<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Elektrifikasi Jadi Kunci Tekan Impor BBM dan LPG</title><description>Strategi Presiden Prabowo Subianto dalam mendorong penggunaan kompor listrik dan kendaraan listrik dinilai sebagai langkah untuk memperkuat ketahanan energi&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/03/17/320/3207514/elektrifikasi-jadi-kunci-tekan-impor-bbm-dan-lpg</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/03/17/320/3207514/elektrifikasi-jadi-kunci-tekan-impor-bbm-dan-lpg"/><item><title>Elektrifikasi Jadi Kunci Tekan Impor BBM dan LPG</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/03/17/320/3207514/elektrifikasi-jadi-kunci-tekan-impor-bbm-dan-lpg</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/03/17/320/3207514/elektrifikasi-jadi-kunci-tekan-impor-bbm-dan-lpg</guid><pubDate>Selasa 17 Maret 2026 21:02 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/03/17/320/3207514/kapal_tanker-GxlX_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Indonesia terhadap impor energi, terutama bahan bakar minyak (BBM) dan LPG. (Foto: Okezone.com/Pertamina)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/03/17/320/3207514/kapal_tanker-GxlX_large.jpg</image><title>Indonesia terhadap impor energi, terutama bahan bakar minyak (BBM) dan LPG. (Foto: Okezone.com/Pertamina)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Strategi Presiden Prabowo Subianto dalam mendorong penggunaan kompor listrik dan kendaraan listrik dinilai sebagai langkah untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian pasokan energi global.&#13;
&#13;
Pengamat Energi Sofyano Zakaria menyatakan kebijakan tersebut dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi, terutama bahan bakar minyak (BBM) dan LPG.&#13;
&#13;
Menurutnya, kebijakan elektrifikasi perlu didorong secara lebih serius karena Indonesia saat ini masih sangat bergantung pada pasokan energi impor, yang sebagian besar distribusinya melalui jalur strategis Selat Hormuz.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kondisi tersebut membuat ketahanan energi nasional rentan terhadap dinamika geopolitik global,&amp;rdquo; kata Sofyano, Selasa (17/3/2026).&#13;
&#13;
Dia menjelaskan, Indonesia memiliki kapasitas produksi listrik yang relatif melimpah sehingga dapat dimanfaatkan untuk menggantikan konsumsi energi berbasis fosil, baik di sektor rumah tangga maupun transportasi.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dengan kapasitas listrik yang cukup besar, program elektrifikasi bisa diarahkan untuk menggantikan penggunaan energi yang masih bergantung pada impor, misalnya LPG di rumah tangga atau BBM pada transportasi,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Sofyano menilai percepatan penggunaan kendaraan listrik juga berpotensi menekan konsumsi BBM nasional secara signifikan, sekaligus mengurangi tekanan terhadap pasokan energi di dalam negeri.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Selain itu, ia menambahkan bahwa ketersediaan sumber daya batu bara nasional yang masih cukup besar dapat menjadi faktor pendukung dalam menjaga stabilitas pasokan listrik nasional apabila terjadi gangguan energi global.&#13;
&#13;
Menurutnya, pemanfaatan kompor listrik merupakan langkah yang paling realistis dalam jangka pendek karena langsung menyasar konsumsi LPG rumah tangga yang selama ini masih didominasi impor.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Elektrifikasi harus menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun sistem energi yang kuat, mandiri, dan berkelanjutan, bukan hanya sebagai respons terhadap situasi konflik global,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Strategi Presiden Prabowo Subianto dalam mendorong penggunaan kompor listrik dan kendaraan listrik dinilai sebagai langkah untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian pasokan energi global.&#13;
&#13;
Pengamat Energi Sofyano Zakaria menyatakan kebijakan tersebut dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi, terutama bahan bakar minyak (BBM) dan LPG.&#13;
&#13;
Menurutnya, kebijakan elektrifikasi perlu didorong secara lebih serius karena Indonesia saat ini masih sangat bergantung pada pasokan energi impor, yang sebagian besar distribusinya melalui jalur strategis Selat Hormuz.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kondisi tersebut membuat ketahanan energi nasional rentan terhadap dinamika geopolitik global,&amp;rdquo; kata Sofyano, Selasa (17/3/2026).&#13;
&#13;
Dia menjelaskan, Indonesia memiliki kapasitas produksi listrik yang relatif melimpah sehingga dapat dimanfaatkan untuk menggantikan konsumsi energi berbasis fosil, baik di sektor rumah tangga maupun transportasi.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dengan kapasitas listrik yang cukup besar, program elektrifikasi bisa diarahkan untuk menggantikan penggunaan energi yang masih bergantung pada impor, misalnya LPG di rumah tangga atau BBM pada transportasi,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Sofyano menilai percepatan penggunaan kendaraan listrik juga berpotensi menekan konsumsi BBM nasional secara signifikan, sekaligus mengurangi tekanan terhadap pasokan energi di dalam negeri.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Selain itu, ia menambahkan bahwa ketersediaan sumber daya batu bara nasional yang masih cukup besar dapat menjadi faktor pendukung dalam menjaga stabilitas pasokan listrik nasional apabila terjadi gangguan energi global.&#13;
&#13;
Menurutnya, pemanfaatan kompor listrik merupakan langkah yang paling realistis dalam jangka pendek karena langsung menyasar konsumsi LPG rumah tangga yang selama ini masih didominasi impor.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Elektrifikasi harus menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun sistem energi yang kuat, mandiri, dan berkelanjutan, bukan hanya sebagai respons terhadap situasi konflik global,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
