<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>APBN Tekor Rp196,5 Triliun di Semester I-2026, Purbaya Klaim Tetap Terkendali</title><description>Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) defisit Rp196,5 triliun hingga semester I-2026.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/07/07/320/3228699/apbn-tekor-rp196-5-triliun-di-semester-i-2026-purbaya-klaim-tetap-terkendali</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/07/07/320/3228699/apbn-tekor-rp196-5-triliun-di-semester-i-2026-purbaya-klaim-tetap-terkendali"/><item><title>APBN Tekor Rp196,5 Triliun di Semester I-2026, Purbaya Klaim Tetap Terkendali</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/07/07/320/3228699/apbn-tekor-rp196-5-triliun-di-semester-i-2026-purbaya-klaim-tetap-terkendali</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/07/07/320/3228699/apbn-tekor-rp196-5-triliun-di-semester-i-2026-purbaya-klaim-tetap-terkendali</guid><pubDate>Selasa 07 Juli 2026 15:26 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/07/07/320/3228699/purbaya-AN4Q_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">APBN Tekor Rp196,5 Triliun di Semester I-2026, Purbaya Klaim Tetap Terkendali (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/07/07/320/3228699/purbaya-AN4Q_large.jpg</image><title>APBN Tekor Rp196,5 Triliun di Semester I-2026, Purbaya Klaim Tetap Terkendali (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) defisit Rp196,5 triliun hingga semester I-2026. Angka defisit ini setara dengan 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).&#13;
&#13;
Defisit APBN tersebut memperlihatkan adanya kenaikan jika dibandingkan dengan posisi defisit per Mei 2026 yang berada di angka Rp180,4 triliun atau 0,70 persen terhadap PDB. Kendati demikian, secara tahunan, performa defisit anggaran ini justru mengalami perbaikan berupa penurunan sebesar 3,8 persen dari posisi Semester I 2025 yang kala itu menyentuh 0,84 persen terhadap PDB.&#13;
&#13;
&amp;quot;Defisit APBN semester I (2026) tercatat sebesar Rp196,5 triliun dengan presentasi sebesar 0,76 persen terhadap PDB, kondisi tersebut mencerminkan bahwa defisit APBN tetap dijaga dalam batas aman dan terkendali,&amp;quot; kata Purbaya dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran (Banggar) DPR RI di Jakarta, Selasa (7/7/2026).&#13;
&#13;
Dari pos penerimaan, pemerintah membukukan pendapatan negara sebesar Rp1.459,4 triliun, atau telah mengamankan 46,3 persen dari total target APBN 2026 yang dipatok Rp3.153,6 triliun. Secara tahunan (year-on-year/yoy), realisasi pendapatan tersebut melonjak impresif hingga 21,4 persen.&#13;
&#13;
Purbaya menguraikan bahwa gairah pendapatan negara ini didorong kuat oleh peningkatan roda aktivitas ekonomi riil serta perbaikan manajemen tata kelola pada pintu-pintu penerimaan negara.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kinerja pendapatan dipengaruhi oleh peningkatan akses ekonomi, peningkatan pengawasan dan tata kelola pajak dan bea cukai, serta peningkatan layanan kementerian lembaga dan BLU,&amp;quot; jelasnya.&#13;
&#13;
Secara kumulatif, pendapatan negara terdiri atas Penerimaan Perpajakan mencapai Rp1.187,8 triliun, atau setara 44,1 persen dari target APBN dan mencatatkan pertumbuhan tahunan sebesar 21,4 persen dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tercatat Rp271 triliun, atau telah memenuhi 59 persen dari target APBN, naik 21,6 persen secara tahunan.&#13;
&#13;
Purbaya memberikan catatan tebal pada performa sektor pajak murni yang melesat hingga 24,6 persen selama enam bulan pertama tahun ini. Tren positif ini membalikkan situasi sulit pada periode yang sama tahun lalu yang sempat terperosok ke zona negatif.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kalau kita lihat penerimaan pajak aja itu tumbuhnya 24,6 persen Ini perkembangan yang mengembirakan mengingat tahun lalu kontraksi 7 persen di 6 bulan pertama,&amp;quot; ungkap Purbaya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Lompatan performa ini dinilai menjadi bukti sahih bahwa roda transformasi birokrasi dan pembenahan tata kelola organisasi di tubuh otoritas perpajakan mulai membuahkan hasil nyata.&#13;
&#13;
&amp;quot;Jadi reformasi perpajakan dan reformasi organisasi maupun personali perpajakan sudah memberikan hasil yang cukup menjanjikan, saya pikir kedepannya akan terus membaik,&amp;quot; sambung Purbaya.&#13;
&#13;
Di sisi pengeluaran, realisasi belanja negara hingga akhir Juni 2026 tercatat telah terserap sebesar Rp1.656 triliun, atau mencakup 43,1 persen dari pagu anggaran tahunan. Realisasi belanja ini meningkat 17,8 persen jika dikontrasikan dengan periode yang sama tahun lalu.&#13;
