<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Purbaya Siapkan Dana Stabilisasi dari SAL</title><description>Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tengah menjajaki pemanfaatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebagai salah satu sumber pendanaan untuk Bond Stabilization Fund (BSF). Instrumen ini dirancang sebagai benteng pertahanan guna menjaga stabilitas pasar Surat Berharga Negara (SBN) agar tidak mengalami tekanan berlebihan akibat aksi jual oleh investor asing.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/05/08/320/3217094/purbaya-siapkan-dana-stabilisasi-dari-sal</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/05/08/320/3217094/purbaya-siapkan-dana-stabilisasi-dari-sal"/><item><title>Purbaya Siapkan Dana Stabilisasi dari SAL</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/05/08/320/3217094/purbaya-siapkan-dana-stabilisasi-dari-sal</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/05/08/320/3217094/purbaya-siapkan-dana-stabilisasi-dari-sal</guid><pubDate>Jum'at 08 Mei 2026 07:45 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/05/08/320/3217094/menkeu_purbaya-H1OJ_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menkeu Purbaya (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/05/08/320/3217094/menkeu_purbaya-H1OJ_large.jpg</image><title>Menkeu Purbaya (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa&amp;nbsp;saat ini tengah menjajaki pemanfaatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebagai salah satu sumber pendanaan untuk Bond Stabilization Fund (BSF). Instrumen ini dirancang sebagai benteng pertahanan guna menjaga stabilitas pasar Surat Berharga Negara (SBN) agar tidak mengalami tekanan berlebihan akibat aksi jual oleh investor asing.&#13;
&#13;
Dalam pelaksanaannya, Purbaya menjelaskan bahwa pendanaan BSF tidak hanya mengandalkan anggaran pemerintah, tetapi juga akan mensinergikan berbagai lembaga di bawah naungan Kementerian Keuangan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau fund betulan, desain lamanya itu ada beberapa lembaga yang terlibat, antara lain Kementerian Keuangan dan seluruh Special Mission Vehicle (SMV) di bawah Kementerian Keuangan bisa ikut membantu ketika kita melakukan stabilisasi harga bond,&amp;rdquo; ujar Purbaya dalam konferensi pers KSSK dikutip Jumat (8/5/2026).&#13;
&#13;
Meskipun disiapkan sebagai langkah antisipasi, pemerintah menilai bahwa situasi pasar obligasi saat ini masih dalam batas yang bisa ditangani. Melalui koordinasi intensif dengan Bank Indonesia, Purbaya optimistis ketersediaan dana domestik masih sangat memadai untuk melakukan intervensi jika diperlukan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau melihat volumenya yang keluar selama ini kelihatannya tidak besar-besar amat. Harusnya dana kita cukup,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
Tujuan utama dari pembentukan BSF ini adalah untuk meredam spekulasi dan menjaga agar harga obligasi pemerintah tetap stabil, sehingga tidak menciptakan efek domino yang negatif di pasar keuangan nasional.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Urgensinya cuma itu, menjaga harga bond kita supaya stabil supaya tidak menimbulkan kegaduhan di pasar modal kita,&amp;rdquo; imbuhnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Langkah stabilisasi ini menjadi krusial mengingat tingkat imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun sempat menunjukkan tren kenaikan ke level 6,32 persen, naik dari posisi sebelumnya di kisaran 5,9 persen. Kenaikan yield ini dipicu oleh meningkatnya risiko global, fluktuasi pasar keuangan, serta arah kebijakan moneter dunia.&#13;
&#13;
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah karena yield yang tinggi dapat membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui peningkatan biaya bunga utang. Dengan adanya BSF, pemerintah berharap dapat memitigasi risiko tersebut dan menjaga daya tahan fiskal tetap sehat.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa&amp;nbsp;saat ini tengah menjajaki pemanfaatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebagai salah satu sumber pendanaan untuk Bond Stabilization Fund (BSF). Instrumen ini dirancang sebagai benteng pertahanan guna menjaga stabilitas pasar Surat Berharga Negara (SBN) agar tidak mengalami tekanan berlebihan akibat aksi jual oleh investor asing.&#13;
&#13;
Dalam pelaksanaannya, Purbaya menjelaskan bahwa pendanaan BSF tidak hanya mengandalkan anggaran pemerintah, tetapi juga akan mensinergikan berbagai lembaga di bawah naungan Kementerian Keuangan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau fund betulan, desain lamanya itu ada beberapa lembaga yang terlibat, antara lain Kementerian Keuangan dan seluruh Special Mission Vehicle (SMV) di bawah Kementerian Keuangan bisa ikut membantu ketika kita melakukan stabilisasi harga bond,&amp;rdquo; ujar Purbaya dalam konferensi pers KSSK dikutip Jumat (8/5/2026).&#13;
&#13;
Meskipun disiapkan sebagai langkah antisipasi, pemerintah menilai bahwa situasi pasar obligasi saat ini masih dalam batas yang bisa ditangani. Melalui koordinasi intensif dengan Bank Indonesia, Purbaya optimistis ketersediaan dana domestik masih sangat memadai untuk melakukan intervensi jika diperlukan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau melihat volumenya yang keluar selama ini kelihatannya tidak besar-besar amat. Harusnya dana kita cukup,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
Tujuan utama dari pembentukan BSF ini adalah untuk meredam spekulasi dan menjaga agar harga obligasi pemerintah tetap stabil, sehingga tidak menciptakan efek domino yang negatif di pasar keuangan nasional.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Urgensinya cuma itu, menjaga harga bond kita supaya stabil supaya tidak menimbulkan kegaduhan di pasar modal kita,&amp;rdquo; imbuhnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Langkah stabilisasi ini menjadi krusial mengingat tingkat imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun sempat menunjukkan tren kenaikan ke level 6,32 persen, naik dari posisi sebelumnya di kisaran 5,9 persen. Kenaikan yield ini dipicu oleh meningkatnya risiko global, fluktuasi pasar keuangan, serta arah kebijakan moneter dunia.&#13;
&#13;
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah karena yield yang tinggi dapat membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui peningkatan biaya bunga utang. Dengan adanya BSF, pemerintah berharap dapat memitigasi risiko tersebut dan menjaga daya tahan fiskal tetap sehat.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
