<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BPS Pastikan Penghitungan Data Pertumbuhan Ekonomi RI Gunakan Standar Internasional</title><description>BPS catat pertumbuhan PDB 5,12% di kuartal II 2025, lebih tinggi dari tahun lalu. Data dijamin sesuai standar internasional. Konsumsi masyarakat dan investasi jadi pendorong utama. Sektor industri dan perdagangan juga tumbuh signifikan. (178 karakter)&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2025/10/11/320/3176104/bps-pastikan-penghitungan-data-pertumbuhan-ekonomi-ri-gunakan-standar-internasional</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2025/10/11/320/3176104/bps-pastikan-penghitungan-data-pertumbuhan-ekonomi-ri-gunakan-standar-internasional"/><item><title>BPS Pastikan Penghitungan Data Pertumbuhan Ekonomi RI Gunakan Standar Internasional</title><link>https://economy.okezone.com/read/2025/10/11/320/3176104/bps-pastikan-penghitungan-data-pertumbuhan-ekonomi-ri-gunakan-standar-internasional</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2025/10/11/320/3176104/bps-pastikan-penghitungan-data-pertumbuhan-ekonomi-ri-gunakan-standar-internasional</guid><pubDate>Sabtu 11 Oktober 2025 17:47 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/10/11/320/3176104/masyarakat-fANY_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">BPS mencatat pertumbuhan Produk Domestik Bruto sebesar 5,12% pada triwulan II 2025. (Foto: Okezone.com/Aldhi Chandra)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/10/11/320/3176104/masyarakat-fANY_large.jpg</image><title>BPS mencatat pertumbuhan Produk Domestik Bruto sebesar 5,12% pada triwulan II 2025. (Foto: Okezone.com/Aldhi Chandra)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 5,12% pada triwulan II 2025, meningkat dari 5,05% pada periode yang sama tahun sebelumnya. BPS memastikan data ini dihitung sesuai standar internasional.&#13;
&#13;
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan, data-data pertumbuhan ekonomi yang dihimpun dipastikan menggunakan sumber dan metodologi yang berkualitas. Bahkan sudah standar internasional.&#13;
&#13;
&amp;quot;Data-data yang disajikan kan standar internasional,&amp;quot; ujar Amalia, Sabtu (11/10/2025).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Oleh karena itu, ekonomi Indonesia tumbuh positif bila dibandingkan ekonomi sejumlah negara tetangga yang juga mengalami pertumbuhan di tengah tekanan perdagangan internasional. Indonesia masih di bawah Vietnam yang pertumbuhannya 8,0%, Tiongkok 5,2%, dan di atas Singapura yang hanya tumbuh 4,3%.&#13;
&#13;
Sementara itu, Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia periode tersebut didorong oleh konsumsi masyarakat yang tetap terjaga.&#13;
&#13;
Hal tersebut juga didukung stimulus fiskal, penyaluran dan penebalan bantuan sosial (bansos), gaji ke-13 Pegawai Negeri Sipil (PNS)/ Tentara Nasional Indonesia (TNI)/ Kepolisian Republik Indonesia (POLRI), termasuk adanya libur panjang yang mendorong peningkatan mobilitas penduduk.&#13;
&#13;
Beberapa indikator seperti indeks penjualan eceran riil dan nilai impor barang konsumsi tercatat terus tumbuh, termasuk transaksi online dari e-retail dan marketplace. Investasi tumbuh positif, belanja barang modal yang dilakukan oleh pemerintah juga menunjukkan pertumbuhan positif, diikuti oleh pertumbuhan impor barang-barang modal.&#13;
&#13;
&amp;rdquo;Lebih lanjut, terjaganya aktivitas produksi, serta hasil dari respons kebijakan juga turut menopang kinerja perekonomian triwulan II-2025,&amp;rdquo; tutur Edy.&#13;
&#13;
Dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa mencatat pertumbuhan sebesar 10,67%. Peningkatan ini didorong oleh ekspor beberapa komoditas nonmigas, seperti lemak dan minyak hewan/nabati, besi dan baja, mesin serta peralatan listrik, serta kendaraan dan bagiannya.&#13;
&#13;
Selain itu, peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara turut memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekspor jasa. Investasi, yang tercermin dalam komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), juga mencatat pertumbuhan yang impresif sebesar 6,99%. Sementara itu, konsumsi pemerintah mengalami kontraksi sebesar 0,33%.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Dari sisi lapangan usaha, sektor industri pengolahan tercatat tumbuh sebesar 5,68%. Kinerja industri pengolahan, khususnya industri makanan dan minuman, industri logam dasar, serta industri kimia, farmasi, dan obat tradisional turut menopang pertumbuhan ekonomi. &amp;quot;Pertumbuhan sektor industri pengolahan utamanya ditopang oleh meningkatnya permintaan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri,&amp;quot; ujar Edy.&#13;
&#13;
Sektor perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor tumbuh 5,37% seiring peningkatan produksi domestik dan impor. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan aktivitas perdagangan barang-barang domestik dan impor untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga.&#13;
