<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Holding BUMN Dinilai Belum Maksimal, Peran Anak Usaha Disorot</title><description>Sinergi antara holding, subholding, dan anak perusahaan BUMN dinilai masih perlu penguatan agar lebih optimal terhadap kinerja bisnis dan kontribusi bagi negara.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/05/11/320/3217642/holding-bumn-dinilai-belum-maksimal-peran-anak-usaha-disorot</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/05/11/320/3217642/holding-bumn-dinilai-belum-maksimal-peran-anak-usaha-disorot"/><item><title>Holding BUMN Dinilai Belum Maksimal, Peran Anak Usaha Disorot</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/05/11/320/3217642/holding-bumn-dinilai-belum-maksimal-peran-anak-usaha-disorot</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/05/11/320/3217642/holding-bumn-dinilai-belum-maksimal-peran-anak-usaha-disorot</guid><pubDate>Senin 11 Mei 2026 10:01 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/05/11/320/3217642/bumn-F5Rw_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Holding BUMN Dinilai Belum Maksimal, Peran Anak Usaha Disorot (Foto: Kementerian BUMN)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/05/11/320/3217642/bumn-F5Rw_large.jpg</image><title>Holding BUMN Dinilai Belum Maksimal, Peran Anak Usaha Disorot (Foto: Kementerian BUMN)</title></images><description>JAKARTA - Sinergi antara holding, subholding, dan anak perusahaan BUMN dinilai masih perlu penguatan agar lebih optimal terhadap kinerja bisnis dan kontribusi bagi negara. Penguatan terutama diharapkan dapat memperjelas peran anak perusahaan sebagai bagian strategis dalam ekosistem usaha BUMN.&#13;
&#13;
Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik Sofyano Zakaria, mengatakan konsep holding BUMN pada dasarnya dirancang untuk menciptakan efisiensi, integrasi bisnis, serta memperkuat daya saing perusahaan negara. Namun dalam praktiknya, implementasi sinergi tersebut dinilai masih belum sepenuhnya berjalan sesuai harapan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Sampai hari ini masih terlihat adanya kesan bahwa sebagian holding dan subholding BUMN belum benar-benar menjadikan anak perusahaan sebagai aset strategis yang harus diperkuat secara serius. Anak perusahaan masih sering diperlakukan sekadar pelengkap struktur korporasi,&amp;rdquo; kata Sofyano Zakaria dalam keterangannya di Jakarta, Senin (11/5/2026).&#13;
&#13;
Menurut Sofyano, pembentukan holding BUMN bertujuan memperkuat kinerja bisnis secara kolektif dan meningkatkan kontribusi terhadap negara. Namun ia menilai, semangat tersebut perlu lebih konsisten diwujudkan dalam praktik operasional.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Sinergi jangan hanya berhenti menjadi jargon dalam rapat direksi atau presentasi korporasi. Yang dibutuhkan adalah dukungan nyata kepada anak perusahaan agar mereka tumbuh sehat, kuat, dan mampu menghasilkan laba,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
Ia menjelaskan, secara filosofi holding seharusnya berperan sebagai pusat penguatan bisnis, integrasi pasar, efisiensi, serta pembinaan anak perusahaan. Karena itu, hubungan antara holding dan anak usaha idealnya tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga berbasis pengembangan bisnis.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau holding dan subholding hanya menjadi pengendali administratif dan penarik dividen semata, maka keberadaan holding hanya akan menambah lapisan birokrasi korporasi tanpa memberikan nilai tambah signifikan,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Sofyano menambahkan, kekuatan holding sangat ditentukan oleh kinerja anak perusahaan di bawahnya. Karena itu, anak usaha perlu diposisikan sebagai bagian penting dalam strategi pertumbuhan grup BUMN.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Anak perusahaan jangan dipandang sebagai beban atau sekadar unit pelengkap. Mereka harus diposisikan sebagai mesin pertumbuhan yang mampu berkontribusi terhadap laba dan dividen negara,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
Ia juga menyoroti perlunya peningkatan keterlibatan anak perusahaan dalam berbagai proyek di lingkungan grup BUMN. Menurutnya, penguatan kapasitas tetap menjadi kunci agar sinergi berjalan lebih efektif.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Sinergi bukan berarti memberikan proyek tanpa kompetensi, tetapi bagaimana holding membantu membangun kapasitas anak perusahaan agar mampu bersaing secara profesional,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Sofyano menilai perlu adanya kejelasan arah pengembangan anak perusahaan, termasuk mana yang difokuskan sebagai profit center dan mana yang membutuhkan restrukturisasi atau pengembangan bisnis baru.&#13;
