<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Akuisisi Kilang Shell Jadi Titik Balik Chandra Asri (TPIA), Ini Hasilnya</title><description>Transformasi bisnis PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mulai menunjukkan hasil nyata. Akuisisi aset Shell Energy and Chemicals Park Singapore (SECP) yang kini bernama Aster dinilai menjadi titik balik.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/06/18/278/3225182/akuisisi-kilang-shell-jadi-titik-balik-chandra-asri-tpia-ini-hasilnya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/06/18/278/3225182/akuisisi-kilang-shell-jadi-titik-balik-chandra-asri-tpia-ini-hasilnya"/><item><title>Akuisisi Kilang Shell Jadi Titik Balik Chandra Asri (TPIA), Ini Hasilnya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/06/18/278/3225182/akuisisi-kilang-shell-jadi-titik-balik-chandra-asri-tpia-ini-hasilnya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/06/18/278/3225182/akuisisi-kilang-shell-jadi-titik-balik-chandra-asri-tpia-ini-hasilnya</guid><pubDate>Kamis 18 Juni 2026 14:27 WIB</pubDate><dc:creator>Dani Jumadil Akhir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/06/18/278/3225182/chandra_asri-NtGQ_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Akuisisi Kilang Shell Jadi Titik Balik Chandra Asri (TPIA), Ini Hasilnya (Foto: Chandra Asri)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/06/18/278/3225182/chandra_asri-NtGQ_large.jpg</image><title>Akuisisi Kilang Shell Jadi Titik Balik Chandra Asri (TPIA), Ini Hasilnya (Foto: Chandra Asri)</title></images><description>JAKARTA - Transformasi bisnis PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mulai menunjukkan hasil nyata. Akuisisi aset Shell Energy and Chemicals Park Singapore (SECP) yang kini bernama Aster dinilai menjadi titik balik strategis bagi perseroan.&#13;
&#13;
Hal ini juga mengubah profil bisnis Chandra Asri dari perusahaan petrokimia yang sangat bergantung pada siklus industri menjadi kelompok usaha terintegrasi di sektor energi, kimia, dan infrastruktur.&#13;
&#13;
Analis Verdhana Sekuritas Nizam Syafik mengatakan, dalam tiga tahun terakhir Chandra Asri berhasil melakukan transformasi besar dari aset petrokimia tunggal senilai sekitar USD1,8 miliar yang menghadapi tekanan margin negatif pada periode 2022-2024, menjadi platform bisnis terintegrasi dengan potensi pendapatan mencapai USD7 miliar hingga USD10 miliar.&#13;
&#13;
Menurut Nizam, keberhasilan tersebut tidak lepas dari akuisisi Aster yang diselesaikan pada 2025. Melalui akuisisi ini, Chandra Asri memperoleh kilang minyak berkapasitas 237 ribu barel per hari serta fasilitas cracker etilena berkapasitas 1,1 juta ton per tahun yang menjadi fondasi bisnis energi perseroan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Aster secara efektif mendiversifikasi sumber pendapatan Chandra Asri yang sebelumnya sangat bergantung pada spread petrokimia. Saat ini energi telah menjadi kontributor terbesar terhadap pendapatan perusahaan,&amp;quot; ujar Nizam dalam risetnya, Jakarta, Rabu (18/6/2026).&#13;
&#13;
Data Verdhana menunjukkan, segmen energi menyumbang sekitar 55% dari total pendapatan Chandra Asri pada kuartal I-2026, melampaui kontribusi segmen kimia sebesar 42% dan infrastruktur sekitar 3%.&#13;
&#13;
Keberhasilan integrasi Aster juga tercermin dari lonjakan kinerja keuangan perseroan. Pada kuartal I-2026, Chandra Asri membukukan laba operasi (EBIT) konsolidasi tertinggi sepanjang sejarah sebesar USD468 juta dengan laba bersih mencapai USD205 juta. Kinerja tersebut terutama ditopang oleh segmen energi yang menghasilkan EBIT sebesar USD556 juta.&#13;
&#13;
Verdhana menilai akuisisi Aster merupakan transaksi yang sangat menguntungkan. Aset tersebut diakuisisi melalui CAPGC, perusahaan patungan dengan Glencore, dengan nilai sekitar USD255 juta, jauh di bawah nilai buku aset sebesar USD933 juta.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Transaksi tersebut menghasilkan keuntungan akuntansi langsung (bargain purchase gain) yang memperkuat struktur permodalan perusahaan dan menciptakan ruang tambahan untuk pendanaan ekspansi.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Selain memberikan kontribusi laba yang signifikan, Aster juga memperluas rantai nilai bisnis Chandra Asri. Perseroan sebelumnya telah menyelesaikan akuisisi jaringan ritel bahan bakar Esso sehingga kini memiliki integrasi dari kilang, petrokimia hingga distribusi dan penjualan ritel energi.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Strategi tersebut memungkinkan perusahaan menangkap sinergi di sepanjang rantai pasok dan mengurangi ketergantungan pada satu sumber pendapatan.&#13;
