<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harga BBM Nonsubsidi Bakal Naik Imbas Rupiah Kian Melemah Rp17.600</title><description>Dampak dari pelemahan Rupiah ini bisa membuat harga BBM nonsubsidi naik.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/05/16/320/3218732/harga-bbm-nonsubsidi-bakal-naik-imbas-rupiah-kian-melemah-rp17-600</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/05/16/320/3218732/harga-bbm-nonsubsidi-bakal-naik-imbas-rupiah-kian-melemah-rp17-600"/><item><title>Harga BBM Nonsubsidi Bakal Naik Imbas Rupiah Kian Melemah Rp17.600</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/05/16/320/3218732/harga-bbm-nonsubsidi-bakal-naik-imbas-rupiah-kian-melemah-rp17-600</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/05/16/320/3218732/harga-bbm-nonsubsidi-bakal-naik-imbas-rupiah-kian-melemah-rp17-600</guid><pubDate>Sabtu 16 Mei 2026 11:03 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/05/16/320/3218732/bbm-43fB_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Harga BBM Nonsubsidi Bakal Naik Imbas Rupiah Kian Melemah Rp17.600. (Foto: Okezone.com/Pertamina)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/05/16/320/3218732/bbm-43fB_large.jpg</image><title>Harga BBM Nonsubsidi Bakal Naik Imbas Rupiah Kian Melemah Rp17.600. (Foto: Okezone.com/Pertamina)</title></images><description>JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS kian melemah tembus Rp17.600 per dolar AS. Dampak dari pelemahan Rupiah ini bisa membuat harga BBM nonsubsidi naik.&#13;
&#13;
Sebab, pelemahan Rupiah sangat berpengaruh terhadap bahan baku impor termasuk harga BBM nonsubsidi. Pasalnya Indonesia net importir minyak sejak 2004.&#13;
&#13;
Pakar ekonomi dan bisnis Universitas Hasanuddin Hamid Paddu menyikapi nilai tukar Rupiah yang terus anjlok. Pertengahan Mei, mata uang Rupiah tersebut memang menunjukkan tren yang semakin melemah. Bahkan pada 15 Mei, kurs Rupiah berada pada level Rp17.600 per &amp;nbsp;USD.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Menurut Hamid, produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang mencapai 1,6 juta barel per hari. Sementara, produksi Indonesia hanya 650 ribu barel per hari. Artinya, lebih dari 50% kebutuhan harus dipenuhi melalui impor.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Nah, impor tentu dibeli dengan nilai mata uang, valuta asing, dalam hal ini dolar AS. Makanya, nilai tukar sangat mempengaruhi harga BBM,&amp;rdquo; kata Hamid di Jakarta, Sabtu (16/5/2026).&#13;
&#13;
Hamid menjelaskan, baik nilai tukar mata uang maupun harga minyak dunia, saat ini sudah melebihi asumsi APBN. Dalam APBN 2026, asumsi nilai tukar adalah Rp16.500 per USD. Sedangkan harga minyak dunia yang saat ini USD105 per barel, jauh di atas asumsi APBN yaitu USD70 per barel.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Berarti untuk impor, beban energi minyak sudah kena dua kali. Pertama kena dari harga minyak dunia kemudian dari kurs,&amp;rdquo; lanjutnya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Dia menyebut, sangat wajar jika badan usaha termasuk Pertamina, pada saatnya akan kembali menaikkan harga BBM. Apalagi Hamid memprediksi, bahwa pelemahan mata uang Rupiah masih akan terus berlangsung hingga akhir tahun.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Itu otomatis, karena ini kan market. Jadi harga jual BBM nonsubsidi tidak dicampuri Pemerintah. Sejak lima tahun lalu, badan usaha swasta dan Pertamina selalu menyesuaikan harga BBM nonsubsidi dengan harga pasar. Jadi begitu bahan bakunya naik, dia harus menaikkan BBM,&amp;rdquo; lanjut Hamid.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Bahkan Hamid mengatakan, jika badan usaha termasuk Pertamina &amp;nbsp;tidak menaikkan harga BBM nonsubsidi, justru akan berdampak sangat besar terhadap kondisi finansial BUMN tersebut. Sangat berat bagi Pertamina untuk melakukan pengadaan melalui impor dengan nilai dolar AS yang sudah sangat tinggi.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Begitu membeli yang baru dengan harga yang baru, kurs yang baru, berarti kan uangnya sudah besar sekali,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
