<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>OJK Waspadai Risiko Fiskal dan Besaran Bunga Obligasi di Tengah Stabilitas Ekonomi Dunia</title><description>Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai ekonomi global berada pada fase stabil menuju akhir 2025&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2025/12/11/320/3189243/ojk-waspadai-risiko-fiskal-dan-besaran-bunga-obligasi-di-tengah-stabilitas-ekonomi-dunia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2025/12/11/320/3189243/ojk-waspadai-risiko-fiskal-dan-besaran-bunga-obligasi-di-tengah-stabilitas-ekonomi-dunia"/><item><title>OJK Waspadai Risiko Fiskal dan Besaran Bunga Obligasi di Tengah Stabilitas Ekonomi Dunia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2025/12/11/320/3189243/ojk-waspadai-risiko-fiskal-dan-besaran-bunga-obligasi-di-tengah-stabilitas-ekonomi-dunia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2025/12/11/320/3189243/ojk-waspadai-risiko-fiskal-dan-besaran-bunga-obligasi-di-tengah-stabilitas-ekonomi-dunia</guid><pubDate>Kamis 11 Desember 2025 16:27 WIB</pubDate><dc:creator>Dinar Fitra Maghiszha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/12/11/320/3189243/grafik-DJn5_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Tekanan risiko fiskal dan arah kebijakan moneter dinilai tetap membayangi prospek tahun depan. (Foto: Okezone.com/Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/12/11/320/3189243/grafik-DJn5_large.jpg</image><title>Tekanan risiko fiskal dan arah kebijakan moneter dinilai tetap membayangi prospek tahun depan. (Foto: Okezone.com/Freepik)</title></images><description>JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai ekonomi global berada pada fase stabil menuju akhir 2025. Meski demikian, tekanan risiko fiskal dan arah kebijakan moneter dinilai tetap membayangi prospek tahun depan.&#13;
&#13;
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menjelaskan, stabilitas global terlihat dari aktivitas manufaktur di sejumlah negara maju yang kembali berada pada zona ekspansi.&#13;
&#13;
&amp;quot;Perekonomian global relatif stabil yang ditandai dengan aktivitas manufaktur global berada di zona ekspansi,&amp;quot; ujarnya dalam konferensi pers RDKB, Kamis (11/12/2025).&#13;
&#13;
Namun, ia menekankan bahwa sentimen pasar menuju 2026 masih berhati-hati. Mahendra menyebut risiko fiskal dan kenaikan imbal hasil/yield obligasi jangka panjang menjadi perhatian utama pelaku pasar di berbagai negara.&#13;
&#13;
Di Amerika Serikat, dinamika ekonomi dinilai menunjukkan kondisi yang beragam. Penutupan pemerintahan/shutdown selama 43 hari memberikan tekanan tambahan terhadap aktivitas ekonomi, sementara pasar tenaga kerja mulai termoderasi.&#13;
&#13;
&amp;quot;The Fed menurunkan suku bunga sebesar 25 basis points namun tetap memberikan sinyal hawkish di tengah tekanan fiskal,&amp;quot; kata Mahendra.&#13;
&#13;
Dari China, sejumlah indikator permintaan dinilai masih lemah. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan III melambat, sementara konsumsi rumah tangga tertahan.&#13;
&#13;
Mahendra menyampaikan penjualan ritel dan sektor properti juga mencatat perlambatan yang menambah tantangan pemulihan ekonomi negara tersebut.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Dari dalam negeri, perekonomian Indonesia dinilai berada pada posisi solid. Ia memaparkan pertumbuhan triwulan III diestimasi mencapai 5,04 persen year-on-year dengan PMI manufaktur yang tetap berada di zona ekspansi.&#13;
&#13;
Meski begitu, Mahendra menilai perkembangan permintaan domestik tetap perlu dicermati, seiring moderasi pada beberapa indikator konsumsi seperti inflasi inti, keyakinan konsumen, dan penjualan ritel.&#13;
&#13;
&amp;quot;Sepanjang 2025, sektor jasa keuangan secara umum menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah berbagai dinamika global dan domestik,&amp;quot; jelasnya.&#13;
&#13;
&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai ekonomi global berada pada fase stabil menuju akhir 2025. Meski demikian, tekanan risiko fiskal dan arah kebijakan moneter dinilai tetap membayangi prospek tahun depan.&#13;
&#13;
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menjelaskan, stabilitas global terlihat dari aktivitas manufaktur di sejumlah negara maju yang kembali berada pada zona ekspansi.&#13;
&#13;
&amp;quot;Perekonomian global relatif stabil yang ditandai dengan aktivitas manufaktur global berada di zona ekspansi,&amp;quot; ujarnya dalam konferensi pers RDKB, Kamis (11/12/2025).&#13;
&#13;
Namun, ia menekankan bahwa sentimen pasar menuju 2026 masih berhati-hati. Mahendra menyebut risiko fiskal dan kenaikan imbal hasil/yield obligasi jangka panjang menjadi perhatian utama pelaku pasar di berbagai negara.&#13;
&#13;
Di Amerika Serikat, dinamika ekonomi dinilai menunjukkan kondisi yang beragam. Penutupan pemerintahan/shutdown selama 43 hari memberikan tekanan tambahan terhadap aktivitas ekonomi, sementara pasar tenaga kerja mulai termoderasi.&#13;
&#13;
&amp;quot;The Fed menurunkan suku bunga sebesar 25 basis points namun tetap memberikan sinyal hawkish di tengah tekanan fiskal,&amp;quot; kata Mahendra.&#13;
&#13;
Dari China, sejumlah indikator permintaan dinilai masih lemah. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan III melambat, sementara konsumsi rumah tangga tertahan.&#13;
&#13;
Mahendra menyampaikan penjualan ritel dan sektor properti juga mencatat perlambatan yang menambah tantangan pemulihan ekonomi negara tersebut.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Dari dalam negeri, perekonomian Indonesia dinilai berada pada posisi solid. Ia memaparkan pertumbuhan triwulan III diestimasi mencapai 5,04 persen year-on-year dengan PMI manufaktur yang tetap berada di zona ekspansi.&#13;
&#13;
Meski begitu, Mahendra menilai perkembangan permintaan domestik tetap perlu dicermati, seiring moderasi pada beberapa indikator konsumsi seperti inflasi inti, keyakinan konsumen, dan penjualan ritel.&#13;
&#13;
&amp;quot;Sepanjang 2025, sektor jasa keuangan secara umum menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah berbagai dinamika global dan domestik,&amp;quot; jelasnya.&#13;
&#13;
&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
