<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Rupiah Terancam Kembali ke Rp18.000 per USD, Ini Biang Keroknya</title><description>Kurs rupiah spot ditutup melemah tipis 0,06 persen ke level Rp17.804 per dolar Amerika Serikat (AS) dibandingkan hari sebelumnya.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/06/21/320/3225717/rupiah-terancam-kembali-ke-rp18-000-per-usd-ini-biang-keroknya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/06/21/320/3225717/rupiah-terancam-kembali-ke-rp18-000-per-usd-ini-biang-keroknya"/><item><title>Rupiah Terancam Kembali ke Rp18.000 per USD, Ini Biang Keroknya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/06/21/320/3225717/rupiah-terancam-kembali-ke-rp18-000-per-usd-ini-biang-keroknya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/06/21/320/3225717/rupiah-terancam-kembali-ke-rp18-000-per-usd-ini-biang-keroknya</guid><pubDate>Minggu 21 Juni 2026 16:03 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/06/21/320/3225717/rupiah-CqOz_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Nilai tukar rupiah diproyeksikan kembali menghadapi jalan terjal dan berpotensi tertekan selama perdagangan pekan depan. (Foto: Okezone.com/Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/06/21/320/3225717/rupiah-CqOz_large.jpg</image><title>Nilai tukar rupiah diproyeksikan kembali menghadapi jalan terjal dan berpotensi tertekan selama perdagangan pekan depan. (Foto: Okezone.com/Freepik)</title></images><description>JAKARTA - Nilai tukar rupiah diproyeksikan kembali menghadapi jalan terjal dan berpotensi tertekan selama perdagangan pekan depan. Pada pekan ini, Mata Uang Garuda berhasil mencatatkan penguatan tipis.&#13;
&#13;
Melansir data perdagangan pasar spot pada Jumat (19/6/2026), kurs rupiah spot ditutup melemah tipis 0,06 persen ke level Rp17.804 per dolar Amerika Serikat (AS) dibandingkan hari sebelumnya.&#13;
&#13;
Namun, jika dihitung dalam satu pekan, rupiah spot sejatinya masih menguat 0,31 persen dari posisi Rp17.860 per dolar AS pada Jumat (12/6/2026).&#13;
&#13;
Kondisi serupa tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang berada di angka Rp17.826 per dolar AS pada akhir pekan.&#13;
&#13;
Secara akumulatif mingguan, rupiah JISDOR mencatatkan performa impresif dengan menguat 0,53 persen dari posisi Jumat pekan lalu yang sempat terdampar di level Rp17.921 per dolar AS.&#13;
&#13;
Meskipun pasar domestik sempat mendapatkan angin segar setelah indeks global MSCI mempertahankan status Indonesia sebagai pasar negara berkembang (emerging market), rupiah diproyeksikan akan kembali menghadapi jalan terjal dan berpotensi tertekan pada pekan depan.&#13;
&#13;
Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan bahwa indeks dolar AS (DXY) berpotensi besar merangkak naik dan menekan balik Mata Uang Garuda ke zona psikologis yang lebih rendah.&#13;
&#13;
&amp;quot;Saya akan ke teknikal dulu ya, di mana USD kemungkinan besar akan berada di kisaran 99,200, kemudian resistennya itu adalah 101,700. Sepertinya indeks dolar ini akan kembali menguat,&amp;quot; tulis Ibrahim dalam risetnya, Minggu (21/6/2026).&#13;
&#13;
&amp;quot;Kemudian untuk rupiah sendiri, saya sudah membuat rilis kemarin di hari Jumat dan internal itu ya salah satu fundamentalnya itu resistennya dalam minggu depan di 17.600 sampai 18.000 (per dolar AS), karena melihat USD-nya ke 101,700,&amp;quot; imbuhnya.&#13;
&#13;
Ibrahim menguraikan terdapat empat pilar utama yang menjadi motor penggerak keperkasaan indeks dolar AS saat ini, yakni dinamika geopolitik, arah kebijakan politik internal AS, kebijakan ketat bank sentral AS (The Fed), serta faktor permintaan dan penawaran global.&#13;
&#13;
