<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Rupiah Rp18.000, Siap-Siap Harga Jajanan di Minimarket Naik</title><description>Berbagai produk yang bergantung pada komponen atau bahan baku impor akan menghadapi tekanan biaya yang pada akhirnya dapat berdampak pada harga&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/06/04/320/3222560/rupiah-rp18-000-siap-siap-harga-jajanan-di-minimarket-naik</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/06/04/320/3222560/rupiah-rp18-000-siap-siap-harga-jajanan-di-minimarket-naik"/><item><title>Rupiah Rp18.000, Siap-Siap Harga Jajanan di Minimarket Naik</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/06/04/320/3222560/rupiah-rp18-000-siap-siap-harga-jajanan-di-minimarket-naik</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/06/04/320/3222560/rupiah-rp18-000-siap-siap-harga-jajanan-di-minimarket-naik</guid><pubDate>Kamis 04 Juni 2026 15:46 WIB</pubDate><dc:creator>Tangguh Yudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/06/04/320/3222560/ritel-2tgP_large.png" expression="full" type="image/jpeg">Rupiah yang tertekan di level Rp18.000 terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi mendorong kenaikan harga sejumlah barang ritel. (Foto: Okezone.com/Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/06/04/320/3222560/ritel-2tgP_large.png</image><title>Rupiah yang tertekan di level Rp18.000 terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi mendorong kenaikan harga sejumlah barang ritel. (Foto: Okezone.com/Freepik)</title></images><description>TANGERANG - Rupiah yang tertekan di level Rp18.000 terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi mendorong kenaikan harga sejumlah barang ritel yang menggunakan bahan baku impor.&#13;
&#13;
Finance Director PT Midi Utama Indonesia Tbk atau Alfamidi, Suantopo Po, mengatakan berbagai produk yang bergantung pada komponen atau bahan baku impor akan menghadapi tekanan biaya yang pada akhirnya dapat berdampak pada harga jual di tingkat konsumen.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Ya, memang kita ketahui bahwa hari ini mungkin dolar itu sudah Rp18.000 ya. Tentu saja banyak produk yang menggunakan komponen impor, pasti akan mengalami kenaikan harga,&amp;rdquo; ucapnya dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang digelar di Alfa Tower, Alam Sutera, Tangerang, Kamis (4/6/2026).&#13;
&#13;
Suantopo mencontohkan sejumlah komoditas seperti susu, kacang hijau, dan kedelai yang masih bergantung pada pasokan impor. Kenaikan biaya bahan baku tersebut, kata dia, berpotensi memicu kenaikan harga produk jadi yang menggunakan bahan-bahan tersebut.&#13;
&#13;
Ia menegaskan, penyesuaian harga akan mengikuti kebijakan pemasok atau prinsipal. Jika produsen menaikkan harga akibat kenaikan biaya produksi, maka harga di tingkat ritel juga akan ikut disesuaikan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pada prinsipnya, apabila prinsipal menaikkan harga, maka kami juga akan menaikkan harga. Kami adalah retailer, jadi tidak mungkin tidak ada kenaikan harga,&amp;rdquo; tuturnya.&#13;
&#13;
Meski demikian, Suantopo tetap optimistis terhadap prospek bisnis perseroan di tengah tekanan nilai tukar dan ketidakpastian ekonomi global. Menurutnya, sektor ritel kebutuhan sehari-hari merupakan industri yang bersifat defensif dan relatif mampu bertahan dalam berbagai kondisi ekonomi.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Perseroan bergerak di bidang perdagangan ritel yang merupakan industri defensif. Kami sudah membuktikan bahwa perseroan berhasil melewati masa pandemi Covid-19 pada 2020 dengan baik. Tujuh bulan ke depan kami tetap yakin secara fundamental perseroan tetap cukup kuat dan bisa tumbuh secara moderat dibandingkan tahun sebelumnya,&amp;rdquo; tutupnya.&#13;
</description><content:encoded>TANGERANG - Rupiah yang tertekan di level Rp18.000 terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi mendorong kenaikan harga sejumlah barang ritel yang menggunakan bahan baku impor.&#13;
&#13;
Finance Director PT Midi Utama Indonesia Tbk atau Alfamidi, Suantopo Po, mengatakan berbagai produk yang bergantung pada komponen atau bahan baku impor akan menghadapi tekanan biaya yang pada akhirnya dapat berdampak pada harga jual di tingkat konsumen.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Ya, memang kita ketahui bahwa hari ini mungkin dolar itu sudah Rp18.000 ya. Tentu saja banyak produk yang menggunakan komponen impor, pasti akan mengalami kenaikan harga,&amp;rdquo; ucapnya dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang digelar di Alfa Tower, Alam Sutera, Tangerang, Kamis (4/6/2026).&#13;
&#13;
Suantopo mencontohkan sejumlah komoditas seperti susu, kacang hijau, dan kedelai yang masih bergantung pada pasokan impor. Kenaikan biaya bahan baku tersebut, kata dia, berpotensi memicu kenaikan harga produk jadi yang menggunakan bahan-bahan tersebut.&#13;
&#13;
Ia menegaskan, penyesuaian harga akan mengikuti kebijakan pemasok atau prinsipal. Jika produsen menaikkan harga akibat kenaikan biaya produksi, maka harga di tingkat ritel juga akan ikut disesuaikan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pada prinsipnya, apabila prinsipal menaikkan harga, maka kami juga akan menaikkan harga. Kami adalah retailer, jadi tidak mungkin tidak ada kenaikan harga,&amp;rdquo; tuturnya.&#13;
&#13;
Meski demikian, Suantopo tetap optimistis terhadap prospek bisnis perseroan di tengah tekanan nilai tukar dan ketidakpastian ekonomi global. Menurutnya, sektor ritel kebutuhan sehari-hari merupakan industri yang bersifat defensif dan relatif mampu bertahan dalam berbagai kondisi ekonomi.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Perseroan bergerak di bidang perdagangan ritel yang merupakan industri defensif. Kami sudah membuktikan bahwa perseroan berhasil melewati masa pandemi Covid-19 pada 2020 dengan baik. Tujuh bulan ke depan kami tetap yakin secara fundamental perseroan tetap cukup kuat dan bisa tumbuh secara moderat dibandingkan tahun sebelumnya,&amp;rdquo; tutupnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