&#13;
Diversifikasi bisnis juga diperkuat melalui pengembangan proyek Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon. Proyek senilai USD800 juta yang dikembangkan bersama Danantara dan Indonesia Investment Authority (INA) itu ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.&amp;nbsp;&#13;
Fasilitas tersebut akan memiliki kapasitas produksi 400 ribu ton soda kaustik dan 500 ribu ton ethylene dichloride per tahun.&#13;
&#13;
Nizam menilai proyek CA-EDC berpotensi menjadi mesin pertumbuhan berikutnya bagi Chandra Asri. Produk soda kaustik akan menyasar kebutuhan industri domestik, termasuk sektor deterjen, alumina, dan pengolahan nikel, sementara EDC akan diekspor untuk memenuhi kebutuhan industri PVC global.&#13;
&#13;
Di sisi lain, bisnis infrastruktur yang dijalankan melalui PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) juga mulai memainkan peran strategis dalam ekosistem perusahaan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Unit usaha ini mengelola bisnis energi, air industri, pelabuhan, penyimpanan, dan logistik yang mendukung operasional internal maupun pihak ketiga. Kehadiran bisnis infrastruktur memperkuat integrasi operasional sekaligus menciptakan sumber pendapatan yang lebih stabil dibandingkan bisnis petrokimia yang cenderung siklikal.&#13;
&#13;
Dari sisi fundamental, Verdhana melihat posisi Chandra Asri saat ini jauh lebih kuat dibandingkan beberapa tahun lalu. Total aset perusahaan melonjak menjadi USD12,5 miliar pada kuartal I-2026 dari sekitar USD5,7 miliar pada 2024.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Ekuitas juga meningkat menjadi USD4,86 miliar, sementara laba bersih kuartalan mencapai USD205 juta. Perseroan juga mencatat margin EBIT sebesar 19,5% dan interest coverage ratio sebesar 6,89 kali, mencerminkan kemampuan yang lebih baik dalam memenuhi kewajiban keuangannya.&#13;
&#13;
Verdhana memperkirakan tren positif masih berlanjut seiring kuatnya margin kilang di Singapura. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan gangguan pasokan global membuat crack spread diperkirakan tetap berada di atas USD10 per barel, jauh lebih tinggi dibandingkan level historis sebelum konflik yang berada di bawah USD5 per barel. Kondisi ini diyakini akan mempercepat pengembalian investasi Aster sekaligus memperbaiki struktur utang perusahaan.&#13;
&#13;
Selain transformasi operasional, daya tarik saham TPIA juga meningkat dari sisi pasar modal. Free float perseroan kini mencapai 25,7%, naik signifikan dari sekitar 10% sebelumnya setelah SCG Chemicals melakukan penyesuaian kepemilikan saham sebagai bagian dari strategi deleveraging.&#13;
&#13;
Meski demikian, Verdhana menegaskan perubahan tersebut tidak memengaruhi arah strategis maupun pengendalian perusahaan karena tiga pemegang saham utama, yakni Barito Pacific, SCG Chemicals, dan Thai Oil, masih menguasai sekitar 74,3% saham TPIA.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Transformasi bisnis PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mulai menunjukkan hasil nyata. Akuisisi aset Shell Energy and Chemicals Park Singapore (SECP) yang kini bernama Aster dinilai menjadi titik balik strategis bagi perseroan.&#13;
&#13;
Hal ini juga mengubah profil bisnis Chandra Asri dari perusahaan petrokimia yang sangat bergantung pada siklus industri menjadi kelompok usaha terintegrasi di sektor energi, kimia, dan infrastruktur.&#13;
&#13;
Analis Verdhana Sekuritas Nizam Syafik mengatakan, dalam tiga tahun terakhir Chandra Asri berhasil melakukan transformasi besar dari aset petrokimia tunggal senilai sekitar USD1,8 miliar yang menghadapi tekanan margin negatif pada periode 2022-2024, menjadi platform bisnis terintegrasi dengan potensi pendapatan mencapai USD7 miliar hingga USD10 miliar.&#13;
&#13;
Menurut Nizam, keberhasilan tersebut tidak lepas dari akuisisi Aster yang diselesaikan pada 2025. Melalui akuisisi ini, Chandra Asri memperoleh kilang minyak berkapasitas 237 ribu barel per hari serta fasilitas cracker etilena berkapasitas 1,1 juta ton per tahun yang menjadi fondasi bisnis energi perseroan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Aster secara efektif mendiversifikasi sumber pendapatan Chandra Asri yang sebelumnya sangat bergantung pada spread petrokimia. Saat ini energi telah menjadi kontributor terbesar terhadap pendapatan perusahaan,&amp;quot; ujar Nizam dalam risetnya, Jakarta, Rabu (18/6/2026).&#13;
&#13;
