<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>RI Masih Jauh dari Krisis Meski Rupiah Sempat Tembus Rp18.000 per USD</title><description>Indonesia telah masuk dalam krisis ekonomi, tapi lebih tepat dibaca sebagai alarm kewaspadaan&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/06/21/320/3225689/ri-masih-jauh-dari-krisis-meski-rupiah-sempat-tembus-rp18-000-per-usd</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/06/21/320/3225689/ri-masih-jauh-dari-krisis-meski-rupiah-sempat-tembus-rp18-000-per-usd"/><item><title>RI Masih Jauh dari Krisis Meski Rupiah Sempat Tembus Rp18.000 per USD</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/06/21/320/3225689/ri-masih-jauh-dari-krisis-meski-rupiah-sempat-tembus-rp18-000-per-usd</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/06/21/320/3225689/ri-masih-jauh-dari-krisis-meski-rupiah-sempat-tembus-rp18-000-per-usd</guid><pubDate>Minggu 21 Juni 2026 18:25 WIB</pubDate><dc:creator>Rohman Wibowo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/06/21/320/3225689/rupiah-efJ3_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pelemahan nilai tukar rupiah yang dalam beberapa pekan terakhir bergerak di level psikologis baru. (Foto: Okezone.com/Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/06/21/320/3225689/rupiah-efJ3_large.jpg</image><title>Pelemahan nilai tukar rupiah yang dalam beberapa pekan terakhir bergerak di level psikologis baru. (Foto: Okezone.com/Freepik)</title></images><description>JAKARTA - Pelemahan nilai tukar rupiah yang dalam beberapa pekan terakhir bergerak di level psikologis baru, bahkan sempat menembus Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), dianggap memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar mengenai seberapa besar risiko pembalikan arah ekonomi nasional.&#13;
&#13;
Senior Analyst NEXT Indonesia Center, Sandy Pramuji, menekankan bahwa situasi ini merupakan sinyal bagi otoritas untuk meningkatkan kewaspadaan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Tekanan eksternal yang ada saat ini menuntut kedisiplinan kebijakan yang lebih tinggi dari biasanya, terutama dalam memperkuat bauran kebijakan moneter dan fiskal untuk menstabilkan pasar. Bukan berarti Indonesia telah masuk dalam krisis ekonomi, tapi lebih tepat dibaca sebagai alarm kewaspadaan,&amp;quot; ujar Sandy dalam keterangan resmi, Minggu (21/6/2026).&#13;
&#13;
Untuk mengukur tingkat kerawanan posisi rupiah secara objektif, NEXT melakukan kajian dengan mengadopsi pendekatan akademis dari ekonom terkemuka Carmen Reinhart dan Kenneth Rogoff. Melalui karya mereka yang berjudul From Financial Crash to Debt Crisis, kedua ekonom tersebut merumuskan batasan konkret untuk membedakan antara tekanan &amp;ldquo;nilai tukar biasa&amp;rdquo; dengan &amp;ldquo;krisis nilai tukar&amp;rdquo; (currency crash).&#13;
&#13;
Berdasarkan metodologi tersebut, krisis nilai tukar terjadi apabila devaluasi atau depresiasi tahunan suatu mata uang mencapai 15% atau lebih. Berdasarkan ambang tersebut, krisis nilai tukar tidak dilihat semata-mata dari level nominal kurs, tetapi dari kecepatan dan besarnya perubahan nilai tukar dalam satu tahun.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Jika parameter tersebut disandingkan dengan pergerakan rupiah saat ini, laju depresiasi tahunan kumulatif hingga Juni 2026 tercatat di kisaran 11%. Secara teknis, pelemahan rupiah sepanjang tahun 2026 belum masuk ke dalam kategori krisis nilai tukar atau currency crash,&amp;rdquo; kata Sandy.&#13;
&#13;
Kendati demikian, posisi tersebut tetap perlu diwaspadai karena jaraknya dengan ambang krisis tidak terlalu lebar, apalagi jika arus keluar modal atau persepsi risiko terhadap ekonomi domestik memburuk.&#13;
&#13;
Rupiah memang kembali melemah pada 2026, tetapi tekanan yang terjadi belum menyerupai pola krisis 1997&amp;ndash;1998. Depresiasi tahunan masih berada di bawah ambang currency crash Reinhart-Rogoff, sementara pertumbuhan ekonomi masih bertahan di kisaran positif.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kondisi ini mengindikasikan bahwa pelemahan rupiah saat ini lebih tepat dibaca sebagai tekanan nilai tukar yang perlu diwaspadai, bukan krisis ekonomi,&amp;rdquo; tegas Sandy.&#13;
