<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Vietnam Jadi Acuan Pengembangan SDM Indonesia</title><description>Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengevaluasi peta jalan pengembangan sumber daya manusia (SDM) nasional&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/06/24/320/3226311/vietnam-jadi-acuan-pengembangan-sdm-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/06/24/320/3226311/vietnam-jadi-acuan-pengembangan-sdm-indonesia"/><item><title>Vietnam Jadi Acuan Pengembangan SDM Indonesia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/06/24/320/3226311/vietnam-jadi-acuan-pengembangan-sdm-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/06/24/320/3226311/vietnam-jadi-acuan-pengembangan-sdm-indonesia</guid><pubDate>Rabu 24 Juni 2026 15:28 WIB</pubDate><dc:creator>Rohman Wibowo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/06/24/320/3226311/shinta-YQHP_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Pembangunan Berkelanjutan Kadin Indonesia, Shinta Widjaja Kamdani. (Foto: Okezone.com/IMG)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/06/24/320/3226311/shinta-YQHP_large.jpg</image><title>Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Pembangunan Berkelanjutan Kadin Indonesia, Shinta Widjaja Kamdani. (Foto: Okezone.com/IMG)</title></images><description>JAKARTA - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengevaluasi peta jalan pengembangan sumber daya manusia (SDM) nasional. Belajar dari pesatnya kemajuan ekonomi negara tetangga, Kadin kini melirik Vietnam sebagai tolok ukur dalam meningkatkan daya saing tenaga kerja untuk kebutuhan sektor industri.&#13;
&#13;
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Pembangunan Berkelanjutan Kadin Indonesia, Shinta Widjaja Kamdani, menilai Vietnam telah menjadi acuan utama dalam percakapan mengenai efisiensi industri. Hal ini didorong oleh kenyataan bahwa Indonesia mulai tertinggal dalam aspek persaingan global.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kami sedang melihat Vietnam ini sebagai salah satu negara yang sangat cepat perkembangannya. Karena kita lihat kita mulai tertinggal dari Vietnam, maka mungkin Vietnam ini perlu kita jadikan benchmark,&amp;quot; ujar Shinta saat ditemui di Menara Kadin, Jakarta, Rabu (24/6/2026).&#13;
&#13;
Menurut Shinta, perbedaan mencolok antara Indonesia dan Vietnam tidak hanya terletak pada kemudahan perizinan atau insentif investasi, tetapi juga pada produktivitas pekerja yang dipengaruhi oleh durasi kerja dan kedisiplinan operasional di lapangan.&#13;
&#13;
Dalam perbandingannya, Shinta menyoroti perbedaan durasi kerja yang cukup signifikan antara kedua negara. Perbedaan budaya kerja ini dinilai sebagai faktor krusial yang menentukan output produksi di sektor manufaktur.&#13;
&#13;
&amp;quot;Jam kerja di Vietnam itu melebihi Indonesia, di mana Vietnam 48 jam, sementara Indonesia hanya 40 jam. Ini bukan hanya soal tinggi upah, tetapi produktivitas yang menjadi kunci utama,&amp;quot; tegas Shinta.&#13;
&#13;
Kadin memandang bahwa revitalisasi sistem pendidikan dan pelatihan kerja di Indonesia harus segera dilakukan untuk mengejar ketertinggalan tersebut. Kadin menitikberatkan pada penyusunan ulang skema pengembangan talenta yang tidak hanya mengandalkan teori, tetapi juga berfokus pada efisiensi kerja.&#13;
&#13;
Shinta mewanti-wanti, dengan menjadikan Vietnam sebagai cermin, Indonesia dapat segera melakukan koreksi dan meniru praktik terbaik yang terbukti efektif. Fokus ke depan adalah menciptakan ekosistem kerja yang tangguh dan memiliki produktivitas tinggi.&#13;
&#13;
