<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Fakta-Fakta Rating Kredit RI Tetap BBB, S&amp;amp;P Soroti Ekonomi Tumbuh 5 Persen</title><description>Keputusan tersebut mendapat respons positif dari pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/07/19/278/3230643/fakta-fakta-rating-kredit-ri-tetap-bbb-s-amp-p-soroti-ekonomi-tumbuh-5-persen</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/07/19/278/3230643/fakta-fakta-rating-kredit-ri-tetap-bbb-s-amp-p-soroti-ekonomi-tumbuh-5-persen"/><item><title>Fakta-Fakta Rating Kredit RI Tetap BBB, S&amp;amp;P Soroti Ekonomi Tumbuh 5 Persen</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/07/19/278/3230643/fakta-fakta-rating-kredit-ri-tetap-bbb-s-amp-p-soroti-ekonomi-tumbuh-5-persen</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/07/19/278/3230643/fakta-fakta-rating-kredit-ri-tetap-bbb-s-amp-p-soroti-ekonomi-tumbuh-5-persen</guid><pubDate>Minggu 19 Juli 2026 07:10 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/07/17/278/3230643/penilaian-UiH5_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Standard &amp;amp; Poor&amp;rsquo;s (S&amp;amp;P) Global Ratings mempertahankan Sovereign Credit Rating Indonesia pada level BBB. (Foto: Okezone.com/Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/07/17/278/3230643/penilaian-UiH5_large.jpg</image><title>Standard &amp;amp; Poor&amp;rsquo;s (S&amp;amp;P) Global Ratings mempertahankan Sovereign Credit Rating Indonesia pada level BBB. (Foto: Okezone.com/Freepik)</title></images><description>JAKARTA - Lembaga pemeringkat internasional Standard &amp;amp; Poor&amp;rsquo;s (S&amp;amp;P) Global Ratings mempertahankan Sovereign Credit Rating Indonesia pada level BBB dengan prospek atau outlook stabil.&#13;
&#13;
Keputusan tersebut mendapat respons positif dari pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Mereka menilai keputusan S&amp;amp;P mencerminkan kepercayaan internasional terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang tetap terjaga.&#13;
&#13;
Berikut Okezone rangkum fakta-fakta terkait keputusan S&amp;amp;P mempertahankan peringkat kredit Indonesia, Minggu (19/7/2026):&amp;nbsp;&#13;
&#13;
1. RI Tetap Berstatus Investment Grade&#13;
&#13;
S&amp;amp;P mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook stabil.&#13;
&#13;
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan keputusan tersebut menunjukkan pengakuan terhadap konsistensi pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi, kredibilitas kebijakan fiskal, serta ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.&#13;
&#13;
&amp;quot;Keputusan S&amp;amp;P mempertahankan peringkat Indonesia pada level investment grade dengan outlook stabil menunjukkan bahwa arah kebijakan ekonomi nasional terjaga kredibel,&amp;quot; ujar Purbaya.&#13;
&#13;
2. Pertumbuhan Ekonomi Diproyeksi Tetap Sekitar 5 Persen&#13;
&#13;
S&amp;amp;P menilai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia masih kuat dengan dukungan kebijakan makroekonomi yang prudent, stabilitas politik dan kelembagaan, serta tingkat utang pemerintah yang relatif rendah dibandingkan negara dengan peringkat setara.&#13;
&#13;
Lembaga tersebut memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5 persen dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Pertumbuhan ekonomi 2026 diperkirakan mencapai 5,1 persen.&#13;
&#13;
Sementara itu, ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tumbuh 5,6 persen secara tahunan (year on year/yoy), didorong oleh kuatnya konsumsi domestik dan aktivitas investasi.&#13;
&#13;
3. Disiplin Fiskal Jadi Penopang Peringkat Kredit&#13;
&#13;
S&amp;amp;P memberikan perhatian terhadap komitmen pemerintah menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).&#13;
&#13;
Menurut pemerintah, kebijakan tersebut menjadi salah satu faktor yang memperkuat kredibilitas fiskal Indonesia.&#13;
&#13;
Purbaya mengatakan pemerintah akan terus menjaga kualitas APBN melalui penguatan penerimaan negara, peningkatan efektivitas belanja, serta pengelolaan pembiayaan yang prudent dan berkelanjutan.&#13;
&#13;
4. Penerimaan Negara Mulai Menguat&#13;
&#13;
S&amp;amp;P mencatat adanya perbaikan kinerja penerimaan negara yang didukung oleh penguatan administrasi perpajakan, peningkatan kepatuhan wajib pajak, serta optimalisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP).&#13;
&#13;
Pendapatan negara pada semester I-2026 tumbuh sekitar 21 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.&#13;
&#13;
Peningkatan penerimaan tersebut dinilai dapat memperkuat ruang fiskal pemerintah ke depan.&#13;
&#13;
5. BI dan OJK Nilai Fundamental Ekonomi Tetap Solid&#13;
&#13;
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyambut positif keputusan S&amp;amp;P tersebut.&#13;
&#13;
Menurutnya, afirmasi peringkat kredit dengan outlook stabil mencerminkan kepercayaan internasional terhadap stabilitas makroekonomi dan prospek pertumbuhan Indonesia.&#13;
&#13;
&amp;quot;Hal ini didukung oleh sinergi bauran kebijakan yang erat antara Pemerintah dan Bank Indonesia dalam memperkuat stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global,&amp;quot; ujar Perry.&#13;
&#13;
Sementara itu, OJK menilai keputusan S&amp;amp;P menunjukkan fundamental ekonomi dan stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap terjaga.&#13;
&#13;
