<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>IHSG Dibayangi Rencana Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi</title><description>Investor diimbau bersikap lebih selektif menyusul kegagalan negosiasi terbaru antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memicu ketidakpastian global&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/04/13/278/3212093/ihsg-dibayangi-rencana-kenaikan-harga-bbm-nonsubsidi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/04/13/278/3212093/ihsg-dibayangi-rencana-kenaikan-harga-bbm-nonsubsidi"/><item><title>IHSG Dibayangi Rencana Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/04/13/278/3212093/ihsg-dibayangi-rencana-kenaikan-harga-bbm-nonsubsidi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/04/13/278/3212093/ihsg-dibayangi-rencana-kenaikan-harga-bbm-nonsubsidi</guid><pubDate>Senin 13 April 2026 10:10 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/04/13/278/3212093/ihgs-12Gk_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg"> Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bergerak variatif (mixed). (Foto: Okezone.com/IMG)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/04/13/278/3212093/ihgs-12Gk_large.jpg</image><title> Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bergerak variatif (mixed). (Foto: Okezone.com/IMG)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bergerak variatif (mixed) dengan kecenderungan konsolidasi pada periode 13&amp;ndash;17 April 2026. Investor diimbau bersikap lebih selektif menyusul kegagalan negosiasi terbaru antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memicu ketidakpastian global.&#13;
&#13;
Menurut Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, sentimen negatif dari pasar global muncul akibat kekhawatiran atas stabilitas pasokan energi di Timur Tengah, khususnya di jalur strategis Selat Hormuz.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kondisi ini memperpanjang ketidakpastian geopolitik global dan meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi eskalasi konflik yang dapat berdampak langsung pada stabilitas pasar energi. Sentimen negatif terutama berasal dari risiko berlanjutnya gangguan distribusi energi global, mengingat kawasan Timur Tengah, khususnya jalur strategis Selat Hormuz, masih menjadi titik krusial dalam rantai pasok minyak dunia,&amp;rdquo; jelas Hari dalam risetnya, Senin (13/4/2026).&#13;
&#13;
Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada dua isu utama, yakni rencana pemerintah menyesuaikan harga BBM non-subsidi dan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah yang masih tertahan di kisaran 17.000 per dolar AS.&#13;
&#13;
Hari menilai langkah pemerintah melakukan penyesuaian harga energi merupakan respons untuk menjaga kesehatan fiskal, meski berisiko memicu inflasi jangka pendek pada sektor transportasi dan logistik.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Ke depan, efektivitas implementasi kebijakan tersebut serta koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter akan menjadi kunci dalam menentukan arah sentimen pasar domestik dan keberlanjutan aliran dana ke pasar keuangan Indonesia,&amp;rdquo; tambahnya.&#13;
&#13;
Ketidakpastian geopolitik ini mendorong investor global kembali mengadopsi sikap risk-off atau menghindari aset berisiko. Hal ini diperparah dengan ekspektasi kebijakan Federal Reserve yang diprediksi tetap ketat (hawkish) akibat tingginya inflasi berbasis energi.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Secara keseluruhan, dinamika ini mendorong investor global untuk kembali mengadopsi sikap risk-off dalam jangka pendek, dengan potensi rotasi ke aset safe haven seperti dolar AS dan komoditas energi. Volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi dalam sepekan ke depan, dengan arah pergerakan sangat bergantung pada perkembangan lanjutan dari negosiasi geopolitik serta sinyal kebijakan moneter global,&amp;rdquo; papar Hari.&#13;
&#13;
Meski IHSG dibayangi aksi konsolidasi setelah reli pekan lalu, IPOT melihat masih ada peluang pada sektor-sektor tertentu. Sektor energi menjadi motor penggerak utama seiring ekspektasi harga komoditas yang tetap tinggi.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Sektor transportasi laut menunjukkan penguatan berkat perbaikan prospek permintaan dan tarif, sementara saham konglomerasi mulai menunjukkan pola pembalikan teknikal yang cocok untuk strategi swing trading.&#13;
&#13;
Sebagai catatan, pada pekan perdagangan 6&amp;ndash;10 April 2026, IHSG tampil impresif berkat dukungan aliran dana domestik dan kenaikan saham-saham big caps seperti BREN, DSSA, dan TPIA, meskipun investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp3,3 triliun.&#13;
