<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harga Asli Pertalite Rp18.040 per Liter Lebih Mahal dari Pertamax, Ini 5 Faktanya</title><description>Harga asli Pertalite mencapai Rp18.040 per liter, lebih mahal jika dibandingkan harga BBM nonsubsidi Pertamax. Informasi ini viral dan beredar di media sosial.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/06/20/320/3225387/harga-asli-pertalite-rp18-040-per-liter-lebih-mahal-dari-pertamax-ini-5-faktanya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/06/20/320/3225387/harga-asli-pertalite-rp18-040-per-liter-lebih-mahal-dari-pertamax-ini-5-faktanya"/><item><title>Harga Asli Pertalite Rp18.040 per Liter Lebih Mahal dari Pertamax, Ini 5 Faktanya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/06/20/320/3225387/harga-asli-pertalite-rp18-040-per-liter-lebih-mahal-dari-pertamax-ini-5-faktanya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/06/20/320/3225387/harga-asli-pertalite-rp18-040-per-liter-lebih-mahal-dari-pertamax-ini-5-faktanya</guid><pubDate>Sabtu 20 Juni 2026 06:10 WIB</pubDate><dc:creator>Dani Jumadil Akhir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/06/19/320/3225387/pertalite-lUmL_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Harga Asli Pertalite Rp18.040 per Liter Lebih Mahal dari Pertamax, Ini 5 Faktanya (Foto: Pertamina Patra Niaga)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/06/19/320/3225387/pertalite-lUmL_large.jpg</image><title>Harga Asli Pertalite Rp18.040 per Liter Lebih Mahal dari Pertamax, Ini 5 Faktanya (Foto: Pertamina Patra Niaga)</title></images><description>JAKARTA - Harga asli Pertalite mencapai Rp18.040 per liter, lebih mahal jika dibandingkan harga BBM nonsubsidi Pertamax. Informasi ini viral dan beredar di media sosial.&#13;
&#13;
Dalam narasi yang beredar di media sosial, masyarakat membeli Pertalite dengan harga Rp10.000 per liter, namun dalam struk pembelian tercantum harga asli Pertalite yang mencapai Rp18.040 per liter. Dengan demikian, pemerintah memberikan subsidi Pertalite Rp8.040 per liter.&#13;
&#13;
Harga asli Pertalite ini pun lebih mahal jika dibandingkan harga Pertamax yang mencapai Rp16.250 per liter. Padahal Pertamax merupakan BBM nonsubsidi dengan kadar RON 92 lebih tinggi dibandingkan Pertalite dengan RON 90.&#13;
&#13;
PT Pertamina Patra Niaga pun buka suara soal informasi yang beredar di masyarakat terkait angka Rp18.040 per liter pada struk pembelian Pertalite yang disebut sebagai harga keekonomian BBM.&#13;
&#13;
Berikut ini Okezone rangkum fakta-fakta harga asli Pertalite, Jakarta, Sabtu (20/6/2026):&#13;
&#13;
1. Penjelasan Pertamina&#13;
&#13;
Menanggapi informasi yang beredar di masyarakat terkait angka Rp18.040 per liter pada struk pembelian Pertalite yang disebut sebagai harga keekonomian BBM, Pertamina Patra Niaga menyampaikan penjelasan agar masyarakat memperoleh informasi yang utuh dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.&#13;
&#13;
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menjelaskan bahwa kebijakan subsidi BBM merupakan kewenangan Pemerintah dan bukan ditetapkan oleh Pertamina.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Dalam hal ini, Pertalite merupakan Jenis Bahan Bakar Minyak Khusus Penugasan (JBKP) yang mendapatkan subsidi dari Pemerintah untuk menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pertamina Patra Niaga bertindak sebagai operator yang menjalankan dan mematuhi kebijakan Pemerintah terkait penyaluran BBM bersubsidi. Harga jual Pertalite yang dibayarkan masyarakat saat ini merupakan harga yang telah ditetapkan Pemerintah dengan mempertimbangkan berbagai aspek sosial dan ekonomi,&amp;rdquo; kata Robert di Jakarta.&#13;
&#13;
2. Subsidi BBM&#13;
&#13;
