<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Ekonomi RI Tinggi dan Rendah Ribut, Purbaya Sindir Ekonom Maunya Apa?</title><description>Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi kritik yang meragukan kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 yang tumbuh 5,61 persen.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/05/11/320/3217668/ekonomi-ri-tinggi-dan-rendah-ribut-purbaya-sindir-ekonom-maunya-apa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/05/11/320/3217668/ekonomi-ri-tinggi-dan-rendah-ribut-purbaya-sindir-ekonom-maunya-apa"/><item><title> Ekonomi RI Tinggi dan Rendah Ribut, Purbaya Sindir Ekonom Maunya Apa?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/05/11/320/3217668/ekonomi-ri-tinggi-dan-rendah-ribut-purbaya-sindir-ekonom-maunya-apa</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/05/11/320/3217668/ekonomi-ri-tinggi-dan-rendah-ribut-purbaya-sindir-ekonom-maunya-apa</guid><pubDate>Senin 11 Mei 2026 12:12 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/05/11/320/3217668/purbaya-Wjyr_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg"> Ekonomi RI Tinggi dan Rendah Ribut, Purbaya Sindir Ekonom Maunya Apa? (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/05/11/320/3217668/purbaya-Wjyr_large.jpg</image><title> Ekonomi RI Tinggi dan Rendah Ribut, Purbaya Sindir Ekonom Maunya Apa? (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi kritik yang meragukan kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 yang tumbuh 5,61 persen. Kritik yang muncul di publik menuding capaian tersebut hanya dipicu oleh efek basis rendah (low base effect) karena pertumbuhan pada kuartal I-2025 hanya sebesar 4,87 persen.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Namun, Purbaya mematahkan argumen tersebut dengan merujuk pada tren penguatan yang sudah terlihat sejak kuartal IV-2025 yang tumbuh 5,39 persen. Ia mengaku heran terhadap skeptisisme para ekonom domestik, padahal dunia internasional memberikan apresiasi positif terhadap ketahanan ekonomi Indonesia.&#13;
&#13;
&amp;quot;Jadi kalau angka jelek ribut, angka tinggi ribut. Jadi teman-teman ekonom tuh maunya apa?&amp;quot; kata Purbaya di kantornya, Jakarta, Senin (11/5/2026).&#13;
&#13;
Purbaya menambahkan bahwa performa ekonomi saat ini merupakan kelanjutan dari momentum positif akhir tahun lalu, bukan sekadar anomali statistik.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Luar negeri menghargai kita, dalam negeri enggak ini, tapi dengan data yang aneh. Dengan sudut pandang yang aneh menurut saya,&amp;rdquo; tegas Purbaya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Terkait arah kebijakan ke depan, Purbaya mengungkapkan bahwa pemerintah baru akan mempertimbangkan penyesuaian pajak lainnya jika pertumbuhan ekonomi sudah konsisten berada di level 6 persen selama beberapa kuartal berturut-turut.&#13;
&#13;
Fokus pemerintah saat ini adalah menciptakan keadilan bagi para pedagang konvensional agar mampu bersaing dengan ekosistem digital.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pertumbuhannya ya? Oh, kalau yang pertumbuhan ekonomi 5,61 persen kan belum 6 persen dan belum stabil 6 persen. Let&amp;#39;s say kalau 2-3 bulan berturut-turut di atas 6 persen, kita akan pertimbangan pajak-pajak yang lain,&amp;rdquo; ujar Purbaya.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi kritik yang meragukan kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 yang tumbuh 5,61 persen. Kritik yang muncul di publik menuding capaian tersebut hanya dipicu oleh efek basis rendah (low base effect) karena pertumbuhan pada kuartal I-2025 hanya sebesar 4,87 persen.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Namun, Purbaya mematahkan argumen tersebut dengan merujuk pada tren penguatan yang sudah terlihat sejak kuartal IV-2025 yang tumbuh 5,39 persen. Ia mengaku heran terhadap skeptisisme para ekonom domestik, padahal dunia internasional memberikan apresiasi positif terhadap ketahanan ekonomi Indonesia.&#13;
&#13;
&amp;quot;Jadi kalau angka jelek ribut, angka tinggi ribut. Jadi teman-teman ekonom tuh maunya apa?&amp;quot; kata Purbaya di kantornya, Jakarta, Senin (11/5/2026).&#13;
&#13;
Purbaya menambahkan bahwa performa ekonomi saat ini merupakan kelanjutan dari momentum positif akhir tahun lalu, bukan sekadar anomali statistik.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Luar negeri menghargai kita, dalam negeri enggak ini, tapi dengan data yang aneh. Dengan sudut pandang yang aneh menurut saya,&amp;rdquo; tegas Purbaya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Terkait arah kebijakan ke depan, Purbaya mengungkapkan bahwa pemerintah baru akan mempertimbangkan penyesuaian pajak lainnya jika pertumbuhan ekonomi sudah konsisten berada di level 6 persen selama beberapa kuartal berturut-turut.&#13;
&#13;
Fokus pemerintah saat ini adalah menciptakan keadilan bagi para pedagang konvensional agar mampu bersaing dengan ekosistem digital.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pertumbuhannya ya? Oh, kalau yang pertumbuhan ekonomi 5,61 persen kan belum 6 persen dan belum stabil 6 persen. Let&amp;#39;s say kalau 2-3 bulan berturut-turut di atas 6 persen, kita akan pertimbangan pajak-pajak yang lain,&amp;rdquo; ujar Purbaya.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
