<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Petani Sawit RI Naik Kelas, Kejar Produktivitas Perusahaan Perkebunan Besar</title><description>Upaya mempersempit kesenjangan produktivitas antara perkebunan sawit rakyat dan perusahaan terus dilakukan.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2025/10/30/320/3180375/petani-sawit-ri-naik-kelas-kejar-produktivitas-perusahaan-perkebunan-besar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2025/10/30/320/3180375/petani-sawit-ri-naik-kelas-kejar-produktivitas-perusahaan-perkebunan-besar"/><item><title>Petani Sawit RI Naik Kelas, Kejar Produktivitas Perusahaan Perkebunan Besar</title><link>https://economy.okezone.com/read/2025/10/30/320/3180375/petani-sawit-ri-naik-kelas-kejar-produktivitas-perusahaan-perkebunan-besar</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2025/10/30/320/3180375/petani-sawit-ri-naik-kelas-kejar-produktivitas-perusahaan-perkebunan-besar</guid><pubDate>Kamis 30 Oktober 2025 20:52 WIB</pubDate><dc:creator>Dani Jumadil Akhir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/10/30/320/3180375/sawit-1DLa_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Petani Sawit RI Naik Kelas, Kejar Produktivitas Perusahaan Perkebunan Besar (Foto: PTPN)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/10/30/320/3180375/sawit-1DLa_large.jpg</image><title>Petani Sawit RI Naik Kelas, Kejar Produktivitas Perusahaan Perkebunan Besar (Foto: PTPN)</title></images><description>JAKARTA - Upaya mempersempit kesenjangan produktivitas antara perkebunan sawit rakyat dan perusahaan terus dilakukan. Rata-rata produktivitas sawit rakyat saat ini masih berkisar 2&amp;ndash;3 ton minyak sawit mentah (CPO) per hektare per tahun, sedangkan perkebunan besar negara dan swasta mampu mencapai 5&amp;ndash;6 ton.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Kami ingin para petani mitra dapat naik kelas, dengan produktivitas yang sebanding dengan perusahaan,&amp;quot; kata Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo Irwan Perangin-angin &amp;nbsp;dalam keterangannya, Jakarta, Kamis (30/10/2025).&#13;
&#13;
Saat ini pihaknya merangkul petani dari berbagai daerah untuk memperkuat kapasitas dan literasi manajemen budidaya sawit berkelanjutan melalui program pelatihan dan pendampingan berkelanjutan. Dia mengatakan, pelatihan ini merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat kemitraan dan mengakselerasi transformasi sektor sawit menuju praktik yang lebih efisien dan ramah lingkungan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Disparitas produktivitas antara kebun petani dan perusahaan masih cukup besar, padahal sekitar 60 persen dari total 17 juta hektare perkebunan sawit nasional dikelola oleh petani,&amp;quot; ujar Irwan&#13;
&#13;
Hingga Oktober 2025 ini, PTPN IV PalmCo tercatat telah bermitra dengan ribuan petani yang mengelola sekitar 20.000 hektare kebun sawit di berbagai wilayah Indonesia. Dari luasan tersebut, sekitar 5.000 hektare dikelola dengan pola single management, di mana seluruh proses budidaya, dari peremajaan hingga panen, dilakukan secara terpadu dengan standar perusahaan.&#13;
&#13;
Pola manajemen tunggal ini mendapat apresiasi dari Asosiasi Petani Kelapa Sawit Inti Rakyat (Aspekpir). Ketua Aspekpir Setiyono menilai model kemitraan PalmCo sebagai bentuk pemberdayaan petani yang berorientasi pada hasil dan keberlanjutan. &amp;ldquo;PalmCo bukan hanya memberi pelatihan teknis, tetapi juga memastikan petani memahami prinsip budidaya berkelanjutan sesuai standar internasional seperti RSPO. Ini penting agar petani bisa bersaing di pasar global,&amp;rdquo; ujar Setiyono.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Secara nasional, menurut data Kementerian Pertanian, ekspor produk kelapa sawit dan turunannya pada 2024 mencapai USD 33 miliar, menjadikannya penyumbang devisa nonmigas terbesar Indonesia. Riau sendiri merupakan produsen sawit terbesar di Tanah Air, dengan luas areal lebih dari 3,4 juta hektare, di mana sekitar 60 persen di antaranya merupakan kebun milik&#13;
rakyat.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Upaya PTPN IV PalmCo ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah untuk mendorong peremajaan dan sertifikasi sawit rakyat. Berdasarkan data BPDPKS, hingga pertengahan 2025 baru sekitar 25 persen kebun sawit rakyat yang telah tersertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Kehadiran PalmCo diharapkan dapat mempercepat peningkatan produktivitas sekaligus&#13;
memastikan praktik budidaya yang berkelanjutan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kemandirian petani adalah kunci keberlanjutan industri sawit Indonesia. Kami ingin memastikan mereka tidak hanya menjadi bagian dari rantai pasok, tetapi juga motor pertumbuhan ekonomi daerah,&amp;rdquo; ujar Irwan.&#13;
&#13;
Dengan sinergi antara korporasi, pemerintah, dan petani, industri sawit nasional berpeluang memperkuat daya saing globalnya. Bagi petani, dukungan peningkatan kapasitas seperti yang dilakukan PTPN IV PalmCo menjadi jalan menuju kemandirian dan kesejahteraan yang lebih berkelanjutan.&#13;
&#13;
