<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Fenomena Rojali di Mal, Alarm Ekonomi RI Tidak Baik-Baik Saja</title><description>Fenomena Rojali (Rombongan Jarang Beli) di pusat perbelanjaan menjadi indikator bahwa ekonomi Indonesia tertekan&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2025/07/26/320/3158232/fenomena-rojali-di-mal-alarm-ekonomi-ri-tidak-baik-baik-saja</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2025/07/26/320/3158232/fenomena-rojali-di-mal-alarm-ekonomi-ri-tidak-baik-baik-saja"/><item><title>Fenomena Rojali di Mal, Alarm Ekonomi RI Tidak Baik-Baik Saja</title><link>https://economy.okezone.com/read/2025/07/26/320/3158232/fenomena-rojali-di-mal-alarm-ekonomi-ri-tidak-baik-baik-saja</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2025/07/26/320/3158232/fenomena-rojali-di-mal-alarm-ekonomi-ri-tidak-baik-baik-saja</guid><pubDate>Sabtu 26 Juli 2025 14:17 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/07/26/320/3158232/mal-mNRl_large.png" expression="full" type="image/jpeg">Rombongan Jarang Beli di Mal Jadi Sorotan. (Foto: Okezone.com/Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/07/26/320/3158232/mal-mNRl_large.png</image><title>Rombongan Jarang Beli di Mal Jadi Sorotan. (Foto: Okezone.com/Freepik)</title></images><description>JAKARTA - Fenomena Rojali (Rombongan Jarang Beli) di pusat perbelanjaan menjadi indikator bahwa ekonomi Indonesia tertekan. Fenomena ini terjadi dan dialami masyarakat kelas menengah.&#13;
&#13;
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira menjelaskan, fenomena Rojali sudah ada sejak lama, terutama pasca pandemi COVID-19.&#13;
&#13;
&amp;quot;Fenomena Rojali ya, orang-orang yang cuman belanja makanan, nongkrong tanpa menghabiskan uang untuk membeli barang-barang yang ada di pusat perbelanjaan seperti mal. Ini sebenarnya fenomena yang sudah cukup lama ya,&amp;quot; kata Bhima saat dihubungi iNews Media Group, Sabtu (26/7/2025).&#13;
&#13;
Menurut Bhima, banyak masyarakat kelas menengah yang jumlahnya semakin menurun dan terhimpit oleh berbagai biaya hidup, termasuk inflasi bahan pangan dan perumahan, serta tingginya suku bunga.&#13;
&#13;
Mereka juga kerap terjebak pada cicilan utang, sementara pendapatan yang dapat dibelanjakan (disposable income) cenderung mengalami penurunan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Artinya kelas menengah ini ya akhirnya mereka belanja untuk sekadar rekreasi, sekadar untuk refreshing,&amp;quot; lanjut Bhima.&#13;
&#13;
Dia menjelaskan, mal yang banyak menyediakan kebutuhan sekunder dan tersier seperti barang-barang mewah, menjadi tempat bagi mereka untuk cuci mata atau sekadar mencari hiburan, tanpa melakukan pembelian besar. Konsumen kini lebih fokus pada kebutuhan pokok.&#13;
&#13;
Selain tekanan biaya hidup, Bhima juga menyoroti peran e-commerce dalam mengubah perilaku konsumen.&#13;
&#13;
&amp;quot;Ada juga sebagian alasan lainnya karena mereka membeli beberapa barang sekunder maupun tersier itu di toko online. Dengan diskon ongkos kirim dan promo-promo yang tidak ditawarkan oleh mal misalnya,&amp;quot; ungkapnya.&#13;
&#13;
Fenomena Rojali ini diperkirakan akan bersifat jangka panjang, tanpa tanda-tanda pemulihan dalam waktu dekat. Hal ini menuntut pusat perbelanjaan untuk beradaptasi.&#13;
&#13;
&amp;quot;Pusat perbelanjaan lah yang harus melakukan penyesuaian dengan menggeser yang tadinya banyak menyediakan gerai baju, gerai-gerai yang terkait dengan kebutuhan sekunder. Sekarang banyak yang bergeser menjadi pusat F&amp;amp;B, pusat makanan minuman, kemudian rekreasi keluarga. Itu yang sekarang diminati,&amp;quot; jelas Bhima.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Dia menambahkan bahwa mal-mal lama yang berhasil mengubah konsep ini mampu bertahan dengan tetap menopang pendapatan dari pengeluaran konsumen untuk rekreasi.&#13;
&#13;
