<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Dirut BRI Ungkap Ekonomi RI Masih Kuat di Tengah Perang AS-Iran</title><description>Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengungkapkan bahwa ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah memicu lonjakan harga komoditas, terutama minyak.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/04/30/320/3215575/dirut-bri-ungkap-ekonomi-ri-masih-kuat-di-tengah-perang-as-iran</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/04/30/320/3215575/dirut-bri-ungkap-ekonomi-ri-masih-kuat-di-tengah-perang-as-iran"/><item><title>Dirut BRI Ungkap Ekonomi RI Masih Kuat di Tengah Perang AS-Iran</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/04/30/320/3215575/dirut-bri-ungkap-ekonomi-ri-masih-kuat-di-tengah-perang-as-iran</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/04/30/320/3215575/dirut-bri-ungkap-ekonomi-ri-masih-kuat-di-tengah-perang-as-iran</guid><pubDate>Kamis 30 April 2026 10:42 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/04/30/320/3215575/dirut_bri-4Qkv_large.png" expression="full" type="image/jpeg">Dirut BRI Ungkap Ekonomi RI Masih Kuat di Tengah Perang AS-Iran (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/04/30/320/3215575/dirut_bri-4Qkv_large.png</image><title>Dirut BRI Ungkap Ekonomi RI Masih Kuat di Tengah Perang AS-Iran (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) atau BRI membukukan kinerja positif pada kuartal I 2026 dengan raihan laba bersih konsolidasi sebesar Rp15,5 triliun. Capaian yang tumbuh 13,7 persen secara tahunan (year-on-year) ini diraih di tengah eskalasi risiko global yang dipicu konflik di Timur Tengah.&#13;
&#13;
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengungkapkan bahwa ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah memicu lonjakan harga komoditas, terutama minyak yang berdampak pada tekanan inflasi global di level 3,73 persen.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kita melihat pada kuartal pertama tahun 2026 eskalasi risiko global meningkat secara signifikan. Tentunya ini akibat dari terjadinya konflik antara Iran dengan Amerika dan Israel. Angka indeks risiko geopolitik juga meningkat tajam sehingga kondisi ini berdampak langsung pada harga komoditas,&amp;quot; ujar Hery dalam konferensi pers kinerja triwulan I BRI, Jakarta, Kamis (30/4/2026).&#13;
&#13;
Meskipun dunia dibayangi ketidakpastian kebijakan moneter, Hery menilai ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang solid. Hal ini didukung oleh Indeks Keyakinan Konsumen yang terjaga di atas 125 serta aktivitas manufaktur (PMI) yang tetap di level ekspansif (di atas 50).&#13;
&#13;
Karakteristik Indonesia sebagai produsen energi dan eksportir komoditas bersih (net commodity exporter) menjadi tameng utama.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Selain itu, akselerasi belanja pemerintah yang mencapai Rp815 triliun (tumbuh 31,4 persen) pada kuartal I menjadi motor penggerak aktivitas domestik.&#13;
&#13;
&amp;quot;Di tengah dinamika global yang masih diwarnai tekanan geopolitik ini, ekonomi Indonesia relatif menunjukkan ketahanan yang cukup terjaga. Secara keseluruhan, perekonomian Indonesia masih berada dalam kondisi yang relatif solid dibandingkan dengan sejumlah negara lain,&amp;quot; kata Hery.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Kondisi ekonomi nasional yang kuat tercermin langsung pada neraca keuangan BRI. Emiten bersandi saham BBRI ini mencatat pertumbuhan aset sebesar 7,2 persen menjadi Rp2.250 triliun.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Pertumbuhan ini didorong oleh penyaluran kredit yang meningkat 13,7 persen menjadi Rp1.562 triliun, dengan segmen UMKM tetap menjadi pilar utama sebesar Rp1.211 triliun.&#13;
&#13;
Dari sisi pendanaan, BRI berhasil memperbaiki struktur dana murah atau CASA yang tumbuh 13,2 persen. Hal ini berdampak pada efisiensi biaya dana (cost of fund) yang turun dari 3 persen menjadi 2,3 persen.&#13;
&#13;
&amp;quot;BRI tidak hanya tumbuh, tetapi juga mampu menjaga kualitas pertumbuhan. Tumbuh saja mungkin mudah, tetapi tumbuh secara berkelanjutan dan berkualitas adalah hal yang harus dikelola dengan baik,&amp;quot; tegas Hery.&#13;
&#13;
