<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Dua Mesin Ekonomi RI yang Bisa Dorong Pertumbuhan 8 Persen</title><description>Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa optimis Indonesia bisa mencapai pertumbuhan ekonomi 8?ngan menggerakkan mesin negara dan swasta bersamaan. Percepatan penyerapan anggaran dan kelonggaran transfer ke daerah menjadi langkah teknis.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2025/09/11/320/3169416/dua-mesin-ekonomi-ri-yang-bisa-dorong-pertumbuhan-8-persen</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2025/09/11/320/3169416/dua-mesin-ekonomi-ri-yang-bisa-dorong-pertumbuhan-8-persen"/><item><title>Dua Mesin Ekonomi RI yang Bisa Dorong Pertumbuhan 8 Persen</title><link>https://economy.okezone.com/read/2025/09/11/320/3169416/dua-mesin-ekonomi-ri-yang-bisa-dorong-pertumbuhan-8-persen</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2025/09/11/320/3169416/dua-mesin-ekonomi-ri-yang-bisa-dorong-pertumbuhan-8-persen</guid><pubDate>Kamis 11 September 2025 23:28 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/09/11/320/3169416/purbaya-6C1c_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg"> Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dinilai menampilkan nada realistis yang berbeda namun optimistis. (Foto: Okezone.com/Aldhi Chandra)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/09/11/320/3169416/purbaya-6C1c_large.jpg</image><title> Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dinilai menampilkan nada realistis yang berbeda namun optimistis. (Foto: Okezone.com/Aldhi Chandra)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dinilai menampilkan nada realistis yang berbeda namun optimistis. Purbaya menekankan, Indonesia punya kekuatan khas: konsumsi domestik yang mencapai 90% dari PDB.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dengan domestic demand sebesar itu, sebetulnya angka pertumbuhan 6 hingga 6,5 persen bukan mustahil,&amp;rdquo; katanya, Kamis (11/9/2025).&#13;
&#13;
Menurut Ketua Dewan Direktur Global Research on Economics, Advanced Technology, and Politics (Great) Institute, Syahganda Nainggolan, Purbaya sebagai Menkeu baru juga menyodorkan pembandingan yang sederhana tapi tegas.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Di era SBY, ketika hanya mesin swasta yang bergerak, pertumbuhan mencapai 6 persen. Di era Jokowi, ketika hanya mesin negara yang bergerak, pertumbuhan bertahan 5 persen. Ke depan, bila kedua mesin digerakkan bersama&amp;mdash;negara dan swasta&amp;mdash;kita optimistis bisa mencapai 8 persen,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Langkah teknis pun ia paparkan. Penyerapan anggaran segera dipercepat agar mengalir ke sektor riil. Bersama DPR RI, pemerintah juga akan memberi kelonggaran transfer ke daerah.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dengan begitu, daerah bisa bernapas lebih lega,&amp;rdquo; kata Purbaya.&#13;
&#13;
Menurut Syahganda, publik dapat menaruh harapan baru pada sosok Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kita ini sudah lama tak memiliki Menkeu yang sungguh-sungguh ekonom. Baru kali ini kita punya Menkeu yang belajar langsung dari Paul Romer, pemenang Nobel Ekonomi,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Apalagi, langkah awal Purbaya berbeda. Saat hari pertama ke kantor Kemenkeu, bukannya sibuk dengan protokol, ia langsung berbicara soal keharusan membuka dialog dengan publik dan turun menyerap aspirasi.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Beliau mengikuti arahan Presiden agar pejabat mendengar rakyat. Itu awal yang baik,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Lebih jauh, ia meyakini industrialisasi Indonesia akan kembali ke rel. Tetapi ia mengingatkan: pertumbuhan saja tidak cukup.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pertumbuhan bagus saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah bagaimana pertumbuhan itu langsung dirasakan masyarakat. Itulah perlunya growth through equity,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dinilai menampilkan nada realistis yang berbeda namun optimistis. Purbaya menekankan, Indonesia punya kekuatan khas: konsumsi domestik yang mencapai 90% dari PDB.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dengan domestic demand sebesar itu, sebetulnya angka pertumbuhan 6 hingga 6,5 persen bukan mustahil,&amp;rdquo; katanya, Kamis (11/9/2025).&#13;
&#13;
Menurut Ketua Dewan Direktur Global Research on Economics, Advanced Technology, and Politics (Great) Institute, Syahganda Nainggolan, Purbaya sebagai Menkeu baru juga menyodorkan pembandingan yang sederhana tapi tegas.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Di era SBY, ketika hanya mesin swasta yang bergerak, pertumbuhan mencapai 6 persen. Di era Jokowi, ketika hanya mesin negara yang bergerak, pertumbuhan bertahan 5 persen. Ke depan, bila kedua mesin digerakkan bersama&amp;mdash;negara dan swasta&amp;mdash;kita optimistis bisa mencapai 8 persen,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Langkah teknis pun ia paparkan. Penyerapan anggaran segera dipercepat agar mengalir ke sektor riil. Bersama DPR RI, pemerintah juga akan memberi kelonggaran transfer ke daerah.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dengan begitu, daerah bisa bernapas lebih lega,&amp;rdquo; kata Purbaya.&#13;
&#13;
Menurut Syahganda, publik dapat menaruh harapan baru pada sosok Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kita ini sudah lama tak memiliki Menkeu yang sungguh-sungguh ekonom. Baru kali ini kita punya Menkeu yang belajar langsung dari Paul Romer, pemenang Nobel Ekonomi,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Apalagi, langkah awal Purbaya berbeda. Saat hari pertama ke kantor Kemenkeu, bukannya sibuk dengan protokol, ia langsung berbicara soal keharusan membuka dialog dengan publik dan turun menyerap aspirasi.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Beliau mengikuti arahan Presiden agar pejabat mendengar rakyat. Itu awal yang baik,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Lebih jauh, ia meyakini industrialisasi Indonesia akan kembali ke rel. Tetapi ia mengingatkan: pertumbuhan saja tidak cukup.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pertumbuhan bagus saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah bagaimana pertumbuhan itu langsung dirasakan masyarakat. Itulah perlunya growth through equity,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
