<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>IHSG Pekan Depan Diprediksi di Bawah Level 7.000, Investor Asing Masih Net Sell</title><description>Kombinasi antara aksi profit taking, fluktuasi nilai tukar rupiah, hingga penantian rilis data ekonomi Amerika Serikat menjadi faktor utama&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/05/10/278/3217543/ihsg-pekan-depan-diprediksi-di-bawah-level-7-000-investor-asing-masih-net-sell</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/05/10/278/3217543/ihsg-pekan-depan-diprediksi-di-bawah-level-7-000-investor-asing-masih-net-sell"/><item><title>IHSG Pekan Depan Diprediksi di Bawah Level 7.000, Investor Asing Masih Net Sell</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/05/10/278/3217543/ihsg-pekan-depan-diprediksi-di-bawah-level-7-000-investor-asing-masih-net-sell</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/05/10/278/3217543/ihsg-pekan-depan-diprediksi-di-bawah-level-7-000-investor-asing-masih-net-sell</guid><pubDate>Minggu 10 Mei 2026 16:10 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/05/10/278/3217543/ihsg-PNWV_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg"> Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan depan diprediksi masih dibayangi tekanan jual. (Foto: Okezone.com/Aldhi Chandra)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/05/10/278/3217543/ihsg-PNWV_large.jpg</image><title> Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan depan diprediksi masih dibayangi tekanan jual. (Foto: Okezone.com/Aldhi Chandra)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan depan diprediksi masih dibayangi tekanan jual. Kombinasi antara aksi profit taking, fluktuasi nilai tukar rupiah, hingga penantian rilis data ekonomi Amerika Serikat menjadi faktor utama yang menekan indeks ke bawah level psikologis 7.000.&#13;
&#13;
Founder CTA Saham Andri Zakaria Siregar menerangkan, sentimen pasar saat ini cenderung kurang kondusif. Investor asing tercatat masih melakukan aksi jual bersih (net sell) yang cukup besar, mencapai Rp49 triliun secara year-to-date. Selain itu, munculnya spekulasi terkait tinjauan indeks MSCI pada 12 Mei mendatang membuat pasar bersikap menunggu dan waspada.&#13;
&#13;
Andri menyoroti bahwa arah pasar pekan depan akan sangat bergantung pada hasil review MSCI terhadap pasar modal Indonesia. Hal ini akan menjadi penentu apakah investor global akan meningkatkan bobot investasi mereka atau justru melakukan pengurangan besar-besaran.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Masyarakat masih tergantung melihat dari hasil review MSCI apakah akan di-upgrade atau di-downgrade, apakah kita ke frontier atau tetap di emerging market. Jadi istilahnya kalau bahasa simpelnya boom or doom. Kalau hasilnya baik, market kita bisa rally,&amp;rdquo; jelas Andri, Minggu (10/5/2026).&#13;
&#13;
Selain faktor eksternal, kebijakan domestik mengenai skema baru royalti tambang turut memicu aksi jual pada saham-saham komoditas. Tekanan semakin bertambah dengan munculnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap isu kesehatan terkait penemuan kasus virus hantavirus di dalam negeri.&#13;
&#13;
Melihat posisi teknikal saat ini, Andri menilai IHSG sedang berada dalam fase gelombang koreksi yang cukup panjang. Secara jangka pendek, pasar memang sudah jenuh jual (oversold), namun untuk jangka menengah, tren masih menunjukkan sinyal sell on strength.&#13;
&#13;
Untuk perdagangan pekan depan yang berlangsung singkat (tiga hari kerja), Andri memproyeksikan IHSG masih memiliki kecenderungan melemah menuju area support kuat di level terendah sebelumnya.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Jadi artinya masih kecenderungan menuju ke 6.965 sampai dengan 6.876, low kemarin menjadi support, sementara resistennya berada di 7.120 sampai dengan 7.238,&amp;rdquo; ungkapnya.&#13;
