<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>6 Fakta LPG 3 Kg Bakal Diganti CNG, Harganya Diklaim Lebih Murah 30 Persen</title><description>Proses uji coba tabung 3 kilogram ditargetkan rampung dalam tiga bulan ke depan sebelum diterapkan secara luas kepada masyarakat.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/05/11/320/3217509/6-fakta-lpg-3-kg-bakal-diganti-cng-harganya-diklaim-lebih-murah-30-persen</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/05/11/320/3217509/6-fakta-lpg-3-kg-bakal-diganti-cng-harganya-diklaim-lebih-murah-30-persen"/><item><title>6 Fakta LPG 3 Kg Bakal Diganti CNG, Harganya Diklaim Lebih Murah 30 Persen</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/05/11/320/3217509/6-fakta-lpg-3-kg-bakal-diganti-cng-harganya-diklaim-lebih-murah-30-persen</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/05/11/320/3217509/6-fakta-lpg-3-kg-bakal-diganti-cng-harganya-diklaim-lebih-murah-30-persen</guid><pubDate>Senin 11 Mei 2026 07:04 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/05/10/320/3217509/gas-M8JZ_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pemerintah menyiapkan konversi penggunaan liquefied petroleum gas (LPG) 3 kilogram ke compressed natural gas (CNG). (Foto: Okezone.com/Pertamina)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/05/10/320/3217509/gas-M8JZ_large.jpg</image><title>Pemerintah menyiapkan konversi penggunaan liquefied petroleum gas (LPG) 3 kilogram ke compressed natural gas (CNG). (Foto: Okezone.com/Pertamina)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Pemerintah menyiapkan konversi penggunaan liquefied petroleum gas (LPG) 3 kilogram ke compressed natural gas (CNG) sebagai upaya mengurangi ketergantungan impor energi. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut harga CNG diproyeksikan lebih murah hingga 30 persen dibanding LPG.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Sementara itu, proses uji coba tabung 3 kilogram ditargetkan rampung dalam tiga bulan ke depan sebelum diterapkan secara luas kepada masyarakat.&#13;
&#13;
Berikut fakta-fakta menarik terkait LPG yang bakal diganti CNG, Senin (11/5/2026).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
1. Pemerintah Masih Uji Coba Tabung CNG 3 Kg&#13;
&#13;
Bahlil mengatakan pemerintah saat ini masih menguji penggunaan tabung CNG ukuran 3 kilogram untuk kebutuhan rumah tangga. Uji coba tersebut dilakukan guna memastikan aspek keamanan dan kelayakan penggunaan sebelum konversi dilakukan secara nasional.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kalau sudah dapat hasilnya dan sudah dinyatakan firm, kami akan melakukan konversi LPG ke CNG,&amp;quot; kata Bahlil di Istana Kepresidenan, Selasa (5/5/2026).&#13;
&#13;
Menurut dia, penggunaan CNG sebenarnya telah diterapkan untuk kebutuhan hotel, restoran, hingga sektor industri. Namun, produk yang beredar saat ini masih menggunakan tabung berukuran 12 kilogram hingga 20 kilogram.&#13;
&#13;
&amp;quot;CNG ini sudah dipakai hotel, restoran, MBG, tapi untuk yang 3 kilogram memang tabungnya masih dilakukan uji coba,&amp;quot; ujar Bahlil.&#13;
&#13;
Pemerintah menargetkan proses pengujian tersebut selesai paling lambat dalam tiga bulan ke depan.&#13;
&#13;
2. Harga CNG Diklaim Lebih Murah 30 Persen&#13;
&#13;
Pemerintah mengklaim harga jual CNG nantinya akan lebih murah dibanding LPG karena seluruh sumber daya dan rantai industrinya tersedia di dalam negeri.&#13;
&#13;
&amp;quot;CNG itu sudah dilakukan kajian. Harganya jauh lebih murah, kurang lebih sekitar 30 persen lebih murah,&amp;quot; kata Bahlil.&#13;
&#13;
Ia menjelaskan biaya produksi dan distribusi CNG dapat ditekan karena Indonesia tidak perlu lagi mengimpor bahan baku dari luar negeri seperti LPG.&#13;
&#13;
&amp;quot;CNG lebih murah karena gasnya ada di Indonesia dan industrinya ada di dalam negeri. Jadi kami tidak melakukan impor,&amp;quot; ujarnya.&#13;
&#13;
Meski demikian, pemerintah masih mengkaji skema subsidi untuk menjaga harga jual CNG tetap terjangkau bagi masyarakat. Bahlil memastikan subsidi energi tetap akan diberikan apabila program konversi resmi dijalankan.&#13;
&#13;
3. Diproyeksikan Hemat Devisa hingga Rp137 Triliun&#13;
&#13;
