<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Rupiah Kian Terpuruk, Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp17.880 per Dolar AS</title><description>Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 35 poin atau sekitar 0,20 persen ke level Rp17.880 per dolar AS pada akhir perdagangan Jumat (29/5/2026).&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/05/29/320/3221422/rupiah-kian-terpuruk-hari-ini-ditutup-melemah-ke-rp17-880-per-dolar-as</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/05/29/320/3221422/rupiah-kian-terpuruk-hari-ini-ditutup-melemah-ke-rp17-880-per-dolar-as"/><item><title>Rupiah Kian Terpuruk, Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp17.880 per Dolar AS</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/05/29/320/3221422/rupiah-kian-terpuruk-hari-ini-ditutup-melemah-ke-rp17-880-per-dolar-as</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/05/29/320/3221422/rupiah-kian-terpuruk-hari-ini-ditutup-melemah-ke-rp17-880-per-dolar-as</guid><pubDate>Jum'at 29 Mei 2026 15:53 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/05/29/320/3221422/rupiah-cmPt_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Rupiah Kian Terpuruk, Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp17.880 per Dolar AS (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/05/29/320/3221422/rupiah-cmPt_large.jpg</image><title>Rupiah Kian Terpuruk, Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp17.880 per Dolar AS (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 35 poin atau sekitar 0,20 persen ke level Rp17.880 per dolar AS pada akhir perdagangan Jumat (29/5/2026).&#13;
&#13;
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, sentimen eksternal yang mempengaruhi datang dari setelah muncul laporan bahwa Washington dan Teheran telah mencapai draf kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari sementara negosiasi terus berlanjut mengenai program nuklir Iran dan isu-isu keamanan regional. Usulan kesepakatan tersebut masih memerlukan persetujuan dari Presiden AS Donald Trump.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Prospek kesepakatan damai telah mengurangi kekhawatiran atas kekurangan pasokan langsung dan mendukung harapan bahwa aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz dapat secara bertahap kembali normal. Namun, lalu lintas melalui jalur air strategis tersebut tetap jauh di bawah tingkat sebelum konflik, sehingga premi risiko geopolitik tetap tertanam di pasar minyak,&amp;rdquo; tulis Ibrahim dalam risetnya.&#13;
&#13;
Harga minyak tetap sangat fluktuatif dalam beberapa sesi terakhir karena pasar bereaksi terhadap berita utama yang saling bertentangan seputar negosiasi gencatan senjata. Minyak mentah sempat pulih pada hari Kamis setelah laporan tentang pertukaran militer baru antara pasukan AS dan Iran, meskipun kenaikan tersebut memudar kemudian karena optimisme diplomatik muncul kembali.&#13;
&#13;
Investor juga menilai latar belakang makroekonomi yang lebih luas setelah data inflasi AS menunjukkan tekanan harga tetap tinggi. Inflasi pengeluaran konsumsi pribadi yang lebih tinggi dari perkiraan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve mungkin akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama.&#13;
&#13;
Pada saat yang sama, data pertumbuhan ekonomi AS tumbuh lebih lambat dari yang diperkirakan pada kuartal pertama tahun 2026, dengan PDB hanya meningkat sebesar 1,6%, direvisi turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 2%, menurut Biro Analisis Ekonomi AS. Pada saat yang sama, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa Klaim Pengangguran Awal meningkat menjadi 215.000 untuk pekan yang berakhir pada 23 Mei, melampaui perkiraan 211.000.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dari sentimen domestik, Kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang menahan suku bunganya di level tinggi memicu larinya arus modal asing (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Investor cenderung memindahkan asetnya ke instrumen berisiko rendah di AS (seperti obligasi) yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.&#13;
&#13;
Kemudian, prospek anggaran dan pengeluaran negara yang ketat, serta kekhawatiran defisit anggaran menjadi sorotan lembaga pemeringkat kredit global seperti S&amp;amp;P Global, Modyst dan Fith Rating, yang turut membebani kepercayaan pasar&#13;
&#13;
Tingginya harga minyak global meningkatkan biaya impor energi Indonesia, yang kemudian memicu lonjakan permintaan valuta asing (dolar AS) untuk pembayaran impor, sehingga berdampak terhadap melemahnya surplus neraca perdagangan serta ekspor yang melambat membuat pasokan dolar AS di pasar domestik menjadi lebih terbatas.&#13;
