<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kredit Perbankan Menurun ke 7,7%, Tanda Ekonomi RI Melambat?</title><description>Realisasi kredit perbankan tumbuh 7,77% secara year-on-year (YoY) menjadi Rp8.059,79 triliun per Juni 2025.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2025/08/04/320/3160355/kredit-perbankan-menurun-ke-7-7-tanda-ekonomi-ri-melambat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2025/08/04/320/3160355/kredit-perbankan-menurun-ke-7-7-tanda-ekonomi-ri-melambat"/><item><title>Kredit Perbankan Menurun ke 7,7%, Tanda Ekonomi RI Melambat?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2025/08/04/320/3160355/kredit-perbankan-menurun-ke-7-7-tanda-ekonomi-ri-melambat</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2025/08/04/320/3160355/kredit-perbankan-menurun-ke-7-7-tanda-ekonomi-ri-melambat</guid><pubDate>Senin 04 Agustus 2025 15:18 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/08/04/320/3160355/kredit-VdFC_large.png" expression="full" type="image/jpeg">Angka ini sedikit menurun dari pertumbuhan 8,43% di Mei 2025. (Foto: Okezone.com/Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/08/04/320/3160355/kredit-VdFC_large.png</image><title>Angka ini sedikit menurun dari pertumbuhan 8,43% di Mei 2025. (Foto: Okezone.com/Freepik)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Realisasi kredit perbankan tumbuh 7,77% secara year-on-year (YoY) menjadi Rp8.059,79 triliun per Juni 2025. Angka ini sedikit menurun dari pertumbuhan 8,43% di Mei 2025.&#13;
&#13;
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menjelaskan, kinerja intermediasi perbankan pada Juni 2025 menunjukkan stabilitas dengan profil risiko yang terjaga.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kinerja intermediasi perbankan tetap stabil dengan profil risiko yang tetap terjaga. Pada bulan Juni 2025, kredit tumbuh 7,77% year-on-year atau Rp8.059,79 triliun,&amp;quot; kata Dian dalam Konferensi Pers OJK Hasil RDKB Juli 2025, Senin (4/8/2025).&#13;
&#13;
1. Jenis Kredit&#13;
&#13;
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 12,53%, diikuti oleh kredit konsumsi sebesar 8,49%. Sementara itu, kredit modal kerja tumbuh sebesar 4,45% YoY.&#13;
&#13;
Ditinjau dari kepemilikan, bank umum swasta nasional domestik tumbuh paling tinggi, yaitu 10,78% YoY.&#13;
&#13;
Dari sisi kategori debitur, kredit korporasi tumbuh sebesar 10,78%, sementara kredit UMKM tumbuh sebesar 2,18%, di tengah upaya perbankan yang berfokus pada pemulihan kredit UMKM.&#13;
&#13;
2. Sektor Penyaluran Kredit&#13;
&#13;
Kemudian jika dilihat secara kategori ekonomi, Dian menyebut penyaluran ke beberapa sektor kredit tumbuh tinggi secara tahunan mencapai dua digit.&#13;
&#13;
&amp;quot;Sektor pertambangan dan&amp;nbsp;penggalian&amp;nbsp;tercatat tumbuh 20,69%, sektor jasa tumbuh 19,17%, sektor transportasi dan komunikasi tumbuh 17,94%, serta sektor listrik, gas dan air tumbuh 11,23%,&amp;quot; kata Dian.&#13;
&#13;
Dari sisi Dana Pihak Ketiga (DPK), tercatat pertumbuhan sebesar 6,96% YoY menjadi Rp9.329 triliun. Giro, tabungan, dan deposito masing-masing tumbuh sebesar 10,35%, 6,84%, dan 4,19% YoY.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
3. Dampak BI Rate Turun&#13;
&#13;
Penurunan BI Rate juga diikuti oleh penurunan suku bunga perbankan. Menurut Dian, dibandingkan tahun sebelumnya, rerata suku bunga perbankan turun 11 basis poin menjadi 8,99%, utamanya didorong penurunan suku bunga kredit produktif.&#13;
&#13;
&amp;quot;Dari sisi penghimpunan dana, rerata tertimbang suku bunga DPK juga mulai menurun dibandingkan bulan lalu,&amp;quot; ungkapnya.&#13;
&#13;
Stabilitas industri perbankan pada Juni 2025 tetap terjaga dengan rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (ALNCD) sebesar 118,78% dan rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (ALNDPK) sebesar 27,05%, keduanya masih di atas ambang batas yang ditetapkan. Liquidity Coverage Ratio (LCR) juga berada di level yang kuat, yaitu 199,04%.&#13;
&#13;
4. Kredit Macet&#13;
&#13;
Sementara itu, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL gross sebesar 2,22% dan NPL net sebesar 0,84%. Loan at Risk (LAR) tercatat menurun sebesar 9,73%.&#13;