&amp;quot;Masalah geopolitik, kedua masalah kebijakan politik di Amerika, kemudian yang ketiga itu masalah kebijakan bank sentral Amerika di bawah Kevin Walsh, yang keempat adalah supply dan demand,&amp;quot; ungkap Ibrahim.&#13;
&#13;
Dari klaster geopolitik global, perhatian pasar tertuju pada eskalasi di Timur Tengah dan Eropa Timur. Meski AS dan Iran sempat menyepakati gencatan senjata elektronik selama 60 hari untuk membuka Selat Hormuz, pelanggaran tembak-menembak antara Israel dan Lebanon membuat situasi kembali tegang. Iran bahkan mengancam akan menutup kembali jalur komersial vital tersebut.&#13;
&#13;
Kecemasan ini diperparah oleh peringatan Presiden Donald Trump terkait larangan pungutan transit serta fakta bahwa cadangan minyak AS diprediksi menipis dalam empat pekan ke depan. Di saat yang sama, serangan Rusia ke ibu kota Ukraina, Kyiv, ikut mengerek harga minyak dan dolar AS sebagai aset aman (safe haven).&#13;
&#13;
Faktor kedua yang disoroti adalah lanskap politik AS pada 2026 yang bergerak semakin unilateral di bawah kendali Donald Trump pasca-perjanjian minyak dengan Iran. AS kini memfokuskan energinya pada perang dagang global menjelang pemilu paruh waktu (midterm election) akhir 2026.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kebijakan politik Amerika Serikat di bawah Donald Trump bergeser menjadi lebih unilateral dan proteksionis. Kita lihat bahwa pada periode pertama Trump menjadi presiden pun juga berfokus terhadap proteksionisme. Nah, kita lihat bahwa fokus utama pasca-perjanjian perdamaian antara Amerika dan Iran, Trump akan fokus terhadap perang dagang melalui tarif resiprokal,&amp;quot; kata Ibrahim.&#13;
&#13;
Kebijakan proteksionisme ini diwujudkan lewat pengaktifan kembali tarif resiprokal berkisar 10 hingga 12,5 persen terhadap 60 negara mitra dagangnya guna menyeimbangkan neraca perdagangan AS. Indonesia bahkan ikut terdampak aturan ini.&#13;
&#13;
&amp;quot;Indonesia sendiri juga terkena perjanjian reciprocal trade dengan tarif ekspor sebesar 19 persen. Itu yang pertama. Kemudian yang kedua tentang dinamika politik. Paruh waktu tahun 2026 didominasi oleh konstelasi pemilu yang begitu menentukan. Kenapa? Karena menentukan kalau seandainya legislatif Partai Republik dikalahkan oleh Partai Demokrat, sehingga kebijakan-kebijakan Trump ke depan kemungkinan besar sangat sulit untuk mengontrol politik yang ada di Kongres,&amp;quot; jelasnya.&#13;
&#13;
Sisi moneter global turut menjadi beban bagi rupiah seiring bergesernya kepemimpinan bank sentral AS ke tangan Kevin Walsh. Karakter kepemimpinan Walsh dinilai jauh lebih hawkish dan agresif demi mengejar target inflasi di level 2 persen dengan memangkas pola komunikasi lama.&#13;
&#13;
&amp;quot;Arah kebijakan moneter Kevin Walsh itu diprioritaskan. Yang pertama adalah suku bunga tetap dengan sinyal kemungkinan besar akan dinaikkan. Kemudian yang kedua penghapusan forward guidance. Jadi secara resmi bank sentral Amerika menghentikan praktik pemberian panduan ke depan. Kebijakan ini diambil agar pasar tidak berspekulasi dan lebih berfokus pada dinamika indikator ekonomi makro yang objektif, sama seperti Bank Indonesia. Banyak kebijakan-kebijakan yang tujuannya untuk menguatkan mata uang rupiah walaupun rupiahnya tidak menguat-menguat,&amp;quot; kata Ibrahim.&#13;
&#13;
Terakhir, dari aspek supply dan demand, penurunan harga emas global dimanfaatkan secara masif oleh jajaran bank sentral dunia untuk memborong emas batangan sebagai langkah lindung nilai dan dedolarisasi. Sepanjang kuartal I-2026 saja, total pembelian emas oleh bank sentral dunia telah menembus 244 ton.&#13;
&#13;
