<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Surat Utang Danantara Laku Keras, Istana: Bukti Kepercayaan Investor</title><description>Hasil penerbitan obligasi global (global bond) Danantara menjadi salah satu bukti meningkatnya kepercayaan investor internasional terhadap Indonesia.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/06/15/320/3224707/surat-utang-danantara-laku-keras-istana-bukti-kepercayaan-investor</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/06/15/320/3224707/surat-utang-danantara-laku-keras-istana-bukti-kepercayaan-investor"/><item><title> Surat Utang Danantara Laku Keras, Istana: Bukti Kepercayaan Investor</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/06/15/320/3224707/surat-utang-danantara-laku-keras-istana-bukti-kepercayaan-investor</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/06/15/320/3224707/surat-utang-danantara-laku-keras-istana-bukti-kepercayaan-investor</guid><pubDate>Senin 15 Juni 2026 18:35 WIB</pubDate><dc:creator>Binti Mufarida</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/06/15/320/3224707/mensesneg-hv0y_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg"> Surat Utang Danantara Laku Keras, Istana: Bukti Kepercayaan Investor (Foto: Setpres)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/06/15/320/3224707/mensesneg-hv0y_large.jpg</image><title> Surat Utang Danantara Laku Keras, Istana: Bukti Kepercayaan Investor (Foto: Setpres)</title></images><description>JAKARTA - Pemerintah memastikan upaya memperkuat kepercayaan pasar dan pelaku ekonomi terus dilakukan melalui berbagai kebijakan strategis, termasuk penguatan iklim investasi, percepatan deregulasi, serta dorongan terhadap hilirisasi dan industrialisasi.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Hal tersebut disampaikan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi dalam keterangan persnya di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (15/6/2026).&#13;
&#13;
Mensesneg menyampaikan bahwa hasil penerbitan obligasi global (global bond) Danantara menjadi salah satu bukti meningkatnya kepercayaan investor internasional terhadap Indonesia.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Itu target dari Danantara yang berkenaan dengan masalah global bond, bahwa ternyata itu juga kemudian membuktikan kepercayaan investor baik di Amerika, kemudian tadi dari Eropa, maupun dari Asia terhadap global bond yang diterbitkan oleh Danantara sebetulnya itu sesuatu yang perlu kita patut syukuri dan terima kasih Pak Rosan atas kerja kerasnya,&amp;rdquo; ujar Prasetyo.&#13;
&#13;
Prasetyo menjelaskan bahwa pemerintah terus melakukan berbagai langkah untuk memperkuat fundamental ekonomi, menjaga persepsi pasar, serta meningkatkan iklim investasi nasional.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dalam satu dua minggu ini kita semua terus berupaya untuk memperkuat koordinasi, memperkuat kerja sama, dan terutama mengambil kebijakan-kebijakan yang kita berharap dapat memperkuat yang tadi disampaikan, memperkuat mata uang kita, memperkuat persepsi publik, memperkuat persepsi pasar,&amp;rdquo; jelasnya.&#13;
&#13;
Selain menjaga kepercayaan investor, Mensesneg menyampaikan bahwa pemerintah juga terus mendorong reformasi struktural melalui deregulasi dan percepatan hilirisasi serta industrialisasi.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Berkenaan dengan masalah deregulasi, yang berkali-kali Bapak Presiden menyampaikan bahwa kita harus terus berupaya untuk mempermudah perizinan-perizinan kita supaya iklim investasi dapat berkembang, supaya ekosistem ekonomi kita juga dapat berkembang dengan jauh lebih kompetitif gitu,&amp;rdquo; ungkapnya.&#13;
&#13;
