<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Aset Tembus Rp1.061 Triliun, Pembiayaan Perbankan Syariah Capai Rp716 Triliun</title><description>Pencapaian ini ditopang oleh kuatnya fungsi intermediasi dan tingginya tingkat kepercayaan masyarakat.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/05/16/320/3218738/aset-tembus-rp1-061-triliun-pembiayaan-perbankan-syariah-capai-rp716-triliun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/05/16/320/3218738/aset-tembus-rp1-061-triliun-pembiayaan-perbankan-syariah-capai-rp716-triliun"/><item><title>Aset Tembus Rp1.061 Triliun, Pembiayaan Perbankan Syariah Capai Rp716 Triliun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/05/16/320/3218738/aset-tembus-rp1-061-triliun-pembiayaan-perbankan-syariah-capai-rp716-triliun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/05/16/320/3218738/aset-tembus-rp1-061-triliun-pembiayaan-perbankan-syariah-capai-rp716-triliun</guid><pubDate>Sabtu 16 Mei 2026 16:09 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/05/16/320/3218738/ekonomi_syariah-oz9L_large.png" expression="full" type="image/jpeg">Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total aset perbankan syariah tumbuh dua digit sebesar 10,49% year-on-year (yoy). (Foto: Okezone.com/Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/05/16/320/3218738/ekonomi_syariah-oz9L_large.png</image><title>Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total aset perbankan syariah tumbuh dua digit sebesar 10,49% year-on-year (yoy). (Foto: Okezone.com/Freepik)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total aset perbankan syariah tumbuh dua digit sebesar 10,49% year-on-year (yoy) hingga mencapai Rp1.061,61 triliun per Maret 2026. Pencapaian ini ditopang oleh kuatnya fungsi intermediasi dan tingginya tingkat kepercayaan masyarakat.&#13;
&#13;
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengungkapkan bahwa tren positif ini menjadi bukti keberhasilan peta jalan industri yang sedang berjalan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Momentum pertumbuhan tersebut menjadi milestone penting dari upaya transformasi dan penguatan industri perbankan syariah nasional yang mengacu pada Roadmap Pengembangan dan Penguatan Perbankan Syariah Indonesia (RP3SI) 2023&amp;ndash;2027,&amp;rdquo; kata Dian dalam keterangan resmi, Sabtu (16/5/2026).&#13;
&#13;
Sejalan dengan lonjakan aset, penyaluran pembiayaan syariah juga tumbuh impresif sebesar 9,82% yoy menjadi Rp716,40 triliun.&#13;
&#13;
Angka pertumbuhan tersebut berada di atas rata-rata pertumbuhan perbankan nasional, didorong oleh peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang naik 11,14% yoy menjadi Rp811,76 triliun.&#13;
&#13;
Kontribusi sektor ini terhadap penguatan sektor riil tercermin dari rasio Financing to Deposit Ratio (FDR) yang mencapai 87,65%.&#13;
&#13;
Di sisi lain, risiko pembiayaan tetap terkendali dengan baik, di mana rasio Non-Performing Financing (NPF) gross berada di level 2,28% dan NPF net di angka 0,87%.&#13;
&#13;
Sebagai bagian dari implementasi pilar pertama RP3SI terkait penguatan struktur, OJK mencatat saat ini sudah ada tiga bank syariah berskala besar yang menempati posisi Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 2 dan 3.&#13;
&#13;
Struktur industri ini diproyeksikan semakin kokoh tahun ini seiring dengan target rampungnya satu Bank Umum Syariah (BUS) baru hasil proses spin-off.&#13;
&#13;
Selain di sektor bank umum, konsolidasi juga dilakukan pada Bank Perekonomian Rakyat (BPR) Syariah. OJK tengah mengawal proses penggabungan 21 BPR/BPR Syariah yang ditargetkan mengerucut menjadi 9 BPR Syariah yang lebih efisien dan berdaya saing tinggi.&#13;
&#13;
Untuk memperkuat karakteristik perbankan syariah, OJK telah merilis sembilan pedoman produk berbasis akad serta Peraturan OJK (POJK) Nomor 4 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Produk Investasi Perbankan Syariah.&#13;
&#13;
