<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Realisasi Belanja Daerah Baru 56%, Purbaya: Jangan Cuma Diparkir</title><description>Pendapatan daerah menunjukkan tren yang baik. Tapi kita perlu dorong percepatan realisasi belanja&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2025/10/20/320/3178072/realisasi-belanja-daerah-baru-56-purbaya-jangan-cuma-diparkir</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2025/10/20/320/3178072/realisasi-belanja-daerah-baru-56-purbaya-jangan-cuma-diparkir"/><item><title>Realisasi Belanja Daerah Baru 56%, Purbaya: Jangan Cuma Diparkir</title><link>https://economy.okezone.com/read/2025/10/20/320/3178072/realisasi-belanja-daerah-baru-56-purbaya-jangan-cuma-diparkir</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2025/10/20/320/3178072/realisasi-belanja-daerah-baru-56-purbaya-jangan-cuma-diparkir</guid><pubDate>Senin 20 Oktober 2025 19:24 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/10/20/320/3178072/serapan_anggaran-sEwc_large.png" expression="full" type="image/jpeg">Realisasi pendapatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2025 kini menjadi sorotan.  (Foto: Okezone.com/Freepik) </media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/10/20/320/3178072/serapan_anggaran-sEwc_large.png</image><title>Realisasi pendapatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2025 kini menjadi sorotan.  (Foto: Okezone.com/Freepik) </title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Realisasi pendapatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2025 kini menjadi sorotan. Pasalnya, pendapatan pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota baru mencapai 70,27% atau Rp949,97 triliun.&#13;
&#13;
Meski demikian, realisasi hingga 30 September 2025 ini lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun 2024, yang sebesar Rp918,98 triliun atau 67,82%.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pendapatan daerah menunjukkan tren yang baik. Tapi kita perlu dorong percepatan realisasi belanja agar manfaatnya segera dirasakan masyarakat,&amp;rdquo; ujar Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah 2025 bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Kantor Kemendagri, Jakarta, Senin (20/10/2025).&#13;
&#13;
Tito menjelaskan, peningkatan pendapatan terutama terlihat di tingkat kabupaten dan kota.&#13;
&#13;
Kabupaten mencatat realisasi sebesar Rp558,32 triliun (70,19%), naik dari tahun sebelumnya sebesar Rp519,74 triliun (65,19%). Kota juga tumbuh menjadi Rp132,76 triliun (71,12%), dari sebelumnya Rp120,32 triliun (67,90%).&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Ini catatan positif bagi rekan-rekan di kabupaten dan kota,&amp;rdquo; kata Tito.&#13;
&#13;
Namun, di tingkat provinsi terjadi sedikit penurunan. Realisasi pendapatan tercatat 70% (Rp258,97 triliun), lebih rendah dibanding tahun 2024 yang sebesar 73% (Rp278,92 triliun).&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Mohon maaf teman-teman gubernur, ini jadi bahan evaluasi bersama,&amp;rdquo; imbuhnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Di sisi lain, Tito menyoroti bahwa realisasi belanja daerah masih rendah. Hingga akhir September 2025, total belanja gabungan provinsi, kabupaten, dan kota baru mencapai Rp770,13 triliun atau 56,07%.&#13;
&#13;
Rinciannya: Belanja kabupaten: Rp456,24 triliun (56,16%) dan Belanja kota: Rp106,22 triliun (56,66%)&#13;
&#13;
Menurut Tito, percepatan belanja penting untuk menggerakkan ekonomi daerah, menjaga inflasi, dan mendukung target pembangunan nasional.&#13;
&#13;
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa turut mengingatkan agar pemerintah daerah tidak menunda belanja hingga akhir tahun.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Uang daerah jangan hanya parkir di kas daerah. Belanjakan dengan bijak dan segera untuk masyarakat,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
Purbaya juga mendorong agar dana daerah disimpan di bank daerah, bukan di bank nasional yang berpusat di Jakarta, agar perputaran uang tetap hidup di daerah.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau uangnya disimpan di bank Jakarta, daerah akan kering,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Realisasi pendapatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2025 kini menjadi sorotan. Pasalnya, pendapatan pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota baru mencapai 70,27% atau Rp949,97 triliun.&#13;
&#13;
Meski demikian, realisasi hingga 30 September 2025 ini lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun 2024, yang sebesar Rp918,98 triliun atau 67,82%.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pendapatan daerah menunjukkan tren yang baik. Tapi kita perlu dorong percepatan realisasi belanja agar manfaatnya segera dirasakan masyarakat,&amp;rdquo; ujar Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah 2025 bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Kantor Kemendagri, Jakarta, Senin (20/10/2025).&#13;
&#13;
Tito menjelaskan, peningkatan pendapatan terutama terlihat di tingkat kabupaten dan kota.&#13;
&#13;
Kabupaten mencatat realisasi sebesar Rp558,32 triliun (70,19%), naik dari tahun sebelumnya sebesar Rp519,74 triliun (65,19%). Kota juga tumbuh menjadi Rp132,76 triliun (71,12%), dari sebelumnya Rp120,32 triliun (67,90%).&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Ini catatan positif bagi rekan-rekan di kabupaten dan kota,&amp;rdquo; kata Tito.&#13;
&#13;
Namun, di tingkat provinsi terjadi sedikit penurunan. Realisasi pendapatan tercatat 70% (Rp258,97 triliun), lebih rendah dibanding tahun 2024 yang sebesar 73% (Rp278,92 triliun).&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Mohon maaf teman-teman gubernur, ini jadi bahan evaluasi bersama,&amp;rdquo; imbuhnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Di sisi lain, Tito menyoroti bahwa realisasi belanja daerah masih rendah. Hingga akhir September 2025, total belanja gabungan provinsi, kabupaten, dan kota baru mencapai Rp770,13 triliun atau 56,07%.&#13;
&#13;
Rinciannya: Belanja kabupaten: Rp456,24 triliun (56,16%) dan Belanja kota: Rp106,22 triliun (56,66%)&#13;
&#13;
Menurut Tito, percepatan belanja penting untuk menggerakkan ekonomi daerah, menjaga inflasi, dan mendukung target pembangunan nasional.&#13;
&#13;
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa turut mengingatkan agar pemerintah daerah tidak menunda belanja hingga akhir tahun.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Uang daerah jangan hanya parkir di kas daerah. Belanjakan dengan bijak dan segera untuk masyarakat,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
Purbaya juga mendorong agar dana daerah disimpan di bank daerah, bukan di bank nasional yang berpusat di Jakarta, agar perputaran uang tetap hidup di daerah.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau uangnya disimpan di bank Jakarta, daerah akan kering,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
