<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Masih Ada Produk Impor, Bagaimana Nasib TKDN Migas di RI?</title><description>Penerapan implementasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di hulu minyak dan gas bumi (migas)&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/03/20/320/3208075/masih-ada-produk-impor-bagaimana-nasib-tkdn-migas-di-ri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/03/20/320/3208075/masih-ada-produk-impor-bagaimana-nasib-tkdn-migas-di-ri"/><item><title>Masih Ada Produk Impor, Bagaimana Nasib TKDN Migas di RI?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/03/20/320/3208075/masih-ada-produk-impor-bagaimana-nasib-tkdn-migas-di-ri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/03/20/320/3208075/masih-ada-produk-impor-bagaimana-nasib-tkdn-migas-di-ri</guid><pubDate>Jum'at 20 Maret 2026 18:33 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/03/20/320/3208075/migas-Mt9V_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg"> Indonesia telah membangun kemampuan industri penunjang migas. (Foto: Okezone.com/Feby)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/03/20/320/3208075/migas-Mt9V_large.jpg</image><title> Indonesia telah membangun kemampuan industri penunjang migas. (Foto: Okezone.com/Feby)</title></images><description>JAKARTA - Penerapan implementasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di hulu minyak dan gas bumi (migas). Saat ini TKDN hulu migas masih menghadapi tantangan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Selama puluhan tahun, Indonesia telah membangun kemampuan industri penunjang migas. Berbagai produsen dalam negeri mampu memproduksi peralatan, komponen, hingga teknologi yang dibutuhkan dalam operasi hulu.&#13;
&#13;
Mereka bukan sekadar pelengkap, tetapi pemain yang memahami karakter lapangan, tantangan geografis, hingga kebutuhan spesifik industri domestik.&#13;
&#13;
Namun realitas di lapangan mulai berubah. Produk impor semakin mendominasi.&#13;
&#13;
Perusahaan asing masuk membawa barang jadi dari luar negeri, menggantikan peran industri lokal. Dalam banyak kasus, produk dalam negeri yang memiliki kualitas setara justru tidak mendapatkan ruang yang sama.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Ini bukan sekadar soal kualitas. Ini soal keberpihakan dan kesempatan,&amp;rdquo; kata pengamat industri Kus Rahardjo di Jakarta, Jumat (20/3/2026).&#13;
&#13;
Dia menilai, kondisi ini menciptakan ironi, ketika kemampuan lokal tersedia, tetapi panggung justru lebih banyak diisi oleh pemain luar.&#13;
&#13;
&amp;quot;Aneh, tapi itulah gambaran yang kini mulai terasa di sektor lain,&amp;rdquo; ujar Kus Rahardjo.&#13;
&#13;
Analogi tersebut, menurutnya, mencerminkan kondisi yang tengah terjadi di industri hulu minyak dan gas Indonesia.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Fenomena ini, lanjut Kus, bukan semata-mata dinamika pasar bebas. Ketika produk lokal tidak mendapat ruang yang adil, yang terjadi bukan lagi kompetisi sehat, melainkan pergeseran peran secara sistematis.&#13;
&#13;
Analogi dangdut kembali menjadi relevan. Dangdut akan tetap hidup, bahkan jika dinyanyikan oleh siapa saja. Namun, ketika pelaku aslinya tersingkir dari panggungnya sendiri, ada ruh yang hilang&amp;mdash;identitas yang perlahan memudar.&#13;
&#13;
Hal yang sama berlaku di sektor migas. Industri bisa tetap berjalan dengan dukungan produk impor. Tetapi kemandirian nasional, daya saing industri lokal, dan keberlanjutan jangka panjang menjadi taruhan besar.&#13;
&#13;
&amp;quot;Sebab pada akhirnya, baik di panggung musik maupun panggung industri strategis, persoalannya sama, siapa yang diberi ruang, siapa yang dipercaya, dan siapa yang benar-benar menjadi tuan rumah di negerinya sendiri,&amp;quot; ujarnya&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Penerapan implementasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di hulu minyak dan gas bumi (migas). Saat ini TKDN hulu migas masih menghadapi tantangan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Selama puluhan tahun, Indonesia telah membangun kemampuan industri penunjang migas. Berbagai produsen dalam negeri mampu memproduksi peralatan, komponen, hingga teknologi yang dibutuhkan dalam operasi hulu.&#13;
&#13;
Mereka bukan sekadar pelengkap, tetapi pemain yang memahami karakter lapangan, tantangan geografis, hingga kebutuhan spesifik industri domestik.&#13;
&#13;
Namun realitas di lapangan mulai berubah. Produk impor semakin mendominasi.&#13;
&#13;
Perusahaan asing masuk membawa barang jadi dari luar negeri, menggantikan peran industri lokal. Dalam banyak kasus, produk dalam negeri yang memiliki kualitas setara justru tidak mendapatkan ruang yang sama.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Ini bukan sekadar soal kualitas. Ini soal keberpihakan dan kesempatan,&amp;rdquo; kata pengamat industri Kus Rahardjo di Jakarta, Jumat (20/3/2026).&#13;
&#13;
Dia menilai, kondisi ini menciptakan ironi, ketika kemampuan lokal tersedia, tetapi panggung justru lebih banyak diisi oleh pemain luar.&#13;
&#13;
&amp;quot;Aneh, tapi itulah gambaran yang kini mulai terasa di sektor lain,&amp;rdquo; ujar Kus Rahardjo.&#13;
&#13;
Analogi tersebut, menurutnya, mencerminkan kondisi yang tengah terjadi di industri hulu minyak dan gas Indonesia.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Fenomena ini, lanjut Kus, bukan semata-mata dinamika pasar bebas. Ketika produk lokal tidak mendapat ruang yang adil, yang terjadi bukan lagi kompetisi sehat, melainkan pergeseran peran secara sistematis.&#13;
&#13;
Analogi dangdut kembali menjadi relevan. Dangdut akan tetap hidup, bahkan jika dinyanyikan oleh siapa saja. Namun, ketika pelaku aslinya tersingkir dari panggungnya sendiri, ada ruh yang hilang&amp;mdash;identitas yang perlahan memudar.&#13;
&#13;
Hal yang sama berlaku di sektor migas. Industri bisa tetap berjalan dengan dukungan produk impor. Tetapi kemandirian nasional, daya saing industri lokal, dan keberlanjutan jangka panjang menjadi taruhan besar.&#13;
&#13;
&amp;quot;Sebab pada akhirnya, baik di panggung musik maupun panggung industri strategis, persoalannya sama, siapa yang diberi ruang, siapa yang dipercaya, dan siapa yang benar-benar menjadi tuan rumah di negerinya sendiri,&amp;quot; ujarnya&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
