<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kembangkan Desa Energi, Limbah Peternakan Disulap Jadi Cuan</title><description>Limbah peternakan yang selama ini dianggap tidak bernilai kini menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/07/19/455/3230964/kembangkan-desa-energi-limbah-peternakan-disulap-jadi-cuan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/07/19/455/3230964/kembangkan-desa-energi-limbah-peternakan-disulap-jadi-cuan"/><item><title>Kembangkan Desa Energi, Limbah Peternakan Disulap Jadi Cuan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/07/19/455/3230964/kembangkan-desa-energi-limbah-peternakan-disulap-jadi-cuan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/07/19/455/3230964/kembangkan-desa-energi-limbah-peternakan-disulap-jadi-cuan</guid><pubDate>Minggu 19 Juli 2026 19:05 WIB</pubDate><dc:creator>Dani Jumadil Akhir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/07/19/455/3230964/limbah-zguG_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kembangkan Desa Energi, Limbah Peternakan Disulap Jadi Cuan (Foto: Dokumentasi PLN EPI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/07/19/455/3230964/limbah-zguG_large.jpg</image><title>Kembangkan Desa Energi, Limbah Peternakan Disulap Jadi Cuan (Foto: Dokumentasi PLN EPI)</title></images><description>JAKARTA - Limbah peternakan yang selama ini dianggap tidak bernilai kini menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).&#13;
&#13;
Hal ini dilakukan oleh Kelompok Tani di Kalurahan Gombang dan Kalurahan Karangasem, Kepanewon Ponjong, Kabupaten Gunungkidul yang berhasil mengubah limbah peternakan menjadi produk bernilai ekonomi&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Hingga pertengahan 2026, kedua kelompok telah memproduksi sekitar 14 ton pupuk organik, menghasilkan nilai ekonomi sebesar Rp15,4 Juta memberikan tambahan pendapatan masing-masing kelompok sebesar Rp7,7 juta, sekaligus menciptakan potensi penghematan biaya pembelian pupuk hingga Rp75,6 Juta bagi masyarakat.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Sekretaris Perusahaan PLN EPI Mamit Setiawan, mengatakan bahwa pengembangan pupuk organik merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam membangun Desa Berdaya Energi yang mampu menciptakan nilai ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.&#13;
&#13;
&amp;quot;PLN EPI mendorong masyarakat untuk mengubah limbah menjadi sumber daya yang bernilai ekonomi. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga memperkuat praktik ekonomi sirkular yang menjaga keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan,&amp;quot; ujar Mamit dalam keterangannya, Jakarta, Minggu (19/6/2026).&#13;
&#13;
Menurut Mamit, program ini dirancang agar setiap kegiatan saling terhubung dalam satu siklus yang berkelanjutan. Limbah peternakan diolah menjadi pupuk organik, pupuk dimanfaatkan untuk membudidayakan tanaman multifungsi seperti Indigofera, Kaliandra , Jatiputih dan lain-lain sementara daun dari tanaman tersebut kembali digunakan sebagai pakan ternak.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Siklus tersebut tidak hanya meningkatkan efisiensi usaha masyarakat, tetapi juga mengurangi limbah sekaligus memperkuat produktivitas pertanian dan peternakan.&#13;
&#13;
Capaian tersebut menjadi bukti bahwa pengelolaan limbah ternak mampu berkembang menjadi usaha produktif yang mendukung ekonomi sirkular dan pertanian berkelanjutan. Hal ini melalui Program Desa Berdaya Energi bagian dari TJSL yang diinisiasi PT PLN Energi Primer Indonesia sejak 2024.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Program ini mengintegrasikan sektor peternakan, pertanian, pengolahan pupuk organik, pengembangan hijauan pakan, hingga biomassa dalam satu ekosistem pemberdayaan masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, limbah peternakan yang sebelumnya belum dimanfaatkan kini menjadi sumber nilai tambah yang mendukung peningkatan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat.&#13;
&#13;
Salah satu implementasi utama program adalah pemanfaatan kotoran Kambing Peranakan Etawa (PE) dan Sapi sebagai bahan baku pupuk organik. Hingga saat ini sekitar 350 kilogram kotoran ternak telah dimanfaatkan sebagai campuran produksi pupuk organik.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Selama hampir dua tahun pelaksanaan program, total produksi limbah ternak diperkirakan mencapai sekitar 23 ton di Kalurahan Gombang dan 15 ton di Kalurahan Karangasem yang dimanfaatkan untuk mendukung sistem pertanian terpadu.&#13;
&#13;
Selain memberikan tambahan pendapatan, pemanfaatan pupuk organik juga membantu menekan biaya produksi petani. Jika kebutuhan 14 ton pupuk dipenuhi menggunakan pupuk urea, masyarakat diperkirakan harus mengeluarkan biaya sekitar Rp91 juta. Dengan memanfaatkan pupuk organik hasil produksi kelompok, terdapat potensi penghematan biaya hingga sekitar Rp75.6 Juta sehingga meningkatkan efisiensi usaha tani masyarakat.&#13;
&#13;
Mamit menambahkan bahwa PLN EPI akan terus memperkuat kapasitas kelompok melalui pendampingan teknis, pengembangan kelembagaan, serta peningkatan kualitas produk agar Desa Berdaya Energi mampu menjadi contoh pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal yang berkelanjutan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kami berharap keberhasilan kelompok masyarakat di Gunungkidul ini dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain. Ketika limbah dapat diolah menjadi produk yang bernilai ekonomi, maka masyarakat tidak hanya memperoleh tambahan pendapatan, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi sirkular yang mampu menjaga keberlanjutan lingkungan,&amp;quot; kata Mamit.&#13;
&#13;
