<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Prabowo Bahas Krisis 2008 dengan Mantan Menteri dan Eks Gubernur BI</title><description>Presiden Prabowo Subianto melakukan pertemuan dengan sejumlah mantan menteri hingga mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) di Istana Kepresidenan hari ini.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/05/22/320/3220151/prabowo-bahas-krisis-2008-dengan-mantan-menteri-dan-eks-gubernur-bi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/05/22/320/3220151/prabowo-bahas-krisis-2008-dengan-mantan-menteri-dan-eks-gubernur-bi"/><item><title>Prabowo Bahas Krisis 2008 dengan Mantan Menteri dan Eks Gubernur BI</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/05/22/320/3220151/prabowo-bahas-krisis-2008-dengan-mantan-menteri-dan-eks-gubernur-bi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/05/22/320/3220151/prabowo-bahas-krisis-2008-dengan-mantan-menteri-dan-eks-gubernur-bi</guid><pubDate>Jum'at 22 Mei 2026 18:59 WIB</pubDate><dc:creator>Riyan Rizki Roshali</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/05/22/320/3220151/airlangga_purbaya-8603_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menko Airlangga Ungkap Hasil Pertemuan antara Presiden Prabowo dengan Mantan Menteri dan Eks Gubernur BI. (Foto: Okezone.com/IMG)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/05/22/320/3220151/airlangga_purbaya-8603_large.jpg</image><title>Menko Airlangga Ungkap Hasil Pertemuan antara Presiden Prabowo dengan Mantan Menteri dan Eks Gubernur BI. (Foto: Okezone.com/IMG)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Presiden Prabowo Subianto melakukan pertemuan dengan sejumlah mantan menteri hingga mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) di Istana Kepresidenan hari ini. Dalam pertemuan tersebut, para tokoh ekonomi itu membagikan pengalaman saat menghadapi krisis keuangan global pada 2008.&#13;
&#13;
Adapun tokoh yang hadir yakni Gubernur BI periode 2003&amp;ndash;2008 Burhanuddin Abdullah, eks Kepala Bappenas Paskah Suzetta, dan eks Wakil Menteri PPN Lukita Dinarsyah Tuwo.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dan dalam pertemuan tadi disampaikan beberapa hal yang menjadi pengalaman mereka saat menghadapi krisis di tahun 2008,&amp;rdquo; kata Menko Perekonomian Airlangga Hartarto kepada wartawan, Jumat (22/5/2026).&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dan dalam pertemuan tersebut mereka menyampaikan beberapa catatan yang terjadi, dan mereka mengatakan kalau di masa lalu inflasi kita di periode sekitar 17%, dan juga terjadi perubahan nilai kurs akibat krisis minyak di tahun 2005, di mana harga minyak bisa naik sampai 140 dolar. Ada pada waktu itu penyesuaian harga sehingga inflasinya bisa naik ke 27%,&amp;rdquo; sambung dia.&#13;
&#13;
Airlangga turut membandingkan situasi krisis saat itu dengan kondisi saat ini. Ia mengatakan bahwa kondisi ekonomi makro Indonesia saat ini jauh lebih baik secara fundamental.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Nah, kalau kita cek dengan konteks hari ini, relatif situasi makro kita lebih baik, fundamental lebih kuat, dan depresiasi rupiah itu sekitar 5%, jadi jauh lebih rendah dari berbagai kasus sebelumnya. Dan dari situ sebetulnya kita belajar bagaimana mengantisipasi dan apa yang diperlukan untuk menghadapi situasi-situasi ke depan,&amp;rdquo; ujar dia.&#13;
&#13;
Presiden, kata Airlangga, telah memerintahkan untuk memperkuat kondisi sistem keuangan dan perbankan. Menurutnya, kondisi permodalan di perbankan masih perlu diperkuat.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dan tentu Bapak Presiden meminta kami beserta Menteri Keuangan untuk memonitor bagaimana regulasi-regulasi untuk memperkuat situasi finansial dan juga menjaga prinsip kehati-hatian (prudential) dari perbankan kita. Kita memang jumlah perbankan banyak, dan mungkin kita perlu kaji bagaimana permodalannya untuk diperkuat,&amp;rdquo; jelas dia.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Presiden Prabowo Subianto melakukan pertemuan dengan sejumlah mantan menteri hingga mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) di Istana Kepresidenan hari ini. Dalam pertemuan tersebut, para tokoh ekonomi itu membagikan pengalaman saat menghadapi krisis keuangan global pada 2008.&#13;
&#13;
Adapun tokoh yang hadir yakni Gubernur BI periode 2003&amp;ndash;2008 Burhanuddin Abdullah, eks Kepala Bappenas Paskah Suzetta, dan eks Wakil Menteri PPN Lukita Dinarsyah Tuwo.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dan dalam pertemuan tadi disampaikan beberapa hal yang menjadi pengalaman mereka saat menghadapi krisis di tahun 2008,&amp;rdquo; kata Menko Perekonomian Airlangga Hartarto kepada wartawan, Jumat (22/5/2026).&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dan dalam pertemuan tersebut mereka menyampaikan beberapa catatan yang terjadi, dan mereka mengatakan kalau di masa lalu inflasi kita di periode sekitar 17%, dan juga terjadi perubahan nilai kurs akibat krisis minyak di tahun 2005, di mana harga minyak bisa naik sampai 140 dolar. Ada pada waktu itu penyesuaian harga sehingga inflasinya bisa naik ke 27%,&amp;rdquo; sambung dia.&#13;
&#13;
Airlangga turut membandingkan situasi krisis saat itu dengan kondisi saat ini. Ia mengatakan bahwa kondisi ekonomi makro Indonesia saat ini jauh lebih baik secara fundamental.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Nah, kalau kita cek dengan konteks hari ini, relatif situasi makro kita lebih baik, fundamental lebih kuat, dan depresiasi rupiah itu sekitar 5%, jadi jauh lebih rendah dari berbagai kasus sebelumnya. Dan dari situ sebetulnya kita belajar bagaimana mengantisipasi dan apa yang diperlukan untuk menghadapi situasi-situasi ke depan,&amp;rdquo; ujar dia.&#13;
&#13;
Presiden, kata Airlangga, telah memerintahkan untuk memperkuat kondisi sistem keuangan dan perbankan. Menurutnya, kondisi permodalan di perbankan masih perlu diperkuat.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dan tentu Bapak Presiden meminta kami beserta Menteri Keuangan untuk memonitor bagaimana regulasi-regulasi untuk memperkuat situasi finansial dan juga menjaga prinsip kehati-hatian (prudential) dari perbankan kita. Kita memang jumlah perbankan banyak, dan mungkin kita perlu kaji bagaimana permodalannya untuk diperkuat,&amp;rdquo; jelas dia.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
