<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekonomi RI 2026 Hanya Bisa Tumbuh 4,9%&amp;ndash;5,1%, Tantangan Masih Berat</title><description>Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 4,9% hingga 5,1% pada 2026&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2025/11/27/320/3186221/ekonomi-ri-2026-hanya-bisa-tumbuh-4-9-ndash-5-1-tantangan-masih-berat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2025/11/27/320/3186221/ekonomi-ri-2026-hanya-bisa-tumbuh-4-9-ndash-5-1-tantangan-masih-berat"/><item><title>Ekonomi RI 2026 Hanya Bisa Tumbuh 4,9%&amp;ndash;5,1%, Tantangan Masih Berat</title><link>https://economy.okezone.com/read/2025/11/27/320/3186221/ekonomi-ri-2026-hanya-bisa-tumbuh-4-9-ndash-5-1-tantangan-masih-berat</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2025/11/27/320/3186221/ekonomi-ri-2026-hanya-bisa-tumbuh-4-9-ndash-5-1-tantangan-masih-berat</guid><pubDate>Kamis 27 November 2025 13:05 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/11/27/320/3186221/pertumbuhan_ekonomi-9zvS_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Belum ada sinyal optimistis yang kuat untuk prospek ekonomi 2026. (Foto: Okezone.com/Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/11/27/320/3186221/pertumbuhan_ekonomi-9zvS_large.jpg</image><title>Belum ada sinyal optimistis yang kuat untuk prospek ekonomi 2026. (Foto: Okezone.com/Freepik)</title></images><description>JAKARTA - Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 4,9% hingga 5,1% pada 2026. Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa perekonomian nasional tidak mengalami akselerasi signifikan tahun depan, meskipun masih menunjukkan ketahanan.&#13;
&#13;
Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menilai belum muncul sinyal optimistis yang kuat untuk prospek ekonomi 2026. Bahkan, ia menyebut kondisi tahun depan berpotensi lebih menantang dibandingkan 2025.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Net ekspor akan turun, tetapi akan ada kenaikan marginal di spending pemerintah, konsumsi rumah tangga, dan investasi. Tapi, karena kenaikannya marginal, ini kemungkinan tidak bisa mengompensasi menyempitnya net ekspor,&amp;rdquo; jelas Faisal dalam risetnya, dikutip Kamis (27/11/2025).&#13;
&#13;
CORE menyoroti indikasi pelemahan pada indikator utama seperti konsumsi rumah tangga dan investasi.&#13;
&#13;
Pertumbuhan kredit konsumsi tercatat terus melemah dari Februari hingga Oktober 2025. Pada Februari 2025, pertumbuhan kredit konsumsi mencapai 10,2 persen, namun turun menjadi 6,9 persen secara tahunan pada Oktober 2025.&#13;
&#13;
Pemulihan kelas menengah juga belum terlihat. Penjualan rumah segmen sedang dan besar masing-masing tercatat terkontraksi minus 12 persen dan minus 23 persen pada kuartal III 2025.&#13;
&#13;
Di sisi investasi, modal asing diperkirakan menurun pada 2025 dan berpotensi berlanjut ke 2026 apabila tidak ada perubahan kebijakan yang mampu memulihkan kepercayaan investor.&#13;
&#13;
Data kuartal I&amp;ndash;III 2025 menunjukkan investasi asing mengalami kontraksi minus 1 persen, sementara investasi domestik tumbuh 30 persen.&#13;
&#13;
Meski outlook melambat, Indonesia tetap berpeluang mencatat pertumbuhan lebih tinggi jika pemerintah mempercepat agenda industrialisasi.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Ekonom senior Hendri Saparini menilai arah tersebut penting untuk keluar dari jebakan stagnasi pertumbuhan yang telah terjadi bertahun-tahun.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;PR kita adalah bahwa Indonesia tumbuh terlalu rendah dalam jangka lama, dan bahkan pertumbuhannya itu cenderung melambat,&amp;rdquo; ujar Hendri.&#13;
&#13;