&#13;
Selain itu, tingginya permintaan dolar AS secara musiman untuk kebutuhan korporasi (seperti pembayaran dividen) dan kebutuhan impor rutin menekan pergerakan rupiah. Ditambah sentimen pasar terhadap kebijakan dan aset Indonesia.&#13;
&#13;
Pelemahan rupiah beberapa waktu terakhir terjadi bersamaan dengan tekanan di pasar saham dan obligasi, termasuk akibat sentimen MSCI, kekhawatiran terhadap defisit fiskal, dan kenaikan imbal hasil SBN.&#13;
&#13;
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan pekan depan dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.880-Rp17.940 per dolar AS dan untuk sepekan berada di Rp17.800-Rp18.100 per dolar AS.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 35 poin atau sekitar 0,20 persen ke level Rp17.880 per dolar AS pada akhir perdagangan Jumat (29/5/2026).&#13;
&#13;
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, sentimen eksternal yang mempengaruhi datang dari setelah muncul laporan bahwa Washington dan Teheran telah mencapai draf kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari sementara negosiasi terus berlanjut mengenai program nuklir Iran dan isu-isu keamanan regional. Usulan kesepakatan tersebut masih memerlukan persetujuan dari Presiden AS Donald Trump.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Prospek kesepakatan damai telah mengurangi kekhawatiran atas kekurangan pasokan langsung dan mendukung harapan bahwa aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz dapat secara bertahap kembali normal. Namun, lalu lintas melalui jalur air strategis tersebut tetap jauh di bawah tingkat sebelum konflik, sehingga premi risiko geopolitik tetap tertanam di pasar minyak,&amp;rdquo; tulis Ibrahim dalam risetnya.&#13;
&#13;
Harga minyak tetap sangat fluktuatif dalam beberapa sesi terakhir karena pasar bereaksi terhadap berita utama yang saling bertentangan seputar negosiasi gencatan senjata. Minyak mentah sempat pulih pada hari Kamis setelah laporan tentang pertukaran militer baru antara pasukan AS dan Iran, meskipun kenaikan tersebut memudar kemudian karena optimisme diplomatik muncul kembali.&#13;
&#13;
Investor juga menilai latar belakang makroekonomi yang lebih luas setelah data inflasi AS menunjukkan tekanan harga tetap tinggi. Inflasi pengeluaran konsumsi pribadi yang lebih tinggi dari perkiraan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve mungkin akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama.&#13;
&#13;
Pada saat yang sama, data pertumbuhan ekonomi AS tumbuh lebih lambat dari yang diperkirakan pada kuartal pertama tahun 2026, dengan PDB hanya meningkat sebesar 1,6%, direvisi turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 2%, menurut Biro Analisis Ekonomi AS. Pada saat yang sama, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa Klaim Pengangguran Awal meningkat menjadi 215.000 untuk pekan yang berakhir pada 23 Mei, melampaui perkiraan 211.000.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dari sentimen domestik, Kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang menahan suku bunganya di level tinggi memicu larinya arus modal asing (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Investor cenderung memindahkan asetnya ke instrumen berisiko rendah di AS (seperti obligasi) yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.&#13;
&#13;
Kemudian, prospek anggaran dan pengeluaran negara yang ketat, serta kekhawatiran defisit anggaran menjadi sorotan lembaga pemeringkat kredit global seperti S&amp;amp;P Global, Modyst dan Fith Rating, yang turut membebani kepercayaan pasar&#13;
&#13;
Tingginya harga minyak global meningkatkan biaya impor energi Indonesia, yang kemudian memicu lonjakan permintaan valuta asing (dolar AS) untuk pembayaran impor, sehingga berdampak terhadap melemahnya surplus neraca perdagangan serta ekspor yang melambat membuat pasokan dolar AS di pasar domestik menjadi lebih terbatas.&#13;
&#13;
Selain itu, tingginya permintaan dolar AS secara musiman untuk kebutuhan korporasi (seperti pembayaran dividen) dan kebutuhan impor rutin menekan pergerakan rupiah. Ditambah sentimen pasar terhadap kebijakan dan aset Indonesia.&#13;
&#13;
Pelemahan rupiah beberapa waktu terakhir terjadi bersamaan dengan tekanan di pasar saham dan obligasi, termasuk akibat sentimen MSCI, kekhawatiran terhadap defisit fiskal, dan kenaikan imbal hasil SBN.&#13;
&#13;
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan pekan depan dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.880-Rp17.940 per dolar AS dan untuk sepekan berada di Rp17.800-Rp18.100 per dolar AS.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
