<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bisnis Kreatif di Era Gen Z, Inspirasi dari Tren Photobox</title><description>Fenomena ini justru menjadi inspirasi untuk menciptakan bisnis kreatif yang menggabungkan inovasi, teknologi sederhana, dan pemahaman pasar.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2025/12/13/455/3189620/bisnis-kreatif-di-era-gen-z-inspirasi-dari-tren-photobox</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2025/12/13/455/3189620/bisnis-kreatif-di-era-gen-z-inspirasi-dari-tren-photobox"/><item><title>Bisnis Kreatif di Era Gen Z, Inspirasi dari Tren Photobox</title><link>https://economy.okezone.com/read/2025/12/13/455/3189620/bisnis-kreatif-di-era-gen-z-inspirasi-dari-tren-photobox</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2025/12/13/455/3189620/bisnis-kreatif-di-era-gen-z-inspirasi-dari-tren-photobox</guid><pubDate>Sabtu 13 Desember 2025 14:12 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/12/13/455/3189620/photobox-Uflg_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg"> Tren photobox yang berkembang pesat di kalangan Gen Z . (Foto: Okezone.com/Freepix)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/12/13/455/3189620/photobox-Uflg_large.jpg</image><title> Tren photobox yang berkembang pesat di kalangan Gen Z . (Foto: Okezone.com/Freepix)</title></images><description>JAKARTA - Tren photobox yang berkembang pesat di kalangan Gen Z bukan hanya soal gaya hidup atau hiburan semata. Fenomena ini justru menjadi inspirasi untuk menciptakan bisnis kreatif yang menggabungkan inovasi, teknologi sederhana, dan pemahaman pasar.&#13;
&#13;
Pengusaha Photobox Photomatics, Rafif Adhikara, menceritakan bahwa ia mulai membangun usaha sejak awal perkuliahan pada 2017&amp;ndash;2019. Ia menjalankan bisnis photobooth sambil mengikuti kegiatan kampus dan bahkan menawarkan jasanya untuk berbagai event internal.&#13;
&#13;
Inspirasi ini muncul ketika ia menyadari bahwa photobooth saat itu hanya bisa ditemui di arena permainan seperti Timezone. Selain lokasinya jauh, penggunaan mesinnya juga membutuhkan top-up kartu dengan harga sekitar Rp50.000.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dari situ saya mikir, harusnya photobooth bisa lebih mudah dijangkau dan terjangkau. Itu titik awal saya kepikiran membangun bisnis sendiri,&amp;rdquo; ujarnya, Sabtu (13/12/2025).&#13;
&#13;
Ia kemudian mulai menjalin kerja sama dengan kafe dan coffee shop di Jakarta serta menyesuaikan konsep bisnisnya agar lebih fleksibel dan mudah diakses.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kuliah jalan, bisnis jalan. Dua-duanya saya jalani bersamaan, dan justru dari situ saya belajar banyak soal manajemen waktu,&amp;rdquo; tutur Rafif.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Seiring waktu, usahanya berkembang melalui kolaborasi dengan komunitas dan berbagai brand besar, strategi yang membuat bisnisnya menjangkau lebih banyak kota.&#13;
&#13;
Hingga 2024, usaha tersebut telah memiliki lebih dari 150 cabang dan lebih dari 300 karyawan di 20 kota di Indonesia.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kuncinya adalah memahami apa yang membuat anak muda mau datang lagi. Jadi saya selalu riset dan mendengar masukan dari komunitas,&amp;rdquo; kata Rafif.&#13;
&#13;
Dalam menjalankan bisnis, ia memegang prinsip win-win solution bagi semua pihak, baik partner, komunitas, maupun pelanggan, sambil memastikan layanan tetap terjangkau agar dapat dinikmati siapa saja.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Tren photobox yang berkembang pesat di kalangan Gen Z bukan hanya soal gaya hidup atau hiburan semata. Fenomena ini justru menjadi inspirasi untuk menciptakan bisnis kreatif yang menggabungkan inovasi, teknologi sederhana, dan pemahaman pasar.&#13;
&#13;
Pengusaha Photobox Photomatics, Rafif Adhikara, menceritakan bahwa ia mulai membangun usaha sejak awal perkuliahan pada 2017&amp;ndash;2019. Ia menjalankan bisnis photobooth sambil mengikuti kegiatan kampus dan bahkan menawarkan jasanya untuk berbagai event internal.&#13;
&#13;
Inspirasi ini muncul ketika ia menyadari bahwa photobooth saat itu hanya bisa ditemui di arena permainan seperti Timezone. Selain lokasinya jauh, penggunaan mesinnya juga membutuhkan top-up kartu dengan harga sekitar Rp50.000.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dari situ saya mikir, harusnya photobooth bisa lebih mudah dijangkau dan terjangkau. Itu titik awal saya kepikiran membangun bisnis sendiri,&amp;rdquo; ujarnya, Sabtu (13/12/2025).&#13;
&#13;
Ia kemudian mulai menjalin kerja sama dengan kafe dan coffee shop di Jakarta serta menyesuaikan konsep bisnisnya agar lebih fleksibel dan mudah diakses.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kuliah jalan, bisnis jalan. Dua-duanya saya jalani bersamaan, dan justru dari situ saya belajar banyak soal manajemen waktu,&amp;rdquo; tutur Rafif.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Seiring waktu, usahanya berkembang melalui kolaborasi dengan komunitas dan berbagai brand besar, strategi yang membuat bisnisnya menjangkau lebih banyak kota.&#13;
&#13;
Hingga 2024, usaha tersebut telah memiliki lebih dari 150 cabang dan lebih dari 300 karyawan di 20 kota di Indonesia.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kuncinya adalah memahami apa yang membuat anak muda mau datang lagi. Jadi saya selalu riset dan mendengar masukan dari komunitas,&amp;rdquo; kata Rafif.&#13;
&#13;
Dalam menjalankan bisnis, ia memegang prinsip win-win solution bagi semua pihak, baik partner, komunitas, maupun pelanggan, sambil memastikan layanan tetap terjangkau agar dapat dinikmati siapa saja.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