Selanjutnya, Prasetyo menjelaskan bahwa pemerintah terus mendorong percepatan hilirisasi dan industrialisasi sebagai langkah strategis untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Di satu sisi industrialisasi dan hilirisasi ini adalah untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap barang-barang impor, yang kedua juga pada akhirnya kita berharap produk yang kita hasilkan dari proses hilirisasi dan industrialisasi dapat memberikan nilai tambah yang itu membawa penambahan kekayaan bagi bangsa dan negara kita,&amp;rdquo; tambahnya.&#13;
&#13;
Lebih lanjut, Prasetyo menegaskan bahwa stabilitas menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga iklim usaha dan memperkuat perekonomian nasional. Pemerintah mengajak seluruh elemen masyarakat, pelaku pasar, serta pelaku ekonomi untuk bersama-sama menjaga kepercayaan dan berkolaborasi dalam upaya memulihkan serta memperkuat ekonomi Indonesia.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Mari kita semua, kepada seluruh masyarakat, kepada seluruh pelaku pasar, kepada seluruh pelaku ekonomi untuk mari bergandengan tangan kita bekerjasama dan kita bekerja keras untuk mengembalikan atau memulihkan dan memperkuat ekonomi kita,&amp;rdquo; tutupnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Danantara Raih USD1,5 Miliar dari Global Bond Perdana&#13;
&#13;
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani menyampaikan jumlah obligasi global yang diterbitkan oleh Danantara dinilai telah berhasil melebihi target yang ditetapkan sebelumnya. Penerbitan global bond (obligasi global) perdana Danantara senilai USD1,5 miliar.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dari rencana USD1 miliar dolar yang kami ingin capai, book building yang masuk itu kurang lebih USD4,6 miliar dolar, sehingga melihat book building yang begitu tinggi, artinya kami meng-upsize atau meningkatkan dari USD1 miliar menjadi USD1,5 miliar yang di mana itu dibagi menjadi 5 tahun dan juga 10 tahun,&amp;rdquo; jelas Rosan.&#13;
&#13;
Selain itu, Rosan menuturkan bahwa penerbitan obligasi global perdana tersebut memperoleh respons positif dari kunjungan ke sejumlah negara di antaranya Hong Kong, Singapura, Boston, London, dan New York. Rosan juga menyebut bahwa pihaknya bertemu dengan 122 investor global dalam rangkaian kunjungan tersebut.&#13;
&#13;
Di samping capaian penerbitan jumlah obligasi yang melampaui target, Rosan juga menuturkan bahwa Danantara berhasil memperoleh persentasi pengembalian hasil obligasi yang dinilai kompetitif. Menurutnya, obligasi dengan tenor lima tahun berhasil ditutup dengan nilai imbal hasil 5,35 persen, sementara tenor 10 tahun 5,95 persen.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Nah ini adalah hasil yang sangat-sangat baik. Dan ini membuktikan juga bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia ini tinggi dan ini terbukti dan ini riil ya,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Lebih lanjut, Rosan menjelaskan bahwa dari dua tenor surat utang yang diterbitkan oleh Danantara, masing-masing telah berhasil menghimpun dana sebesar USD750 juta. Rosan menyebut bahwa sebagian dari penerbitan obligasi tersebut bahkan telah terealisasi.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Karena tanggal 11 kemarin kita sudah signing dan tanggal 18 dananya akan masuk ke dalam rekening Danantara,&amp;rdquo; ungkapnnya.&#13;
&#13;
Ke depannya, Rosan memproyeksikan Danantara dapat membuka ruang untuk menerbitkan obligasi dengan tenor hingga 30 tahun. Hal tersebut dinilai dari tingginya minat investor terhadap instrumen yang diterbitkan Danantara hingga stabilitas pertumbuhan ekonomi Indonesia.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Karena appetite-nya itu sangat besar juga, karena mereka melihat bahwa Indonesia growth-nya ini relatif stabil. Ya memang ada naik turunnya, itu memang dalam cycle selalu ada, apalagi di tengah geopolitik, geoekonomi itu adalah hal-hal yang memang selalu ada dalam cycle ekonomi kita,&amp;rdquo; jelasnya.&#13;