&amp;quot;Memang Vietnam ini selalu menjadi benchmark atau percontohan untuk kita. Kita belajar bagaimana agar Indonesia bisa menjadi lebih berdaya saing ke depannya,&amp;quot; kata dia.&#13;
&#13;
Seturut itu, Shinta menegaskan bahwa keberhasilan reindustrialisasi tidak cukup hanya diukur dari pembangunan fisik pabrik atau angka investasi yang masuk. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya terletak pada kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Keberhasilan sesungguhnya diukur dari kemampuan kita membangun manusia Indonesia yang produktif, kompeten, dan inovatif. Hanya dengan SDM unggul, kita mampu bersaing di tingkat global,&amp;quot; kata dia.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengevaluasi peta jalan pengembangan sumber daya manusia (SDM) nasional. Belajar dari pesatnya kemajuan ekonomi negara tetangga, Kadin kini melirik Vietnam sebagai tolok ukur dalam meningkatkan daya saing tenaga kerja untuk kebutuhan sektor industri.&#13;
&#13;
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Pembangunan Berkelanjutan Kadin Indonesia, Shinta Widjaja Kamdani, menilai Vietnam telah menjadi acuan utama dalam percakapan mengenai efisiensi industri. Hal ini didorong oleh kenyataan bahwa Indonesia mulai tertinggal dalam aspek persaingan global.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kami sedang melihat Vietnam ini sebagai salah satu negara yang sangat cepat perkembangannya. Karena kita lihat kita mulai tertinggal dari Vietnam, maka mungkin Vietnam ini perlu kita jadikan benchmark,&amp;quot; ujar Shinta saat ditemui di Menara Kadin, Jakarta, Rabu (24/6/2026).&#13;
&#13;
Menurut Shinta, perbedaan mencolok antara Indonesia dan Vietnam tidak hanya terletak pada kemudahan perizinan atau insentif investasi, tetapi juga pada produktivitas pekerja yang dipengaruhi oleh durasi kerja dan kedisiplinan operasional di lapangan.&#13;
&#13;
Dalam perbandingannya, Shinta menyoroti perbedaan durasi kerja yang cukup signifikan antara kedua negara. Perbedaan budaya kerja ini dinilai sebagai faktor krusial yang menentukan output produksi di sektor manufaktur.&#13;
&#13;
&amp;quot;Jam kerja di Vietnam itu melebihi Indonesia, di mana Vietnam 48 jam, sementara Indonesia hanya 40 jam. Ini bukan hanya soal tinggi upah, tetapi produktivitas yang menjadi kunci utama,&amp;quot; tegas Shinta.&#13;
&#13;
Kadin memandang bahwa revitalisasi sistem pendidikan dan pelatihan kerja di Indonesia harus segera dilakukan untuk mengejar ketertinggalan tersebut. Kadin menitikberatkan pada penyusunan ulang skema pengembangan talenta yang tidak hanya mengandalkan teori, tetapi juga berfokus pada efisiensi kerja.&#13;
&#13;
Shinta mewanti-wanti, dengan menjadikan Vietnam sebagai cermin, Indonesia dapat segera melakukan koreksi dan meniru praktik terbaik yang terbukti efektif. Fokus ke depan adalah menciptakan ekosistem kerja yang tangguh dan memiliki produktivitas tinggi.&#13;
&#13;
&amp;quot;Memang Vietnam ini selalu menjadi benchmark atau percontohan untuk kita. Kita belajar bagaimana agar Indonesia bisa menjadi lebih berdaya saing ke depannya,&amp;quot; kata dia.&#13;
&#13;
Seturut itu, Shinta menegaskan bahwa keberhasilan reindustrialisasi tidak cukup hanya diukur dari pembangunan fisik pabrik atau angka investasi yang masuk. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya terletak pada kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Keberhasilan sesungguhnya diukur dari kemampuan kita membangun manusia Indonesia yang produktif, kompeten, dan inovatif. Hanya dengan SDM unggul, kita mampu bersaing di tingkat global,&amp;quot; kata dia.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