Program subsidi BBM memiliki tujuan strategis untuk menjaga stabilitas nasional, melindungi daya beli masyarakat, serta mendukung aktivitas ekonomi.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Kebijakan ini ditujukan terutama untuk membantu masyarakat ekonomi menengah ke bawah agar tetap dapat memenuhi kebutuhan mobilitas dan aktivitas sehari-hari dengan biaya yang terjangkau.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
3. Harga Keekonomian&#13;
&#13;
Terkait informasi harga keekonomian Pertalite yang tercantum pada struk, angka tersebut merupakan gambaran nilai ekonomi BBM apabila dihitung berdasarkan komponen harga pasar dan biaya penyediaan energi.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Namun demikian, masyarakat tetap membeli Pertalite sesuai harga yang telah ditetapkan Pemerintah karena adanya dukungan subsidi.&#13;
&#13;
Pertamina Patra Niaga juga menjelaskan bahwa Pertamax merupakan BBM nonsubsidi yang harga jualnya mengikuti dinamika pasar. Namun, dalam pelaksanaannya Pertamina terus berkoordinasi dengan Pemerintah untuk menjaga stabilitas harga energi nasional.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Bahkan, pada periode sebelumnya harga Pertamax sempat ditahan agar tidak mengalami kenaikan guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung kondisi perekonomian nasional.&#13;
&#13;
4. Kenaikan Harga Pertamax Pertimbangkan Daya Beli&#13;
&#13;
Kenaikan harga Pertamax pada 10 Juni 2026 menjadi Rp16.250 per liter juga mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk kondisi ekonomi, daya beli masyarakat, keberlanjutan fiskal pemerintah, serta keberlangsungan usaha.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Penyesuaian serupa juga dilakukan oleh badan usaha penyedia BBM lainnya. Meski demikian, harga jual yang berlaku saat ini belum sepenuhnya mengikuti harga keekonomian berdasarkan harga pasar internasional.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
5. Harga Pertamax Bisa Lebih Mahal&#13;
&#13;
Apabila harga Pertamax sepenuhnya mengacu pada harga keekonomian berdasarkan kondisi pasar dan harga minyak dunia, maka harga jualnya seharusnya berada pada level yang lebih tinggi dibandingkan harga Pertalite tanpa subsidi.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan harga energi yang diterapkan saat ini tetap mempertimbangkan keseimbangan antara daya beli masyarakat, kondisi ekonomi nasional, dan keberlanjutan penyediaan energi.&#13;
&#13;
&amp;quot;Pertamina Patra Niaga mengimbau masyarakat untuk selalu merujuk pada informasi resmi dari Pemerintah dan Pertamina serta tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak disertai penjelasan secara utuh,&amp;quot; tukasnya.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Harga asli Pertalite mencapai Rp18.040 per liter, lebih mahal jika dibandingkan harga BBM nonsubsidi Pertamax. Informasi ini viral dan beredar di media sosial.&#13;
&#13;
Dalam narasi yang beredar di media sosial, masyarakat membeli Pertalite dengan harga Rp10.000 per liter, namun dalam struk pembelian tercantum harga asli Pertalite yang mencapai Rp18.040 per liter. Dengan demikian, pemerintah memberikan subsidi Pertalite Rp8.040 per liter.&#13;
&#13;
Harga asli Pertalite ini pun lebih mahal jika dibandingkan harga Pertamax yang mencapai Rp16.250 per liter. Padahal Pertamax merupakan BBM nonsubsidi dengan kadar RON 92 lebih tinggi dibandingkan Pertalite dengan RON 90.&#13;
&#13;
PT Pertamina Patra Niaga pun buka suara soal informasi yang beredar di masyarakat terkait angka Rp18.040 per liter pada struk pembelian Pertalite yang disebut sebagai harga keekonomian BBM.&#13;
&#13;
Berikut ini Okezone rangkum fakta-fakta harga asli Pertalite, Jakarta, Sabtu (20/6/2026):&#13;
&#13;
1. Penjelasan Pertamina&#13;
&#13;