Aktivitas perburuan emas ini dipimpin oleh Bank Sentral Polandia yang memborong 31 ton, Uzbekistan 25 ton, Kazakhstan 13 ton, hingga Bank Indonesia yang ikut menyerap sebanyak 2 ton.&#13;
&#13;
Lembaga investasi J.P. Morgan memprediksi akumulasi pembelian emas oleh bank sentral global bisa menyentuh 900 ton tahun ini, sejalan dengan survei Bank Dunia (World Bank) yang mencatat 45 persen bank sentral akan terus menumpuk emas karena ekonomi global yang tidak baik-baik saja.&#13;
&#13;
Kombinasi menipisnya cadangan minyak AS, potensi penutupan Selat Hormuz, agresivitas suku bunga The Fed, serta tingginya tensi perang dagang inilah yang menjadi alasan kuat mengapa indeks dolar AS diprediksi terus perkasa dan berpotensi menekan pergerakan rupiah pada pekan depan.&#13;
&#13;
&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Nilai tukar rupiah diproyeksikan kembali menghadapi jalan terjal dan berpotensi tertekan selama perdagangan pekan depan. Pada pekan ini, Mata Uang Garuda berhasil mencatatkan penguatan tipis.&#13;
&#13;
Melansir data perdagangan pasar spot pada Jumat (19/6/2026), kurs rupiah spot ditutup melemah tipis 0,06 persen ke level Rp17.804 per dolar Amerika Serikat (AS) dibandingkan hari sebelumnya.&#13;
&#13;
Namun, jika dihitung dalam satu pekan, rupiah spot sejatinya masih menguat 0,31 persen dari posisi Rp17.860 per dolar AS pada Jumat (12/6/2026).&#13;
&#13;
Kondisi serupa tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang berada di angka Rp17.826 per dolar AS pada akhir pekan.&#13;
&#13;
Secara akumulatif mingguan, rupiah JISDOR mencatatkan performa impresif dengan menguat 0,53 persen dari posisi Jumat pekan lalu yang sempat terdampar di level Rp17.921 per dolar AS.&#13;
&#13;
Meskipun pasar domestik sempat mendapatkan angin segar setelah indeks global MSCI mempertahankan status Indonesia sebagai pasar negara berkembang (emerging market), rupiah diproyeksikan akan kembali menghadapi jalan terjal dan berpotensi tertekan pada pekan depan.&#13;
&#13;
Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan bahwa indeks dolar AS (DXY) berpotensi besar merangkak naik dan menekan balik Mata Uang Garuda ke zona psikologis yang lebih rendah.&#13;
&#13;
&amp;quot;Saya akan ke teknikal dulu ya, di mana USD kemungkinan besar akan berada di kisaran 99,200, kemudian resistennya itu adalah 101,700. Sepertinya indeks dolar ini akan kembali menguat,&amp;quot; tulis Ibrahim dalam risetnya, Minggu (21/6/2026).&#13;
&#13;
&amp;quot;Kemudian untuk rupiah sendiri, saya sudah membuat rilis kemarin di hari Jumat dan internal itu ya salah satu fundamentalnya itu resistennya dalam minggu depan di 17.600 sampai 18.000 (per dolar AS), karena melihat USD-nya ke 101,700,&amp;quot; imbuhnya.&#13;
&#13;
Ibrahim menguraikan terdapat empat pilar utama yang menjadi motor penggerak keperkasaan indeks dolar AS saat ini, yakni dinamika geopolitik, arah kebijakan politik internal AS, kebijakan ketat bank sentral AS (The Fed), serta faktor permintaan dan penawaran global.&#13;
&#13;
&amp;quot;Masalah geopolitik, kedua masalah kebijakan politik di Amerika, kemudian yang ketiga itu masalah kebijakan bank sentral Amerika di bawah Kevin Walsh, yang keempat adalah supply dan demand,&amp;quot; ungkap Ibrahim.&#13;
&#13;
Dari klaster geopolitik global, perhatian pasar tertuju pada eskalasi di Timur Tengah dan Eropa Timur. Meski AS dan Iran sempat menyepakati gencatan senjata elektronik selama 60 hari untuk membuka Selat Hormuz, pelanggaran tembak-menembak antara Israel dan Lebanon membuat situasi kembali tegang. Iran bahkan mengancam akan menutup kembali jalur komersial vital tersebut.&#13;
&#13;