&#13;
Ia juga menekankan pentingnya peran holding dan subholding dalam menjaga kesehatan bisnis anak usaha agar tidak mengalami kinerja yang tidak optimal dalam jangka panjang.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau ada masalah manajemen harus dibenahi, kalau ada masalah model bisnis harus diperbaiki, dan kalau ada kendala pasar maka holding harus hadir membantu membuka akses,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Menurutnya, kinerja anak perusahaan yang tidak sehat pada akhirnya juga dapat berdampak pada holding dan negara.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Negara tentu tidak ingin BUMN hanya tampak besar di atas kertas tetapi rapuh di dalam. Yang dibutuhkan adalah BUMN yang sehat secara menyeluruh,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Dalam kesempatan itu, Sofyano juga menyoroti peran Danantara dalam memperkuat ekosistem BUMN. Ia menilai lembaga tersebut diharapkan tidak hanya berfokus pada aset besar, tetapi juga memperhatikan kinerja anak perusahaan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Danantara harus memastikan bahwa holding dan subholding menjalankan fungsi pembinaan korporasi secara serius,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Ia menambahkan, Danantara diharapkan dapat berperan sebagai pengawas strategis agar seluruh rantai bisnis BUMN berjalan sehat, produktif, dan saling mendukung.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Jangan sampai holding dan subholding hanya sibuk mempercantik laporan konsolidasi tetapi mengabaikan kondisi riil anak usaha,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
Sofyano menegaskan, jika anak perusahaan dikelola dengan baik, maka hal tersebut akan berdampak positif terhadap kinerja holding dan kontribusi terhadap negara.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau anak perusahaan sehat dan kuat maka holding otomatis akan kuat. Kalau holding kuat maka kontribusi dividen kepada negara juga akan meningkat,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Ia berharap pengelolaan BUMN dapat terus diarahkan pada peningkatan nilai jangka panjang dan tidak hanya bersifat administratif.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Sinergi di BUMN harus benar-benar terukur dan berjalan nyata, bukan sekadar slogan,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
Sofyano menegaskan bahwa BUMN merupakan instrumen ekonomi negara yang memiliki peran penting dalam pembangunan nasional, sehingga seluruh aset di dalamnya perlu dikelola secara optimal.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Anak perusahaan bukan anak tiri. Mereka adalah bagian penting dari kekuatan ekonomi nasional,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Sinergi antara holding, subholding, dan anak perusahaan BUMN dinilai masih perlu penguatan agar lebih optimal terhadap kinerja bisnis dan kontribusi bagi negara. Penguatan terutama diharapkan dapat memperjelas peran anak perusahaan sebagai bagian strategis dalam ekosistem usaha BUMN.&#13;
&#13;
Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik Sofyano Zakaria, mengatakan konsep holding BUMN pada dasarnya dirancang untuk menciptakan efisiensi, integrasi bisnis, serta memperkuat daya saing perusahaan negara. Namun dalam praktiknya, implementasi sinergi tersebut dinilai masih belum sepenuhnya berjalan sesuai harapan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Sampai hari ini masih terlihat adanya kesan bahwa sebagian holding dan subholding BUMN belum benar-benar menjadikan anak perusahaan sebagai aset strategis yang harus diperkuat secara serius. Anak perusahaan masih sering diperlakukan sekadar pelengkap struktur korporasi,&amp;rdquo; kata Sofyano Zakaria dalam keterangannya di Jakarta, Senin (11/5/2026).&#13;
&#13;
Menurut Sofyano, pembentukan holding BUMN bertujuan memperkuat kinerja bisnis secara kolektif dan meningkatkan kontribusi terhadap negara. Namun ia menilai, semangat tersebut perlu lebih konsisten diwujudkan dalam praktik operasional.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Sinergi jangan hanya berhenti menjadi jargon dalam rapat direksi atau presentasi korporasi. Yang dibutuhkan adalah dukungan nyata kepada anak perusahaan agar mereka tumbuh sehat, kuat, dan mampu menghasilkan laba,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