Menanggapi informasi yang beredar di masyarakat terkait angka Rp18.040 per liter pada struk pembelian Pertalite yang disebut sebagai harga keekonomian BBM, Pertamina Patra Niaga menyampaikan penjelasan agar masyarakat memperoleh informasi yang utuh dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.&#13;
&#13;
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menjelaskan bahwa kebijakan subsidi BBM merupakan kewenangan Pemerintah dan bukan ditetapkan oleh Pertamina.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Dalam hal ini, Pertalite merupakan Jenis Bahan Bakar Minyak Khusus Penugasan (JBKP) yang mendapatkan subsidi dari Pemerintah untuk menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pertamina Patra Niaga bertindak sebagai operator yang menjalankan dan mematuhi kebijakan Pemerintah terkait penyaluran BBM bersubsidi. Harga jual Pertalite yang dibayarkan masyarakat saat ini merupakan harga yang telah ditetapkan Pemerintah dengan mempertimbangkan berbagai aspek sosial dan ekonomi,&amp;rdquo; kata Robert di Jakarta.&#13;
&#13;
2. Subsidi BBM&#13;
&#13;
Program subsidi BBM memiliki tujuan strategis untuk menjaga stabilitas nasional, melindungi daya beli masyarakat, serta mendukung aktivitas ekonomi.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Kebijakan ini ditujukan terutama untuk membantu masyarakat ekonomi menengah ke bawah agar tetap dapat memenuhi kebutuhan mobilitas dan aktivitas sehari-hari dengan biaya yang terjangkau.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
3. Harga Keekonomian&#13;
&#13;
Terkait informasi harga keekonomian Pertalite yang tercantum pada struk, angka tersebut merupakan gambaran nilai ekonomi BBM apabila dihitung berdasarkan komponen harga pasar dan biaya penyediaan energi.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Namun demikian, masyarakat tetap membeli Pertalite sesuai harga yang telah ditetapkan Pemerintah karena adanya dukungan subsidi.&#13;
&#13;
Pertamina Patra Niaga juga menjelaskan bahwa Pertamax merupakan BBM nonsubsidi yang harga jualnya mengikuti dinamika pasar. Namun, dalam pelaksanaannya Pertamina terus berkoordinasi dengan Pemerintah untuk menjaga stabilitas harga energi nasional.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Bahkan, pada periode sebelumnya harga Pertamax sempat ditahan agar tidak mengalami kenaikan guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung kondisi perekonomian nasional.&#13;
&#13;
4. Kenaikan Harga Pertamax Pertimbangkan Daya Beli&#13;
&#13;
Kenaikan harga Pertamax pada 10 Juni 2026 menjadi Rp16.250 per liter juga mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk kondisi ekonomi, daya beli masyarakat, keberlanjutan fiskal pemerintah, serta keberlangsungan usaha.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Penyesuaian serupa juga dilakukan oleh badan usaha penyedia BBM lainnya. Meski demikian, harga jual yang berlaku saat ini belum sepenuhnya mengikuti harga keekonomian berdasarkan harga pasar internasional.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
5. Harga Pertamax Bisa Lebih Mahal&#13;
&#13;
Apabila harga Pertamax sepenuhnya mengacu pada harga keekonomian berdasarkan kondisi pasar dan harga minyak dunia, maka harga jualnya seharusnya berada pada level yang lebih tinggi dibandingkan harga Pertalite tanpa subsidi.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan harga energi yang diterapkan saat ini tetap mempertimbangkan keseimbangan antara daya beli masyarakat, kondisi ekonomi nasional, dan keberlanjutan penyediaan energi.&#13;
&#13;
&amp;quot;Pertamina Patra Niaga mengimbau masyarakat untuk selalu merujuk pada informasi resmi dari Pemerintah dan Pertamina serta tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak disertai penjelasan secara utuh,&amp;quot; tukasnya.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
