<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Rupiah Kembali Tertekan di Rp18.014, Ketidakpastian Geopolitik dan Beban Fiskal Membayangi</title><description>Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tren pelemahan di tengah derasnya tekanan eksternal dan domestik. Sentimen negatif yang dipicu oleh memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah serta tantangan fiskal dalam negeri membuat pergerakan mata uang Garuda berada dalam posisi rentan.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/07/08/320/3228993/rupiah-kembali-tertekan-di-rp18-014-ketidakpastian-geopolitik-dan-beban-fiskal-membayangi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/07/08/320/3228993/rupiah-kembali-tertekan-di-rp18-014-ketidakpastian-geopolitik-dan-beban-fiskal-membayangi"/><item><title>Rupiah Kembali Tertekan di Rp18.014, Ketidakpastian Geopolitik dan Beban Fiskal Membayangi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/07/08/320/3228993/rupiah-kembali-tertekan-di-rp18-014-ketidakpastian-geopolitik-dan-beban-fiskal-membayangi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/07/08/320/3228993/rupiah-kembali-tertekan-di-rp18-014-ketidakpastian-geopolitik-dan-beban-fiskal-membayangi</guid><pubDate>Rabu 08 Juli 2026 20:33 WIB</pubDate><dc:creator>Rohman Wibowo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/07/08/320/3228993/rupiah-7y2L_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Rupiah (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/07/08/320/3228993/rupiah-7y2L_large.jpg</image><title>Rupiah (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tren pelemahan di tengah derasnya tekanan eksternal dan domestik. Sentimen negatif yang dipicu oleh memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah serta tantangan fiskal dalam negeri membuat pergerakan mata uang Garuda berada dalam posisi rentan.&#13;
&#13;
Pada penutupan perdagangan hari ini, Rabu (8/7/2026), mata uang rupiah melemah 34 poin ke level Rp18.014 per dolar AS, dari sebelumnya berada di posisi Rp17.980. Pelemahan ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar global terhadap potensi gangguan pasokan energi akibat konflik antara AS dan Iran.&#13;
&#13;
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, &amp;amp; Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa ketegangan di Selat Hormuz menjadi pemicu utama yang mengganggu stabilitas pasar global. Situasi ini diperparah dengan langkah AS yang menarik konsesi penjualan minyak Iran, sehingga memicu ketidakpastian baru.&#13;
&#13;
&amp;quot;Komando Pusat AS (Centcom) mengatakan telah memulai serangkaian serangan terhadap Iran, yang bertujuan untuk memberikan apa yang digambarkan sebagai &amp;#39;biaya berat&amp;#39; atas serangan Teheran terhadap pelayaran komersial,&amp;quot; kata Ibrahim dalam keterangan tertulisnya, Rabu (8/7/2026).&#13;
&#13;
&amp;quot;Kembalinya permusuhan dan tanda-tanda masalah pelayaran yang lebih besar di Hormuz kembali memicu kekhawatiran tentang gangguan pasokan di Timur Tengah,&amp;quot; imbuhnya.&#13;
&#13;
Selain faktor geopolitik, Ibrahim juga menyoroti kenaikan imbal hasil obligasi AS yang turut menekan mata uang negara berkembang. Para pelaku pasar kini tengah menunggu rilis notulen rapat FOMC bulan Juni untuk mencari arah kebijakan suku bunga The Fed.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;quot;Alasan lain yang perlu dipertimbangkan adalah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun telah naik 5,5 basis poin menjadi 4,525%,&amp;quot; tutur Ibrahim.&#13;
&#13;
Dari sisi domestik, tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Semester I-2026 juga memberikan sentimen negatif bagi pergerakan mata uang. APBN mencatat defisit sebesar Rp196,5 triliun, di mana pelemahan nilai tukar mempercepat kenaikan belanja dibandingkan penerimaan, sehingga mempersempit ruang fiskal pemerintah.&#13;
&#13;
Meski demikian, Ibrahim mencatat bahwa Bank Indonesia masih memiliki amunisi untuk menjaga stabilitas makroekonomi. Cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 meningkat menjadi US$145,6 miliar yang ditopang oleh penerimaan pajak dan jasa.&#13;
&#13;
&amp;quot;BI menjelaskan kenaikan cadangan devisa tersebut ditopang oleh penerimaan pajak dan jasa di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah yang ditempuh bank sentral untuk merespons tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global,&amp;quot; tutur Ibrahim.&#13;
&#13;
