<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>DPR Minta Transaksi Batu Bara DMO Pakai Rupiah, Ini Alasannya</title><description>DPR mendorong penggunaan rupiah dalam transaksi pembelian batu bara untuk kebutuhan pembangkitan listrik nasional melalui skema Domestic Market Obligation&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/04/23/320/3214158/dpr-minta-transaksi-batu-bara-dmo-pakai-rupiah-ini-alasannya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/04/23/320/3214158/dpr-minta-transaksi-batu-bara-dmo-pakai-rupiah-ini-alasannya"/><item><title>DPR Minta Transaksi Batu Bara DMO Pakai Rupiah, Ini Alasannya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/04/23/320/3214158/dpr-minta-transaksi-batu-bara-dmo-pakai-rupiah-ini-alasannya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/04/23/320/3214158/dpr-minta-transaksi-batu-bara-dmo-pakai-rupiah-ini-alasannya</guid><pubDate>Kamis 23 April 2026 08:26 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/04/23/320/3214158/batu_bara-WoZF_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Penggunaan Rupiah dalam transaksi energi domestik akan membantu menjaga stabilitas biaya pembangkitan listrik sekaligus mengurangi tekanan terhadap APBN. (Foto ;okezone.com/PLN Energi)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/04/23/320/3214158/batu_bara-WoZF_large.jpg</image><title>Penggunaan Rupiah dalam transaksi energi domestik akan membantu menjaga stabilitas biaya pembangkitan listrik sekaligus mengurangi tekanan terhadap APBN. (Foto ;okezone.com/PLN Energi)</title></images><description>JAKARTA &amp;mdash; Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mendorong penggunaan rupiah dalam transaksi pembelian batu bara untuk kebutuhan pembangkitan listrik nasional melalui skema Domestic Market Obligation (DMO) guna menekan risiko fiskal akibat fluktuasi harga energi global dan nilai tukar mata uang asing.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Saya mendukung agar transaksi menggunakan rupiah, terutama dalam pembelian batu bara tersebut, sehingga tidak menimbulkan kerugian negara yang cukup besar,&amp;rdquo; ujar Anggota Komisi XII DPR RI, Rokhmat Ardiyan, Kamis (23/4/2026).&#13;
&#13;
Menurutnya, penggunaan rupiah dalam transaksi energi domestik akan membantu menjaga stabilitas biaya pembangkitan listrik sekaligus mengurangi tekanan terhadap anggaran negara yang selama ini dipengaruhi perubahan kurs dan dinamika harga energi global.&#13;
&#13;
Rokhmat menjelaskan, batu bara yang dimaksud merupakan pasokan DMO yang dialokasikan khusus untuk kebutuhan pembangkit listrik dalam negeri. Saat ini, transaksi pembelian batu bara untuk kebutuhan domestik berada pada kisaran USD 70 per ton. Dengan volume kebutuhan yang besar, beban keuangan berisiko melonjak apabila kurs rupiah melemah terhadap dolar AS. Oleh karena itu, penggunaan rupiah dinilai dapat memberikan kepastian biaya sekaligus meminimalkan eksposur terhadap fluktuasi nilai tukar.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Karena transaksi dilakukan di dalam negeri, penggunaan rupiah dinilai lebih efisien dan logis dibandingkan menggunakan mata uang asing,&amp;rdquo; kata Rokhmat, yang juga merupakan anggota Badan Anggaran DPR.&#13;
&#13;
Selain itu, Rokhmat juga menyinggung instruksi Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pengurangan pembangkit listrik berbahan bakar diesel sebagai bagian dari program prioritas nasional untuk meningkatkan efisiensi energi.&#13;
&#13;
Menurutnya, pembangkit diesel memiliki biaya produksi yang relatif tinggi serta masih bergantung pada bahan bakar impor. &amp;ldquo;Karena itu, pengurangan penggunaannya dinilai sejalan dengan upaya memperkuat kemandirian energi nasional,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
Rokhmat menambahkan, penggunaan rupiah dalam transaksi batu bara DMO dan pengurangan pembangkit diesel merupakan langkah strategis yang saling melengkapi dalam memperkuat ketahanan energi nasional.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kebijakan tersebut tidak hanya mengurangi risiko keuangan, tetapi juga mendukung transisi energi yang lebih efisien dan berkelanjutan,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;mdash; Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mendorong penggunaan rupiah dalam transaksi pembelian batu bara untuk kebutuhan pembangkitan listrik nasional melalui skema Domestic Market Obligation (DMO) guna menekan risiko fiskal akibat fluktuasi harga energi global dan nilai tukar mata uang asing.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Saya mendukung agar transaksi menggunakan rupiah, terutama dalam pembelian batu bara tersebut, sehingga tidak menimbulkan kerugian negara yang cukup besar,&amp;rdquo; ujar Anggota Komisi XII DPR RI, Rokhmat Ardiyan, Kamis (23/4/2026).&#13;
&#13;
Menurutnya, penggunaan rupiah dalam transaksi energi domestik akan membantu menjaga stabilitas biaya pembangkitan listrik sekaligus mengurangi tekanan terhadap anggaran negara yang selama ini dipengaruhi perubahan kurs dan dinamika harga energi global.&#13;
&#13;
Rokhmat menjelaskan, batu bara yang dimaksud merupakan pasokan DMO yang dialokasikan khusus untuk kebutuhan pembangkit listrik dalam negeri. Saat ini, transaksi pembelian batu bara untuk kebutuhan domestik berada pada kisaran USD 70 per ton. Dengan volume kebutuhan yang besar, beban keuangan berisiko melonjak apabila kurs rupiah melemah terhadap dolar AS. Oleh karena itu, penggunaan rupiah dinilai dapat memberikan kepastian biaya sekaligus meminimalkan eksposur terhadap fluktuasi nilai tukar.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Karena transaksi dilakukan di dalam negeri, penggunaan rupiah dinilai lebih efisien dan logis dibandingkan menggunakan mata uang asing,&amp;rdquo; kata Rokhmat, yang juga merupakan anggota Badan Anggaran DPR.&#13;
&#13;
Selain itu, Rokhmat juga menyinggung instruksi Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pengurangan pembangkit listrik berbahan bakar diesel sebagai bagian dari program prioritas nasional untuk meningkatkan efisiensi energi.&#13;
&#13;
Menurutnya, pembangkit diesel memiliki biaya produksi yang relatif tinggi serta masih bergantung pada bahan bakar impor. &amp;ldquo;Karena itu, pengurangan penggunaannya dinilai sejalan dengan upaya memperkuat kemandirian energi nasional,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
Rokhmat menambahkan, penggunaan rupiah dalam transaksi batu bara DMO dan pengurangan pembangkit diesel merupakan langkah strategis yang saling melengkapi dalam memperkuat ketahanan energi nasional.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kebijakan tersebut tidak hanya mengurangi risiko keuangan, tetapi juga mendukung transisi energi yang lebih efisien dan berkelanjutan,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
