<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ada Kompleksitas Bila Penduduk Pulau Jawa Dapat Rp5,1 Juta dari APBN</title><description>Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berencana mengalokasikan dana transfer ke daerah (TKD) per kapita&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2025/09/07/320/3168245/ada-kompleksitas-bila-penduduk-pulau-jawa-dapat-rp5-1-juta-dari-apbn</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2025/09/07/320/3168245/ada-kompleksitas-bila-penduduk-pulau-jawa-dapat-rp5-1-juta-dari-apbn"/><item><title>Ada Kompleksitas Bila Penduduk Pulau Jawa Dapat Rp5,1 Juta dari APBN</title><link>https://economy.okezone.com/read/2025/09/07/320/3168245/ada-kompleksitas-bila-penduduk-pulau-jawa-dapat-rp5-1-juta-dari-apbn</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2025/09/07/320/3168245/ada-kompleksitas-bila-penduduk-pulau-jawa-dapat-rp5-1-juta-dari-apbn</guid><pubDate>Minggu 07 September 2025 10:03 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/09/07/320/3168245/rupiah-RdlE_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Penduduk di Pulau Jawa akan mendapatkan Rp5,1 juta per kapita dari APBN 2026. (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/09/07/320/3168245/rupiah-RdlE_large.jpg</image><title>Penduduk di Pulau Jawa akan mendapatkan Rp5,1 juta per kapita dari APBN 2026. (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berencana mengalokasikan dana transfer ke daerah (TKD) per kapita. Di mana penduduk di Pulau Jawa akan mendapatkan Rp5,1 juta per kapita dari APBN 2026.&#13;
&#13;
Sumatera memperoleh Rp6,5 juta per kapita, Kalimantan Rp8,5 juta per kapita, Sulawesi Rp7,3 juta per kapita, Jawa Rp5,1 juta per kapita, Bali&amp;ndash;Nusa Tenggara Rp6,4 juta per kapita, dan Maluku&amp;ndash;Papua Rp12,5 juta per kapita.&#13;
&#13;
Menyikapi rencana tersebut, Pengamat Ekonomi Kusfiardi mengatakan, retorika kebijakan fiskal Sri Mulyani dalam RAPBN 2026 menekankan pemerataan, transparansi, dan keberpihakan pada wilayah tertinggal.&#13;
&#13;
&amp;quot;Secara komunikasi publik, strategi ini efektif untuk menunjukkan peran APBN sebagai instrumen keadilan sosial,&amp;quot; katanya, Minggu (7/9/2025).&#13;
&#13;
Namun, lanjutnya, secara substansi terdapat beberapa keterbatasan. Pertama, angka per kapita bersifat nominal, tidak memperhitungkan disparitas harga dan kualitas belanja.&#13;
Kedua, narasi redistribusi tidak otomatis menutup ketimpangan struktural antara pusat dan daerah.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Ketiga, program populis perlu evaluasi outcome agar tidak sekadar jargon politik. Dan keempat, TKD besar tidak menjamin efektivitas tanpa reformasi tata kelola fiskal daerah,&amp;quot; ujarnya.&#13;
&#13;
Dengan demikian, pernyataan ini lebih tepat dibaca sebagai retorika legitimasi fiskal, di mana menampilkan APBN sebagai solusi keadilan, sambil menyembunyikan kompleksitas dan keterbatasan struktural yang belum selesai.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berencana mengalokasikan dana transfer ke daerah (TKD) per kapita. Di mana penduduk di Pulau Jawa akan mendapatkan Rp5,1 juta per kapita dari APBN 2026.&#13;
&#13;
Sumatera memperoleh Rp6,5 juta per kapita, Kalimantan Rp8,5 juta per kapita, Sulawesi Rp7,3 juta per kapita, Jawa Rp5,1 juta per kapita, Bali&amp;ndash;Nusa Tenggara Rp6,4 juta per kapita, dan Maluku&amp;ndash;Papua Rp12,5 juta per kapita.&#13;
&#13;
Menyikapi rencana tersebut, Pengamat Ekonomi Kusfiardi mengatakan, retorika kebijakan fiskal Sri Mulyani dalam RAPBN 2026 menekankan pemerataan, transparansi, dan keberpihakan pada wilayah tertinggal.&#13;
&#13;
&amp;quot;Secara komunikasi publik, strategi ini efektif untuk menunjukkan peran APBN sebagai instrumen keadilan sosial,&amp;quot; katanya, Minggu (7/9/2025).&#13;
&#13;
Namun, lanjutnya, secara substansi terdapat beberapa keterbatasan. Pertama, angka per kapita bersifat nominal, tidak memperhitungkan disparitas harga dan kualitas belanja.&#13;
Kedua, narasi redistribusi tidak otomatis menutup ketimpangan struktural antara pusat dan daerah.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Ketiga, program populis perlu evaluasi outcome agar tidak sekadar jargon politik. Dan keempat, TKD besar tidak menjamin efektivitas tanpa reformasi tata kelola fiskal daerah,&amp;quot; ujarnya.&#13;
&#13;
Dengan demikian, pernyataan ini lebih tepat dibaca sebagai retorika legitimasi fiskal, di mana menampilkan APBN sebagai solusi keadilan, sambil menyembunyikan kompleksitas dan keterbatasan struktural yang belum selesai.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
