<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Neraca Dagang Defisit, BI Sebut Migas Jadi Biang Kerok</title><description>Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa defisit neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 utamanya disebabkan oleh meningkatnya defisit pada sektor minyak dan gas (migas). &#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/07/03/320/3228101/neraca-dagang-defisit-bi-sebut-migas-jadi-biang-kerok</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/07/03/320/3228101/neraca-dagang-defisit-bi-sebut-migas-jadi-biang-kerok"/><item><title>Neraca Dagang Defisit, BI Sebut Migas Jadi Biang Kerok</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/07/03/320/3228101/neraca-dagang-defisit-bi-sebut-migas-jadi-biang-kerok</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/07/03/320/3228101/neraca-dagang-defisit-bi-sebut-migas-jadi-biang-kerok</guid><pubDate>Jum'at 03 Juli 2026 20:00 WIB</pubDate><dc:creator>Rohman Wibowo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/07/03/320/3228101/bank_indonesia-3PEc_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bank Indonesia (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/07/03/320/3228101/bank_indonesia-3PEc_large.jpg</image><title>Bank Indonesia (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa defisit neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 utamanya disebabkan oleh meningkatnya defisit pada sektor minyak dan gas (migas).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Meski demikian, kinerja ekspor nonmigas yang masih mencatatkan surplus dinilai menjadi penopang utama perdagangan nasional.&#13;
&#13;
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjabarkan bahwa neraca perdagangan nasional pada Mei 2026 mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS. Catatan ini menghentikan tren surplus yang sebelumnya berhasil dipertahankan selama 72 bulan berturut-turut.&#13;
&#13;
Denny memaparkan bahwa penurunan kinerja perdagangan pada bulan tersebut dipicu oleh melebarnya defisit perdagangan di sektor migas, sedangkan transaksi nonmigas tetap menunjukkan kinerja positif dengan mencatatkan surplus.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mencatat defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS. Kondisi ini dipengaruhi meningkatnya defisit neraca perdagangan migas di tengah neraca perdagangan nonmigas yang tetap mencatat surplus,&amp;rdquo; ujar Denny dalam keterangan resminya, yang dikutip Jumat (3/7/2026).&#13;
&#13;
BI mengidentifikasi adanya lonjakan defisit perdagangan migas hingga menyentuh angka 3,76 huta miliar dolar AS pada Mei 2026. Ketimpangan ini terjadi akibat penurunan nilai ekspor migas yang jauh lebih signifikan ketimbang penurunan pada sektor impor migas.&#13;
&#13;
Kendati demikian, sektor perdagangan nonmigas dinilai masih memperlihatkan ketahanan yang cukup kuat. Tercatat pada Mei 2026, surplus neraca perdagangan nonmigas mampu menembus 2,15 miliar dolar AS, yang didorong oleh tingginya realisasi ekspor nonmigas senilai 22,44 mliar dolar AS.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Ramdan menguraikan bahwa pencapaian tersebut didominasi oleh pengapalan komoditas berbasis sumber daya alam, seperti bahan bakar mineral, serta nikel beserta produk turunannya. Sementara untuk negara tujuan ekspor, pasar utama Indonesia masih berpusat ke Tiongkok, Amerika Serikat, dan India.&#13;
&#13;
Secara keseluruhan, BI memandang kinerja perdagangan luar negeri Indonesia masih berada dalam tren yang positif. Terhitung sepanjang rentang waktu Januari hingga Mei 2026, neraca perdagangan kumulatif Indonesia masih membukukan surplus sebesar 4,03 miliar dolar AS.&#13;
&#13;
Ke depan, BI berkomitmen untuk terus meningkatkan koordinasi dengan pemerintah beserta jajaran otoritas terkait guna mengawal stabilitas sektor eksternal sekaligus menyokong akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional.&#13;
&#13;
&amp;quot;Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas lain guna makin memperkuat ketahanan eksternal dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,&amp;quot; kata Ramdan.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa defisit neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 utamanya disebabkan oleh meningkatnya defisit pada sektor minyak dan gas (migas).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Meski demikian, kinerja ekspor nonmigas yang masih mencatatkan surplus dinilai menjadi penopang utama perdagangan nasional.&#13;
&#13;
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjabarkan bahwa neraca perdagangan nasional pada Mei 2026 mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS. Catatan ini menghentikan tren surplus yang sebelumnya berhasil dipertahankan selama 72 bulan berturut-turut.&#13;
&#13;
Denny memaparkan bahwa penurunan kinerja perdagangan pada bulan tersebut dipicu oleh melebarnya defisit perdagangan di sektor migas, sedangkan transaksi nonmigas tetap menunjukkan kinerja positif dengan mencatatkan surplus.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mencatat defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS. Kondisi ini dipengaruhi meningkatnya defisit neraca perdagangan migas di tengah neraca perdagangan nonmigas yang tetap mencatat surplus,&amp;rdquo; ujar Denny dalam keterangan resminya, yang dikutip Jumat (3/7/2026).&#13;
&#13;
BI mengidentifikasi adanya lonjakan defisit perdagangan migas hingga menyentuh angka 3,76 huta miliar dolar AS pada Mei 2026. Ketimpangan ini terjadi akibat penurunan nilai ekspor migas yang jauh lebih signifikan ketimbang penurunan pada sektor impor migas.&#13;
&#13;
Kendati demikian, sektor perdagangan nonmigas dinilai masih memperlihatkan ketahanan yang cukup kuat. Tercatat pada Mei 2026, surplus neraca perdagangan nonmigas mampu menembus 2,15 miliar dolar AS, yang didorong oleh tingginya realisasi ekspor nonmigas senilai 22,44 mliar dolar AS.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Ramdan menguraikan bahwa pencapaian tersebut didominasi oleh pengapalan komoditas berbasis sumber daya alam, seperti bahan bakar mineral, serta nikel beserta produk turunannya. Sementara untuk negara tujuan ekspor, pasar utama Indonesia masih berpusat ke Tiongkok, Amerika Serikat, dan India.&#13;
&#13;
Secara keseluruhan, BI memandang kinerja perdagangan luar negeri Indonesia masih berada dalam tren yang positif. Terhitung sepanjang rentang waktu Januari hingga Mei 2026, neraca perdagangan kumulatif Indonesia masih membukukan surplus sebesar 4,03 miliar dolar AS.&#13;
&#13;
Ke depan, BI berkomitmen untuk terus meningkatkan koordinasi dengan pemerintah beserta jajaran otoritas terkait guna mengawal stabilitas sektor eksternal sekaligus menyokong akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional.&#13;
&#13;
&amp;quot;Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas lain guna makin memperkuat ketahanan eksternal dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,&amp;quot; kata Ramdan.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