Selain menekan harga energi rumah tangga, pemerintah menilai penggunaan CNG dapat mengurangi beban impor LPG nasional yang selama ini cukup besar.&#13;
&#13;
Bahlil menyebut konversi LPG ke CNG berpotensi menghemat devisa negara hingga Rp137 triliun apabila teknologi dan distribusinya telah berjalan optimal.&#13;
&#13;
&amp;quot;Dengan Indonesia memakai CNG, Insya Allah mampu melakukan efisiensi devisa kurang lebih Rp130 triliun sampai Rp137 triliun,&amp;quot; kata dia.&#13;
&#13;
Saat ini konsumsi LPG nasional mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun. Namun, produksi dalam negeri hanya berkisar 1,6 juta hingga 1,7 juta ton, sehingga sebagian besar kebutuhan masih dipenuhi melalui impor.&#13;
&#13;
Pemerintah menilai kondisi tersebut membuat Indonesia rentan terhadap gejolak harga energi global dan ketidakpastian geopolitik internasional.&#13;
&#13;
4. Pemerintah Ingin Kurangi Ketergantungan Impor LPG&#13;
&#13;
Bahlil mengatakan Indonesia memiliki cadangan gas alam yang melimpah untuk mendukung pengembangan CNG domestik. Bahkan, pemerintah baru menemukan cadangan gas baru di Kalimantan Timur yang dapat dialokasikan untuk kebutuhan dalam negeri.&#13;
&#13;
&amp;quot;Ketika gejolak geopolitik seperti ini, kita tergantung pada global untuk impor LPG. Maka kami merumuskan alternatif lain,&amp;quot; ujar Bahlil.&#13;
&#13;
Ia menyebut Indonesia sebenarnya berpeluang menghentikan impor LPG apabila penggunaan CNG rumah tangga telah berjalan optimal dan aman digunakan masyarakat.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kalau tabungnya sudah prudent dan diuji oleh Lemigas, Indonesia pasti ada gasnya karena kita over supply,&amp;quot; katanya.&#13;
&#13;
5. Pemerintah Pastikan Harga Tetap Disubsidi&#13;
&#13;
Pemerintah memastikan harga CNG untuk rumah tangga tetap akan mendapatkan subsidi agar tidak memberatkan masyarakat.&#13;
&#13;
Menurut Bahlil, arahan Presiden Prabowo Subianto adalah memastikan energi tetap terjangkau bagi masyarakat kecil meskipun nantinya terjadi perubahan dari LPG ke CNG.&#13;
&#13;
&amp;quot;Arahan Bapak Presiden, baik CNG maupun LPG akan selalu mengedepankan untuk membantu rakyat yang memang harus kita bantu,&amp;quot; kata Bahlil.&#13;
&#13;
Ia juga memastikan harga jual CNG minimal setara dengan LPG apabila nantinya belum memungkinkan dijual lebih murah.&#13;
&#13;
&amp;quot;Minimal sama harganya,&amp;quot; ujar dia.&#13;
&#13;
6. CNG Berasal dari Gas Alam Domestik&#13;
&#13;
Sebagai informasi, bahan baku CNG berasal dari gas alam domestik, khususnya gas cair C1 dan C2 yang didominasi metana dan etana. Gas tersebut kemudian dipadatkan hingga mencapai tekanan tertentu agar mudah disimpan dan didistribusikan.&#13;
&#13;
Pemerintah menilai ketersediaan bahan baku dalam negeri menjadi keuntungan utama pengembangan CNG dibanding LPG yang masih bergantung pada impor dalam jumlah besar.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Pemerintah menyiapkan konversi penggunaan liquefied petroleum gas (LPG) 3 kilogram ke compressed natural gas (CNG) sebagai upaya mengurangi ketergantungan impor energi. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut harga CNG diproyeksikan lebih murah hingga 30 persen dibanding LPG.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Sementara itu, proses uji coba tabung 3 kilogram ditargetkan rampung dalam tiga bulan ke depan sebelum diterapkan secara luas kepada masyarakat.&#13;
&#13;
Berikut fakta-fakta menarik terkait LPG yang bakal diganti CNG, Senin (11/5/2026).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
1. Pemerintah Masih Uji Coba Tabung CNG 3 Kg&#13;
&#13;
Bahlil mengatakan pemerintah saat ini masih menguji penggunaan tabung CNG ukuran 3 kilogram untuk kebutuhan rumah tangga. Uji coba tersebut dilakukan guna memastikan aspek keamanan dan kelayakan penggunaan sebelum konversi dilakukan secara nasional.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kalau sudah dapat hasilnya dan sudah dinyatakan firm, kami akan melakukan konversi LPG ke CNG,&amp;quot; kata Bahlil di Istana Kepresidenan, Selasa (5/5/2026).&#13;
&#13;
Menurut dia, penggunaan CNG sebenarnya telah diterapkan untuk kebutuhan hotel, restoran, hingga sektor industri. Namun, produk yang beredar saat ini masih menggunakan tabung berukuran 12 kilogram hingga 20 kilogram.&#13;