Sekadar informasi, program pelatihan dan pendampingan berkelanjutan digelar selama dua hari, Kamis&amp;ndash;Jumat (30&amp;ndash;31/10/2025), puluhan pengurus koperasi petani sawit mitra PTPN IV PalmCo dari Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Kalimantan, hingga Sulawesi mengikuti Pelatihan Peningkatan Kompetensi Petani Mitra Binaan di Mess Tandun, Kabupaten Kampar, Riau.&#13;
&#13;
Para peserta memperoleh materi dari sejumlah pakar budidaya sawit, mulai dari penggunaan bibit unggul, pemupukan berimbang, pengendalian hama terpadu, hingga teknik panen efisien. Pelatihan juga dilengkapi dengan kunjungan lapangan ke kebun PTPN IV Regional III serta koperasi mitra binaan, Karyawa Mukti dan Makarti Jaya, untuk melihat praktik terbaik pengelolaan sawit berkelanjutan.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Upaya mempersempit kesenjangan produktivitas antara perkebunan sawit rakyat dan perusahaan terus dilakukan. Rata-rata produktivitas sawit rakyat saat ini masih berkisar 2&amp;ndash;3 ton minyak sawit mentah (CPO) per hektare per tahun, sedangkan perkebunan besar negara dan swasta mampu mencapai 5&amp;ndash;6 ton.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Kami ingin para petani mitra dapat naik kelas, dengan produktivitas yang sebanding dengan perusahaan,&amp;quot; kata Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo Irwan Perangin-angin &amp;nbsp;dalam keterangannya, Jakarta, Kamis (30/10/2025).&#13;
&#13;
Saat ini pihaknya merangkul petani dari berbagai daerah untuk memperkuat kapasitas dan literasi manajemen budidaya sawit berkelanjutan melalui program pelatihan dan pendampingan berkelanjutan. Dia mengatakan, pelatihan ini merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat kemitraan dan mengakselerasi transformasi sektor sawit menuju praktik yang lebih efisien dan ramah lingkungan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Disparitas produktivitas antara kebun petani dan perusahaan masih cukup besar, padahal sekitar 60 persen dari total 17 juta hektare perkebunan sawit nasional dikelola oleh petani,&amp;quot; ujar Irwan&#13;
&#13;
Hingga Oktober 2025 ini, PTPN IV PalmCo tercatat telah bermitra dengan ribuan petani yang mengelola sekitar 20.000 hektare kebun sawit di berbagai wilayah Indonesia. Dari luasan tersebut, sekitar 5.000 hektare dikelola dengan pola single management, di mana seluruh proses budidaya, dari peremajaan hingga panen, dilakukan secara terpadu dengan standar perusahaan.&#13;
&#13;
Pola manajemen tunggal ini mendapat apresiasi dari Asosiasi Petani Kelapa Sawit Inti Rakyat (Aspekpir). Ketua Aspekpir Setiyono menilai model kemitraan PalmCo sebagai bentuk pemberdayaan petani yang berorientasi pada hasil dan keberlanjutan. &amp;ldquo;PalmCo bukan hanya memberi pelatihan teknis, tetapi juga memastikan petani memahami prinsip budidaya berkelanjutan sesuai standar internasional seperti RSPO. Ini penting agar petani bisa bersaing di pasar global,&amp;rdquo; ujar Setiyono.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Secara nasional, menurut data Kementerian Pertanian, ekspor produk kelapa sawit dan turunannya pada 2024 mencapai USD 33 miliar, menjadikannya penyumbang devisa nonmigas terbesar Indonesia. Riau sendiri merupakan produsen sawit terbesar di Tanah Air, dengan luas areal lebih dari 3,4 juta hektare, di mana sekitar 60 persen di antaranya merupakan kebun milik&#13;
rakyat.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Upaya PTPN IV PalmCo ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah untuk mendorong peremajaan dan sertifikasi sawit rakyat. Berdasarkan data BPDPKS, hingga pertengahan 2025 baru sekitar 25 persen kebun sawit rakyat yang telah tersertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Kehadiran PalmCo diharapkan dapat mempercepat peningkatan produktivitas sekaligus&#13;
memastikan praktik budidaya yang berkelanjutan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kemandirian petani adalah kunci keberlanjutan industri sawit Indonesia. Kami ingin memastikan mereka tidak hanya menjadi bagian dari rantai pasok, tetapi juga motor pertumbuhan ekonomi daerah,&amp;rdquo; ujar Irwan.&#13;
&#13;
Dengan sinergi antara korporasi, pemerintah, dan petani, industri sawit nasional berpeluang memperkuat daya saing globalnya. Bagi petani, dukungan peningkatan kapasitas seperti yang dilakukan PTPN IV PalmCo menjadi jalan menuju kemandirian dan kesejahteraan yang lebih berkelanjutan.&#13;
&#13;
Sekadar informasi, program pelatihan dan pendampingan berkelanjutan digelar selama dua hari, Kamis&amp;ndash;Jumat (30&amp;ndash;31/10/2025), puluhan pengurus koperasi petani sawit mitra PTPN IV PalmCo dari Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Kalimantan, hingga Sulawesi mengikuti Pelatihan Peningkatan Kompetensi Petani Mitra Binaan di Mess Tandun, Kabupaten Kampar, Riau.&#13;
&#13;
Para peserta memperoleh materi dari sejumlah pakar budidaya sawit, mulai dari penggunaan bibit unggul, pemupukan berimbang, pengendalian hama terpadu, hingga teknik panen efisien. Pelatihan juga dilengkapi dengan kunjungan lapangan ke kebun PTPN IV Regional III serta koperasi mitra binaan, Karyawa Mukti dan Makarti Jaya, untuk melihat praktik terbaik pengelolaan sawit berkelanjutan.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
