyak perusahaan kesulitan menemukan kandidat yang sesuai.&#13;
&#13;
Meski demikian, Menaker menilai ada tiga pola pikir yang harus dimiliki tenaga kerja di masa depan agar tetap relevan dan kompetitif.&#13;
&#13;
Pertama, Growth Mindset &amp;ndash; mentalitas terbuka untuk terus belajar, tidak terpaku pada latar belakang pendidikan formal.&#13;
&#13;
Kedua, Future Mindset &amp;ndash; kemampuan memahami arah perubahan industri dan menyesuaikan diri.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Ketiga, Innovation Mindset &amp;ndash; daya cipta untuk membangun solusi baru, termasuk semangat berwirausaha.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Di masa depan, ijazah tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah sertifikat kompetensi dan kesiapan karakter, termasuk etos kerja, tanggung jawab, dan mentalitas adaptif,&amp;rdquo; ujar Menaker.&#13;
&#13;
Dia menambahkan, 50% dari skill yang relevan saat ini bisa jadi tidak relevan dalam 10 tahun ke depan. Oleh karena itu, pelatihan berbasis keterampilan dan pembentukan karakter menjadi agenda prioritas pemerintah.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