Bhima memperkirakan bahwa fenomena ini akan berlanjut hingga tahun depan, sejalan dengan adanya perang dagang yang dapat memicu Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di sektor padat karya.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kemudian juga daya beli masyarakat yang memang sedang lesu. Ini akan membuat situasinya terjadi,&amp;quot; katanya.&#13;
&#13;
Faktor lain yang turut berkontribusi adalah efisiensi belanja pemerintah, yang secara tidak langsung ikut mengurangi dompet kelas menengah.&#13;
&#13;
&amp;quot;Sehingga mereka berpikir ulang untuk melakukan belanja barang-barang di luar barang-barang yang esensial,&amp;quot; tutup Bhima.&#13;
&#13;
&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Fenomena Rojali (Rombongan Jarang Beli) di pusat perbelanjaan menjadi indikator bahwa ekonomi Indonesia tertekan. Fenomena ini terjadi dan dialami masyarakat kelas menengah.&#13;
&#13;
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira menjelaskan, fenomena Rojali sudah ada sejak lama, terutama pasca pandemi COVID-19.&#13;
&#13;
&amp;quot;Fenomena Rojali ya, orang-orang yang cuman belanja makanan, nongkrong tanpa menghabiskan uang untuk membeli barang-barang yang ada di pusat perbelanjaan seperti mal. Ini sebenarnya fenomena yang sudah cukup lama ya,&amp;quot; kata Bhima saat dihubungi iNews Media Group, Sabtu (26/7/2025).&#13;
&#13;
Menurut Bhima, banyak masyarakat kelas menengah yang jumlahnya semakin menurun dan terhimpit oleh berbagai biaya hidup, termasuk inflasi bahan pangan dan perumahan, serta tingginya suku bunga.&#13;
&#13;
Mereka juga kerap terjebak pada cicilan utang, sementara pendapatan yang dapat dibelanjakan (disposable income) cenderung mengalami penurunan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Artinya kelas menengah ini ya akhirnya mereka belanja untuk sekadar rekreasi, sekadar untuk refreshing,&amp;quot; lanjut Bhima.&#13;
&#13;
Dia menjelaskan, mal yang banyak menyediakan kebutuhan sekunder dan tersier seperti barang-barang mewah, menjadi tempat bagi mereka untuk cuci mata atau sekadar mencari hiburan, tanpa melakukan pembelian besar. Konsumen kini lebih fokus pada kebutuhan pokok.&#13;
&#13;
Selain tekanan biaya hidup, Bhima juga menyoroti peran e-commerce dalam mengubah perilaku konsumen.&#13;
&#13;
&amp;quot;Ada juga sebagian alasan lainnya karena mereka membeli beberapa barang sekunder maupun tersier itu di toko online. Dengan diskon ongkos kirim dan promo-promo yang tidak ditawarkan oleh mal misalnya,&amp;quot; ungkapnya.&#13;
&#13;
Fenomena Rojali ini diperkirakan akan bersifat jangka panjang, tanpa tanda-tanda pemulihan dalam waktu dekat. Hal ini menuntut pusat perbelanjaan untuk beradaptasi.&#13;
&#13;
&amp;quot;Pusat perbelanjaan lah yang harus melakukan penyesuaian dengan menggeser yang tadinya banyak menyediakan gerai baju, gerai-gerai yang terkait dengan kebutuhan sekunder. Sekarang banyak yang bergeser menjadi pusat F&amp;amp;B, pusat makanan minuman, kemudian rekreasi keluarga. Itu yang sekarang diminati,&amp;quot; jelas Bhima.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Dia menambahkan bahwa mal-mal lama yang berhasil mengubah konsep ini mampu bertahan dengan tetap menopang pendapatan dari pengeluaran konsumen untuk rekreasi.&#13;
&#13;
Bhima memperkirakan bahwa fenomena ini akan berlanjut hingga tahun depan, sejalan dengan adanya perang dagang yang dapat memicu Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di sektor padat karya.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kemudian juga daya beli masyarakat yang memang sedang lesu. Ini akan membuat situasinya terjadi,&amp;quot; katanya.&#13;
&#13;
Faktor lain yang turut berkontribusi adalah efisiensi belanja pemerintah, yang secara tidak langsung ikut mengurangi dompet kelas menengah.&#13;
&#13;
&amp;quot;Sehingga mereka berpikir ulang untuk melakukan belanja barang-barang di luar barang-barang yang esensial,&amp;quot; tutup Bhima.&#13;
&#13;
&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
