<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Wall Street Masih Tertekan, Lagi-Lagi Dipicu Isu AI</title><description>Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, melemah pada perdagangan Rabu waktu setempat.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2025/12/18/278/3190562/wall-street-masih-tertekan-lagi-lagi-dipicu-isu-ai</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2025/12/18/278/3190562/wall-street-masih-tertekan-lagi-lagi-dipicu-isu-ai"/><item><title>Wall Street Masih Tertekan, Lagi-Lagi Dipicu Isu AI</title><link>https://economy.okezone.com/read/2025/12/18/278/3190562/wall-street-masih-tertekan-lagi-lagi-dipicu-isu-ai</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2025/12/18/278/3190562/wall-street-masih-tertekan-lagi-lagi-dipicu-isu-ai</guid><pubDate>Kamis 18 Desember 2025 07:39 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/12/18/278/3190562/ai-LMcb_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kekhawatiran investor terkait keberlanjutan investasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). (Foto: Okezone.com/Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/12/18/278/3190562/ai-LMcb_large.jpg</image><title>Kekhawatiran investor terkait keberlanjutan investasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). (Foto: Okezone.com/Freepik)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, melemah pada perdagangan Rabu waktu setempat. Penurunan ini dipicu aksi jual di saham sektor teknologi seiring meningkatnya kekhawatiran terkait keberlanjutan investasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).&#13;
&#13;
Indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi memimpin pelemahan dengan merosot 1,81% atau 418,14 poin ke posisi 22.693,32. Sementara itu, indeks S&amp;amp;P 500 terpangkas 1,16% ke level 6.721,43, dan Dow Jones Industrial Average turun 0,47% menjadi 47.885,97.&#13;
&#13;
Baik S&amp;amp;P 500 maupun Nasdaq kini berada di level terendah dalam tiga minggu terakhir.&#13;
&#13;
Sentimen negatif utama datang dari kekhawatiran investor mengenai besarnya belanja modal (capex) yang dikeluarkan perusahaan teknologi untuk mengembangkan AI, yang sering kali dilakukan dengan menambah beban utang.&#13;
&#13;
&amp;quot;Ada kecemasan yang merembes mengenai perdagangan AI. Penggerak utamanya adalah tingkat pengeluaran modal dan sifat sirkular dari beberapa pengeluaran tersebut dengan OpenAI berada di pusatnya,&amp;quot; ujar Ahli Strategi Investasi Baird Private Wealth Management, Ross Mayfield.&#13;
&#13;
Ia menambahkan bahwa pasar kini mulai mempertanyakan pengembalian investasi (Return on Investment) dari belanja besar-besaran tersebut menjelang pergantian tahun.&#13;
&#13;
Berbeda dengan sektor teknologi, saham-saham energi justru mencatatkan penguatan. Hal ini dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah setelah Presiden Donald Trump memerintahkan blokade terhadap seluruh tanker minyak yang terkena sanksi di Venezuela.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Akibat kebijakan tersebut, saham perusahaan minyak raksasa seperti ConocoPhillips dan Occidental Petroleum melonjak lebih dari 4% pada penutupan perdagangan.&#13;
&#13;
Di tengah tekanan pasar, investor mendapatkan sedikit sentimen positif dari pernyataan Gubernur Federal Reserve, Christopher Waller.&#13;
&#13;
Sebagai pejabat yang dikenal dengan pandangan dovish, Waller mengindikasikan bahwa bank sentral masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga acuan lebih lanjut.&#13;
&#13;
Langkah ini dimungkinkan mengingat kondisi pasar tenaga kerja yang mulai menunjukkan tanda-tanda pelunakan, yang diharapkan dapat menjaga daya tahan ekonomi AS ke depan.&#13;
&#13;
&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, melemah pada perdagangan Rabu waktu setempat. Penurunan ini dipicu aksi jual di saham sektor teknologi seiring meningkatnya kekhawatiran terkait keberlanjutan investasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).&#13;
&#13;
Indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi memimpin pelemahan dengan merosot 1,81% atau 418,14 poin ke posisi 22.693,32. Sementara itu, indeks S&amp;amp;P 500 terpangkas 1,16% ke level 6.721,43, dan Dow Jones Industrial Average turun 0,47% menjadi 47.885,97.&#13;
&#13;
Baik S&amp;amp;P 500 maupun Nasdaq kini berada di level terendah dalam tiga minggu terakhir.&#13;
&#13;
Sentimen negatif utama datang dari kekhawatiran investor mengenai besarnya belanja modal (capex) yang dikeluarkan perusahaan teknologi untuk mengembangkan AI, yang sering kali dilakukan dengan menambah beban utang.&#13;
&#13;
&amp;quot;Ada kecemasan yang merembes mengenai perdagangan AI. Penggerak utamanya adalah tingkat pengeluaran modal dan sifat sirkular dari beberapa pengeluaran tersebut dengan OpenAI berada di pusatnya,&amp;quot; ujar Ahli Strategi Investasi Baird Private Wealth Management, Ross Mayfield.&#13;
&#13;
Ia menambahkan bahwa pasar kini mulai mempertanyakan pengembalian investasi (Return on Investment) dari belanja besar-besaran tersebut menjelang pergantian tahun.&#13;
&#13;
Berbeda dengan sektor teknologi, saham-saham energi justru mencatatkan penguatan. Hal ini dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah setelah Presiden Donald Trump memerintahkan blokade terhadap seluruh tanker minyak yang terkena sanksi di Venezuela.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Akibat kebijakan tersebut, saham perusahaan minyak raksasa seperti ConocoPhillips dan Occidental Petroleum melonjak lebih dari 4% pada penutupan perdagangan.&#13;
&#13;
Di tengah tekanan pasar, investor mendapatkan sedikit sentimen positif dari pernyataan Gubernur Federal Reserve, Christopher Waller.&#13;
&#13;
Sebagai pejabat yang dikenal dengan pandangan dovish, Waller mengindikasikan bahwa bank sentral masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga acuan lebih lanjut.&#13;
&#13;
Langkah ini dimungkinkan mengingat kondisi pasar tenaga kerja yang mulai menunjukkan tanda-tanda pelunakan, yang diharapkan dapat menjaga daya tahan ekonomi AS ke depan.&#13;
&#13;
&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