Di sisi lain Hamid menyebut, saat ini literasi masyarakat terkait energi sudah baik. Masyarakat sudah paham, jika badan usaha seperti Pertamina menyesuaikan harga BBM nonsubsidi.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;rdquo;Makanya sekian tahun tidak pernah ada gejolak kalau harga BBM nonsubsidi berubah. Masyarakat sudah tahu bahwa BBM nonsubsidi sesuai mekanisme pasar. &amp;nbsp;Kalau naik harga bahan bakunya, BBM juga naik,&amp;rdquo; ungkapnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS kian melemah tembus Rp17.600 per dolar AS. Dampak dari pelemahan Rupiah ini bisa membuat harga BBM nonsubsidi naik.&#13;
&#13;
Sebab, pelemahan Rupiah sangat berpengaruh terhadap bahan baku impor termasuk harga BBM nonsubsidi. Pasalnya Indonesia net importir minyak sejak 2004.&#13;
&#13;
Pakar ekonomi dan bisnis Universitas Hasanuddin Hamid Paddu menyikapi nilai tukar Rupiah yang terus anjlok. Pertengahan Mei, mata uang Rupiah tersebut memang menunjukkan tren yang semakin melemah. Bahkan pada 15 Mei, kurs Rupiah berada pada level Rp17.600 per &amp;nbsp;USD.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Menurut Hamid, produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang mencapai 1,6 juta barel per hari. Sementara, produksi Indonesia hanya 650 ribu barel per hari. Artinya, lebih dari 50% kebutuhan harus dipenuhi melalui impor.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Nah, impor tentu dibeli dengan nilai mata uang, valuta asing, dalam hal ini dolar AS. Makanya, nilai tukar sangat mempengaruhi harga BBM,&amp;rdquo; kata Hamid di Jakarta, Sabtu (16/5/2026).&#13;
&#13;
Hamid menjelaskan, baik nilai tukar mata uang maupun harga minyak dunia, saat ini sudah melebihi asumsi APBN. Dalam APBN 2026, asumsi nilai tukar adalah Rp16.500 per USD. Sedangkan harga minyak dunia yang saat ini USD105 per barel, jauh di atas asumsi APBN yaitu USD70 per barel.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Berarti untuk impor, beban energi minyak sudah kena dua kali. Pertama kena dari harga minyak dunia kemudian dari kurs,&amp;rdquo; lanjutnya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Dia menyebut, sangat wajar jika badan usaha termasuk Pertamina, pada saatnya akan kembali menaikkan harga BBM. Apalagi Hamid memprediksi, bahwa pelemahan mata uang Rupiah masih akan terus berlangsung hingga akhir tahun.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Itu otomatis, karena ini kan market. Jadi harga jual BBM nonsubsidi tidak dicampuri Pemerintah. Sejak lima tahun lalu, badan usaha swasta dan Pertamina selalu menyesuaikan harga BBM nonsubsidi dengan harga pasar. Jadi begitu bahan bakunya naik, dia harus menaikkan BBM,&amp;rdquo; lanjut Hamid.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Bahkan Hamid mengatakan, jika badan usaha termasuk Pertamina &amp;nbsp;tidak menaikkan harga BBM nonsubsidi, justru akan berdampak sangat besar terhadap kondisi finansial BUMN tersebut. Sangat berat bagi Pertamina untuk melakukan pengadaan melalui impor dengan nilai dolar AS yang sudah sangat tinggi.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Begitu membeli yang baru dengan harga yang baru, kurs yang baru, berarti kan uangnya sudah besar sekali,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
Di sisi lain Hamid menyebut, saat ini literasi masyarakat terkait energi sudah baik. Masyarakat sudah paham, jika badan usaha seperti Pertamina menyesuaikan harga BBM nonsubsidi.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;rdquo;Makanya sekian tahun tidak pernah ada gejolak kalau harga BBM nonsubsidi berubah. Masyarakat sudah tahu bahwa BBM nonsubsidi sesuai mekanisme pasar. &amp;nbsp;Kalau naik harga bahan bakunya, BBM juga naik,&amp;rdquo; ungkapnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