&#13;
Secara spesifik, alokasi Belanja Pemerintah Pusat (BPP) telah menggelontorkan dana sebesar Rp1.296,8 triliun. Angka ini mencerminkan tingkat serapan sebesar 41,2 persen dari pagu anggaran serta mencatatkan akselerasi pertumbuhan tahunan hingga 29,4 persen.&#13;
&#13;
Melalui bauran performa fiskal tersebut, catatan keseimbangan primer APBN Indonesia hingga pertengahan tahun ini sukses mengamankan surplus sebesar Rp85,1 triliun.&#13;
&#13;
Sementara itu, untuk pos realisasi pembiayaan anggaran, pemerintah telah mengeksekusi dana sebesar Rp452 triliun, atau setara dengan 65,6 persen dari target total yang ditetapkan dalam APBN 2026.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) defisit Rp196,5 triliun hingga semester I-2026. Angka defisit ini setara dengan 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).&#13;
&#13;
Defisit APBN tersebut memperlihatkan adanya kenaikan jika dibandingkan dengan posisi defisit per Mei 2026 yang berada di angka Rp180,4 triliun atau 0,70 persen terhadap PDB. Kendati demikian, secara tahunan, performa defisit anggaran ini justru mengalami perbaikan berupa penurunan sebesar 3,8 persen dari posisi Semester I 2025 yang kala itu menyentuh 0,84 persen terhadap PDB.&#13;
&#13;
&amp;quot;Defisit APBN semester I (2026) tercatat sebesar Rp196,5 triliun dengan presentasi sebesar 0,76 persen terhadap PDB, kondisi tersebut mencerminkan bahwa defisit APBN tetap dijaga dalam batas aman dan terkendali,&amp;quot; kata Purbaya dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran (Banggar) DPR RI di Jakarta, Selasa (7/7/2026).&#13;
&#13;
Dari pos penerimaan, pemerintah membukukan pendapatan negara sebesar Rp1.459,4 triliun, atau telah mengamankan 46,3 persen dari total target APBN 2026 yang dipatok Rp3.153,6 triliun. Secara tahunan (year-on-year/yoy), realisasi pendapatan tersebut melonjak impresif hingga 21,4 persen.&#13;
&#13;
Purbaya menguraikan bahwa gairah pendapatan negara ini didorong kuat oleh peningkatan roda aktivitas ekonomi riil serta perbaikan manajemen tata kelola pada pintu-pintu penerimaan negara.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kinerja pendapatan dipengaruhi oleh peningkatan akses ekonomi, peningkatan pengawasan dan tata kelola pajak dan bea cukai, serta peningkatan layanan kementerian lembaga dan BLU,&amp;quot; jelasnya.&#13;
&#13;
Secara kumulatif, pendapatan negara terdiri atas Penerimaan Perpajakan mencapai Rp1.187,8 triliun, atau setara 44,1 persen dari target APBN dan mencatatkan pertumbuhan tahunan sebesar 21,4 persen dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tercatat Rp271 triliun, atau telah memenuhi 59 persen dari target APBN, naik 21,6 persen secara tahunan.&#13;
&#13;
Purbaya memberikan catatan tebal pada performa sektor pajak murni yang melesat hingga 24,6 persen selama enam bulan pertama tahun ini. Tren positif ini membalikkan situasi sulit pada periode yang sama tahun lalu yang sempat terperosok ke zona negatif.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kalau kita lihat penerimaan pajak aja itu tumbuhnya 24,6 persen Ini perkembangan yang mengembirakan mengingat tahun lalu kontraksi 7 persen di 6 bulan pertama,&amp;quot; ungkap Purbaya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Lompatan performa ini dinilai menjadi bukti sahih bahwa roda transformasi birokrasi dan pembenahan tata kelola organisasi di tubuh otoritas perpajakan mulai membuahkan hasil nyata.&#13;
&#13;
&amp;quot;Jadi reformasi perpajakan dan reformasi organisasi maupun personali perpajakan sudah memberikan hasil yang cukup menjanjikan, saya pikir kedepannya akan terus membaik,&amp;quot; sambung Purbaya.&#13;
&#13;
Di sisi pengeluaran, realisasi belanja negara hingga akhir Juni 2026 tercatat telah terserap sebesar Rp1.656 triliun, atau mencakup 43,1 persen dari pagu anggaran tahunan. Realisasi belanja ini meningkat 17,8 persen jika dikontrasikan dengan periode yang sama tahun lalu.&#13;
&#13;
Secara spesifik, alokasi Belanja Pemerintah Pusat (BPP) telah menggelontorkan dana sebesar Rp1.296,8 triliun. Angka ini mencerminkan tingkat serapan sebesar 41,2 persen dari pagu anggaran serta mencatatkan akselerasi pertumbuhan tahunan hingga 29,4 persen.&#13;
&#13;
Melalui bauran performa fiskal tersebut, catatan keseimbangan primer APBN Indonesia hingga pertengahan tahun ini sukses mengamankan surplus sebesar Rp85,1 triliun.&#13;
&#13;
Sementara itu, untuk pos realisasi pembiayaan anggaran, pemerintah telah mengeksekusi dana sebesar Rp452 triliun, atau setara dengan 65,6 persen dari target total yang ditetapkan dalam APBN 2026.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