Kecemasan ini diperparah oleh peringatan Presiden Donald Trump terkait larangan pungutan transit serta fakta bahwa cadangan minyak AS diprediksi menipis dalam empat pekan ke depan. Di saat yang sama, serangan Rusia ke ibu kota Ukraina, Kyiv, ikut mengerek harga minyak dan dolar AS sebagai aset aman (safe haven).&#13;
&#13;
Faktor kedua yang disoroti adalah lanskap politik AS pada 2026 yang bergerak semakin unilateral di bawah kendali Donald Trump pasca-perjanjian minyak dengan Iran. AS kini memfokuskan energinya pada perang dagang global menjelang pemilu paruh waktu (midterm election) akhir 2026.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kebijakan politik Amerika Serikat di bawah Donald Trump bergeser menjadi lebih unilateral dan proteksionis. Kita lihat bahwa pada periode pertama Trump menjadi presiden pun juga berfokus terhadap proteksionisme. Nah, kita lihat bahwa fokus utama pasca-perjanjian perdamaian antara Amerika dan Iran, Trump akan fokus terhadap perang dagang melalui tarif resiprokal,&amp;quot; kata Ibrahim.&#13;
&#13;
Kebijakan proteksionisme ini diwujudkan lewat pengaktifan kembali tarif resiprokal berkisar 10 hingga 12,5 persen terhadap 60 negara mitra dagangnya guna menyeimbangkan neraca perdagangan AS. Indonesia bahkan ikut terdampak aturan ini.&#13;
&#13;
&amp;quot;Indonesia sendiri juga terkena perjanjian reciprocal trade dengan tarif ekspor sebesar 19 persen. Itu yang pertama. Kemudian yang kedua tentang dinamika politik. Paruh waktu tahun 2026 didominasi oleh konstelasi pemilu yang begitu menentukan. Kenapa? Karena menentukan kalau seandainya legislatif Partai Republik dikalahkan oleh Partai Demokrat, sehingga kebijakan-kebijakan Trump ke depan kemungkinan besar sangat sulit untuk mengontrol politik yang ada di Kongres,&amp;quot; jelasnya.&#13;
&#13;
Sisi moneter global turut menjadi beban bagi rupiah seiring bergesernya kepemimpinan bank sentral AS ke tangan Kevin Walsh. Karakter kepemimpinan Walsh dinilai jauh lebih hawkish dan agresif demi mengejar target inflasi di level 2 persen dengan memangkas pola komunikasi lama.&#13;
&#13;
&amp;quot;Arah kebijakan moneter Kevin Walsh itu diprioritaskan. Yang pertama adalah suku bunga tetap dengan sinyal kemungkinan besar akan dinaikkan. Kemudian yang kedua penghapusan forward guidance. Jadi secara resmi bank sentral Amerika menghentikan praktik pemberian panduan ke depan. Kebijakan ini diambil agar pasar tidak berspekulasi dan lebih berfokus pada dinamika indikator ekonomi makro yang objektif, sama seperti Bank Indonesia. Banyak kebijakan-kebijakan yang tujuannya untuk menguatkan mata uang rupiah walaupun rupiahnya tidak menguat-menguat,&amp;quot; kata Ibrahim.&#13;
&#13;
Terakhir, dari aspek supply dan demand, penurunan harga emas global dimanfaatkan secara masif oleh jajaran bank sentral dunia untuk memborong emas batangan sebagai langkah lindung nilai dan dedolarisasi. Sepanjang kuartal I-2026 saja, total pembelian emas oleh bank sentral dunia telah menembus 244 ton.&#13;
&#13;
Aktivitas perburuan emas ini dipimpin oleh Bank Sentral Polandia yang memborong 31 ton, Uzbekistan 25 ton, Kazakhstan 13 ton, hingga Bank Indonesia yang ikut menyerap sebanyak 2 ton.&#13;
&#13;
Lembaga investasi J.P. Morgan memprediksi akumulasi pembelian emas oleh bank sentral global bisa menyentuh 900 ton tahun ini, sejalan dengan survei Bank Dunia (World Bank) yang mencatat 45 persen bank sentral akan terus menumpuk emas karena ekonomi global yang tidak baik-baik saja.&#13;
&#13;
Kombinasi menipisnya cadangan minyak AS, potensi penutupan Selat Hormuz, agresivitas suku bunga The Fed, serta tingginya tensi perang dagang inilah yang menjadi alasan kuat mengapa indeks dolar AS diprediksi terus perkasa dan berpotensi menekan pergerakan rupiah pada pekan depan.&#13;
&#13;
&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