Ia menjelaskan, secara filosofi holding seharusnya berperan sebagai pusat penguatan bisnis, integrasi pasar, efisiensi, serta pembinaan anak perusahaan. Karena itu, hubungan antara holding dan anak usaha idealnya tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga berbasis pengembangan bisnis.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau holding dan subholding hanya menjadi pengendali administratif dan penarik dividen semata, maka keberadaan holding hanya akan menambah lapisan birokrasi korporasi tanpa memberikan nilai tambah signifikan,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Sofyano menambahkan, kekuatan holding sangat ditentukan oleh kinerja anak perusahaan di bawahnya. Karena itu, anak usaha perlu diposisikan sebagai bagian penting dalam strategi pertumbuhan grup BUMN.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Anak perusahaan jangan dipandang sebagai beban atau sekadar unit pelengkap. Mereka harus diposisikan sebagai mesin pertumbuhan yang mampu berkontribusi terhadap laba dan dividen negara,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
Ia juga menyoroti perlunya peningkatan keterlibatan anak perusahaan dalam berbagai proyek di lingkungan grup BUMN. Menurutnya, penguatan kapasitas tetap menjadi kunci agar sinergi berjalan lebih efektif.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Sinergi bukan berarti memberikan proyek tanpa kompetensi, tetapi bagaimana holding membantu membangun kapasitas anak perusahaan agar mampu bersaing secara profesional,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Sofyano menilai perlu adanya kejelasan arah pengembangan anak perusahaan, termasuk mana yang difokuskan sebagai profit center dan mana yang membutuhkan restrukturisasi atau pengembangan bisnis baru.&#13;
&#13;
Ia juga menekankan pentingnya peran holding dan subholding dalam menjaga kesehatan bisnis anak usaha agar tidak mengalami kinerja yang tidak optimal dalam jangka panjang.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau ada masalah manajemen harus dibenahi, kalau ada masalah model bisnis harus diperbaiki, dan kalau ada kendala pasar maka holding harus hadir membantu membuka akses,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Menurutnya, kinerja anak perusahaan yang tidak sehat pada akhirnya juga dapat berdampak pada holding dan negara.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Negara tentu tidak ingin BUMN hanya tampak besar di atas kertas tetapi rapuh di dalam. Yang dibutuhkan adalah BUMN yang sehat secara menyeluruh,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Dalam kesempatan itu, Sofyano juga menyoroti peran Danantara dalam memperkuat ekosistem BUMN. Ia menilai lembaga tersebut diharapkan tidak hanya berfokus pada aset besar, tetapi juga memperhatikan kinerja anak perusahaan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Danantara harus memastikan bahwa holding dan subholding menjalankan fungsi pembinaan korporasi secara serius,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Ia menambahkan, Danantara diharapkan dapat berperan sebagai pengawas strategis agar seluruh rantai bisnis BUMN berjalan sehat, produktif, dan saling mendukung.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Jangan sampai holding dan subholding hanya sibuk mempercantik laporan konsolidasi tetapi mengabaikan kondisi riil anak usaha,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
Sofyano menegaskan, jika anak perusahaan dikelola dengan baik, maka hal tersebut akan berdampak positif terhadap kinerja holding dan kontribusi terhadap negara.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau anak perusahaan sehat dan kuat maka holding otomatis akan kuat. Kalau holding kuat maka kontribusi dividen kepada negara juga akan meningkat,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Ia berharap pengelolaan BUMN dapat terus diarahkan pada peningkatan nilai jangka panjang dan tidak hanya bersifat administratif.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Sinergi di BUMN harus benar-benar terukur dan berjalan nyata, bukan sekadar slogan,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
Sofyano menegaskan bahwa BUMN merupakan instrumen ekonomi negara yang memiliki peran penting dalam pembangunan nasional, sehingga seluruh aset di dalamnya perlu dikelola secara optimal.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Anak perusahaan bukan anak tiri. Mereka adalah bagian penting dari kekuatan ekonomi nasional,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