&#13;
Dalam kesempatan tersebut, Rosan juga menyampaikan bahwa yang menjadi menarik dalam penerbitan obligasi global tersebut yakni dari negara yang memiliki minat paling tinggi. Menurut Rosan, peminat dan pembeli terbesar obligasi tersebut yakni Amerika Serikat, berbeda dengan catatan sejarah sebelumnya.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Investornya kurang lebih yang 5 tahun itu 38 persen itu dari Amerika Serikat, 41 persen dari Eropa dan Timur Tengah, 21 persen dari Asia, itu yang 5 tahun. Kalau yang 10 tahun, investornya 52 persen dari Amerika Serikat, 31 persen dari Eropa dan Timur Tengah, 17 persen dari Asia,&amp;rdquo; tuturnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Pemerintah memastikan upaya memperkuat kepercayaan pasar dan pelaku ekonomi terus dilakukan melalui berbagai kebijakan strategis, termasuk penguatan iklim investasi, percepatan deregulasi, serta dorongan terhadap hilirisasi dan industrialisasi.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Hal tersebut disampaikan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi dalam keterangan persnya di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (15/6/2026).&#13;
&#13;
Mensesneg menyampaikan bahwa hasil penerbitan obligasi global (global bond) Danantara menjadi salah satu bukti meningkatnya kepercayaan investor internasional terhadap Indonesia.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Itu target dari Danantara yang berkenaan dengan masalah global bond, bahwa ternyata itu juga kemudian membuktikan kepercayaan investor baik di Amerika, kemudian tadi dari Eropa, maupun dari Asia terhadap global bond yang diterbitkan oleh Danantara sebetulnya itu sesuatu yang perlu kita patut syukuri dan terima kasih Pak Rosan atas kerja kerasnya,&amp;rdquo; ujar Prasetyo.&#13;
&#13;
Prasetyo menjelaskan bahwa pemerintah terus melakukan berbagai langkah untuk memperkuat fundamental ekonomi, menjaga persepsi pasar, serta meningkatkan iklim investasi nasional.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dalam satu dua minggu ini kita semua terus berupaya untuk memperkuat koordinasi, memperkuat kerja sama, dan terutama mengambil kebijakan-kebijakan yang kita berharap dapat memperkuat yang tadi disampaikan, memperkuat mata uang kita, memperkuat persepsi publik, memperkuat persepsi pasar,&amp;rdquo; jelasnya.&#13;
&#13;
Selain menjaga kepercayaan investor, Mensesneg menyampaikan bahwa pemerintah juga terus mendorong reformasi struktural melalui deregulasi dan percepatan hilirisasi serta industrialisasi.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Berkenaan dengan masalah deregulasi, yang berkali-kali Bapak Presiden menyampaikan bahwa kita harus terus berupaya untuk mempermudah perizinan-perizinan kita supaya iklim investasi dapat berkembang, supaya ekosistem ekonomi kita juga dapat berkembang dengan jauh lebih kompetitif gitu,&amp;rdquo; ungkapnya.&#13;
&#13;
Selanjutnya, Prasetyo menjelaskan bahwa pemerintah terus mendorong percepatan hilirisasi dan industrialisasi sebagai langkah strategis untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Di satu sisi industrialisasi dan hilirisasi ini adalah untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap barang-barang impor, yang kedua juga pada akhirnya kita berharap produk yang kita hasilkan dari proses hilirisasi dan industrialisasi dapat memberikan nilai tambah yang itu membawa penambahan kekayaan bagi bangsa dan negara kita,&amp;rdquo; tambahnya.&#13;
&#13;
