<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Perang AS-Iran Kembali Memanas, Ancaman bagi IHSG</title><description>Perang antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran kembali memanas. Sentimen ini akan menjadi ancaman bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/07/13/278/3229734/perang-as-iran-kembali-memanas-ancaman-bagi-ihsg</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/07/13/278/3229734/perang-as-iran-kembali-memanas-ancaman-bagi-ihsg"/><item><title>Perang AS-Iran Kembali Memanas, Ancaman bagi IHSG</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/07/13/278/3229734/perang-as-iran-kembali-memanas-ancaman-bagi-ihsg</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/07/13/278/3229734/perang-as-iran-kembali-memanas-ancaman-bagi-ihsg</guid><pubDate>Senin 13 Juli 2026 07:39 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/07/13/278/3229734/ihsg-m0bs_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Perang AS-Iran Kembali Memanas, Ancaman bagi IHSG (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/07/13/278/3229734/ihsg-m0bs_large.jpg</image><title>Perang AS-Iran Kembali Memanas, Ancaman bagi IHSG (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Perang antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran kembali memanas. Sentimen ini akan menjadi ancaman bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada pekan ini, IHSG masih dibayangi sentimen eksternal seperti ketegangan AS-Iran hingga faktor internal seperti ketersediaan fiskal.&#13;
&#13;
&amp;quot;Menghadapi tingginya ketidakpastian geopolitik ini, para investor global cenderung mengambil sikap risk-off dan bersikap jauh lebih konservatif dalam mengelola portofolio mereka. Mereka berbondong-bondong menarik modal dari instrumen berisiko tinggi seperti pasar saham dan aset kripto untuk mengamankan likuiditas,&amp;quot; kata&amp;nbsp;Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan dalam laporan risetnya, Senin (13/7/2026).&#13;
&#13;
Arah pergerakan dana global saat ini sangat dipengaruhi oleh eskalasi pertempuran di Timur Tengah yang memasuki fase kritis setelah Amerika Serikat dan Iran terlibat dalam konfrontasi militer secara terbuka. Konflik bersenjata ini memicu kecemasan sistemik atas potensi terhambatnya jalur logistik minyak mentah dunia.&#13;
&#13;
Imbas dari kepanikan tersebut, arus modal internasional dilaporkan berpindah secara masif ke instrumen investasi safe-haven yang dinilai aman dari guncangan, seperti logam mulia emas dan mata uang dolar AS.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Pergeseran likuiditas ini diproyeksikan akan mengatrol harga emas dunia sekaligus memperkuat keperkasaan kurs dolar AS di panggung valuta asing.&#13;
&#13;
Dari dalam negeri, kondisi fundamental ekonomi makro Indonesia dinilai masih berada dalam koridor yang terukur. Kementerian Keuangan melaporkan realisasi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sepanjang paruh pertama tahun 2026 bertengger di angka Rp196,5 triliun, atau setara dengan 0,76 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).&#13;
&#13;
Secara regulasi baku, posisi defisit ini masih berada dalam batas aman lantaran posisinya berada jauh di bawah ambang maksimal yang ditetapkan undang-undang, yaitu sebesar 3 persen. Kendati demikian, David memberikan catatan bahwa akselerasi belanja negara yang melaju lebih cepat daripada penerimaan sektor publik tetap harus diwaspadai.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kondisi tersebut menuntut pemerintah untuk mengelola pembiayaan negara dengan jauh lebih ketat dan selektif di paruh kedua tahun ini. Langkah ini penting guna meminimalisir risiko penambahan utang baru yang tidak efisien, sekaligus memastikan stabilitas makroekonomi domestik tetap kokoh di tengah gejolak global,&amp;quot; tambah David.&#13;
&#13;
Memasuki periode perdagangan tanggal 13 hingga 17 Juli 2026, fokus perhatian para pelaku pasar akan tersita oleh draf agenda ekonomi penting dari panggung internasional.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Peluncuran data Tingkat Inflasi atau Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk bulan Juni pada hari Selasa menjadi indikator paling krusial, karena akan menjadi kompas utama pasar dalam menerjemahkan arah kebijakan suku bunga The Fed.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Selain data inflasi, investor juga akan memantau dengan cermat isi pidato dari jajaran pejabat bank sentral AS serta publikasi data pertumbuhan PDB kuartalan Singapura.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Sementara untuk iklim investasi domestik, laju nilai tukar rupiah dan pergerakan bursa saham diperkirakan masih akan tertekan oleh efek rambatan konflik Timur Tengah.&#13;
