<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Rupiah Melemah Tembus Rp18.000, Purbaya: Pembayaran Utang Bengkak tapi Aman dalam Simulasi</title><description>Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan penjelasan mengenai dampak melesatnya nilai tukar rupiah yang kini telah melewati ambang psikologis Rp18.000 per dolar AS terhadap beban pembayaran utang luar negeri pemerintah.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/06/04/320/3222521/rupiah-melemah-tembus-rp18-000-purbaya-pembayaran-utang-bengkak-tapi-aman-dalam-simulasi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/06/04/320/3222521/rupiah-melemah-tembus-rp18-000-purbaya-pembayaran-utang-bengkak-tapi-aman-dalam-simulasi"/><item><title>Rupiah Melemah Tembus Rp18.000, Purbaya: Pembayaran Utang Bengkak tapi Aman dalam Simulasi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/06/04/320/3222521/rupiah-melemah-tembus-rp18-000-purbaya-pembayaran-utang-bengkak-tapi-aman-dalam-simulasi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/06/04/320/3222521/rupiah-melemah-tembus-rp18-000-purbaya-pembayaran-utang-bengkak-tapi-aman-dalam-simulasi</guid><pubDate>Kamis 04 Juni 2026 13:34 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/06/04/320/3222521/menkeu_purbaya-Izxt_large.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Menkeu Purbaya (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/06/04/320/3222521/menkeu_purbaya-Izxt_large.jpeg</image><title>Menkeu Purbaya (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA -&amp;nbsp;Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan penjelasan mengenai dampak melesatnya nilai tukar rupiah yang kini telah melewati ambang psikologis Rp18.000 per dolar AS terhadap beban pembayaran utang luar negeri pemerintah.&#13;
&#13;
Purbaya mengonfirmasi bahwa sebagian besar instrumen utang negara diterbitkan dengan skema tingkat bunga tetap (fixed rate) atau kupon konstan. Meski besaran bunga tidak berubah, ia tidak menampik bahwa pelemahan nilai tukar otomatis akan mendongkrak nilai total pembayaran utang saat dikonversikan ke dalam mata uang rupiah.&#13;
&#13;
&amp;quot;Saya lupa. Kuponnya fix, ya? Ya, fix. Harusnya sih fix kuponnya. Tapi kan kalau dia jual di pembayaran utang kan lewat ini, kan? Lewat bond, ya? Kuponnya sih constant. Cuman pada waktu rupiah melemah, ya, Meningkat kan dalam rupiah pembayarannya,&amp;quot; jelas Purbaya saat ditemui usai Rapat Paripurna, Kamis (4/6/2026).&#13;
&#13;
Walaupun beban pembayaran utang dalam mata uang domestik meningkat, Bendahara Negara ini mengimbau pasar untuk tidak panik.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Pihaknya memastikan bahwa lonjakan kurs hingga ke level Rp18.000 ini masih berada dalam batas koridor perhitungan dan mitigasi risiko yang telah disiapkan oleh Kementerian Keuangan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Cuman kan gini, ini masih dalam range perhitungan kita yang sebelumnya saya sebutkan itu,&amp;quot; tambahnya.&#13;
&#13;
Ketika didesak mengenai batasan kisaran (range) asumsi yang digunakan pemerintah, Purbaya menerangkan bahwa indikator awal dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) memang menggunakan asumsi makro rupiah di level Rp16.500 per dolar AS.&#13;
&#13;
Namun, Kemenkeu telah menjalankan berbagai simulasi dan penyesuaian (adjustment) ketat untuk mengantisipasi gejolak ekonomi eksternal, termasuk dampak dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dunia.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;quot;Kan gini, pada waktu APBNpertama kan ada asumsinya berapa? 16.500, ya? Tapi kan terus ada simulasi pada waktu harga BBM naik Tinggi, kan? Ya, kita hitung di situ. adjustment cukup tinggi,&amp;quot; ungkap Purbaya.&#13;
&#13;
Lebih lanjut, Menkeu tetap optimistis bahwa pelemahan rupiah saat ini bersifat temporer akibat sentimen pasar. Secara fundamental ekonomi riil, posisi mata uang Indonesia dinilai jauh lebih kuat daripada nilai yang tertera di papan perdagangan saat ini.&#13;
&#13;
&amp;quot;Tapi kan saya nggak sebutan kan, dan nanti rupiah melemah signifikan. tp basically, fundamental rupiah berada di bawah level yang sekarang. Lebih kuat dari yang sekarang,&amp;quot; tegasnya.&#13;
&#13;
Guna meredam volatilitas dan menahan kejatuhan nilai tukar serta menjaga instrumen keuangan domestik tetap menarik, Purbaya membeberkan bahwa pemerintah bersama otoritas terkait terus bergerak aktif melakukan intervensi di pasar keuangan.&#13;