&#13;
&amp;quot;CNG ini sudah dipakai hotel, restoran, MBG, tapi untuk yang 3 kilogram memang tabungnya masih dilakukan uji coba,&amp;quot; ujar Bahlil.&#13;
&#13;
Pemerintah menargetkan proses pengujian tersebut selesai paling lambat dalam tiga bulan ke depan.&#13;
&#13;
2. Harga CNG Diklaim Lebih Murah 30 Persen&#13;
&#13;
Pemerintah mengklaim harga jual CNG nantinya akan lebih murah dibanding LPG karena seluruh sumber daya dan rantai industrinya tersedia di dalam negeri.&#13;
&#13;
&amp;quot;CNG itu sudah dilakukan kajian. Harganya jauh lebih murah, kurang lebih sekitar 30 persen lebih murah,&amp;quot; kata Bahlil.&#13;
&#13;
Ia menjelaskan biaya produksi dan distribusi CNG dapat ditekan karena Indonesia tidak perlu lagi mengimpor bahan baku dari luar negeri seperti LPG.&#13;
&#13;
&amp;quot;CNG lebih murah karena gasnya ada di Indonesia dan industrinya ada di dalam negeri. Jadi kami tidak melakukan impor,&amp;quot; ujarnya.&#13;
&#13;
Meski demikian, pemerintah masih mengkaji skema subsidi untuk menjaga harga jual CNG tetap terjangkau bagi masyarakat. Bahlil memastikan subsidi energi tetap akan diberikan apabila program konversi resmi dijalankan.&#13;
&#13;
3. Diproyeksikan Hemat Devisa hingga Rp137 Triliun&#13;
&#13;
Selain menekan harga energi rumah tangga, pemerintah menilai penggunaan CNG dapat mengurangi beban impor LPG nasional yang selama ini cukup besar.&#13;
&#13;
Bahlil menyebut konversi LPG ke CNG berpotensi menghemat devisa negara hingga Rp137 triliun apabila teknologi dan distribusinya telah berjalan optimal.&#13;
&#13;
&amp;quot;Dengan Indonesia memakai CNG, Insya Allah mampu melakukan efisiensi devisa kurang lebih Rp130 triliun sampai Rp137 triliun,&amp;quot; kata dia.&#13;
&#13;
Saat ini konsumsi LPG nasional mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun. Namun, produksi dalam negeri hanya berkisar 1,6 juta hingga 1,7 juta ton, sehingga sebagian besar kebutuhan masih dipenuhi melalui impor.&#13;
&#13;
Pemerintah menilai kondisi tersebut membuat Indonesia rentan terhadap gejolak harga energi global dan ketidakpastian geopolitik internasional.&#13;
&#13;
4. Pemerintah Ingin Kurangi Ketergantungan Impor LPG&#13;
&#13;
Bahlil mengatakan Indonesia memiliki cadangan gas alam yang melimpah untuk mendukung pengembangan CNG domestik. Bahkan, pemerintah baru menemukan cadangan gas baru di Kalimantan Timur yang dapat dialokasikan untuk kebutuhan dalam negeri.&#13;
&#13;
&amp;quot;Ketika gejolak geopolitik seperti ini, kita tergantung pada global untuk impor LPG. Maka kami merumuskan alternatif lain,&amp;quot; ujar Bahlil.&#13;
&#13;
Ia menyebut Indonesia sebenarnya berpeluang menghentikan impor LPG apabila penggunaan CNG rumah tangga telah berjalan optimal dan aman digunakan masyarakat.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kalau tabungnya sudah prudent dan diuji oleh Lemigas, Indonesia pasti ada gasnya karena kita over supply,&amp;quot; katanya.&#13;
&#13;
5. Pemerintah Pastikan Harga Tetap Disubsidi&#13;
&#13;
Pemerintah memastikan harga CNG untuk rumah tangga tetap akan mendapatkan subsidi agar tidak memberatkan masyarakat.&#13;
&#13;
Menurut Bahlil, arahan Presiden Prabowo Subianto adalah memastikan energi tetap terjangkau bagi masyarakat kecil meskipun nantinya terjadi perubahan dari LPG ke CNG.&#13;
&#13;
&amp;quot;Arahan Bapak Presiden, baik CNG maupun LPG akan selalu mengedepankan untuk membantu rakyat yang memang harus kita bantu,&amp;quot; kata Bahlil.&#13;
&#13;
Ia juga memastikan harga jual CNG minimal setara dengan LPG apabila nantinya belum memungkinkan dijual lebih murah.&#13;
&#13;
&amp;quot;Minimal sama harganya,&amp;quot; ujar dia.&#13;
&#13;
6. CNG Berasal dari Gas Alam Domestik&#13;
&#13;
Sebagai informasi, bahan baku CNG berasal dari gas alam domestik, khususnya gas cair C1 dan C2 yang didominasi metana dan etana. Gas tersebut kemudian dipadatkan hingga mencapai tekanan tertentu agar mudah disimpan dan didistribusikan.&#13;
&#13;
Pemerintah menilai ketersediaan bahan baku dalam negeri menjadi keuntungan utama pengembangan CNG dibanding LPG yang masih bergantung pada impor dalam jumlah besar.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