&#13;
Berikut rekomendasi IPOT:&#13;
&#13;
1. Buy on Pullback PGEO (Current Price: 1,005, Entry: 975, Target Price: 1,070 (9.74%), Stop Loss: 945 (-3.08%) dan Risk to Reward Ratio 1:3.2).&#13;
&#13;
2. Buy LSIP (Current Price: 1,295, Entry: 1,295, Target Price: 1,400 (8.11%), Stop Loss: 1,255 (-3.09%) dan Risk to Reward Ratio 1:2.6).&#13;
&#13;
3. Buy on Pullback BUVA (Current Price: 845, Entry: 820-830, Target Price: 900 (9.76%), Stop Loss: 795 (-3.05%) dan Risk to Reward Ratio 1:3.2).&#13;
&#13;
4. Buy Obligasi PBS 038.&#13;
&#13;
Sementara, tim riset MNC Sekuritas memperkirakan posisi IHSG saat ini sedang berada pada bagian dari wave b dari wave (b) dari wave [iv] pada skenario hitam.&#13;
&#13;
&amp;quot;IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatannya untuk menguji 6.083-6.203, namun cermati area koreksi pada level 5.752-5.797,&amp;quot; tulis MNC Sekuritas dalam MNCS Daily Scope.&#13;
&#13;
Untuk level support, IHSG berada di area 5.486 dan 5.317. Sementara itu, level resistance berada di kisaran 6.007 dan 6.286.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Adapun beberapa saham yang direkomendasikan adalah sebagai berikut:&#13;
&#13;
ARCI - Buy on Weakness&#13;
&#13;
ARCI menguat 4,71 persen ke 1.000 dan masih didominasi oleh volume pembelian yang meningkat, pergerakannya mampu menembus MA20. Selama ARCI masih mampu berada di atas 920 sebagai stoplossnya, maka posisi ARCI kami perkirakan sedang berada pada awal dari wave 3 dari wave (C).&#13;
Buy on Weakness: 970-995&#13;
Target Price: 1.115, 1.225&#13;
Stoploss: below 920&#13;
&#13;
BMRI - Buy on Weakness&#13;
&#13;
BMRI menguat 0,99 persen ke 4.080 dan masih didominasi oleh volume pembelian, namun pergerakannya masih berada di bawah MA20. Kami memperkirakan, posisi BMRI sedang berada pada bagian dari wave [b] dari wave B.&#13;
Buy on Weakness: 3.780-3.850&#13;
Target Price: 4.180, 4.270&#13;
Stoploss: below 3.710&#13;
&amp;nbsp;&#13;
MINA - Trading Buy&#13;
&#13;
MINA terkoreksi 1,45 persen ke 272 dan disertai dengan munculnya tekanan jual, pergerakannya pun masih berada di bawah MA20. Selama MINA masih mampu berada di atas 238 sebagai stoplossnya, maka diperkirakan posisi MINA saat ini sedang berada pada bagian dari wave (iii) dari wave [iii].&#13;
Trading Buy: 250-266&#13;
Target Price: 310, 336&#13;
Stoploss: below 238&#13;
&#13;
TAPG - Buy on Weakness&#13;
&#13;
TAPG menguat 0,98 persen ke 1.540 dan disertai dengan munculnya volume pembelian, pergerakan TAPG masih mampu berada di atas MA20. Kami memperkirakan, posisi TAPG sedang berada pada bagian dari wave [ii] dari wave C dari wave (B).&#13;
Buy on Weakness: 1.490-1.530&#13;
Target Price: 1.625, 1.700&#13;
Stoploss: below 1.460&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Perang antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran kembali memanas. Sentimen ini akan menjadi ancaman bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada pekan ini, IHSG masih dibayangi sentimen eksternal seperti ketegangan AS-Iran hingga faktor internal seperti ketersediaan fiskal.&#13;
&#13;
&amp;quot;Menghadapi tingginya ketidakpastian geopolitik ini, para investor global cenderung mengambil sikap risk-off dan bersikap jauh lebih konservatif dalam mengelola portofolio mereka. Mereka berbondong-bondong menarik modal dari instrumen berisiko tinggi seperti pasar saham dan aset kripto untuk mengamankan likuiditas,&amp;quot; kata&amp;nbsp;Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan dalam laporan risetnya, Senin (13/7/2026).&#13;
&#13;
Arah pergerakan dana global saat ini sangat dipengaruhi oleh eskalasi pertempuran di Timur Tengah yang memasuki fase kritis setelah Amerika Serikat dan Iran terlibat dalam konfrontasi militer secara terbuka. Konflik bersenjata ini memicu kecemasan sistemik atas potensi terhambatnya jalur logistik minyak mentah dunia.&#13;
&#13;
Imbas dari kepanikan tersebut, arus modal internasional dilaporkan berpindah secara masif ke instrumen investasi safe-haven yang dinilai aman dari guncangan, seperti logam mulia emas dan mata uang dolar AS.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Pergeseran likuiditas ini diproyeksikan akan mengatrol harga emas dunia sekaligus memperkuat keperkasaan kurs dolar AS di panggung valuta asing.&#13;
&#13;
