<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Soroti Masyarakat Beralih ke Pertalite Usai Harga Pertamax Naik, DPR Bakal Panggil Pertamina</title><description>Komisi VI DPR RI akan memanggil PT Pertamina (Persero) terkait dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi. Salah satunya, potensi peralihan konsumsi masyarakat dari Pertamax ke Pertalite yang dikhawatirkan dapat memengaruhi ketersediaan stok BBM bersubsidi. &#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/06/14/320/3224427/soroti-masyarakat-beralih-ke-pertalite-usai-harga-pertamax-naik-dpr-bakal-panggil-pertamina</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/06/14/320/3224427/soroti-masyarakat-beralih-ke-pertalite-usai-harga-pertamax-naik-dpr-bakal-panggil-pertamina"/><item><title>Soroti Masyarakat Beralih ke Pertalite Usai Harga Pertamax Naik, DPR Bakal Panggil Pertamina</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/06/14/320/3224427/soroti-masyarakat-beralih-ke-pertalite-usai-harga-pertamax-naik-dpr-bakal-panggil-pertamina</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/06/14/320/3224427/soroti-masyarakat-beralih-ke-pertalite-usai-harga-pertamax-naik-dpr-bakal-panggil-pertamina</guid><pubDate>Minggu 14 Juni 2026 11:10 WIB</pubDate><dc:creator>Felldy Utama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/06/14/320/3224427/harga_bbm-vMlN_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Harga BBM (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/06/14/320/3224427/harga_bbm-vMlN_large.jpg</image><title>Harga BBM (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Komisi VI DPR RI akan memanggil PT Pertamina (Persero) terkait dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi. Salah satunya, potensi peralihan konsumsi masyarakat dari Pertamax ke Pertalite yang dikhawatirkan dapat memengaruhi ketersediaan stok BBM bersubsidi.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Adisatrya Suryo Sulisto menilai jika kondisi tersebut harus diantisipasi sejak dini agar tidak menimbulkan persoalan baru di lapangan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kami juga akan meminta penjelasan dari Pertamina terkait dampaknya terhadap kinerja perseroan dan kemungkinan peralihan konsumsi dari Pertamax ke Pertalite. Jangan sampai nanti masyarakat beralih secara besar-besaran ke Pertalite, lalu muncul masalah baru berupa keterbatasan stok yang justru menyulitkan masyarakat,&amp;rdquo; kata Adisatrya dikutip Minggu (14/6/2026).&#13;
&#13;
Dia menilai kebijakan penyesuaian harga BBM non-subsidi tidak dapat dilepaskan dari kondisi global yang masih penuh ketidakpastian. Menurutnya, konflik geopolitik yang berkepanjangan, pelemahan nilai tukar rupiah, serta tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak menjadi faktor yang membebani pemerintah dalam menjaga stabilitas harga energi.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dengan situasi global perang berkepanjangan dan nilai tukar rupiah yang juga sedang melemah, sementara minyak kita masih impor, tentu ini menjadi beban bagi pemerintah sehingga untuk mempertahankan harga BBM non-subsidi sangat berat dan pada akhirnya harus dilakukan penyesuaian,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kenaikan harga BBM akan membawa konsekuensi terhadap berbagai sektor usaha. Biaya logistik yang meningkat berpotensi mendorong kenaikan harga barang dan jasa yang pada akhirnya dirasakan langsung oleh masyarakat sebagai konsumen.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Logistik adalah komponen utama dalam kegiatan usaha. Ketika BBM naik, biaya distribusi juga meningkat. Dampaknya, harga-harga ke konsumen juga bisa ikut naik. Karena itu kami berharap inflasi tetap dapat dijaga,&amp;rdquo; tuturnya.&#13;
&#13;
Legislator PDIP itu mengatakan Komisi VI akan terus mencermati dampak kebijakan tersebut terhadap sektor usaha, khususnya pelaku usaha kecil dan menengah (UKM). Pasalnya, kenaikan biaya operasional jangan sampai berdampak pada penurunan produktivitas usaha maupun memicu pemutusan hubungan kerja.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kami berharap terutama sektor UKM tidak terkena dampak yang terlalu besar. Jangan sampai biaya usaha meningkat lalu berujung pada pengurangan tenaga kerja atau bahkan pemberhentian pekerja,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Komisi VI DPR RI akan memanggil PT Pertamina (Persero) terkait dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi. Salah satunya, potensi peralihan konsumsi masyarakat dari Pertamax ke Pertalite yang dikhawatirkan dapat memengaruhi ketersediaan stok BBM bersubsidi.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Adisatrya Suryo Sulisto menilai jika kondisi tersebut harus diantisipasi sejak dini agar tidak menimbulkan persoalan baru di lapangan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kami juga akan meminta penjelasan dari Pertamina terkait dampaknya terhadap kinerja perseroan dan kemungkinan peralihan konsumsi dari Pertamax ke Pertalite. Jangan sampai nanti masyarakat beralih secara besar-besaran ke Pertalite, lalu muncul masalah baru berupa keterbatasan stok yang justru menyulitkan masyarakat,&amp;rdquo; kata Adisatrya dikutip Minggu (14/6/2026).&#13;
&#13;
Dia menilai kebijakan penyesuaian harga BBM non-subsidi tidak dapat dilepaskan dari kondisi global yang masih penuh ketidakpastian. Menurutnya, konflik geopolitik yang berkepanjangan, pelemahan nilai tukar rupiah, serta tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak menjadi faktor yang membebani pemerintah dalam menjaga stabilitas harga energi.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dengan situasi global perang berkepanjangan dan nilai tukar rupiah yang juga sedang melemah, sementara minyak kita masih impor, tentu ini menjadi beban bagi pemerintah sehingga untuk mempertahankan harga BBM non-subsidi sangat berat dan pada akhirnya harus dilakukan penyesuaian,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kenaikan harga BBM akan membawa konsekuensi terhadap berbagai sektor usaha. Biaya logistik yang meningkat berpotensi mendorong kenaikan harga barang dan jasa yang pada akhirnya dirasakan langsung oleh masyarakat sebagai konsumen.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Logistik adalah komponen utama dalam kegiatan usaha. Ketika BBM naik, biaya distribusi juga meningkat. Dampaknya, harga-harga ke konsumen juga bisa ikut naik. Karena itu kami berharap inflasi tetap dapat dijaga,&amp;rdquo; tuturnya.&#13;
&#13;
Legislator PDIP itu mengatakan Komisi VI akan terus mencermati dampak kebijakan tersebut terhadap sektor usaha, khususnya pelaku usaha kecil dan menengah (UKM). Pasalnya, kenaikan biaya operasional jangan sampai berdampak pada penurunan produktivitas usaha maupun memicu pemutusan hubungan kerja.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kami berharap terutama sektor UKM tidak terkena dampak yang terlalu besar. Jangan sampai biaya usaha meningkat lalu berujung pada pengurangan tenaga kerja atau bahkan pemberhentian pekerja,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
