<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Rupiah Anjlok ke Rp18.000, BI Akui Kebutuhan Dolar AS Tinggi Buat Bayar Utang</title><description>Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kian melemah ke level Rp18.000 per dolar AS. Kebutuhan dolar AS tinggi.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/06/04/320/3222512/rupiah-anjlok-ke-rp18-000-bi-akui-kebutuhan-dolar-as-tinggi-buat-bayar-utang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/06/04/320/3222512/rupiah-anjlok-ke-rp18-000-bi-akui-kebutuhan-dolar-as-tinggi-buat-bayar-utang"/><item><title>Rupiah Anjlok ke Rp18.000, BI Akui Kebutuhan Dolar AS Tinggi Buat Bayar Utang</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/06/04/320/3222512/rupiah-anjlok-ke-rp18-000-bi-akui-kebutuhan-dolar-as-tinggi-buat-bayar-utang</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/06/04/320/3222512/rupiah-anjlok-ke-rp18-000-bi-akui-kebutuhan-dolar-as-tinggi-buat-bayar-utang</guid><pubDate>Kamis 04 Juni 2026 13:11 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/06/04/320/3222512/rupiah-yUD5_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Rupiah Anjlok ke Rp18.000, BI Akui Kebutuhan Dolar AS Tinggi Buat Bayar Utang (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/06/04/320/3222512/rupiah-yUD5_large.jpg</image><title>Rupiah Anjlok ke Rp18.000, BI Akui Kebutuhan Dolar AS Tinggi Buat Bayar Utang (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kian melemah ke level Rp18.000 per dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 12.52 WIB, nilai tukar Rupiah melemah 0,41 persen ke level Rp18.041 per dolar AS.&#13;
&#13;
Merespons fluktuasi tersebut, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan, kejatuhan Rupiah saat ini didorong oleh kombinasi tekanan eksternal dan siklus kebutuhan likuiditas musiman di dalam negeri.&#13;
&#13;
&amp;quot;Pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai, sehingga mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara emerging. Selain itu kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri (ULN),&amp;quot; kata Destry dalam keterangan resmi, Jakarta, Kamis (4/6/2026).&#13;
&#13;
Untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah, Bank Indonesia memastikan diri untuk terus mengawal pergerakan pasar secara real-time. BI berkomitmen mengoptimalkan seluruh bauran kebijakan agar volatilitas tetap berada dalam batas toleransi fundamentalnya.&#13;
&#13;
&amp;quot;Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya. Selain itu memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market untuk tetap menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik,&amp;quot; kata Destry.&#13;
&#13;
Secara teknis, Destry menjabarkan bahwa operasi pasar akan dieksekusi secara berkesinambungan dan konsisten melalui berbagai instrumen berlapis, baik di pasar domestik maupun internasional (offshore), serta memperkuat komunikasi dengan para pelaku usaha.&#13;
&#13;
&amp;quot;Intervensi yang berkesinambungan akan terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya terus dilakukan secara intensif,&amp;quot; ungkap Destry.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Sebagai strategi jangka panjang dalam memitigasi risiko volatilitas nilai tukar, Bank Indonesia juga terus memperluas diversifikasi penyelesaian transaksi perdagangan bilateral tanpa menggunakan mata uang dolar AS, melainkan lewat skema mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT).&#13;
&#13;
&amp;quot;Selain itu Bank Indonesia juga mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT) sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar. Kerja sama tersebut telah terjalin dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab,&amp;quot; ujar Destry.&#13;
&#13;
Strategi de-dolarisasi ini menunjukkan tren pertumbuhan yang sangat masif di awal tahun ini. Destry memberikan perbandingan data di mana realisasi pemanfaatan LCT per April 2026 hampir menyamai pencapaian sepanjang tahun lalu.&#13;
&#13;
&amp;quot;Diversifikasi transaksi perdagangan melalui skema LCT ini terus mengalami peningkatan di bulan April mencapai sekitar USD22,7 miliar vs full year thn lalu yang sekitar USD25,7 miliar,&amp;quot; tambahnya.&#13;