Lebih lanjut, Prasetyo menegaskan bahwa stabilitas menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga iklim usaha dan memperkuat perekonomian nasional. Pemerintah mengajak seluruh elemen masyarakat, pelaku pasar, serta pelaku ekonomi untuk bersama-sama menjaga kepercayaan dan berkolaborasi dalam upaya memulihkan serta memperkuat ekonomi Indonesia.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Mari kita semua, kepada seluruh masyarakat, kepada seluruh pelaku pasar, kepada seluruh pelaku ekonomi untuk mari bergandengan tangan kita bekerjasama dan kita bekerja keras untuk mengembalikan atau memulihkan dan memperkuat ekonomi kita,&amp;rdquo; tutupnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Danantara Raih USD1,5 Miliar dari Global Bond Perdana&#13;
&#13;
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani menyampaikan jumlah obligasi global yang diterbitkan oleh Danantara dinilai telah berhasil melebihi target yang ditetapkan sebelumnya. Penerbitan global bond (obligasi global) perdana Danantara senilai USD1,5 miliar.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dari rencana USD1 miliar dolar yang kami ingin capai, book building yang masuk itu kurang lebih USD4,6 miliar dolar, sehingga melihat book building yang begitu tinggi, artinya kami meng-upsize atau meningkatkan dari USD1 miliar menjadi USD1,5 miliar yang di mana itu dibagi menjadi 5 tahun dan juga 10 tahun,&amp;rdquo; jelas Rosan.&#13;
&#13;
Selain itu, Rosan menuturkan bahwa penerbitan obligasi global perdana tersebut memperoleh respons positif dari kunjungan ke sejumlah negara di antaranya Hong Kong, Singapura, Boston, London, dan New York. Rosan juga menyebut bahwa pihaknya bertemu dengan 122 investor global dalam rangkaian kunjungan tersebut.&#13;
&#13;
Di samping capaian penerbitan jumlah obligasi yang melampaui target, Rosan juga menuturkan bahwa Danantara berhasil memperoleh persentasi pengembalian hasil obligasi yang dinilai kompetitif. Menurutnya, obligasi dengan tenor lima tahun berhasil ditutup dengan nilai imbal hasil 5,35 persen, sementara tenor 10 tahun 5,95 persen.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Nah ini adalah hasil yang sangat-sangat baik. Dan ini membuktikan juga bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia ini tinggi dan ini terbukti dan ini riil ya,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Lebih lanjut, Rosan menjelaskan bahwa dari dua tenor surat utang yang diterbitkan oleh Danantara, masing-masing telah berhasil menghimpun dana sebesar USD750 juta. Rosan menyebut bahwa sebagian dari penerbitan obligasi tersebut bahkan telah terealisasi.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Karena tanggal 11 kemarin kita sudah signing dan tanggal 18 dananya akan masuk ke dalam rekening Danantara,&amp;rdquo; ungkapnnya.&#13;
&#13;
Ke depannya, Rosan memproyeksikan Danantara dapat membuka ruang untuk menerbitkan obligasi dengan tenor hingga 30 tahun. Hal tersebut dinilai dari tingginya minat investor terhadap instrumen yang diterbitkan Danantara hingga stabilitas pertumbuhan ekonomi Indonesia.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Karena appetite-nya itu sangat besar juga, karena mereka melihat bahwa Indonesia growth-nya ini relatif stabil. Ya memang ada naik turunnya, itu memang dalam cycle selalu ada, apalagi di tengah geopolitik, geoekonomi itu adalah hal-hal yang memang selalu ada dalam cycle ekonomi kita,&amp;rdquo; jelasnya.&#13;
&#13;
Dalam kesempatan tersebut, Rosan juga menyampaikan bahwa yang menjadi menarik dalam penerbitan obligasi global tersebut yakni dari negara yang memiliki minat paling tinggi. Menurut Rosan, peminat dan pembeli terbesar obligasi tersebut yakni Amerika Serikat, berbeda dengan catatan sejarah sebelumnya.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Investornya kurang lebih yang 5 tahun itu 38 persen itu dari Amerika Serikat, 41 persen dari Eropa dan Timur Tengah, 21 persen dari Asia, itu yang 5 tahun. Kalau yang 10 tahun, investornya 52 persen dari Amerika Serikat, 31 persen dari Eropa dan Timur Tengah, 17 persen dari Asia,&amp;rdquo; tuturnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