&#13;
Sektor transportasi dan pergudangan tumbuh hingga 8,52% didukung oleh peningkatan jumlah penumpang angkutan rel dan laut, serta peningkatan jumlah barang yang diangkut pada seluruh moda transportasi. Sementara itu, subsektor angkutan udara terkontraksi sebesar 0,12%. Sektor informasi dan komunikasi juga mencatat pertumbuhan cukup tinggi sebesar 7,92%, didorong oleh meningkatnya lalu lintas data serta transaksi elektronik.&#13;
&#13;
Secara spasial, ekonomi tumbuh positif di seluruh wilayah. Pulau Jawa mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,24% dan Sulawesi 5,83%, keduanya di atas rata-rata nasional. Sementara itu, wilayah Maluku dan Papua tetap tumbuh positif sebesar 3,33%, meskipun mengalami perlambatan dibandingkan dengan triwulan II tahun sebelumnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 5,12% pada triwulan II 2025, meningkat dari 5,05% pada periode yang sama tahun sebelumnya. BPS memastikan data ini dihitung sesuai standar internasional.&#13;
&#13;
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan, data-data pertumbuhan ekonomi yang dihimpun dipastikan menggunakan sumber dan metodologi yang berkualitas. Bahkan sudah standar internasional.&#13;
&#13;
&amp;quot;Data-data yang disajikan kan standar internasional,&amp;quot; ujar Amalia, Sabtu (11/10/2025).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Oleh karena itu, ekonomi Indonesia tumbuh positif bila dibandingkan ekonomi sejumlah negara tetangga yang juga mengalami pertumbuhan di tengah tekanan perdagangan internasional. Indonesia masih di bawah Vietnam yang pertumbuhannya 8,0%, Tiongkok 5,2%, dan di atas Singapura yang hanya tumbuh 4,3%.&#13;
&#13;
Sementara itu, Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia periode tersebut didorong oleh konsumsi masyarakat yang tetap terjaga.&#13;
&#13;
Hal tersebut juga didukung stimulus fiskal, penyaluran dan penebalan bantuan sosial (bansos), gaji ke-13 Pegawai Negeri Sipil (PNS)/ Tentara Nasional Indonesia (TNI)/ Kepolisian Republik Indonesia (POLRI), termasuk adanya libur panjang yang mendorong peningkatan mobilitas penduduk.&#13;
&#13;
Beberapa indikator seperti indeks penjualan eceran riil dan nilai impor barang konsumsi tercatat terus tumbuh, termasuk transaksi online dari e-retail dan marketplace. Investasi tumbuh positif, belanja barang modal yang dilakukan oleh pemerintah juga menunjukkan pertumbuhan positif, diikuti oleh pertumbuhan impor barang-barang modal.&#13;
&#13;
&amp;rdquo;Lebih lanjut, terjaganya aktivitas produksi, serta hasil dari respons kebijakan juga turut menopang kinerja perekonomian triwulan II-2025,&amp;rdquo; tutur Edy.&#13;
&#13;
Dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa mencatat pertumbuhan sebesar 10,67%. Peningkatan ini didorong oleh ekspor beberapa komoditas nonmigas, seperti lemak dan minyak hewan/nabati, besi dan baja, mesin serta peralatan listrik, serta kendaraan dan bagiannya.&#13;
&#13;
Selain itu, peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara turut memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekspor jasa. Investasi, yang tercermin dalam komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), juga mencatat pertumbuhan yang impresif sebesar 6,99%. Sementara itu, konsumsi pemerintah mengalami kontraksi sebesar 0,33%.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Dari sisi lapangan usaha, sektor industri pengolahan tercatat tumbuh sebesar 5,68%. Kinerja industri pengolahan, khususnya industri makanan dan minuman, industri logam dasar, serta industri kimia, farmasi, dan obat tradisional turut menopang pertumbuhan ekonomi. &amp;quot;Pertumbuhan sektor industri pengolahan utamanya ditopang oleh meningkatnya permintaan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri,&amp;quot; ujar Edy.&#13;
&#13;
Sektor perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor tumbuh 5,37% seiring peningkatan produksi domestik dan impor. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan aktivitas perdagangan barang-barang domestik dan impor untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga.&#13;
&#13;
Sektor transportasi dan pergudangan tumbuh hingga 8,52% didukung oleh peningkatan jumlah penumpang angkutan rel dan laut, serta peningkatan jumlah barang yang diangkut pada seluruh moda transportasi. Sementara itu, subsektor angkutan udara terkontraksi sebesar 0,12%. Sektor informasi dan komunikasi juga mencatat pertumbuhan cukup tinggi sebesar 7,92%, didorong oleh meningkatnya lalu lintas data serta transaksi elektronik.&#13;
&#13;
Secara spasial, ekonomi tumbuh positif di seluruh wilayah. Pulau Jawa mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,24% dan Sulawesi 5,83%, keduanya di atas rata-rata nasional. Sementara itu, wilayah Maluku dan Papua tetap tumbuh positif sebesar 3,33%, meskipun mengalami perlambatan dibandingkan dengan triwulan II tahun sebelumnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