&#13;
Meskipun rupiah saat ini tengah mengalami tekanan hebat, Bank Indonesia mengimbau pasar untuk tetap tenang karena tingkat depresiasi yang terjadi saat ini dinilai masih bergerak selaras dengan pelemahan mata uang di kawasan regional.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Di samping itu, struktur eksternal Indonesia dinilai masih sangat kokoh yang tecermin dari posisi bantalan likuiditas valuta asing negara yang mumpuni.&#13;
&#13;
&amp;quot;Secara umum, pelemahan rupiah masih sejalan dgn regional, secara YTD melemah -7,44%. Cadangan devisa tetap terjaga di level USD146,2 miliar pada akhir April 2026,&amp;quot; tutup Destry.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kian melemah ke level Rp18.000 per dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 12.52 WIB, nilai tukar Rupiah melemah 0,41 persen ke level Rp18.041 per dolar AS.&#13;
&#13;
Merespons fluktuasi tersebut, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan, kejatuhan Rupiah saat ini didorong oleh kombinasi tekanan eksternal dan siklus kebutuhan likuiditas musiman di dalam negeri.&#13;
&#13;
&amp;quot;Pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai, sehingga mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara emerging. Selain itu kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri (ULN),&amp;quot; kata Destry dalam keterangan resmi, Jakarta, Kamis (4/6/2026).&#13;
&#13;
Untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah, Bank Indonesia memastikan diri untuk terus mengawal pergerakan pasar secara real-time. BI berkomitmen mengoptimalkan seluruh bauran kebijakan agar volatilitas tetap berada dalam batas toleransi fundamentalnya.&#13;
&#13;
&amp;quot;Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya. Selain itu memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market untuk tetap menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik,&amp;quot; kata Destry.&#13;
&#13;
Secara teknis, Destry menjabarkan bahwa operasi pasar akan dieksekusi secara berkesinambungan dan konsisten melalui berbagai instrumen berlapis, baik di pasar domestik maupun internasional (offshore), serta memperkuat komunikasi dengan para pelaku usaha.&#13;
&#13;
&amp;quot;Intervensi yang berkesinambungan akan terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya terus dilakukan secara intensif,&amp;quot; ungkap Destry.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Sebagai strategi jangka panjang dalam memitigasi risiko volatilitas nilai tukar, Bank Indonesia juga terus memperluas diversifikasi penyelesaian transaksi perdagangan bilateral tanpa menggunakan mata uang dolar AS, melainkan lewat skema mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT).&#13;
&#13;
&amp;quot;Selain itu Bank Indonesia juga mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT) sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar. Kerja sama tersebut telah terjalin dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab,&amp;quot; ujar Destry.&#13;
&#13;
Strategi de-dolarisasi ini menunjukkan tren pertumbuhan yang sangat masif di awal tahun ini. Destry memberikan perbandingan data di mana realisasi pemanfaatan LCT per April 2026 hampir menyamai pencapaian sepanjang tahun lalu.&#13;
&#13;
&amp;quot;Diversifikasi transaksi perdagangan melalui skema LCT ini terus mengalami peningkatan di bulan April mencapai sekitar USD22,7 miliar vs full year thn lalu yang sekitar USD25,7 miliar,&amp;quot; tambahnya.&#13;
&#13;
Meskipun rupiah saat ini tengah mengalami tekanan hebat, Bank Indonesia mengimbau pasar untuk tetap tenang karena tingkat depresiasi yang terjadi saat ini dinilai masih bergerak selaras dengan pelemahan mata uang di kawasan regional.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Di samping itu, struktur eksternal Indonesia dinilai masih sangat kokoh yang tecermin dari posisi bantalan likuiditas valuta asing negara yang mumpuni.&#13;
&#13;
&amp;quot;Secara umum, pelemahan rupiah masih sejalan dgn regional, secara YTD melemah -7,44%. Cadangan devisa tetap terjaga di level USD146,2 miliar pada akhir April 2026,&amp;quot; tutup Destry.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