Hendri mencontohkan negara-negara yang berhasil melakukan lompatan ekonomi memiliki basis manufaktur yang kuat.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau kita lihat lesson learned dari banyak negara, ternyata negara yang bisa melakukan lompatan ekonomi seperti Korea Selatan dapat menjaga share industri manufaktur terhadap PDB di level yang sangat tinggi,&amp;rdquo; kata Hendri.&#13;
&#13;
Direktur Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, menekankan pentingnya stabilitas politik dan keamanan untuk menciptakan lompatan ekonomi yang berkelanjutan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Idealnya pemerintah Indonesia mengikuti pendekatan diplomasi yang seimbang. Menjaga hubungan baik dengan semua kekuatan besar, tanpa terjebak dalam blok tertentu,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
&#13;
&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 4,9% hingga 5,1% pada 2026. Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa perekonomian nasional tidak mengalami akselerasi signifikan tahun depan, meskipun masih menunjukkan ketahanan.&#13;
&#13;
Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menilai belum muncul sinyal optimistis yang kuat untuk prospek ekonomi 2026. Bahkan, ia menyebut kondisi tahun depan berpotensi lebih menantang dibandingkan 2025.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Net ekspor akan turun, tetapi akan ada kenaikan marginal di spending pemerintah, konsumsi rumah tangga, dan investasi. Tapi, karena kenaikannya marginal, ini kemungkinan tidak bisa mengompensasi menyempitnya net ekspor,&amp;rdquo; jelas Faisal dalam risetnya, dikutip Kamis (27/11/2025).&#13;
&#13;
CORE menyoroti indikasi pelemahan pada indikator utama seperti konsumsi rumah tangga dan investasi.&#13;
&#13;
Pertumbuhan kredit konsumsi tercatat terus melemah dari Februari hingga Oktober 2025. Pada Februari 2025, pertumbuhan kredit konsumsi mencapai 10,2 persen, namun turun menjadi 6,9 persen secara tahunan pada Oktober 2025.&#13;
&#13;
Pemulihan kelas menengah juga belum terlihat. Penjualan rumah segmen sedang dan besar masing-masing tercatat terkontraksi minus 12 persen dan minus 23 persen pada kuartal III 2025.&#13;
&#13;
Di sisi investasi, modal asing diperkirakan menurun pada 2025 dan berpotensi berlanjut ke 2026 apabila tidak ada perubahan kebijakan yang mampu memulihkan kepercayaan investor.&#13;
&#13;
Data kuartal I&amp;ndash;III 2025 menunjukkan investasi asing mengalami kontraksi minus 1 persen, sementara investasi domestik tumbuh 30 persen.&#13;
&#13;
Meski outlook melambat, Indonesia tetap berpeluang mencatat pertumbuhan lebih tinggi jika pemerintah mempercepat agenda industrialisasi.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Ekonom senior Hendri Saparini menilai arah tersebut penting untuk keluar dari jebakan stagnasi pertumbuhan yang telah terjadi bertahun-tahun.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;PR kita adalah bahwa Indonesia tumbuh terlalu rendah dalam jangka lama, dan bahkan pertumbuhannya itu cenderung melambat,&amp;rdquo; ujar Hendri.&#13;
&#13;
Hendri mencontohkan negara-negara yang berhasil melakukan lompatan ekonomi memiliki basis manufaktur yang kuat.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau kita lihat lesson learned dari banyak negara, ternyata negara yang bisa melakukan lompatan ekonomi seperti Korea Selatan dapat menjaga share industri manufaktur terhadap PDB di level yang sangat tinggi,&amp;rdquo; kata Hendri.&#13;
&#13;
Direktur Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, menekankan pentingnya stabilitas politik dan keamanan untuk menciptakan lompatan ekonomi yang berkelanjutan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Idealnya pemerintah Indonesia mengikuti pendekatan diplomasi yang seimbang. Menjaga hubungan baik dengan semua kekuatan besar, tanpa terjebak dalam blok tertentu,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
&#13;
&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
