<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>KKI: 57 Persen Galon Lanjut Usia Masih Beredar Luas di Indonesia</title><description>Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) mengatakan bahwa masih maraknya peredaran galon guna ulang berusia tua dalam hasil investigasi lapangan bertajuk Investigasi Ganula Air Minum di Jabodetabek. &#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2025/12/15/320/3190081/kki-57-persen-galon-lanjut-usia-masih-beredar-luas-di-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2025/12/15/320/3190081/kki-57-persen-galon-lanjut-usia-masih-beredar-luas-di-indonesia"/><item><title>KKI: 57 Persen Galon Lanjut Usia Masih Beredar Luas di Indonesia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2025/12/15/320/3190081/kki-57-persen-galon-lanjut-usia-masih-beredar-luas-di-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2025/12/15/320/3190081/kki-57-persen-galon-lanjut-usia-masih-beredar-luas-di-indonesia</guid><pubDate>Senin 15 Desember 2025 20:24 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/12/15/320/3190081/galon-ujCn_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Galon Lanjut Usia Masih Beredar Luas di Indonesia (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/12/15/320/3190081/galon-ujCn_large.jpg</image><title>Galon Lanjut Usia Masih Beredar Luas di Indonesia (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) mengatakan bahwa masih maraknya peredaran galon guna ulang berusia tua dalam hasil investigasi lapangan bertajuk Investigasi Ganula Air Minum di Jabodetabek.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Riset yang dilakukan di 60 toko kelontong di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi itu menunjukkan belum adanya perbaikan signifikan dibandingkan temuan serupa yang dirilis KKI pada tahun lalu.&#13;
&#13;
Laporan investigasi ini disampaikan kembali kepada Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), dan dengan tegas KKI merekomendasikan agar BPKN meminta produsen menarik seluruh galon yang berusia di atas 2 tahun dari peredaran.&#13;
&#13;
Hasil terbaru memperlihatkan kondisi yang tak kalah mengkhawatirkan, terutama terkait kelayakan fisik, usia pemakaian dan keamanan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) galon guna ulang yang dikonsumsi jutaan masyarakat.&#13;
&#13;
Investigasi KKI menemukan galon yang sudah jauh melewati batas usia pemakaian wajar. Galon dengan kode produksi tahun 2012 ditemukan beredar di Bogor, galon produksi 2016 masih dijual di Tangerang.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Secara keseluruhan, 57% galon yang beredar berusia lebih dari dua tahun, padahal pakar menyarankan pemakaian maksimal hanya satu tahun untuk mencegah pelepasan zat kimia berbahaya dari plastik polikarbonat.&#13;
&#13;
Ketua KKI David Tobing menyatakan temuan galon berusia hingga 13 tahun sebagai sinyal bahaya serius.&amp;nbsp;Menurut dia, galon-galon tersebut telah masuk kategori Galon Lanjut Usia atau Ganula dan seharusnya menunjukkan kewajiban produsen untuk segera menariknya dari pasar.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;quot;Ini menyangkut keselamatan manusia, bukan semata soal kemasan,&amp;rdquo; ujar dia dalam keterangan tertulisnya, Senin (15/12/2025).&#13;
&#13;
Di lapangan, tim KKI juga menemukan kondisi galon yang jauh dari kata layak.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Sebanyak 80% galon atau 8 dari 10 galon yang di cek tampak buram dan kusam, seolah telah melewati siklus pemakaian tanpa kontrol kualitas. Lebih dari itu, 55% galon ditemukan dalam kondisi lusuh dan berdebu, menunjukkan bahwa aspek kebersihan bukan lagi prioritas dalam distribusi.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Bayangkan, galon dalam kondisi kurang layak seperti kusam, lusuh, dan buram masih dijual bebas. Ini bukan kelalaian kecil, ini ancaman langsung pada kesehatan publik,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
Investigasi KKI juga menyoroti nyaris tidak adanya edukasi dari produsen kepada pedagang.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Sebanyak 95% pedagang mengaku tidak pernah mendapat penjelasan tentang cara membaca kode produksi atau menentukan usia galon dan 91,7% tidak pernah diberi informasi mengenai keamanan bahan kemasan.&#13;
&#13;
David menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh tinggal diam. &amp;quot;Jika Anda menerima galon yang buram, kusam, atau usianya lebih dari dua tahun, tolak! Jangan terima! Minta galon baru. Anda punya hak atas air minum yang aman,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Dia juga menambahkan, produsen harus berhenti berpura-pura tidak tahu.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Ketika 57% galon yang beredar sudah melebihi usia pakai yang dianjurkan, itu berarti produsen gagal menyediakan kemasan yang aman bagi masyarakat. Dan gagal dalam urusan air minum berarti mempertaruhkan kesehatan jutaan orang,&amp;quot; jelasnya.&#13;