&#13;
Andri menyarankan pelaku pasar yang ingin melakukan spekulasi jangka pendek untuk tetap berhati-hati selama indeks bertahan di atas level bawah 6.870.&#13;
&#13;
Namun untuk investasi jangka menengah dan panjang, ia masih bersikap konservatif karena posisi harga saat ini masih berada di bawah rata-rata pergerakan (MA) 20 hingga 200 hari yang berada di level 7.900.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau market negatif kita bisa sell off. Secara teknikal untuk jangka pendek sudah oversold di area 6.876 sampai 6.917, tapi untuk medium term masih tetap sell on strength,&amp;rdquo; pungkas Andri.&#13;
&#13;
&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan depan diprediksi masih dibayangi tekanan jual. Kombinasi antara aksi profit taking, fluktuasi nilai tukar rupiah, hingga penantian rilis data ekonomi Amerika Serikat menjadi faktor utama yang menekan indeks ke bawah level psikologis 7.000.&#13;
&#13;
Founder CTA Saham Andri Zakaria Siregar menerangkan, sentimen pasar saat ini cenderung kurang kondusif. Investor asing tercatat masih melakukan aksi jual bersih (net sell) yang cukup besar, mencapai Rp49 triliun secara year-to-date. Selain itu, munculnya spekulasi terkait tinjauan indeks MSCI pada 12 Mei mendatang membuat pasar bersikap menunggu dan waspada.&#13;
&#13;
Andri menyoroti bahwa arah pasar pekan depan akan sangat bergantung pada hasil review MSCI terhadap pasar modal Indonesia. Hal ini akan menjadi penentu apakah investor global akan meningkatkan bobot investasi mereka atau justru melakukan pengurangan besar-besaran.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Masyarakat masih tergantung melihat dari hasil review MSCI apakah akan di-upgrade atau di-downgrade, apakah kita ke frontier atau tetap di emerging market. Jadi istilahnya kalau bahasa simpelnya boom or doom. Kalau hasilnya baik, market kita bisa rally,&amp;rdquo; jelas Andri, Minggu (10/5/2026).&#13;
&#13;
Selain faktor eksternal, kebijakan domestik mengenai skema baru royalti tambang turut memicu aksi jual pada saham-saham komoditas. Tekanan semakin bertambah dengan munculnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap isu kesehatan terkait penemuan kasus virus hantavirus di dalam negeri.&#13;
&#13;
Melihat posisi teknikal saat ini, Andri menilai IHSG sedang berada dalam fase gelombang koreksi yang cukup panjang. Secara jangka pendek, pasar memang sudah jenuh jual (oversold), namun untuk jangka menengah, tren masih menunjukkan sinyal sell on strength.&#13;
&#13;
Untuk perdagangan pekan depan yang berlangsung singkat (tiga hari kerja), Andri memproyeksikan IHSG masih memiliki kecenderungan melemah menuju area support kuat di level terendah sebelumnya.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Jadi artinya masih kecenderungan menuju ke 6.965 sampai dengan 6.876, low kemarin menjadi support, sementara resistennya berada di 7.120 sampai dengan 7.238,&amp;rdquo; ungkapnya.&#13;
&#13;
Andri menyarankan pelaku pasar yang ingin melakukan spekulasi jangka pendek untuk tetap berhati-hati selama indeks bertahan di atas level bawah 6.870.&#13;
&#13;
Namun untuk investasi jangka menengah dan panjang, ia masih bersikap konservatif karena posisi harga saat ini masih berada di bawah rata-rata pergerakan (MA) 20 hingga 200 hari yang berada di level 7.900.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau market negatif kita bisa sell off. Secara teknikal untuk jangka pendek sudah oversold di area 6.876 sampai 6.917, tapi untuk medium term masih tetap sell on strength,&amp;rdquo; pungkas Andri.&#13;
&#13;
&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