Dari dalam negeri, kondisi fundamental ekonomi makro Indonesia dinilai masih berada dalam koridor yang terukur. Kementerian Keuangan melaporkan realisasi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sepanjang paruh pertama tahun 2026 bertengger di angka Rp196,5 triliun, atau setara dengan 0,76 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).&#13;
&#13;
Secara regulasi baku, posisi defisit ini masih berada dalam batas aman lantaran posisinya berada jauh di bawah ambang maksimal yang ditetapkan undang-undang, yaitu sebesar 3 persen. Kendati demikian, David memberikan catatan bahwa akselerasi belanja negara yang melaju lebih cepat daripada penerimaan sektor publik tetap harus diwaspadai.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kondisi tersebut menuntut pemerintah untuk mengelola pembiayaan negara dengan jauh lebih ketat dan selektif di paruh kedua tahun ini. Langkah ini penting guna meminimalisir risiko penambahan utang baru yang tidak efisien, sekaligus memastikan stabilitas makroekonomi domestik tetap kokoh di tengah gejolak global,&amp;quot; tambah David.&#13;
&#13;
Memasuki periode perdagangan tanggal 13 hingga 17 Juli 2026, fokus perhatian para pelaku pasar akan tersita oleh draf agenda ekonomi penting dari panggung internasional.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Peluncuran data Tingkat Inflasi atau Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk bulan Juni pada hari Selasa menjadi indikator paling krusial, karena akan menjadi kompas utama pasar dalam menerjemahkan arah kebijakan suku bunga The Fed.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Selain data inflasi, investor juga akan memantau dengan cermat isi pidato dari jajaran pejabat bank sentral AS serta publikasi data pertumbuhan PDB kuartalan Singapura.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Sementara untuk iklim investasi domestik, laju nilai tukar rupiah dan pergerakan bursa saham diperkirakan masih akan tertekan oleh efek rambatan konflik Timur Tengah.&#13;
&#13;
Berikut rekomendasi IPOT:&#13;
&#13;
1. Buy on Pullback PGEO (Current Price: 1,005, Entry: 975, Target Price: 1,070 (9.74%), Stop Loss: 945 (-3.08%) dan Risk to Reward Ratio 1:3.2).&#13;
&#13;
2. Buy LSIP (Current Price: 1,295, Entry: 1,295, Target Price: 1,400 (8.11%), Stop Loss: 1,255 (-3.09%) dan Risk to Reward Ratio 1:2.6).&#13;
&#13;
3. Buy on Pullback BUVA (Current Price: 845, Entry: 820-830, Target Price: 900 (9.76%), Stop Loss: 795 (-3.05%) dan Risk to Reward Ratio 1:3.2).&#13;
&#13;
4. Buy Obligasi PBS 038.&#13;
&#13;
Sementara, tim riset MNC Sekuritas memperkirakan posisi IHSG saat ini sedang berada pada bagian dari wave b dari wave (b) dari wave [iv] pada skenario hitam.&#13;
&#13;
&amp;quot;IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatannya untuk menguji 6.083-6.203, namun cermati area koreksi pada level 5.752-5.797,&amp;quot; tulis MNC Sekuritas dalam MNCS Daily Scope.&#13;
&#13;
Untuk level support, IHSG berada di area 5.486 dan 5.317. Sementara itu, level resistance berada di kisaran 6.007 dan 6.286.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Adapun beberapa saham yang direkomendasikan adalah sebagai berikut:&#13;
&#13;
ARCI - Buy on Weakness&#13;
&#13;
ARCI menguat 4,71 persen ke 1.000 dan masih didominasi oleh volume pembelian yang meningkat, pergerakannya mampu menembus MA20. Selama ARCI masih mampu berada di atas 920 sebagai stoplossnya, maka posisi ARCI kami perkirakan sedang berada pada awal dari wave 3 dari wave (C).&#13;
Buy on Weakness: 970-995&#13;
Target Price: 1.115, 1.225&#13;
Stoploss: below 920&#13;
&#13;
BMRI - Buy on Weakness&#13;
&#13;
BMRI menguat 0,99 persen ke 4.080 dan masih didominasi oleh volume pembelian, namun pergerakannya masih berada di bawah MA20. Kami memperkirakan, posisi BMRI sedang berada pada bagian dari wave [b] dari wave B.&#13;
Buy on Weakness: 3.780-3.850&#13;
Target Price: 4.180, 4.270&#13;
Stoploss: below 3.710&#13;
&amp;nbsp;&#13;
MINA - Trading Buy&#13;
&#13;
MINA terkoreksi 1,45 persen ke 272 dan disertai dengan munculnya tekanan jual, pergerakannya pun masih berada di bawah MA20. Selama MINA masih mampu berada di atas 238 sebagai stoplossnya, maka diperkirakan posisi MINA saat ini sedang berada pada bagian dari wave (iii) dari wave [iii].&#13;
Trading Buy: 250-266&#13;
Target Price: 310, 336&#13;
Stoploss: below 238&#13;
&#13;
TAPG - Buy on Weakness&#13;
&#13;
TAPG menguat 0,98 persen ke 1.540 dan disertai dengan munculnya volume pembelian, pergerakan TAPG masih mampu berada di atas MA20. Kami memperkirakan, posisi TAPG sedang berada pada bagian dari wave [ii] dari wave C dari wave (B).&#13;
Buy on Weakness: 1.490-1.530&#13;
Target Price: 1.625, 1.700&#13;
Stoploss: below 1.460&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