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan penilaian tersebut menjadi dorongan untuk terus memperkuat sektor jasa keuangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.&#13;
&#13;
6. Ada Peluang Peringkat Indonesia Naik&#13;
&#13;
S&amp;amp;P menyebut peringkat kredit Indonesia berpotensi meningkat apabila terjadi penguatan struktural pada indikator fiskal dan eksternal.&#13;
&#13;
Peningkatan peringkat dapat didukung oleh penurunan defisit anggaran, peningkatan penerimaan negara secara berkelanjutan, penurunan biaya pembiayaan, serta stabilitas nilai tukar.&#13;
&#13;
Pemerintah menegaskan akan terus menjaga konsistensi kebijakan ekonomi melalui penguatan hilirisasi, peningkatan produktivitas, dan perbaikan tata kelola ekonomi nasional.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Lembaga pemeringkat internasional Standard &amp;amp; Poor&amp;rsquo;s (S&amp;amp;P) Global Ratings mempertahankan Sovereign Credit Rating Indonesia pada level BBB dengan prospek atau outlook stabil.&#13;
&#13;
Keputusan tersebut mendapat respons positif dari pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Mereka menilai keputusan S&amp;amp;P mencerminkan kepercayaan internasional terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang tetap terjaga.&#13;
&#13;
Berikut Okezone rangkum fakta-fakta terkait keputusan S&amp;amp;P mempertahankan peringkat kredit Indonesia, Minggu (19/7/2026):&amp;nbsp;&#13;
&#13;
1. RI Tetap Berstatus Investment Grade&#13;
&#13;
S&amp;amp;P mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook stabil.&#13;
&#13;
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan keputusan tersebut menunjukkan pengakuan terhadap konsistensi pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi, kredibilitas kebijakan fiskal, serta ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.&#13;
&#13;
&amp;quot;Keputusan S&amp;amp;P mempertahankan peringkat Indonesia pada level investment grade dengan outlook stabil menunjukkan bahwa arah kebijakan ekonomi nasional terjaga kredibel,&amp;quot; ujar Purbaya.&#13;
&#13;
2. Pertumbuhan Ekonomi Diproyeksi Tetap Sekitar 5 Persen&#13;
&#13;
S&amp;amp;P menilai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia masih kuat dengan dukungan kebijakan makroekonomi yang prudent, stabilitas politik dan kelembagaan, serta tingkat utang pemerintah yang relatif rendah dibandingkan negara dengan peringkat setara.&#13;
&#13;
Lembaga tersebut memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5 persen dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Pertumbuhan ekonomi 2026 diperkirakan mencapai 5,1 persen.&#13;
&#13;
Sementara itu, ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tumbuh 5,6 persen secara tahunan (year on year/yoy), didorong oleh kuatnya konsumsi domestik dan aktivitas investasi.&#13;
&#13;
3. Disiplin Fiskal Jadi Penopang Peringkat Kredit&#13;
&#13;
S&amp;amp;P memberikan perhatian terhadap komitmen pemerintah menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).&#13;
&#13;
Menurut pemerintah, kebijakan tersebut menjadi salah satu faktor yang memperkuat kredibilitas fiskal Indonesia.&#13;
&#13;
Purbaya mengatakan pemerintah akan terus menjaga kualitas APBN melalui penguatan penerimaan negara, peningkatan efektivitas belanja, serta pengelolaan pembiayaan yang prudent dan berkelanjutan.&#13;
&#13;
4. Penerimaan Negara Mulai Menguat&#13;
&#13;
S&amp;amp;P mencatat adanya perbaikan kinerja penerimaan negara yang didukung oleh penguatan administrasi perpajakan, peningkatan kepatuhan wajib pajak, serta optimalisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP).&#13;
&#13;
Pendapatan negara pada semester I-2026 tumbuh sekitar 21 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.&#13;
&#13;
Peningkatan penerimaan tersebut dinilai dapat memperkuat ruang fiskal pemerintah ke depan.&#13;
&#13;
5. BI dan OJK Nilai Fundamental Ekonomi Tetap Solid&#13;
&#13;
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyambut positif keputusan S&amp;amp;P tersebut.&#13;
&#13;
Menurutnya, afirmasi peringkat kredit dengan outlook stabil mencerminkan kepercayaan internasional terhadap stabilitas makroekonomi dan prospek pertumbuhan Indonesia.&#13;
&#13;
&amp;quot;Hal ini didukung oleh sinergi bauran kebijakan yang erat antara Pemerintah dan Bank Indonesia dalam memperkuat stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global,&amp;quot; ujar Perry.&#13;
&#13;
Sementara itu, OJK menilai keputusan S&amp;amp;P menunjukkan fundamental ekonomi dan stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap terjaga.&#13;
&#13;
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan penilaian tersebut menjadi dorongan untuk terus memperkuat sektor jasa keuangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.&#13;
&#13;
6. Ada Peluang Peringkat Indonesia Naik&#13;
&#13;
S&amp;amp;P menyebut peringkat kredit Indonesia berpotensi meningkat apabila terjadi penguatan struktural pada indikator fiskal dan eksternal.&#13;
&#13;
Peningkatan peringkat dapat didukung oleh penurunan defisit anggaran, peningkatan penerimaan negara secara berkelanjutan, penurunan biaya pembiayaan, serta stabilitas nilai tukar.&#13;
&#13;
Pemerintah menegaskan akan terus menjaga konsistensi kebijakan ekonomi melalui penguatan hilirisasi, peningkatan produktivitas, dan perbaikan tata kelola ekonomi nasional.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
