<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>QRIS Bisa Digunakan di China Dinilai Bisa Dongkrak Ekonomi Digital</title><description>Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) menyambut baik langkah Bank Indonesia yang resmi memperluas konektivitas QRIS ke China.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/04/30/320/3215710/qris-bisa-digunakan-di-china-dinilai-bisa-dongkrak-ekonomi-digital</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/04/30/320/3215710/qris-bisa-digunakan-di-china-dinilai-bisa-dongkrak-ekonomi-digital"/><item><title>QRIS Bisa Digunakan di China Dinilai Bisa Dongkrak Ekonomi Digital</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/04/30/320/3215710/qris-bisa-digunakan-di-china-dinilai-bisa-dongkrak-ekonomi-digital</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/04/30/320/3215710/qris-bisa-digunakan-di-china-dinilai-bisa-dongkrak-ekonomi-digital</guid><pubDate>Kamis 30 April 2026 18:16 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/04/30/320/3215710/qris_bisa_di_china-MZ4i_large.png" expression="full" type="image/jpeg">Qris bisa di China (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/04/30/320/3215710/qris_bisa_di_china-MZ4i_large.png</image><title>Qris bisa di China (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) menyambut baik langkah Bank Indonesia yang resmi memperluas konektivitas QRIS ke China.&#13;
&#13;
Ketua Umum ASPI, Santoso Liem menilai kolaborasi dua kekuatan ekonomi digital di Asia ini akan membawa dampak besar, tidak hanya bagi sektor pariwisata tetapi juga penguatan hubungan bisnis antar negara.&#13;
&#13;
Santoso menjelaskan bahwa integrasi ini sangat strategis mengingat besarnya jumlah pengguna digital dan UMKM di kedua negara. Di Indonesia sendiri, ekosistem QRIS sudah menjangkau sekitar 45 juta pelaku UMKM.&#13;
&#13;
&amp;quot;Bagus sekali karena ini adalah salah satu kerjasama. Karena China adalah ekonomi yang cukup besar, terutama sebagai pemain digital di sana. Dan Indonesia juga adalah pemain digital yang unggul juga. Jadi ini adalah kesempatan kalau kolaborasi bisa terjadi,&amp;quot; ujar Santoso saat ditemui usai peluncuran di Gedung Bank Indonesia, Kamis (30/4/2026).&#13;
&#13;
Saat ini, layanan QRIS lintas negara dengan China baru mencakup kerja sama dengan UnionPay dan Alipay. Namun, Santoso mengungkapkan bahwa pihaknya tengah menjajaki kemungkinan untuk mengintegrasikan pemain besar lainnya seperti WeChat Pay dan Mobile Payment Companion (MPC).&#13;
&#13;
Meski Indonesia secara teknologi sudah siap, China masih dalam proses mengintegrasikan berbagai pemainnya ke dalam satu platform tunggal yang bisa melayani transaksi internasional.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kalau WeChat-nya sedang dieksplor. Karena ini ada aspek teknologi yang harus diinterkoneksikan di antara mereka sendiri. Di Indonesia sebenarnya sudah tidak ada masalah. Di mereka yang ada masalah karena baru dua kan (Alipay dan UnionPay). Mereka harus mengintegrasikan, mereka harus merubah menjadi satu platform,&amp;quot; jelas Santoso.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Salah satu poin krusial dalam kerja sama ini adalah implementasi Local Currency Transaction (LCT). Transaksi tidak lagi perlu dikonversi ke mata uang ketiga seperti Dolar AS, melainkan langsung menggunakan nilai tukar Rupiah (IDR) terhadap Yuan (CNY).&#13;
&#13;
Santoso menegaskan bahwa sistem ini sudah diatur melalui standar yang ditetapkan oleh pemerintah kedua negara (Government-to-Government), sehingga lebih aman dan efisien bagi pengguna.&#13;
&#13;
&amp;quot;Enggak perlu konversi (ke dolar). Jadi itu langsung otomatis antara dua G2G ini sudah menetapkan standarnya. Jadi sudah aman sekali. Jadi rupiah langsung diadu dengan yuan atau renminbi. Jadi ini yang membedakan,&amp;quot; tambahnya.&#13;