&#13;
Rasio LAR saat ini juga sudah berada di bawah level sebelum pandemi COVID-19. Ketahanan perbankan juga didukung oleh Capital Adequacy Ratio (CAR) yang tinggi sebesar 25,81%.&#13;
&#13;
&amp;quot;Menjadi bantalan mitigasi risiko yang kuat untuk mengantisipasi kondisi ketidakpastian global,&amp;quot; ujarnya.&#13;
&#13;
Untuk porsi kredit Buy Now Pay Later (BNPL), perbankan mencatat sebesar 0,28% dari total kredit, namun terus menunjukkan pertumbuhan yang tinggi secara tahunan.&#13;
&#13;
Pada Juni 2025, debit kredit BNPL tumbuh sebesar 29,75% YoY menjadi Rp22,99 triliun dengan jumlah rekening mencapai 26,96 juta.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Realisasi kredit perbankan tumbuh 7,77% secara year-on-year (YoY) menjadi Rp8.059,79 triliun per Juni 2025. Angka ini sedikit menurun dari pertumbuhan 8,43% di Mei 2025.&#13;
&#13;
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menjelaskan, kinerja intermediasi perbankan pada Juni 2025 menunjukkan stabilitas dengan profil risiko yang terjaga.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kinerja intermediasi perbankan tetap stabil dengan profil risiko yang tetap terjaga. Pada bulan Juni 2025, kredit tumbuh 7,77% year-on-year atau Rp8.059,79 triliun,&amp;quot; kata Dian dalam Konferensi Pers OJK Hasil RDKB Juli 2025, Senin (4/8/2025).&#13;
&#13;
1. Jenis Kredit&#13;
&#13;
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 12,53%, diikuti oleh kredit konsumsi sebesar 8,49%. Sementara itu, kredit modal kerja tumbuh sebesar 4,45% YoY.&#13;
&#13;
Ditinjau dari kepemilikan, bank umum swasta nasional domestik tumbuh paling tinggi, yaitu 10,78% YoY.&#13;
&#13;
Dari sisi kategori debitur, kredit korporasi tumbuh sebesar 10,78%, sementara kredit UMKM tumbuh sebesar 2,18%, di tengah upaya perbankan yang berfokus pada pemulihan kredit UMKM.&#13;
&#13;
2. Sektor Penyaluran Kredit&#13;
&#13;
Kemudian jika dilihat secara kategori ekonomi, Dian menyebut penyaluran ke beberapa sektor kredit tumbuh tinggi secara tahunan mencapai dua digit.&#13;
&#13;
&amp;quot;Sektor pertambangan dan&amp;nbsp;penggalian&amp;nbsp;tercatat tumbuh 20,69%, sektor jasa tumbuh 19,17%, sektor transportasi dan komunikasi tumbuh 17,94%, serta sektor listrik, gas dan air tumbuh 11,23%,&amp;quot; kata Dian.&#13;
&#13;
Dari sisi Dana Pihak Ketiga (DPK), tercatat pertumbuhan sebesar 6,96% YoY menjadi Rp9.329 triliun. Giro, tabungan, dan deposito masing-masing tumbuh sebesar 10,35%, 6,84%, dan 4,19% YoY.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
3. Dampak BI Rate Turun&#13;
&#13;
Penurunan BI Rate juga diikuti oleh penurunan suku bunga perbankan. Menurut Dian, dibandingkan tahun sebelumnya, rerata suku bunga perbankan turun 11 basis poin menjadi 8,99%, utamanya didorong penurunan suku bunga kredit produktif.&#13;
&#13;
&amp;quot;Dari sisi penghimpunan dana, rerata tertimbang suku bunga DPK juga mulai menurun dibandingkan bulan lalu,&amp;quot; ungkapnya.&#13;
&#13;
Stabilitas industri perbankan pada Juni 2025 tetap terjaga dengan rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (ALNCD) sebesar 118,78% dan rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (ALNDPK) sebesar 27,05%, keduanya masih di atas ambang batas yang ditetapkan. Liquidity Coverage Ratio (LCR) juga berada di level yang kuat, yaitu 199,04%.&#13;
&#13;
4. Kredit Macet&#13;
&#13;
Sementara itu, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL gross sebesar 2,22% dan NPL net sebesar 0,84%. Loan at Risk (LAR) tercatat menurun sebesar 9,73%.&#13;
&#13;
Rasio LAR saat ini juga sudah berada di bawah level sebelum pandemi COVID-19. Ketahanan perbankan juga didukung oleh Capital Adequacy Ratio (CAR) yang tinggi sebesar 25,81%.&#13;
&#13;
&amp;quot;Menjadi bantalan mitigasi risiko yang kuat untuk mengantisipasi kondisi ketidakpastian global,&amp;quot; ujarnya.&#13;
&#13;
Untuk porsi kredit Buy Now Pay Later (BNPL), perbankan mencatat sebesar 0,28% dari total kredit, namun terus menunjukkan pertumbuhan yang tinggi secara tahunan.&#13;
&#13;
Pada Juni 2025, debit kredit BNPL tumbuh sebesar 29,75% YoY menjadi Rp22,99 triliun dengan jumlah rekening mencapai 26,96 juta.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
