<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BBM Tak Naik, Purbaya Ungkap Anggaran Subsidi Energi Bisa Bengkak hingga Rp100 Triliun</title><description>Pemerintah memastikan tidak akan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi maupun nonsubsidi per 1 April 2026, meskipun harga minyak dunia tengah bergejolak akibat ketegangan geopolitik Iran-Israel. Konsekuensinya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksi adanya pembengkakan anggaran subsidi energi antara Rp90 triliun hingga Rp100 triliun.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/04/01/320/3210051/bbm-tak-naik-purbaya-ungkap-anggaran-subsidi-energi-bisa-bengkak-hingga-rp100-triliun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/04/01/320/3210051/bbm-tak-naik-purbaya-ungkap-anggaran-subsidi-energi-bisa-bengkak-hingga-rp100-triliun"/><item><title>BBM Tak Naik, Purbaya Ungkap Anggaran Subsidi Energi Bisa Bengkak hingga Rp100 Triliun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/04/01/320/3210051/bbm-tak-naik-purbaya-ungkap-anggaran-subsidi-energi-bisa-bengkak-hingga-rp100-triliun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/04/01/320/3210051/bbm-tak-naik-purbaya-ungkap-anggaran-subsidi-energi-bisa-bengkak-hingga-rp100-triliun</guid><pubDate>Rabu 01 April 2026 16:50 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/04/01/320/3210051/menkeu_purbaya-UHKA_large.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Menkeu Purbaya (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/04/01/320/3210051/menkeu_purbaya-UHKA_large.jpeg</image><title>Menkeu Purbaya (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Pemerintah memastikan tidak akan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi maupun nonsubsidi per 1 April 2026, meskipun harga minyak dunia tengah bergejolak akibat ketegangan geopolitik Iran-Israel. Konsekuensinya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksi adanya pembengkakan anggaran subsidi energi antara Rp90 triliun hingga Rp100 triliun.&#13;
&#13;
Purbaya menegaskan bahwa angka tersebut merupakan murni tambahan untuk pos subsidi, di luar anggaran kompensasi yang memiliki hitungan terpisah.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Rp90 triliun sampai Rp100 triliun, subsidi kan kompensasi lain lagi,&amp;rdquo; ujar Purbaya saat ditemui di Wisma Danantara Indonesia, Rabu (1/4/2026).&#13;
&#13;
Untuk menutup kebutuhan tambahan tersebut, Menkeu menjelaskan bahwa pemerintah tidak akan mengandalkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebagai langkah utama.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Strategi yang diambil adalah melakukan penghematan besar-besaran pada belanja Kementerian dan Lembaga (K/L) yang dinilai kurang prioritas.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Ada penghematan sedikit-sedikit di sana sini. Kita melakukan penghematan tahap 1, tahap 2, tahap 3 di belanja kementerian lembaga yang tidak terlalu jelas. Dan kalau kepepet saya punya SAL sekarang naik Rp 420 triliun,&amp;rdquo; jelas Purbaya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Sebagai informasi, dalam APBN 2026, pemerintah awalnya mengalokasikan Rp210,1 triliun untuk subsidi energi (BBM, listrik, dan LPG 3 Kg). Dengan adanya tambahan ini, total beban subsidi akan meningkat signifikan demi menjaga daya beli masyarakat di tengah tren kenaikan harga minyak global.&#13;
&#13;
Senada dengan kebijakan fiskal tersebut, PT Pertamina Patra Niaga telah mengonfirmasi bahwa harga seluruh produk BBM per 1 April 2026 tidak mengalami perubahan. Harga Pertalite tetap di angka Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.&#13;
&#13;
Untuk produk nonsubsidi seperti Pertamax, harga tetap dibanderol Rp12.300 per liter untuk wilayah Jawa-Bali.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Pemerintah memastikan tidak akan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi maupun nonsubsidi per 1 April 2026, meskipun harga minyak dunia tengah bergejolak akibat ketegangan geopolitik Iran-Israel. Konsekuensinya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksi adanya pembengkakan anggaran subsidi energi antara Rp90 triliun hingga Rp100 triliun.&#13;
&#13;
Purbaya menegaskan bahwa angka tersebut merupakan murni tambahan untuk pos subsidi, di luar anggaran kompensasi yang memiliki hitungan terpisah.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Rp90 triliun sampai Rp100 triliun, subsidi kan kompensasi lain lagi,&amp;rdquo; ujar Purbaya saat ditemui di Wisma Danantara Indonesia, Rabu (1/4/2026).&#13;
&#13;
Untuk menutup kebutuhan tambahan tersebut, Menkeu menjelaskan bahwa pemerintah tidak akan mengandalkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebagai langkah utama.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Strategi yang diambil adalah melakukan penghematan besar-besaran pada belanja Kementerian dan Lembaga (K/L) yang dinilai kurang prioritas.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Ada penghematan sedikit-sedikit di sana sini. Kita melakukan penghematan tahap 1, tahap 2, tahap 3 di belanja kementerian lembaga yang tidak terlalu jelas. Dan kalau kepepet saya punya SAL sekarang naik Rp 420 triliun,&amp;rdquo; jelas Purbaya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Sebagai informasi, dalam APBN 2026, pemerintah awalnya mengalokasikan Rp210,1 triliun untuk subsidi energi (BBM, listrik, dan LPG 3 Kg). Dengan adanya tambahan ini, total beban subsidi akan meningkat signifikan demi menjaga daya beli masyarakat di tengah tren kenaikan harga minyak global.&#13;
&#13;
Senada dengan kebijakan fiskal tersebut, PT Pertamina Patra Niaga telah mengonfirmasi bahwa harga seluruh produk BBM per 1 April 2026 tidak mengalami perubahan. Harga Pertalite tetap di angka Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.&#13;
&#13;
Untuk produk nonsubsidi seperti Pertamax, harga tetap dibanderol Rp12.300 per liter untuk wilayah Jawa-Bali.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