Data Verdhana menunjukkan, segmen energi menyumbang sekitar 55% dari total pendapatan Chandra Asri pada kuartal I-2026, melampaui kontribusi segmen kimia sebesar 42% dan infrastruktur sekitar 3%.&#13;
&#13;
Keberhasilan integrasi Aster juga tercermin dari lonjakan kinerja keuangan perseroan. Pada kuartal I-2026, Chandra Asri membukukan laba operasi (EBIT) konsolidasi tertinggi sepanjang sejarah sebesar USD468 juta dengan laba bersih mencapai USD205 juta. Kinerja tersebut terutama ditopang oleh segmen energi yang menghasilkan EBIT sebesar USD556 juta.&#13;
&#13;
Verdhana menilai akuisisi Aster merupakan transaksi yang sangat menguntungkan. Aset tersebut diakuisisi melalui CAPGC, perusahaan patungan dengan Glencore, dengan nilai sekitar USD255 juta, jauh di bawah nilai buku aset sebesar USD933 juta.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Transaksi tersebut menghasilkan keuntungan akuntansi langsung (bargain purchase gain) yang memperkuat struktur permodalan perusahaan dan menciptakan ruang tambahan untuk pendanaan ekspansi.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Selain memberikan kontribusi laba yang signifikan, Aster juga memperluas rantai nilai bisnis Chandra Asri. Perseroan sebelumnya telah menyelesaikan akuisisi jaringan ritel bahan bakar Esso sehingga kini memiliki integrasi dari kilang, petrokimia hingga distribusi dan penjualan ritel energi.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Strategi tersebut memungkinkan perusahaan menangkap sinergi di sepanjang rantai pasok dan mengurangi ketergantungan pada satu sumber pendapatan.&#13;
&#13;
Diversifikasi bisnis juga diperkuat melalui pengembangan proyek Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon. Proyek senilai USD800 juta yang dikembangkan bersama Danantara dan Indonesia Investment Authority (INA) itu ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.&amp;nbsp;&#13;
Fasilitas tersebut akan memiliki kapasitas produksi 400 ribu ton soda kaustik dan 500 ribu ton ethylene dichloride per tahun.&#13;
&#13;
Nizam menilai proyek CA-EDC berpotensi menjadi mesin pertumbuhan berikutnya bagi Chandra Asri. Produk soda kaustik akan menyasar kebutuhan industri domestik, termasuk sektor deterjen, alumina, dan pengolahan nikel, sementara EDC akan diekspor untuk memenuhi kebutuhan industri PVC global.&#13;
&#13;
Di sisi lain, bisnis infrastruktur yang dijalankan melalui PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) juga mulai memainkan peran strategis dalam ekosistem perusahaan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Unit usaha ini mengelola bisnis energi, air industri, pelabuhan, penyimpanan, dan logistik yang mendukung operasional internal maupun pihak ketiga. Kehadiran bisnis infrastruktur memperkuat integrasi operasional sekaligus menciptakan sumber pendapatan yang lebih stabil dibandingkan bisnis petrokimia yang cenderung siklikal.&#13;
&#13;
Dari sisi fundamental, Verdhana melihat posisi Chandra Asri saat ini jauh lebih kuat dibandingkan beberapa tahun lalu. Total aset perusahaan melonjak menjadi USD12,5 miliar pada kuartal I-2026 dari sekitar USD5,7 miliar pada 2024.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Ekuitas juga meningkat menjadi USD4,86 miliar, sementara laba bersih kuartalan mencapai USD205 juta. Perseroan juga mencatat margin EBIT sebesar 19,5% dan interest coverage ratio sebesar 6,89 kali, mencerminkan kemampuan yang lebih baik dalam memenuhi kewajiban keuangannya.&#13;
&#13;
Verdhana memperkirakan tren positif masih berlanjut seiring kuatnya margin kilang di Singapura. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan gangguan pasokan global membuat crack spread diperkirakan tetap berada di atas USD10 per barel, jauh lebih tinggi dibandingkan level historis sebelum konflik yang berada di bawah USD5 per barel. Kondisi ini diyakini akan mempercepat pengembalian investasi Aster sekaligus memperbaiki struktur utang perusahaan.&#13;
&#13;
Selain transformasi operasional, daya tarik saham TPIA juga meningkat dari sisi pasar modal. Free float perseroan kini mencapai 25,7%, naik signifikan dari sekitar 10% sebelumnya setelah SCG Chemicals melakukan penyesuaian kepemilikan saham sebagai bagian dari strategi deleveraging.&#13;
&#13;
Meski demikian, Verdhana menegaskan perubahan tersebut tidak memengaruhi arah strategis maupun pengendalian perusahaan karena tiga pemegang saham utama, yakni Barito Pacific, SCG Chemicals, dan Thai Oil, masih menguasai sekitar 74,3% saham TPIA.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