Pihak otoritas moneter mengklaim posisi cadangan devisa tersebut masih aman untuk menjaga ketahanan sektor eksternal. Bahkan, angka tersebut dinilai setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional.&#13;
&#13;
&amp;quot;Cadangan devisa saat ini mampu mendukung ketahanan sektor eksternal sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,&amp;quot; tambah Ibrahim merujuk pada data BI.&#13;
&#13;
Terkait perdagangan besok, Kamis (9/7/2026), Ibrahim memprediksi rupiah masih akan bergerak dalam rentang fluktuatif cenderung lemah. Pasar tampaknya masih akan mencerna berbagai sentimen global, terutama pasca rilis notulen rapat FOMC.&#13;
&#13;
&amp;quot;Sedangkan untuk perdagangan besok (9/7/2026), mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp18.010&amp;ndash;Rp18.060,&amp;quot; kata Ibrahim.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tren pelemahan di tengah derasnya tekanan eksternal dan domestik. Sentimen negatif yang dipicu oleh memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah serta tantangan fiskal dalam negeri membuat pergerakan mata uang Garuda berada dalam posisi rentan.&#13;
&#13;
Pada penutupan perdagangan hari ini, Rabu (8/7/2026), mata uang rupiah melemah 34 poin ke level Rp18.014 per dolar AS, dari sebelumnya berada di posisi Rp17.980. Pelemahan ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar global terhadap potensi gangguan pasokan energi akibat konflik antara AS dan Iran.&#13;
&#13;
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, &amp;amp; Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa ketegangan di Selat Hormuz menjadi pemicu utama yang mengganggu stabilitas pasar global. Situasi ini diperparah dengan langkah AS yang menarik konsesi penjualan minyak Iran, sehingga memicu ketidakpastian baru.&#13;
&#13;
&amp;quot;Komando Pusat AS (Centcom) mengatakan telah memulai serangkaian serangan terhadap Iran, yang bertujuan untuk memberikan apa yang digambarkan sebagai &amp;#39;biaya berat&amp;#39; atas serangan Teheran terhadap pelayaran komersial,&amp;quot; kata Ibrahim dalam keterangan tertulisnya, Rabu (8/7/2026).&#13;
&#13;
&amp;quot;Kembalinya permusuhan dan tanda-tanda masalah pelayaran yang lebih besar di Hormuz kembali memicu kekhawatiran tentang gangguan pasokan di Timur Tengah,&amp;quot; imbuhnya.&#13;
&#13;
Selain faktor geopolitik, Ibrahim juga menyoroti kenaikan imbal hasil obligasi AS yang turut menekan mata uang negara berkembang. Para pelaku pasar kini tengah menunggu rilis notulen rapat FOMC bulan Juni untuk mencari arah kebijakan suku bunga The Fed.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;quot;Alasan lain yang perlu dipertimbangkan adalah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun telah naik 5,5 basis poin menjadi 4,525%,&amp;quot; tutur Ibrahim.&#13;
&#13;
Dari sisi domestik, tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Semester I-2026 juga memberikan sentimen negatif bagi pergerakan mata uang. APBN mencatat defisit sebesar Rp196,5 triliun, di mana pelemahan nilai tukar mempercepat kenaikan belanja dibandingkan penerimaan, sehingga mempersempit ruang fiskal pemerintah.&#13;
&#13;
Meski demikian, Ibrahim mencatat bahwa Bank Indonesia masih memiliki amunisi untuk menjaga stabilitas makroekonomi. Cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 meningkat menjadi US$145,6 miliar yang ditopang oleh penerimaan pajak dan jasa.&#13;
&#13;
&amp;quot;BI menjelaskan kenaikan cadangan devisa tersebut ditopang oleh penerimaan pajak dan jasa di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah yang ditempuh bank sentral untuk merespons tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global,&amp;quot; tutur Ibrahim.&#13;
&#13;
Pihak otoritas moneter mengklaim posisi cadangan devisa tersebut masih aman untuk menjaga ketahanan sektor eksternal. Bahkan, angka tersebut dinilai setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional.&#13;
&#13;
&amp;quot;Cadangan devisa saat ini mampu mendukung ketahanan sektor eksternal sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,&amp;quot; tambah Ibrahim merujuk pada data BI.&#13;
&#13;
Terkait perdagangan besok, Kamis (9/7/2026), Ibrahim memprediksi rupiah masih akan bergerak dalam rentang fluktuatif cenderung lemah. Pasar tampaknya masih akan mencerna berbagai sentimen global, terutama pasca rilis notulen rapat FOMC.&#13;
&#13;
&amp;quot;Sedangkan untuk perdagangan besok (9/7/2026), mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp18.010&amp;ndash;Rp18.060,&amp;quot; kata Ibrahim.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
