<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Investor Global Soroti Keputusan MSCI Hapus 6 Emiten RI dari Indeks Global</title><description>MSCI terkait hasil review periode Mei 2026 yang mengeluarkan enam emiten Indonesia dari konstituen indeks global menjadi faktor yang menekan psikologis pasar saham hari ini&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/05/13/320/3218238/investor-global-soroti-keputusan-msci-hapus-6-emiten-ri-dari-indeks-global</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/05/13/320/3218238/investor-global-soroti-keputusan-msci-hapus-6-emiten-ri-dari-indeks-global"/><item><title>Investor Global Soroti Keputusan MSCI Hapus 6 Emiten RI dari Indeks Global</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/05/13/320/3218238/investor-global-soroti-keputusan-msci-hapus-6-emiten-ri-dari-indeks-global</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/05/13/320/3218238/investor-global-soroti-keputusan-msci-hapus-6-emiten-ri-dari-indeks-global</guid><pubDate>Rabu 13 Mei 2026 15:27 WIB</pubDate><dc:creator>Rohman Wibowo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/05/13/320/3218238/saham-WKMt_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Investor Global Soroti Keputusan MSCI Hapus 6 Emiten RI dari Indeks Global. (Foto: Okezone.com/Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/05/13/320/3218238/saham-WKMt_large.jpg</image><title>Investor Global Soroti Keputusan MSCI Hapus 6 Emiten RI dari Indeks Global. (Foto: Okezone.com/Freepik)</title></images><description>JAKARTA - Pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait hasil review periode Mei 2026 yang mengeluarkan enam emiten Indonesia dari konstituen indeks global menjadi faktor yang menekan psikologis pasar saham hari ini.&#13;
&#13;
Keputusan lembaga tersebut yang mengeluarkan enam emiten besar seperti AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT memunculkan kekhawatiran terjadinya lanjutan outflow dana asing menjelang implementasi rebalancing pada awal Juni.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kondisi ini memberi sinyal bahwa investor global masih mempertanyakan kualitas likuiditas dan free float sejumlah saham Indonesia, terutama saham-saham yang sebelumnya mengalami volatilitas ekstrem,&amp;rdquo; kata Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana, Rabu (13/5/2026).&#13;
&#13;
Hendra menekankan dampak jangka pendeknya berpotensi meningkatkan tekanan jual pada saham-saham yang terdepak dari indeks karena fund manager global biasanya melakukan penyesuaian portofolio secara bertahap sebelum waktu efektif.&#13;
&#13;
Sehingga tidak heran jika saham-saham big caps dan second liner yang memiliki keterkaitan dengan MSCI cenderung menjadi fokus aksi profit taking dalam beberapa hari terakhir.&#13;
&#13;
Dia menambahkan secara sektoral, tekanan diperkirakan masih akan dominan pada sektor konsumsi, kesehatan, dan saham berbasis domestik yang sensitif terhadap pelemahan daya beli dan depresiasi rupiah.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pada perdagangan sebelumnya, sektor kesehatan menjadi yang paling tertekan setelah turun lebih dari 3%, dipicu pelemahan saham-saham farmasi dan healthcare seperti MERK, SILO, KLBF, SIDO, hingga PRDA.&#13;
&#13;
Pelemahan ini mencerminkan rotasi dana investor menuju sektor yang dinilai lebih tahan terhadap gejolak global,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Sebaliknya, sektor basic industry dan saham berbasis energi masih berpotensi relatif lebih kuat karena didukung kenaikan harga minyak dan komoditas global. Saham-saham petrokimia, energi, dan emiten yang memiliki eksposur ekspor diperkirakan masih menjadi pilihan defensif investor di tengah tingginya volatilitas pasar.&#13;
&#13;
Secara teknikal, Hendra mengatakan posisi IHSG saat ini masih berada dalam fase konsolidasi bearish setelah gagal bertahan di atas level psikologis 6.900. Pola lower high dan lower low yang terbentuk dalam beberapa hari terakhir menunjukkan tekanan jual masih cukup dominan, terutama dari investor asing. Area support penting saat ini berada pada kisaran 6.700&amp;ndash;6.750, dan apabila level tersebut ditembus, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area 6.640.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Namun di sisi lain, peluang technical rebound tetap terbuka mengingat sejumlah saham unggulan sudah mulai memasuki area oversold setelah koreksi cukup dalam sejak awal Mei,&amp;rdquo; kata dia.&#13;
