<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bos BI Minta Bank Turunkan Suku Bunga: Ikan Sepat, Ikan Gabus, Semakin Cepat Semakin Bagus</title><description>Bank Indonesia (BI) meminta perbankan nasional untuk segera menurunkan suku bunga kredit menyusul penurunan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar total 150 basis poin sejak September 2024.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2025/10/22/320/3178561/bos-bi-minta-bank-turunkan-suku-bunga-ikan-sepat-ikan-gabus-semakin-cepat-semakin-bagus</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2025/10/22/320/3178561/bos-bi-minta-bank-turunkan-suku-bunga-ikan-sepat-ikan-gabus-semakin-cepat-semakin-bagus"/><item><title>Bos BI Minta Bank Turunkan Suku Bunga: Ikan Sepat, Ikan Gabus, Semakin Cepat Semakin Bagus</title><link>https://economy.okezone.com/read/2025/10/22/320/3178561/bos-bi-minta-bank-turunkan-suku-bunga-ikan-sepat-ikan-gabus-semakin-cepat-semakin-bagus</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2025/10/22/320/3178561/bos-bi-minta-bank-turunkan-suku-bunga-ikan-sepat-ikan-gabus-semakin-cepat-semakin-bagus</guid><pubDate>Rabu 22 Oktober 2025 18:21 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/10/22/320/3178561/gubernur_bank_indonesia-MGnB_large.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/10/22/320/3178561/gubernur_bank_indonesia-MGnB_large.JPG</image><title>Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Bank Indonesia (BI) meminta perbankan nasional untuk segera menurunkan suku bunga kredit menyusul penurunan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar total 150 basis poin sejak September 2024.&#13;
&#13;
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan, bank yang cepat menyesuaikan suku bunga kreditnya akan memperoleh insentif likuiditas lebih besar dari BI.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Makanya ikan sepat, ikan gabus. Semakin cepat, semakin bagus. Jadi kebijakan insentif likuiditas yang dilakukan adalah seperti itu,&amp;rdquo; ujar Perry dalam konferensi pers RDG BI, Rabu (22/10/2025).&#13;
&#13;
Perry menjelaskan, BI telah menaikkan porsi insentif likuiditas dari semula 5 persen menjadi 5,5 persen dari total dana pihak ketiga (DPK) untuk mempercepat transmisi kebijakan moneter melalui penyaluran kredit.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau realisasi lebih gede, ya ditambah lebih gede insentifnya. Kalau realisasi lebih rendah dari rencana, ya lebih rendah. Itu untuk penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas,&amp;rdquo; jelas Perry.&#13;
&#13;
Deputi Gubernur BI Juda Agung menambahkan, bank yang paling cepat menurunkan suku bunga kredit akan mendapatkan tambahan insentif maksimum sebesar 0,5 persen dari DPK-nya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kita mendorong bank-bank untuk segera melakukan penyesuaian suku bunga kredit terhadap penurunan BI Rate, jadi pada intinya bank-bank semakin cepat dia menurunkan suku bunga kreditnya, akan mendapatkan insentif likuiditas, yaitu maksimum 0,5 persen dari DPK-nya,&amp;rdquo; ujar Juda.&#13;
&#13;
Menurutnya, sejumlah bank besar telah mulai menurunkan suku bunga kredit, meski secara keseluruhan penyesuaiannya masih terbatas.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Semakin cepat, semakin besar insentif likuiditasnya. Kami sudah lihat ada beberapa bank besar yang mulai menurunkan, tapi sebagian besar masih terbatas. Jadi bank-bank yang menurun dengan cepat, kita akan berikan insentif likuiditas yang lebih tinggi,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Sementara itu, Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman menilai penurunan suku bunga perbankan masih jauh tertinggal dibandingkan dengan penurunan suku bunga kebijakan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Nah yang perlu diperkuat adalah transmisinya di suku bunga perbankan, si ikan sepat, ikan gabus tadi. Di DPK, itu baru turun 1 bulan, 29 basis point. Bayangkan, 150 basis point, baru turun 29 basis point. Di kredit apalagi, baru turun 15 basis point. Jadi inilah yang ingin dilakukan oleh Bank Indonesia,&amp;rdquo; kata Aida.&#13;