Sementara, Ketua Gapoktan Asem Mulya di Kalurahan Karangasem, Kapanewon Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, Sunarto mengatakan, pendampingan PLN EPI telah mengubah cara pandang masyarakat terhadap limbah peternakan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Sebelumnya kotoran ternak hanya dianggap sebagai limbah. Sekarang kami mampu mengolahnya menjadi pupuk organik yang bermanfaat untuk lahan pertanian dan memiliki nilai jual. Program ini membuat kami semakin memahami pentingnya memanfaatkan potensi yang ada di desa untuk meningkatkan pendapatan kelompok sekaligus menjaga lingkungan,&amp;quot; ujarnya.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Limbah peternakan yang selama ini dianggap tidak bernilai kini menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).&#13;
&#13;
Hal ini dilakukan oleh Kelompok Tani di Kalurahan Gombang dan Kalurahan Karangasem, Kepanewon Ponjong, Kabupaten Gunungkidul yang berhasil mengubah limbah peternakan menjadi produk bernilai ekonomi&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Hingga pertengahan 2026, kedua kelompok telah memproduksi sekitar 14 ton pupuk organik, menghasilkan nilai ekonomi sebesar Rp15,4 Juta memberikan tambahan pendapatan masing-masing kelompok sebesar Rp7,7 juta, sekaligus menciptakan potensi penghematan biaya pembelian pupuk hingga Rp75,6 Juta bagi masyarakat.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Sekretaris Perusahaan PLN EPI Mamit Setiawan, mengatakan bahwa pengembangan pupuk organik merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam membangun Desa Berdaya Energi yang mampu menciptakan nilai ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.&#13;
&#13;
&amp;quot;PLN EPI mendorong masyarakat untuk mengubah limbah menjadi sumber daya yang bernilai ekonomi. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga memperkuat praktik ekonomi sirkular yang menjaga keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan,&amp;quot; ujar Mamit dalam keterangannya, Jakarta, Minggu (19/6/2026).&#13;
&#13;
Menurut Mamit, program ini dirancang agar setiap kegiatan saling terhubung dalam satu siklus yang berkelanjutan. Limbah peternakan diolah menjadi pupuk organik, pupuk dimanfaatkan untuk membudidayakan tanaman multifungsi seperti Indigofera, Kaliandra , Jatiputih dan lain-lain sementara daun dari tanaman tersebut kembali digunakan sebagai pakan ternak.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Siklus tersebut tidak hanya meningkatkan efisiensi usaha masyarakat, tetapi juga mengurangi limbah sekaligus memperkuat produktivitas pertanian dan peternakan.&#13;
&#13;
Capaian tersebut menjadi bukti bahwa pengelolaan limbah ternak mampu berkembang menjadi usaha produktif yang mendukung ekonomi sirkular dan pertanian berkelanjutan. Hal ini melalui Program Desa Berdaya Energi bagian dari TJSL yang diinisiasi PT PLN Energi Primer Indonesia sejak 2024.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Program ini mengintegrasikan sektor peternakan, pertanian, pengolahan pupuk organik, pengembangan hijauan pakan, hingga biomassa dalam satu ekosistem pemberdayaan masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, limbah peternakan yang sebelumnya belum dimanfaatkan kini menjadi sumber nilai tambah yang mendukung peningkatan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat.&#13;
&#13;
Salah satu implementasi utama program adalah pemanfaatan kotoran Kambing Peranakan Etawa (PE) dan Sapi sebagai bahan baku pupuk organik. Hingga saat ini sekitar 350 kilogram kotoran ternak telah dimanfaatkan sebagai campuran produksi pupuk organik.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Selama hampir dua tahun pelaksanaan program, total produksi limbah ternak diperkirakan mencapai sekitar 23 ton di Kalurahan Gombang dan 15 ton di Kalurahan Karangasem yang dimanfaatkan untuk mendukung sistem pertanian terpadu.&#13;
&#13;
Selain memberikan tambahan pendapatan, pemanfaatan pupuk organik juga membantu menekan biaya produksi petani. Jika kebutuhan 14 ton pupuk dipenuhi menggunakan pupuk urea, masyarakat diperkirakan harus mengeluarkan biaya sekitar Rp91 juta. Dengan memanfaatkan pupuk organik hasil produksi kelompok, terdapat potensi penghematan biaya hingga sekitar Rp75.6 Juta sehingga meningkatkan efisiensi usaha tani masyarakat.&#13;
&#13;
Mamit menambahkan bahwa PLN EPI akan terus memperkuat kapasitas kelompok melalui pendampingan teknis, pengembangan kelembagaan, serta peningkatan kualitas produk agar Desa Berdaya Energi mampu menjadi contoh pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal yang berkelanjutan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kami berharap keberhasilan kelompok masyarakat di Gunungkidul ini dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain. Ketika limbah dapat diolah menjadi produk yang bernilai ekonomi, maka masyarakat tidak hanya memperoleh tambahan pendapatan, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi sirkular yang mampu menjaga keberlanjutan lingkungan,&amp;quot; kata Mamit.&#13;
&#13;
Sementara, Ketua Gapoktan Asem Mulya di Kalurahan Karangasem, Kapanewon Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, Sunarto mengatakan, pendampingan PLN EPI telah mengubah cara pandang masyarakat terhadap limbah peternakan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Sebelumnya kotoran ternak hanya dianggap sebagai limbah. Sekarang kami mampu mengolahnya menjadi pupuk organik yang bermanfaat untuk lahan pertanian dan memiliki nilai jual. Program ini membuat kami semakin memahami pentingnya memanfaatkan potensi yang ada di desa untuk meningkatkan pendapatan kelompok sekaligus menjaga lingkungan,&amp;quot; ujarnya.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