&#13;
Merespons temuan ini, KKI mengeluarkan rekomendasi kepada BPKN.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
KKI meminta BPKN mendesak produsen Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) untuk segera menarik galon yang sudah berusia di atas 2 tahun guna mencegah potensi bahaya BPA pada masyarakat.&#13;
&#13;
KKI juga mengimbau masyarakat untuk lebih kritis dan aktif melapor. Jika menemukan galon dengan usia lebih dari dua tahun, warga diminta segera menyampaikan laporan melalui kanal pengaduan resmi KKI.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) mengatakan bahwa masih maraknya peredaran galon guna ulang berusia tua dalam hasil investigasi lapangan bertajuk Investigasi Ganula Air Minum di Jabodetabek.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Riset yang dilakukan di 60 toko kelontong di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi itu menunjukkan belum adanya perbaikan signifikan dibandingkan temuan serupa yang dirilis KKI pada tahun lalu.&#13;
&#13;
Laporan investigasi ini disampaikan kembali kepada Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), dan dengan tegas KKI merekomendasikan agar BPKN meminta produsen menarik seluruh galon yang berusia di atas 2 tahun dari peredaran.&#13;
&#13;
Hasil terbaru memperlihatkan kondisi yang tak kalah mengkhawatirkan, terutama terkait kelayakan fisik, usia pemakaian dan keamanan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) galon guna ulang yang dikonsumsi jutaan masyarakat.&#13;
&#13;
Investigasi KKI menemukan galon yang sudah jauh melewati batas usia pemakaian wajar. Galon dengan kode produksi tahun 2012 ditemukan beredar di Bogor, galon produksi 2016 masih dijual di Tangerang.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Secara keseluruhan, 57% galon yang beredar berusia lebih dari dua tahun, padahal pakar menyarankan pemakaian maksimal hanya satu tahun untuk mencegah pelepasan zat kimia berbahaya dari plastik polikarbonat.&#13;
&#13;
Ketua KKI David Tobing menyatakan temuan galon berusia hingga 13 tahun sebagai sinyal bahaya serius.&amp;nbsp;Menurut dia, galon-galon tersebut telah masuk kategori Galon Lanjut Usia atau Ganula dan seharusnya menunjukkan kewajiban produsen untuk segera menariknya dari pasar.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;quot;Ini menyangkut keselamatan manusia, bukan semata soal kemasan,&amp;rdquo; ujar dia dalam keterangan tertulisnya, Senin (15/12/2025).&#13;
&#13;
Di lapangan, tim KKI juga menemukan kondisi galon yang jauh dari kata layak.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Sebanyak 80% galon atau 8 dari 10 galon yang di cek tampak buram dan kusam, seolah telah melewati siklus pemakaian tanpa kontrol kualitas. Lebih dari itu, 55% galon ditemukan dalam kondisi lusuh dan berdebu, menunjukkan bahwa aspek kebersihan bukan lagi prioritas dalam distribusi.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Bayangkan, galon dalam kondisi kurang layak seperti kusam, lusuh, dan buram masih dijual bebas. Ini bukan kelalaian kecil, ini ancaman langsung pada kesehatan publik,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
Investigasi KKI juga menyoroti nyaris tidak adanya edukasi dari produsen kepada pedagang.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Sebanyak 95% pedagang mengaku tidak pernah mendapat penjelasan tentang cara membaca kode produksi atau menentukan usia galon dan 91,7% tidak pernah diberi informasi mengenai keamanan bahan kemasan.&#13;
&#13;
David menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh tinggal diam. &amp;quot;Jika Anda menerima galon yang buram, kusam, atau usianya lebih dari dua tahun, tolak! Jangan terima! Minta galon baru. Anda punya hak atas air minum yang aman,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Dia juga menambahkan, produsen harus berhenti berpura-pura tidak tahu.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Ketika 57% galon yang beredar sudah melebihi usia pakai yang dianjurkan, itu berarti produsen gagal menyediakan kemasan yang aman bagi masyarakat. Dan gagal dalam urusan air minum berarti mempertaruhkan kesehatan jutaan orang,&amp;quot; jelasnya.&#13;
&#13;
Merespons temuan ini, KKI mengeluarkan rekomendasi kepada BPKN.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
KKI meminta BPKN mendesak produsen Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) untuk segera menarik galon yang sudah berusia di atas 2 tahun guna mencegah potensi bahaya BPA pada masyarakat.&#13;
&#13;
KKI juga mengimbau masyarakat untuk lebih kritis dan aktif melapor. Jika menemukan galon dengan usia lebih dari dua tahun, warga diminta segera menyampaikan laporan melalui kanal pengaduan resmi KKI.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