Kualitas aset BRI juga menunjukkan tren perbaikan dengan rasio Loan at Risk (LAR) yang turun ke level 9,7 persen dari sebelumnya 11,1 persen. Perbaikan manajemen risiko ini mendorong kenaikan Return on Equity (ROE) menjadi 18,4 persen.&#13;
&#13;
Sebelumnya, pada 10 April 2026, BRI juga telah memutuskan pembagian dividen tunai tahun buku 2025 dengan total fantastis mencapai Rp52,102 triliun atau Rp346 per lembar saham.&#13;
&#13;
&amp;quot;Dengan dividend payout ratio sekitar 92 persen, hal ini mencerminkan komitmen BRI dalam menjaga keseimbangan antara pemberian imbal hasil yang menarik tetapi juga penguatan fundamental perusahaan,&amp;quot; pungkasnya.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) atau BRI membukukan kinerja positif pada kuartal I 2026 dengan raihan laba bersih konsolidasi sebesar Rp15,5 triliun. Capaian yang tumbuh 13,7 persen secara tahunan (year-on-year) ini diraih di tengah eskalasi risiko global yang dipicu konflik di Timur Tengah.&#13;
&#13;
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengungkapkan bahwa ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah memicu lonjakan harga komoditas, terutama minyak yang berdampak pada tekanan inflasi global di level 3,73 persen.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kita melihat pada kuartal pertama tahun 2026 eskalasi risiko global meningkat secara signifikan. Tentunya ini akibat dari terjadinya konflik antara Iran dengan Amerika dan Israel. Angka indeks risiko geopolitik juga meningkat tajam sehingga kondisi ini berdampak langsung pada harga komoditas,&amp;quot; ujar Hery dalam konferensi pers kinerja triwulan I BRI, Jakarta, Kamis (30/4/2026).&#13;
&#13;
Meskipun dunia dibayangi ketidakpastian kebijakan moneter, Hery menilai ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang solid. Hal ini didukung oleh Indeks Keyakinan Konsumen yang terjaga di atas 125 serta aktivitas manufaktur (PMI) yang tetap di level ekspansif (di atas 50).&#13;
&#13;
Karakteristik Indonesia sebagai produsen energi dan eksportir komoditas bersih (net commodity exporter) menjadi tameng utama.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Selain itu, akselerasi belanja pemerintah yang mencapai Rp815 triliun (tumbuh 31,4 persen) pada kuartal I menjadi motor penggerak aktivitas domestik.&#13;
&#13;
&amp;quot;Di tengah dinamika global yang masih diwarnai tekanan geopolitik ini, ekonomi Indonesia relatif menunjukkan ketahanan yang cukup terjaga. Secara keseluruhan, perekonomian Indonesia masih berada dalam kondisi yang relatif solid dibandingkan dengan sejumlah negara lain,&amp;quot; kata Hery.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Kondisi ekonomi nasional yang kuat tercermin langsung pada neraca keuangan BRI. Emiten bersandi saham BBRI ini mencatat pertumbuhan aset sebesar 7,2 persen menjadi Rp2.250 triliun.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Pertumbuhan ini didorong oleh penyaluran kredit yang meningkat 13,7 persen menjadi Rp1.562 triliun, dengan segmen UMKM tetap menjadi pilar utama sebesar Rp1.211 triliun.&#13;
&#13;
Dari sisi pendanaan, BRI berhasil memperbaiki struktur dana murah atau CASA yang tumbuh 13,2 persen. Hal ini berdampak pada efisiensi biaya dana (cost of fund) yang turun dari 3 persen menjadi 2,3 persen.&#13;
&#13;
&amp;quot;BRI tidak hanya tumbuh, tetapi juga mampu menjaga kualitas pertumbuhan. Tumbuh saja mungkin mudah, tetapi tumbuh secara berkelanjutan dan berkualitas adalah hal yang harus dikelola dengan baik,&amp;quot; tegas Hery.&#13;
&#13;
Kualitas aset BRI juga menunjukkan tren perbaikan dengan rasio Loan at Risk (LAR) yang turun ke level 9,7 persen dari sebelumnya 11,1 persen. Perbaikan manajemen risiko ini mendorong kenaikan Return on Equity (ROE) menjadi 18,4 persen.&#13;
&#13;
Sebelumnya, pada 10 April 2026, BRI juga telah memutuskan pembagian dividen tunai tahun buku 2025 dengan total fantastis mencapai Rp52,102 triliun atau Rp346 per lembar saham.&#13;
&#13;
&amp;quot;Dengan dividend payout ratio sekitar 92 persen, hal ini mencerminkan komitmen BRI dalam menjaga keseimbangan antara pemberian imbal hasil yang menarik tetapi juga penguatan fundamental perusahaan,&amp;quot; pungkasnya.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
