<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Indonesia Butuh Rp3.000 Triliun untuk Proyek Kelistrikan hingga 2034</title><description>Indonesia membutuhkan investasi Rp3.000 triliun untuk proyek kelistrikan dalam RUPTL 2025-2034. PLN berupaya menarik investor dengan memperbaiki profil risiko dan fokus pada EBT serta peningkatan permintaan listrik di berbagai sektor.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2025/09/11/320/3169343/indonesia-butuh-rp3-000-triliun-untuk-proyek-kelistrikan-hingga-2034</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2025/09/11/320/3169343/indonesia-butuh-rp3-000-triliun-untuk-proyek-kelistrikan-hingga-2034"/><item><title>Indonesia Butuh Rp3.000 Triliun untuk Proyek Kelistrikan hingga 2034</title><link>https://economy.okezone.com/read/2025/09/11/320/3169343/indonesia-butuh-rp3-000-triliun-untuk-proyek-kelistrikan-hingga-2034</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2025/09/11/320/3169343/indonesia-butuh-rp3-000-triliun-untuk-proyek-kelistrikan-hingga-2034</guid><pubDate>Kamis 11 September 2025 18:18 WIB</pubDate><dc:creator>Tangguh Yudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/09/11/320/3169343/pembangkit_listrik-fcGy_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg"> Indonesia membutuhkan investasi jumbo senilai Rp3.000 triliun untuk menjalankan proyek kelistrikan nasional. (Foto: Okezone.com/PLN)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/09/11/320/3169343/pembangkit_listrik-fcGy_large.jpg</image><title> Indonesia membutuhkan investasi jumbo senilai Rp3.000 triliun untuk menjalankan proyek kelistrikan nasional. (Foto: Okezone.com/PLN)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Indonesia membutuhkan investasi jumbo senilai Rp3.000 triliun untuk menjalankan proyek kelistrikan nasional. Hal ini tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025&amp;ndash;2034 yang baru saja diluncurkan pemerintah bersama PT PLN (Persero).&#13;
&#13;
Direktur Teknologi, Engineering, dan Keberlanjutan PLN, Evy Haryadi, mengatakan kebutuhan investasi sebesar Rp3.000 triliun menuntut kepercayaan investor yang tinggi. PLN harus terus berupaya meyakinkan pasar dengan memperbaiki profil risiko.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Risiko kita sudah turun dari 30,7 ke 27,4 atau kategori medium risk. Dengan perbaikan ini, peluang mendapatkan investor akan semakin terbuka,&amp;rdquo; kata Evy dalam ajang Katadata Sustainability Action for The Future Economy (SAFE) 2025 di Jakarta, dikutip pada Kamis (11/9/2025).&#13;
&#13;
Untuk diketahui, selama 10 tahun ke depan, pemerintah menargetkan tambahan kapasitas 69,5 gigawatt (GW). Dari angka tersebut, 76% atau 52,9 GW direncanakan bersumber dari energi baru terbarukan (EBT) dan teknologi penyimpanan energi.&#13;
&#13;
Angka ini hampir menyamai kapasitas pembangkit listrik yang telah dibangun sejak Indonesia merdeka, yaitu sekitar 75 GW. Kendati terkesan ambisius, rencana RUPTL 2025&amp;ndash;2034 dipandang memiliki nilai strategis.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Kendati demikian, skala ambisi ini menuntut kejelasan arah permintaan. Evy menekankan bahwa pembentukan demand menjadi strategi utama, terutama untuk menopang sektor-sektor yang diproyeksikan melonjak tajam konsumsinya.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Misalnya sektor perikanan di kawasan timur. Dengan menyiapkan cold storage berbasis listrik, otomatis akan memacu pertumbuhan ekonomi sekaligus kebutuhan energi di sana,&amp;rdquo; jelasnya.&#13;
&#13;
PLN, lanjut Evy, mengidentifikasi setidaknya tiga motor pertumbuhan konsumsi listrik dalam dekade mendatang, yakni pendingin ruangan (AC), ekspansi pusat data berbasis *artificial intelligence* (AI), dan adopsi kendaraan listrik (EV).&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Indonesia membutuhkan investasi jumbo senilai Rp3.000 triliun untuk menjalankan proyek kelistrikan nasional. Hal ini tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025&amp;ndash;2034 yang baru saja diluncurkan pemerintah bersama PT PLN (Persero).&#13;
&#13;
Direktur Teknologi, Engineering, dan Keberlanjutan PLN, Evy Haryadi, mengatakan kebutuhan investasi sebesar Rp3.000 triliun menuntut kepercayaan investor yang tinggi. PLN harus terus berupaya meyakinkan pasar dengan memperbaiki profil risiko.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Risiko kita sudah turun dari 30,7 ke 27,4 atau kategori medium risk. Dengan perbaikan ini, peluang mendapatkan investor akan semakin terbuka,&amp;rdquo; kata Evy dalam ajang Katadata Sustainability Action for The Future Economy (SAFE) 2025 di Jakarta, dikutip pada Kamis (11/9/2025).&#13;
&#13;
Untuk diketahui, selama 10 tahun ke depan, pemerintah menargetkan tambahan kapasitas 69,5 gigawatt (GW). Dari angka tersebut, 76% atau 52,9 GW direncanakan bersumber dari energi baru terbarukan (EBT) dan teknologi penyimpanan energi.&#13;
&#13;
Angka ini hampir menyamai kapasitas pembangkit listrik yang telah dibangun sejak Indonesia merdeka, yaitu sekitar 75 GW. Kendati terkesan ambisius, rencana RUPTL 2025&amp;ndash;2034 dipandang memiliki nilai strategis.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Kendati demikian, skala ambisi ini menuntut kejelasan arah permintaan. Evy menekankan bahwa pembentukan demand menjadi strategi utama, terutama untuk menopang sektor-sektor yang diproyeksikan melonjak tajam konsumsinya.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Misalnya sektor perikanan di kawasan timur. Dengan menyiapkan cold storage berbasis listrik, otomatis akan memacu pertumbuhan ekonomi sekaligus kebutuhan energi di sana,&amp;rdquo; jelasnya.&#13;
&#13;
PLN, lanjut Evy, mengidentifikasi setidaknya tiga motor pertumbuhan konsumsi listrik dalam dekade mendatang, yakni pendingin ruangan (AC), ekspansi pusat data berbasis *artificial intelligence* (AI), dan adopsi kendaraan listrik (EV).&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
