<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Alih Fungsi Lahan Diduga Jadi Biang Kerok Banjir Bali</title><description>KLHK menduga alih fungsi lahan dan aktivitas pembangunan di sempadan sungai menjadi penyebab banjir di Bali. Sampah yang menyumbat aliran sungai dan curah hujan ekstrem juga memperparah situasi.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2025/09/19/320/3171076/alih-fungsi-lahan-diduga-jadi-biang-kerok-banjir-bali</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2025/09/19/320/3171076/alih-fungsi-lahan-diduga-jadi-biang-kerok-banjir-bali"/><item><title>Alih Fungsi Lahan Diduga Jadi Biang Kerok Banjir Bali</title><link>https://economy.okezone.com/read/2025/09/19/320/3171076/alih-fungsi-lahan-diduga-jadi-biang-kerok-banjir-bali</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2025/09/19/320/3171076/alih-fungsi-lahan-diduga-jadi-biang-kerok-banjir-bali</guid><pubDate>Jum'at 19 September 2025 15:28 WIB</pubDate><dc:creator>Tangguh Yudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/09/19/320/3171076/banjir_bali-Exit_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Banjir Bali (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/09/19/320/3171076/banjir_bali-Exit_large.jpg</image><title>Banjir Bali (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Kementerian Lingkungan Hidup&amp;nbsp;menduga bencana banjir yang melanda Bali baru-baru ini dipicu oleh berbagai faktor lingkungan, salah satunya adalah alih fungsi lahan yang tidak terkendali.&#13;
&#13;
Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK, Rasio Ridho Sani, menyatakan bahwa pihaknya saat ini tengah melakukan investigasi menyeluruh terkait penyebab banjir yang terjadi.&#13;
&#13;
Dia menyatakan bahwa perubahan penggunaan lahan yang tidak sesuai tata ruang menjadi faktor utama yang turut memperparah bencana tersebut.&#13;
&#13;
&amp;quot;Tim kami sedang bekerja untuk mendalami faktor-faktor apa, penyebab dari apa namanya bencana banjir di Bali ini. Pertama kita pahami ini ada perubahan alih fungsi lahan,&amp;quot; kata Rasio saat dijumpai di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Jumat (19/9/2025).&#13;
&#13;
Selain itu, Rasio menjelaskan bahwa terdapat sejumlah aktivitas pembangunan yang dilakukan di area yang seharusnya dilindungi, seperti di sempadan sungai. Aktivitas ini, menurutnya, tidak sesuai dengan tata ruang yang berlaku.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;quot;Kemudian juga ada juga kegiatan-kegiatan yang tidak sesuai dengan tata ruangnya, misalnya bangunan-bangunan pinggir-pinggir sempadan sungai,&amp;quot; jelasnya.&#13;
&#13;
Persoalan lainnya adalah sampah yang juga menjadi perhatian serius. Rasio menyebut KLHK menemukan banyak tumpukan sampah pasca banjir, yang diduga kuat berasal dari aliran sungai. Sampah-sampah ini menyumbat aliran air sehingga menyebabkan banjir.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kami temukan adanya sampah-sampah pasca banjir, ini kan menunjukkan juga kemungkinan besar kan sampah-sampah itu masuk ke sungai-sungai, ini juga menyebabkan banjir menjadi semakin parah,&amp;quot; terang Rasio.&#13;
&#13;
Di samping itu, curah hujan ekstrem juga disebut sebagai faktor pendukung terjadinya banjir. KLHK mencatat bahwa hujan yang mengguyur Bali mencapai intensitas yang dikategorikan sebagai sangat ekstrem.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kemudian memang situasi saat itu kan memang curah hujannya sangat ekstrim ya, sekitar 245 mm per hari, ini juga benar-benar sangat ekstrim jadi faktornya beragam tapi berkaitan dengan faktor-faktor kepatuhan lingkungan, tadi saya sampaikan kami sedang dalami,&amp;quot; pungkasnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Kementerian Lingkungan Hidup&amp;nbsp;menduga bencana banjir yang melanda Bali baru-baru ini dipicu oleh berbagai faktor lingkungan, salah satunya adalah alih fungsi lahan yang tidak terkendali.&#13;
&#13;
Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK, Rasio Ridho Sani, menyatakan bahwa pihaknya saat ini tengah melakukan investigasi menyeluruh terkait penyebab banjir yang terjadi.&#13;
&#13;
Dia menyatakan bahwa perubahan penggunaan lahan yang tidak sesuai tata ruang menjadi faktor utama yang turut memperparah bencana tersebut.&#13;
&#13;
&amp;quot;Tim kami sedang bekerja untuk mendalami faktor-faktor apa, penyebab dari apa namanya bencana banjir di Bali ini. Pertama kita pahami ini ada perubahan alih fungsi lahan,&amp;quot; kata Rasio saat dijumpai di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Jumat (19/9/2025).&#13;
&#13;
Selain itu, Rasio menjelaskan bahwa terdapat sejumlah aktivitas pembangunan yang dilakukan di area yang seharusnya dilindungi, seperti di sempadan sungai. Aktivitas ini, menurutnya, tidak sesuai dengan tata ruang yang berlaku.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;quot;Kemudian juga ada juga kegiatan-kegiatan yang tidak sesuai dengan tata ruangnya, misalnya bangunan-bangunan pinggir-pinggir sempadan sungai,&amp;quot; jelasnya.&#13;
&#13;
Persoalan lainnya adalah sampah yang juga menjadi perhatian serius. Rasio menyebut KLHK menemukan banyak tumpukan sampah pasca banjir, yang diduga kuat berasal dari aliran sungai. Sampah-sampah ini menyumbat aliran air sehingga menyebabkan banjir.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kami temukan adanya sampah-sampah pasca banjir, ini kan menunjukkan juga kemungkinan besar kan sampah-sampah itu masuk ke sungai-sungai, ini juga menyebabkan banjir menjadi semakin parah,&amp;quot; terang Rasio.&#13;
&#13;
Di samping itu, curah hujan ekstrem juga disebut sebagai faktor pendukung terjadinya banjir. KLHK mencatat bahwa hujan yang mengguyur Bali mencapai intensitas yang dikategorikan sebagai sangat ekstrem.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kemudian memang situasi saat itu kan memang curah hujannya sangat ekstrim ya, sekitar 245 mm per hari, ini juga benar-benar sangat ekstrim jadi faktornya beragam tapi berkaitan dengan faktor-faktor kepatuhan lingkungan, tadi saya sampaikan kami sedang dalami,&amp;quot; pungkasnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