&#13;
Investor disarankan untuk tetap disiplin dalam manajemen risiko dan mengutamakan pendekatan trading-oriented guna memanfaatkan momentum di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi.&#13;
&#13;
Berikut rekomendasi IPOT:&#13;
&#13;
Buy MBMA (Entry: 745, Target Price/TP: 825, Stop Loss/SL: 715).&#13;
Buy ENRG (Entry: 1.745, Target Price/TP: 1.925, Stop Loss/SL: 1.645).&#13;
Buy EXCL (Entry: 3.160, Target Price/TP: 3.550, Stop Loss/SL: 2.960).&#13;
Buy Reksa Dana Saham Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD).&#13;
&#13;
&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bergerak variatif (mixed) dengan kecenderungan konsolidasi pada periode 13&amp;ndash;17 April 2026. Investor diimbau bersikap lebih selektif menyusul kegagalan negosiasi terbaru antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memicu ketidakpastian global.&#13;
&#13;
Menurut Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, sentimen negatif dari pasar global muncul akibat kekhawatiran atas stabilitas pasokan energi di Timur Tengah, khususnya di jalur strategis Selat Hormuz.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kondisi ini memperpanjang ketidakpastian geopolitik global dan meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi eskalasi konflik yang dapat berdampak langsung pada stabilitas pasar energi. Sentimen negatif terutama berasal dari risiko berlanjutnya gangguan distribusi energi global, mengingat kawasan Timur Tengah, khususnya jalur strategis Selat Hormuz, masih menjadi titik krusial dalam rantai pasok minyak dunia,&amp;rdquo; jelas Hari dalam risetnya, Senin (13/4/2026).&#13;
&#13;
Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada dua isu utama, yakni rencana pemerintah menyesuaikan harga BBM non-subsidi dan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah yang masih tertahan di kisaran 17.000 per dolar AS.&#13;
&#13;
Hari menilai langkah pemerintah melakukan penyesuaian harga energi merupakan respons untuk menjaga kesehatan fiskal, meski berisiko memicu inflasi jangka pendek pada sektor transportasi dan logistik.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Ke depan, efektivitas implementasi kebijakan tersebut serta koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter akan menjadi kunci dalam menentukan arah sentimen pasar domestik dan keberlanjutan aliran dana ke pasar keuangan Indonesia,&amp;rdquo; tambahnya.&#13;
&#13;
Ketidakpastian geopolitik ini mendorong investor global kembali mengadopsi sikap risk-off atau menghindari aset berisiko. Hal ini diperparah dengan ekspektasi kebijakan Federal Reserve yang diprediksi tetap ketat (hawkish) akibat tingginya inflasi berbasis energi.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Secara keseluruhan, dinamika ini mendorong investor global untuk kembali mengadopsi sikap risk-off dalam jangka pendek, dengan potensi rotasi ke aset safe haven seperti dolar AS dan komoditas energi. Volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi dalam sepekan ke depan, dengan arah pergerakan sangat bergantung pada perkembangan lanjutan dari negosiasi geopolitik serta sinyal kebijakan moneter global,&amp;rdquo; papar Hari.&#13;
&#13;
Meski IHSG dibayangi aksi konsolidasi setelah reli pekan lalu, IPOT melihat masih ada peluang pada sektor-sektor tertentu. Sektor energi menjadi motor penggerak utama seiring ekspektasi harga komoditas yang tetap tinggi.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Sektor transportasi laut menunjukkan penguatan berkat perbaikan prospek permintaan dan tarif, sementara saham konglomerasi mulai menunjukkan pola pembalikan teknikal yang cocok untuk strategi swing trading.&#13;
&#13;
Sebagai catatan, pada pekan perdagangan 6&amp;ndash;10 April 2026, IHSG tampil impresif berkat dukungan aliran dana domestik dan kenaikan saham-saham big caps seperti BREN, DSSA, dan TPIA, meskipun investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp3,3 triliun.&#13;
&#13;
Investor disarankan untuk tetap disiplin dalam manajemen risiko dan mengutamakan pendekatan trading-oriented guna memanfaatkan momentum di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi.&#13;
&#13;
Berikut rekomendasi IPOT:&#13;
&#13;
Buy MBMA (Entry: 745, Target Price/TP: 825, Stop Loss/SL: 715).&#13;
Buy ENRG (Entry: 1.745, Target Price/TP: 1.925, Stop Loss/SL: 1.645).&#13;
Buy EXCL (Entry: 3.160, Target Price/TP: 3.550, Stop Loss/SL: 2.960).&#13;
Buy Reksa Dana Saham Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD).&#13;
&#13;
&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