Kehadiran Komite Pengembangan Keuangan Syariah (KPKS) sejak 2025 juga turut mempercepat inovasi produk, seperti implementasi Cash Waqf Linked Deposit (CWLD) yang mengumpulkan dana hingga Rp22,76 miliar, serta Shariah Restricted Investment Account (SRIA) yang mencatat nilai piloting Rp1,35 triliun.&#13;
&#13;
Dian menegaskan bahwa perbankan syariah tidak hanya mengejar pertumbuhan angka, tetapi juga memperluas kontribusi terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat bawah. Hal ini tercermin dari penyaluran pembiayaan ke sektor UMKM yang telah menembus Rp217,86 triliun.&#13;
&#13;
Sinergi dengan pemerintah daerah juga terus diperluas untuk memastikan akses layanan keuangan syariah dapat dirasakan lebih merata di berbagai wilayah Indonesia.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total aset perbankan syariah tumbuh dua digit sebesar 10,49% year-on-year (yoy) hingga mencapai Rp1.061,61 triliun per Maret 2026. Pencapaian ini ditopang oleh kuatnya fungsi intermediasi dan tingginya tingkat kepercayaan masyarakat.&#13;
&#13;
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengungkapkan bahwa tren positif ini menjadi bukti keberhasilan peta jalan industri yang sedang berjalan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Momentum pertumbuhan tersebut menjadi milestone penting dari upaya transformasi dan penguatan industri perbankan syariah nasional yang mengacu pada Roadmap Pengembangan dan Penguatan Perbankan Syariah Indonesia (RP3SI) 2023&amp;ndash;2027,&amp;rdquo; kata Dian dalam keterangan resmi, Sabtu (16/5/2026).&#13;
&#13;
Sejalan dengan lonjakan aset, penyaluran pembiayaan syariah juga tumbuh impresif sebesar 9,82% yoy menjadi Rp716,40 triliun.&#13;
&#13;
Angka pertumbuhan tersebut berada di atas rata-rata pertumbuhan perbankan nasional, didorong oleh peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang naik 11,14% yoy menjadi Rp811,76 triliun.&#13;
&#13;
Kontribusi sektor ini terhadap penguatan sektor riil tercermin dari rasio Financing to Deposit Ratio (FDR) yang mencapai 87,65%.&#13;
&#13;
Di sisi lain, risiko pembiayaan tetap terkendali dengan baik, di mana rasio Non-Performing Financing (NPF) gross berada di level 2,28% dan NPF net di angka 0,87%.&#13;
&#13;
Sebagai bagian dari implementasi pilar pertama RP3SI terkait penguatan struktur, OJK mencatat saat ini sudah ada tiga bank syariah berskala besar yang menempati posisi Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 2 dan 3.&#13;
&#13;
Struktur industri ini diproyeksikan semakin kokoh tahun ini seiring dengan target rampungnya satu Bank Umum Syariah (BUS) baru hasil proses spin-off.&#13;
&#13;
Selain di sektor bank umum, konsolidasi juga dilakukan pada Bank Perekonomian Rakyat (BPR) Syariah. OJK tengah mengawal proses penggabungan 21 BPR/BPR Syariah yang ditargetkan mengerucut menjadi 9 BPR Syariah yang lebih efisien dan berdaya saing tinggi.&#13;
&#13;
Untuk memperkuat karakteristik perbankan syariah, OJK telah merilis sembilan pedoman produk berbasis akad serta Peraturan OJK (POJK) Nomor 4 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Produk Investasi Perbankan Syariah.&#13;
&#13;
Kehadiran Komite Pengembangan Keuangan Syariah (KPKS) sejak 2025 juga turut mempercepat inovasi produk, seperti implementasi Cash Waqf Linked Deposit (CWLD) yang mengumpulkan dana hingga Rp22,76 miliar, serta Shariah Restricted Investment Account (SRIA) yang mencatat nilai piloting Rp1,35 triliun.&#13;
&#13;
Dian menegaskan bahwa perbankan syariah tidak hanya mengejar pertumbuhan angka, tetapi juga memperluas kontribusi terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat bawah. Hal ini tercermin dari penyaluran pembiayaan ke sektor UMKM yang telah menembus Rp217,86 triliun.&#13;
&#13;
Sinergi dengan pemerintah daerah juga terus diperluas untuk memastikan akses layanan keuangan syariah dapat dirasakan lebih merata di berbagai wilayah Indonesia.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