&#13;
Meski begitu, Sandy menekankan bahwa para pemangku kepentingan tidak boleh lengah. Pengalaman menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah sering menjadi sinyal awal sebelum tekanan merembet ke sektor lain.&#13;
&#13;
Pasalnya, depresiasi rupiah dapat memperbesar biaya impor, menekan neraca perusahaan yang memiliki kewajiban valas, mengganggu ekspektasi inflasi, dan menurunkan kepercayaan pasar apabila tidak direspons dengan tepat.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Pelemahan nilai tukar rupiah yang dalam beberapa pekan terakhir bergerak di level psikologis baru, bahkan sempat menembus Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), dianggap memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar mengenai seberapa besar risiko pembalikan arah ekonomi nasional.&#13;
&#13;
Senior Analyst NEXT Indonesia Center, Sandy Pramuji, menekankan bahwa situasi ini merupakan sinyal bagi otoritas untuk meningkatkan kewaspadaan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Tekanan eksternal yang ada saat ini menuntut kedisiplinan kebijakan yang lebih tinggi dari biasanya, terutama dalam memperkuat bauran kebijakan moneter dan fiskal untuk menstabilkan pasar. Bukan berarti Indonesia telah masuk dalam krisis ekonomi, tapi lebih tepat dibaca sebagai alarm kewaspadaan,&amp;quot; ujar Sandy dalam keterangan resmi, Minggu (21/6/2026).&#13;
&#13;
Untuk mengukur tingkat kerawanan posisi rupiah secara objektif, NEXT melakukan kajian dengan mengadopsi pendekatan akademis dari ekonom terkemuka Carmen Reinhart dan Kenneth Rogoff. Melalui karya mereka yang berjudul From Financial Crash to Debt Crisis, kedua ekonom tersebut merumuskan batasan konkret untuk membedakan antara tekanan &amp;ldquo;nilai tukar biasa&amp;rdquo; dengan &amp;ldquo;krisis nilai tukar&amp;rdquo; (currency crash).&#13;
&#13;
Berdasarkan metodologi tersebut, krisis nilai tukar terjadi apabila devaluasi atau depresiasi tahunan suatu mata uang mencapai 15% atau lebih. Berdasarkan ambang tersebut, krisis nilai tukar tidak dilihat semata-mata dari level nominal kurs, tetapi dari kecepatan dan besarnya perubahan nilai tukar dalam satu tahun.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Jika parameter tersebut disandingkan dengan pergerakan rupiah saat ini, laju depresiasi tahunan kumulatif hingga Juni 2026 tercatat di kisaran 11%. Secara teknis, pelemahan rupiah sepanjang tahun 2026 belum masuk ke dalam kategori krisis nilai tukar atau currency crash,&amp;rdquo; kata Sandy.&#13;
&#13;
Kendati demikian, posisi tersebut tetap perlu diwaspadai karena jaraknya dengan ambang krisis tidak terlalu lebar, apalagi jika arus keluar modal atau persepsi risiko terhadap ekonomi domestik memburuk.&#13;
&#13;
Rupiah memang kembali melemah pada 2026, tetapi tekanan yang terjadi belum menyerupai pola krisis 1997&amp;ndash;1998. Depresiasi tahunan masih berada di bawah ambang currency crash Reinhart-Rogoff, sementara pertumbuhan ekonomi masih bertahan di kisaran positif.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kondisi ini mengindikasikan bahwa pelemahan rupiah saat ini lebih tepat dibaca sebagai tekanan nilai tukar yang perlu diwaspadai, bukan krisis ekonomi,&amp;rdquo; tegas Sandy.&#13;
&#13;
Meski begitu, Sandy menekankan bahwa para pemangku kepentingan tidak boleh lengah. Pengalaman menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah sering menjadi sinyal awal sebelum tekanan merembet ke sektor lain.&#13;
&#13;
Pasalnya, depresiasi rupiah dapat memperbesar biaya impor, menekan neraca perusahaan yang memiliki kewajiban valas, mengganggu ekspektasi inflasi, dan menurunkan kepercayaan pasar apabila tidak direspons dengan tepat.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
