<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Rugi Rp1,8 Triliun, Wijaya Karya Bakal Ditarik dari Proyek Kereta Cepat Whoosh</title><description>BP BUMN tengah menuntaskan masalah tersebut agar WIKA kembali fokus pada bisnis intinya&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/04/07/320/3211069/rugi-rp1-8-triliun-wijaya-karya-bakal-ditarik-dari-proyek-kereta-cepat-whoosh</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/04/07/320/3211069/rugi-rp1-8-triliun-wijaya-karya-bakal-ditarik-dari-proyek-kereta-cepat-whoosh"/><item><title>Rugi Rp1,8 Triliun, Wijaya Karya Bakal Ditarik dari Proyek Kereta Cepat Whoosh</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/04/07/320/3211069/rugi-rp1-8-triliun-wijaya-karya-bakal-ditarik-dari-proyek-kereta-cepat-whoosh</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/04/07/320/3211069/rugi-rp1-8-triliun-wijaya-karya-bakal-ditarik-dari-proyek-kereta-cepat-whoosh</guid><pubDate>Selasa 07 April 2026 17:44 WIB</pubDate><dc:creator>Riyan Rizki Roshali</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/04/07/320/3211069/kereta_cepat-coGe_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kerugian PT Wijaya Karya (WIKA) sebesar Rp1,8 triliun dari proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. (Foto: Okezone.com/Aldhi Chandra)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/04/07/320/3211069/kereta_cepat-coGe_large.jpg</image><title>Kerugian PT Wijaya Karya (WIKA) sebesar Rp1,8 triliun dari proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. (Foto: Okezone.com/Aldhi Chandra)</title></images><description>JAKARTA &amp;mdash; Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN), Dony Oskaria, menanggapi kerugian PT Wijaya Karya (WIKA) sebesar Rp1,8 triliun dari proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh. Menurutnya, BP BUMN tengah menuntaskan masalah tersebut agar WIKA kembali fokus pada bisnis intinya, dan ke depan perusahaan tidak akan lagi terlibat dalam operasional kereta cepat.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Iya, itu salah satu contohnya. Jadi yang lama kita bereskan. Mereka tidak akan lagi terlibat di kereta api karena tidak in-line dengan bisnis mereka,&amp;rdquo; kata Dony kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026).&#13;
&#13;
Terkait nasib BUMN yang tergabung dalam konsorsium Whoosh, pemerintah ingin menyelesaikan persoalan secara menyeluruh. Skema yang sedang disusun bertujuan untuk mengembalikan porsi setiap BUMN sesuai bidang keahliannya.&#13;
&#13;
Dony mencontohkan, WIKA yang sejatinya adalah perusahaan konstruksi akan dikembalikan fokusnya sebagai kontraktor. Langkah itu dilakukan satu per satu untuk memastikan setiap BUMN yang terlibat dalam sinergi tersebut kembali pada porsi yang tepat.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kita kembalikan ke porsinya. Misalnya, WIKA memang bukan bidangnya di situ, maka fokus ke kontraktor. Nanti satu per satu kita bereskan. Kita ingin semua yang diselesaikan itu tuntas,&amp;rdquo; ujar dia.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Dia menambahkan, penataan juga akan menyasar keterlibatan BUMN lain di sektor perkeretaapian, termasuk hubungan terkait PT Bukit Asam. Hal ini dilakukan agar hasil yang dicapai benar-benar tuntas dan tidak hanya selesai di permukaan.&#13;
&#13;
Pihaknya tengah mencermati keterlibatan setiap perusahaan secara rinci. Proses ini merupakan bagian dari upaya menata ulang posisi BUMN agar lebih rapi dan tidak mencampuradukkan berbagai bidang industri yang berbeda.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pasti teman-teman tahu, misalnya ada WIKA di sini, ada juga keterlibatan dengan kereta api dan Bukit Asam. Ini kita bereskan, rapikan. Kita ingin semua yang kita kerjakan benar-benar tuntas,&amp;rdquo; jelas dia.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;mdash; Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN), Dony Oskaria, menanggapi kerugian PT Wijaya Karya (WIKA) sebesar Rp1,8 triliun dari proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh. Menurutnya, BP BUMN tengah menuntaskan masalah tersebut agar WIKA kembali fokus pada bisnis intinya, dan ke depan perusahaan tidak akan lagi terlibat dalam operasional kereta cepat.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Iya, itu salah satu contohnya. Jadi yang lama kita bereskan. Mereka tidak akan lagi terlibat di kereta api karena tidak in-line dengan bisnis mereka,&amp;rdquo; kata Dony kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026).&#13;
&#13;
Terkait nasib BUMN yang tergabung dalam konsorsium Whoosh, pemerintah ingin menyelesaikan persoalan secara menyeluruh. Skema yang sedang disusun bertujuan untuk mengembalikan porsi setiap BUMN sesuai bidang keahliannya.&#13;
&#13;
Dony mencontohkan, WIKA yang sejatinya adalah perusahaan konstruksi akan dikembalikan fokusnya sebagai kontraktor. Langkah itu dilakukan satu per satu untuk memastikan setiap BUMN yang terlibat dalam sinergi tersebut kembali pada porsi yang tepat.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kita kembalikan ke porsinya. Misalnya, WIKA memang bukan bidangnya di situ, maka fokus ke kontraktor. Nanti satu per satu kita bereskan. Kita ingin semua yang diselesaikan itu tuntas,&amp;rdquo; ujar dia.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Dia menambahkan, penataan juga akan menyasar keterlibatan BUMN lain di sektor perkeretaapian, termasuk hubungan terkait PT Bukit Asam. Hal ini dilakukan agar hasil yang dicapai benar-benar tuntas dan tidak hanya selesai di permukaan.&#13;
&#13;
Pihaknya tengah mencermati keterlibatan setiap perusahaan secara rinci. Proses ini merupakan bagian dari upaya menata ulang posisi BUMN agar lebih rapi dan tidak mencampuradukkan berbagai bidang industri yang berbeda.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pasti teman-teman tahu, misalnya ada WIKA di sini, ada juga keterlibatan dengan kereta api dan Bukit Asam. Ini kita bereskan, rapikan. Kita ingin semua yang kita kerjakan benar-benar tuntas,&amp;rdquo; jelas dia.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