&#13;
Ia bahkan memberikan bocoran mengenai nilai dana yang telah digelontorkan untuk menyerap Surat Berharga Negara (SBN) di pasar obligasi guna menjaga yield tetap stabil.&#13;
&#13;
&amp;quot;Masuk terus. Mungkin 8 triliun lebih yang diobligasi, ya,&amp;quot; ungkap Purbaya.&#13;
&#13;
Langkah intervensi tersebut diklaim mulai membuahkan hasil positif terhadap persepsi risiko jangka panjang Indonesia, di mana tingkat imbal hasil obligasi tenor 10 tahun menunjukkan tren yang terkendali.&#13;
&#13;
&amp;quot;Tapi itu yang nggak boleh diomongin, ya. Nggak apa-apa, biar Anda tahu, saya intervensi sedikit. Terus 10 tahun kan relatif stabil atau cenderung turun. jadi dampaknya ada,&amp;quot; pungkas Purbaya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA -&amp;nbsp;Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan penjelasan mengenai dampak melesatnya nilai tukar rupiah yang kini telah melewati ambang psikologis Rp18.000 per dolar AS terhadap beban pembayaran utang luar negeri pemerintah.&#13;
&#13;
Purbaya mengonfirmasi bahwa sebagian besar instrumen utang negara diterbitkan dengan skema tingkat bunga tetap (fixed rate) atau kupon konstan. Meski besaran bunga tidak berubah, ia tidak menampik bahwa pelemahan nilai tukar otomatis akan mendongkrak nilai total pembayaran utang saat dikonversikan ke dalam mata uang rupiah.&#13;
&#13;
&amp;quot;Saya lupa. Kuponnya fix, ya? Ya, fix. Harusnya sih fix kuponnya. Tapi kan kalau dia jual di pembayaran utang kan lewat ini, kan? Lewat bond, ya? Kuponnya sih constant. Cuman pada waktu rupiah melemah, ya, Meningkat kan dalam rupiah pembayarannya,&amp;quot; jelas Purbaya saat ditemui usai Rapat Paripurna, Kamis (4/6/2026).&#13;
&#13;
Walaupun beban pembayaran utang dalam mata uang domestik meningkat, Bendahara Negara ini mengimbau pasar untuk tidak panik.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Pihaknya memastikan bahwa lonjakan kurs hingga ke level Rp18.000 ini masih berada dalam batas koridor perhitungan dan mitigasi risiko yang telah disiapkan oleh Kementerian Keuangan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Cuman kan gini, ini masih dalam range perhitungan kita yang sebelumnya saya sebutkan itu,&amp;quot; tambahnya.&#13;
&#13;
Ketika didesak mengenai batasan kisaran (range) asumsi yang digunakan pemerintah, Purbaya menerangkan bahwa indikator awal dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) memang menggunakan asumsi makro rupiah di level Rp16.500 per dolar AS.&#13;
&#13;
Namun, Kemenkeu telah menjalankan berbagai simulasi dan penyesuaian (adjustment) ketat untuk mengantisipasi gejolak ekonomi eksternal, termasuk dampak dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dunia.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;quot;Kan gini, pada waktu APBNpertama kan ada asumsinya berapa? 16.500, ya? Tapi kan terus ada simulasi pada waktu harga BBM naik Tinggi, kan? Ya, kita hitung di situ. adjustment cukup tinggi,&amp;quot; ungkap Purbaya.&#13;
&#13;
Lebih lanjut, Menkeu tetap optimistis bahwa pelemahan rupiah saat ini bersifat temporer akibat sentimen pasar. Secara fundamental ekonomi riil, posisi mata uang Indonesia dinilai jauh lebih kuat daripada nilai yang tertera di papan perdagangan saat ini.&#13;
&#13;
&amp;quot;Tapi kan saya nggak sebutan kan, dan nanti rupiah melemah signifikan. tp basically, fundamental rupiah berada di bawah level yang sekarang. Lebih kuat dari yang sekarang,&amp;quot; tegasnya.&#13;
&#13;
Guna meredam volatilitas dan menahan kejatuhan nilai tukar serta menjaga instrumen keuangan domestik tetap menarik, Purbaya membeberkan bahwa pemerintah bersama otoritas terkait terus bergerak aktif melakukan intervensi di pasar keuangan.&#13;
&#13;
Ia bahkan memberikan bocoran mengenai nilai dana yang telah digelontorkan untuk menyerap Surat Berharga Negara (SBN) di pasar obligasi guna menjaga yield tetap stabil.&#13;
&#13;
&amp;quot;Masuk terus. Mungkin 8 triliun lebih yang diobligasi, ya,&amp;quot; ungkap Purbaya.&#13;
&#13;
Langkah intervensi tersebut diklaim mulai membuahkan hasil positif terhadap persepsi risiko jangka panjang Indonesia, di mana tingkat imbal hasil obligasi tenor 10 tahun menunjukkan tren yang terkendali.&#13;
&#13;
&amp;quot;Tapi itu yang nggak boleh diomongin, ya. Nggak apa-apa, biar Anda tahu, saya intervensi sedikit. Terus 10 tahun kan relatif stabil atau cenderung turun. jadi dampaknya ada,&amp;quot; pungkas Purbaya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