&#13;
Hendra mewanti-wanti bahwa aksi bargain hunting berpotensi muncul terutama apabila harga minyak mulai stabil, tensi geopolitik mereda, atau data inflasi AS tidak setinggi ekspektasi pasar.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Oleh karena itu, pergerakan IHSG hari ini diperkirakan masih akan sangat volatil dengan kecenderungan melemah pada awal sesi perdagangan, namun tetap memiliki peluang rebound terbatas menjelang penutupan apabila tekanan eksternal mulai mereda dan investor domestik mulai kembali masuk ke pasar,&amp;rdquo; kata dia.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait hasil review periode Mei 2026 yang mengeluarkan enam emiten Indonesia dari konstituen indeks global menjadi faktor yang menekan psikologis pasar saham hari ini.&#13;
&#13;
Keputusan lembaga tersebut yang mengeluarkan enam emiten besar seperti AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT memunculkan kekhawatiran terjadinya lanjutan outflow dana asing menjelang implementasi rebalancing pada awal Juni.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kondisi ini memberi sinyal bahwa investor global masih mempertanyakan kualitas likuiditas dan free float sejumlah saham Indonesia, terutama saham-saham yang sebelumnya mengalami volatilitas ekstrem,&amp;rdquo; kata Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana, Rabu (13/5/2026).&#13;
&#13;
Hendra menekankan dampak jangka pendeknya berpotensi meningkatkan tekanan jual pada saham-saham yang terdepak dari indeks karena fund manager global biasanya melakukan penyesuaian portofolio secara bertahap sebelum waktu efektif.&#13;
&#13;
Sehingga tidak heran jika saham-saham big caps dan second liner yang memiliki keterkaitan dengan MSCI cenderung menjadi fokus aksi profit taking dalam beberapa hari terakhir.&#13;
&#13;
Dia menambahkan secara sektoral, tekanan diperkirakan masih akan dominan pada sektor konsumsi, kesehatan, dan saham berbasis domestik yang sensitif terhadap pelemahan daya beli dan depresiasi rupiah.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pada perdagangan sebelumnya, sektor kesehatan menjadi yang paling tertekan setelah turun lebih dari 3%, dipicu pelemahan saham-saham farmasi dan healthcare seperti MERK, SILO, KLBF, SIDO, hingga PRDA.&#13;
&#13;
Pelemahan ini mencerminkan rotasi dana investor menuju sektor yang dinilai lebih tahan terhadap gejolak global,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Sebaliknya, sektor basic industry dan saham berbasis energi masih berpotensi relatif lebih kuat karena didukung kenaikan harga minyak dan komoditas global. Saham-saham petrokimia, energi, dan emiten yang memiliki eksposur ekspor diperkirakan masih menjadi pilihan defensif investor di tengah tingginya volatilitas pasar.&#13;
&#13;
Secara teknikal, Hendra mengatakan posisi IHSG saat ini masih berada dalam fase konsolidasi bearish setelah gagal bertahan di atas level psikologis 6.900. Pola lower high dan lower low yang terbentuk dalam beberapa hari terakhir menunjukkan tekanan jual masih cukup dominan, terutama dari investor asing. Area support penting saat ini berada pada kisaran 6.700&amp;ndash;6.750, dan apabila level tersebut ditembus, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area 6.640.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Namun di sisi lain, peluang technical rebound tetap terbuka mengingat sejumlah saham unggulan sudah mulai memasuki area oversold setelah koreksi cukup dalam sejak awal Mei,&amp;rdquo; kata dia.&#13;
&#13;
Hendra mewanti-wanti bahwa aksi bargain hunting berpotensi muncul terutama apabila harga minyak mulai stabil, tensi geopolitik mereda, atau data inflasi AS tidak setinggi ekspektasi pasar.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Oleh karena itu, pergerakan IHSG hari ini diperkirakan masih akan sangat volatil dengan kecenderungan melemah pada awal sesi perdagangan, namun tetap memiliki peluang rebound terbatas menjelang penutupan apabila tekanan eksternal mulai mereda dan investor domestik mulai kembali masuk ke pasar,&amp;rdquo; kata dia.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