&#13;
Aida berharap kebijakan insentif likuiditas ini mampu mempercepat pertumbuhan kredit yang ditargetkan mencapai 8&amp;ndash;11 persen pada tahun ini.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kemudian juga undisbursed loan yang masih tinggi Rp 2.374,8 triliun atau 22,54 persen dari platform yang tersedia, ini bisa disalurkan, sehingga rencana target kredit 8&amp;ndash;11 persen akan terjadi,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Bank Indonesia (BI) meminta perbankan nasional untuk segera menurunkan suku bunga kredit menyusul penurunan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar total 150 basis poin sejak September 2024.&#13;
&#13;
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan, bank yang cepat menyesuaikan suku bunga kreditnya akan memperoleh insentif likuiditas lebih besar dari BI.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Makanya ikan sepat, ikan gabus. Semakin cepat, semakin bagus. Jadi kebijakan insentif likuiditas yang dilakukan adalah seperti itu,&amp;rdquo; ujar Perry dalam konferensi pers RDG BI, Rabu (22/10/2025).&#13;
&#13;
Perry menjelaskan, BI telah menaikkan porsi insentif likuiditas dari semula 5 persen menjadi 5,5 persen dari total dana pihak ketiga (DPK) untuk mempercepat transmisi kebijakan moneter melalui penyaluran kredit.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau realisasi lebih gede, ya ditambah lebih gede insentifnya. Kalau realisasi lebih rendah dari rencana, ya lebih rendah. Itu untuk penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas,&amp;rdquo; jelas Perry.&#13;
&#13;
Deputi Gubernur BI Juda Agung menambahkan, bank yang paling cepat menurunkan suku bunga kredit akan mendapatkan tambahan insentif maksimum sebesar 0,5 persen dari DPK-nya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kita mendorong bank-bank untuk segera melakukan penyesuaian suku bunga kredit terhadap penurunan BI Rate, jadi pada intinya bank-bank semakin cepat dia menurunkan suku bunga kreditnya, akan mendapatkan insentif likuiditas, yaitu maksimum 0,5 persen dari DPK-nya,&amp;rdquo; ujar Juda.&#13;
&#13;
Menurutnya, sejumlah bank besar telah mulai menurunkan suku bunga kredit, meski secara keseluruhan penyesuaiannya masih terbatas.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Semakin cepat, semakin besar insentif likuiditasnya. Kami sudah lihat ada beberapa bank besar yang mulai menurunkan, tapi sebagian besar masih terbatas. Jadi bank-bank yang menurun dengan cepat, kita akan berikan insentif likuiditas yang lebih tinggi,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Sementara itu, Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman menilai penurunan suku bunga perbankan masih jauh tertinggal dibandingkan dengan penurunan suku bunga kebijakan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Nah yang perlu diperkuat adalah transmisinya di suku bunga perbankan, si ikan sepat, ikan gabus tadi. Di DPK, itu baru turun 1 bulan, 29 basis point. Bayangkan, 150 basis point, baru turun 29 basis point. Di kredit apalagi, baru turun 15 basis point. Jadi inilah yang ingin dilakukan oleh Bank Indonesia,&amp;rdquo; kata Aida.&#13;
&#13;
Aida berharap kebijakan insentif likuiditas ini mampu mempercepat pertumbuhan kredit yang ditargetkan mencapai 8&amp;ndash;11 persen pada tahun ini.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kemudian juga undisbursed loan yang masih tinggi Rp 2.374,8 triliun atau 22,54 persen dari platform yang tersedia, ini bisa disalurkan, sehingga rencana target kredit 8&amp;ndash;11 persen akan terjadi,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