&#13;
Berdasarkan pengalaman pribadinya saat mencoba sistem pembayaran di China, Santoso optimis layanan ini akan semakin matang.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Ke depan, China diharapkan memiliki satu kode QR yang bisa melayani berbagai macam penyedia jasa pembayaran sekaligus (multiple pemain), serupa dengan standarisasi QRIS di Indonesia.&#13;
&#13;
&amp;quot;Saya sebenarnya sudah pernah mencoba di sana beberapa kali enggak ada masalah. Cuma memang belum menyebar. Nanti ke depan bisnis pun akan dipererat dengan transaksi dua negara ini,&amp;quot; pungkasnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) menyambut baik langkah Bank Indonesia yang resmi memperluas konektivitas QRIS ke China.&#13;
&#13;
Ketua Umum ASPI, Santoso Liem menilai kolaborasi dua kekuatan ekonomi digital di Asia ini akan membawa dampak besar, tidak hanya bagi sektor pariwisata tetapi juga penguatan hubungan bisnis antar negara.&#13;
&#13;
Santoso menjelaskan bahwa integrasi ini sangat strategis mengingat besarnya jumlah pengguna digital dan UMKM di kedua negara. Di Indonesia sendiri, ekosistem QRIS sudah menjangkau sekitar 45 juta pelaku UMKM.&#13;
&#13;
&amp;quot;Bagus sekali karena ini adalah salah satu kerjasama. Karena China adalah ekonomi yang cukup besar, terutama sebagai pemain digital di sana. Dan Indonesia juga adalah pemain digital yang unggul juga. Jadi ini adalah kesempatan kalau kolaborasi bisa terjadi,&amp;quot; ujar Santoso saat ditemui usai peluncuran di Gedung Bank Indonesia, Kamis (30/4/2026).&#13;
&#13;
Saat ini, layanan QRIS lintas negara dengan China baru mencakup kerja sama dengan UnionPay dan Alipay. Namun, Santoso mengungkapkan bahwa pihaknya tengah menjajaki kemungkinan untuk mengintegrasikan pemain besar lainnya seperti WeChat Pay dan Mobile Payment Companion (MPC).&#13;
&#13;
Meski Indonesia secara teknologi sudah siap, China masih dalam proses mengintegrasikan berbagai pemainnya ke dalam satu platform tunggal yang bisa melayani transaksi internasional.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kalau WeChat-nya sedang dieksplor. Karena ini ada aspek teknologi yang harus diinterkoneksikan di antara mereka sendiri. Di Indonesia sebenarnya sudah tidak ada masalah. Di mereka yang ada masalah karena baru dua kan (Alipay dan UnionPay). Mereka harus mengintegrasikan, mereka harus merubah menjadi satu platform,&amp;quot; jelas Santoso.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Salah satu poin krusial dalam kerja sama ini adalah implementasi Local Currency Transaction (LCT). Transaksi tidak lagi perlu dikonversi ke mata uang ketiga seperti Dolar AS, melainkan langsung menggunakan nilai tukar Rupiah (IDR) terhadap Yuan (CNY).&#13;
&#13;
Santoso menegaskan bahwa sistem ini sudah diatur melalui standar yang ditetapkan oleh pemerintah kedua negara (Government-to-Government), sehingga lebih aman dan efisien bagi pengguna.&#13;
&#13;
&amp;quot;Enggak perlu konversi (ke dolar). Jadi itu langsung otomatis antara dua G2G ini sudah menetapkan standarnya. Jadi sudah aman sekali. Jadi rupiah langsung diadu dengan yuan atau renminbi. Jadi ini yang membedakan,&amp;quot; tambahnya.&#13;
&#13;
Berdasarkan pengalaman pribadinya saat mencoba sistem pembayaran di China, Santoso optimis layanan ini akan semakin matang.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Ke depan, China diharapkan memiliki satu kode QR yang bisa melayani berbagai macam penyedia jasa pembayaran sekaligus (multiple pemain), serupa dengan standarisasi QRIS di Indonesia.&#13;
&#13;
&amp;quot;Saya sebenarnya sudah pernah mencoba di sana beberapa kali enggak ada masalah. Cuma memang belum menyebar. Nanti ke depan bisnis pun akan dipererat dengan transaksi dua negara ini,&amp;quot; pungkasnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
